Ketika Keberuntungan Saja Tidak Cukup

Oleh: Okky Madasari

Satu minggu sebelum peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca saya di Paris. Marie-Angele Martinez, begitu ia menuliskan namanya. Dalam suratnya, ia mengungkapkan apresiasinya setelah membaca The Years of The Voiceless (Entrok), The Outcast (Maryam), Bound (Pasung Jiwa). Surat itu begitu membuat saya terkesan. Pertama, karena surat itu ditulis dengan tangan, dikirim melalui pos melintasi batas negara ketika teknologi telah memberi kita kemudahan untuk mengirim surat melalui email atau berkomunikasi langsung melalui sosial media. Kedua, karena mengetahui karya-karya saya bisa dibaca dan dinikmati masyarakat dari budaya yang berbeda – bahkan hingga menggerakkannya untuk menulis surat kepada saya.

Tiga bulan sebelumnya, seorang wartawan Spanyol mengirim email pada saya dan meminta wawancara untuk majalah Spanyol, tempatnya bekerja. Wartawan tersebut secara tak sengaja menemukan edisi bahasa Inggris novel saya saat sedang liburan di Bali. Ia terkesan dan ingin membuat liputan lebih dalam tentang karya saya. Hasil wawancara tersebut sudah dimuat di majalahnya November tahun lalu.

Saya menganggap dua contoh apresiasi pembaca dari luar negeri yang saya sebutkan ini sebagai keberuntungan. Saya sebut itu sebagai keberuntungan, sebab ia tidak lahir secara terstruktur – massif – sistematis. Pembaca-pembaca buku saya di luar negeri adalah mereka yang secara kebetulan menemukan buku saya yang terselip di antara tumpukan-tumpukan buku berbahasa Inggris lainnya, atau suatu saat membaca artikel tentang saya lalu membeli buku itu di Amazon, atau berjumpa dengan saya di festival atau konferensi lalu membeli buku saya hanya untuk mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Syukurlah kemudian kebetulan dan ketidaksengajaan itu tidak berbuah penyesalan, tapi melahirkan pemahaman dan apresiasi pada karya-karya saya.

Tentu keberuntungan tidak bisa selamanya diandalkan. Sebagai penulis, saya tetap memimpikan buku-buku saya akan tersedia di rak-rak toko-toko buku besar di berbagai negara, diulas di media-media setempat, dan yang lebih utama dikenal dan dibaca oleh masyarakatnya. Tentu ini semua membutuhkan sebuah upaya besar, upaya yang melibatkan banyak pihak. Kita tidak bisa hanya sekedar mengandalkan kualitas dari sebuah buku lalu menutup mata sambil berdoa, menunggu mereka yang rela mengorek-ngorek tumpukan jerami untuk menemukan sekeping logam emas.

Posisi karya sastra di dalam masyarakat tidak terbangun secara kebetulan. Ia adalah produk konsensus, ia lahir dari pertemuan antara kekuasaan pengetahuan, kekuasaan negara, dan kekuasaan modal. Sebuah karya yang berkualitas hanya akan dikenal secara luas jika ada kerja bersama dari tiga kekuasaan tersebut. More

Numeros Rojos

Interview about my works and my thoughts with Spanish magazine, Numeros Rojos, Nov 2014 edition

Pleasure in the social and political

I can’t answer “what’s your favourite novels” question. But i have books that change me & my view forever: Prison Notebooks by Antonio Gramsci, The Archaelogy of Knowledge by Michel Foucault, Orientalism by Edward Said. Here is my interview with The Jakarta Post —> http://bit.ly/1po5OMS

The 37th Douarnenez Festival, France

Interview with Ouest France : http://www.ouest-france.fr/festival-de-cinema-elles-veulent-mieux-faire-connaitre-lindonesie-2781553

Bersuara Dengan Sastra

Majalah Annisa, Juli 2014

Face of Indonesia in literary works

These three novels highlight Indonesia and how Indonesians cope with authoritarian regime, modernism and capitalism as well as nation building, including when they have to deal with differences in religions, ideologies, ethnicities and even races since after the independence from the colonial powers until today. The first novel, The Years of the Voiceless tells a story of a difficult relation between a mother and her daughter during a time under Suharto’s totalitarian regime. The second novel, The Outcast, highlights the plight of the banned Islamic sect, Ahmadiyah, in Indonesia through the eyes of an Ahmadi woman. The third novel, Bound, describes how a transgender fights for her freedom, and in general how Indonesians deal with transgender issues, minority groups and religious extremism.

The novels were launched at Arts House Singapore, July 17th 2014, hosted by Asia Pacific Writers & Translators Association.

Okky Madasari at her books launching in Singapore, July 2014

Kekuasaan dan Kebebasan

Apa yang paling dibutuhkan dalam proses berpikir? Kebebasan. Apa yang paling dibutuhkan untuk berkarya? Kebebasan. Apa yang jadi syarat utama kemajuan sebuah peradaban? Kebebasan. Dan apa yang paling ditakutkan oleh kekuasaan? Kebebasan.

Sejarah perjuangan manusia adalah sejarah merebut kebebasan, sementara sejarah kekuasaan adalah rangkaian pengaturan dan kontrol atas kehidupan banyak orang. Di tengah tarik-menarik itu, kebudayaan – antara lain melalui wujudnya: pemikiran, bahasa, karya seni – menjadi medan pertarungan. More

BOUND

Does free will truly exist? Does man truly exist?

Okky Madasari explores the seminal questions of mankind and humanity in her latest novel.

A struggle arises between the two main characters, Sasana and Jaka Wani, in the search for freedom from all restraints––from those of the mind and body, to restraints imposed by tradition and family, society and religion, to economic domination and the shackles of authority.

*) BOUND is the english edition of Pasung Jiwa. Avalaible July 3rd in bookstores, online bookstores, amazon.com, etc

Prev Older Entries