Evoking and Changing Indonesia through Literature

Female; young; fighting for humanity through literature: that is Okky Madasari, one of Indonesia’s important novelist on the rise. At 28, this woman who was born in Magetan East Java in 1984, had already won the most prestigious literary award in the country: Khatulistiwa Literary Award, for her third novel: “Maryam”. This made her as the youngest writer ever winning this important award. Previously, for three consecutive years (that is, since she was only 25 years old), her novels continued to be nominated at the same event.

In all of her four novels, this woman having a bachelor degree in political science and a master in sociology consistently voiced freedom and human rights, as well as fighting various kinds of oppression. Reading her novels means seeing the face of Indonesia. However, though Okky’s stories are about Indonesia and the Indonesian people, the problems and messages in her novels are universal and fundamental.

In the last March 2015, we had the honour to talk with this rare woman, who also is the initiator and director of ASEAN Literary Festival. And, we’d like to share this honour with you too, dear readers. Enjoy reading! More

Membaca Wiji dan Melahirkan Wiji Kembali

Lima puluh dua tahun silam, laki-laki ceking itu lahir di kota ini. Ia tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya kota ini. Ia melihat bagaimana bangunan-bangunan mulai menggusur pohon-pohon besar, bagaimana diskotik dan toko roti bermunculan. Sementara tempatnya tinggal terasa semakin kumuh dan becak yang dikayuh bapaknya terasa semakin reyot, tak mampu bersaing dengan motor-motor Honda yang semakin banyak jumlahnya.

Laki-laki itu tumbuh dengan melihat Pak RT dan Pak RW yang petentang-petenteng, memaksanya turun dari panggung tujuh belasan karena menganggap sajak-sajaknya sungguh kurang ajar. Hingga kemudian ia harus terpaksa meninggalkan kota ini, pergi dari rumahnya sendiri, karena terus dikejar-kejar tentara dan polisi. More

Cerita dari Muara

Pendiri ASEAN Literary Festival, Okky Madasari & Abdul Khalik, pada malam pembukaan ASEAN Literary Festival 2015

Lima tahun lalu kami memulainya dari Muara.

Kami menyatukan energi yang kami miliki, menyelaraskan langkah untuk bersama-sama berbuat sesuatu. Untuk tidak sekedar menjalani hidup dan sibuk dengan diri kami sendiri.

Pada awalnya adalah keinginan untuk memanfaatkan bagian rumah kami yang tidak terpakai. Kami membeli rumah dengan lahan yang cukup luas di Kampung Muara, Tanjung Barat, Jakarta Selatan itu pada bulan Mei 2010. More

Sastra Penggugah Kesadaran

Heyder Affan Wartawan BBC Indonesia

Okky Madasari, penulis novel dan pemenang penghargaan sastra Khatulistiwa 2012 melalui novelnya yang berjudul Maryam, dikenal melalui karya-karyanya yang sarat kritik sosial.

Melalui novel Maryam (2012), perempuan kelahiran 1984 ini mengungkap pengusiran warga penganut Islam Ahmadiyah oleh kelompok penentangnya di Nusa Tenggara Barat.

Dan tiga novel karyanya, Entrok (2010), 86 (2011) dan Pasung Jiwa (2013) yang masuk nominasi penghargaan tersebut, juga bergenre realis.

“Sejak awal saya percaya bahwa karya sastra itu seharusnya bisa menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat,” kata Okky Madasari dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (27/03) di kediamannya. More

Putting the word out

By Nithin Coca

At most literary soirées, mentioning the works of Okky Madasari, Ayu Utami or Seno Gumira Ajidarma would result in a round of blank stares. But drop those names at a book club in Jakarta, Surabaya or Yogyakarta and you will earn approving nods from the assembled bookworms. All of them are award-winning, bestselling writers in Indonesia – one of the world’s fastest growing literary markets – yet they are barely known abroad.

“What is truly amazing about modern Indonesian literature is its vibrancy,” said John H. McGlynn, chairman and co-founder of the Lontar Foundation, a Jakarta-based NGO that promotes Indonesian literature. “This is especially evident in the versatility of Indonesian writers who, from colonial times to the present, have maintained a consistent ability to cross literary genres.” More

Letter to Habermas

My letter to Jurgen Habermas is now published in Women of Letters’ newest book “AIRMAIL” by Penguin Books Australia

Ketika Keberuntungan Saja Tidak Cukup

Oleh: Okky Madasari

Satu minggu sebelum peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca saya di Paris. Marie-Angele Martinez, begitu ia menuliskan namanya. Dalam suratnya, ia mengungkapkan apresiasinya setelah membaca The Years of The Voiceless (Entrok), The Outcast (Maryam), Bound (Pasung Jiwa). Surat itu begitu membuat saya terkesan. Pertama, karena surat itu ditulis dengan tangan, dikirim melalui pos melintasi batas negara ketika teknologi telah memberi kita kemudahan untuk mengirim surat melalui email atau berkomunikasi langsung melalui sosial media. Kedua, karena mengetahui karya-karya saya bisa dibaca dan dinikmati masyarakat dari budaya yang berbeda – bahkan hingga menggerakkannya untuk menulis surat kepada saya.

Tiga bulan sebelumnya, seorang wartawan Spanyol mengirim email pada saya dan meminta wawancara untuk majalah Spanyol, tempatnya bekerja. Wartawan tersebut secara tak sengaja menemukan edisi bahasa Inggris novel saya saat sedang liburan di Bali. Ia terkesan dan ingin membuat liputan lebih dalam tentang karya saya. Hasil wawancara tersebut sudah dimuat di majalahnya November tahun lalu.

Saya menganggap dua contoh apresiasi pembaca dari luar negeri yang saya sebutkan ini sebagai keberuntungan. Saya sebut itu sebagai keberuntungan, sebab ia tidak lahir secara terstruktur – massif – sistematis. Pembaca-pembaca buku saya di luar negeri adalah mereka yang secara kebetulan menemukan buku saya yang terselip di antara tumpukan-tumpukan buku berbahasa Inggris lainnya, atau suatu saat membaca artikel tentang saya lalu membeli buku itu di Amazon, atau berjumpa dengan saya di festival atau konferensi lalu membeli buku saya hanya untuk mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Syukurlah kemudian kebetulan dan ketidaksengajaan itu tidak berbuah penyesalan, tapi melahirkan pemahaman dan apresiasi pada karya-karya saya.

Tentu keberuntungan tidak bisa selamanya diandalkan. Sebagai penulis, saya tetap memimpikan buku-buku saya akan tersedia di rak-rak toko-toko buku besar di berbagai negara, diulas di media-media setempat, dan yang lebih utama dikenal dan dibaca oleh masyarakatnya. Tentu ini semua membutuhkan sebuah upaya besar, upaya yang melibatkan banyak pihak. Kita tidak bisa hanya sekedar mengandalkan kualitas dari sebuah buku lalu menutup mata sambil berdoa, menunggu mereka yang rela mengorek-ngorek tumpukan jerami untuk menemukan sekeping logam emas.

Posisi karya sastra di dalam masyarakat tidak terbangun secara kebetulan. Ia adalah produk konsensus, ia lahir dari pertemuan antara kekuasaan pengetahuan, kekuasaan negara, dan kekuasaan modal. Sebuah karya yang berkualitas hanya akan dikenal secara luas jika ada kerja bersama dari tiga kekuasaan tersebut. More

“Muchas mujeres indonesias son feministas sin saberlo”

Interview about my works and my thoughts with Spanish magazine, Numeros Rojos, Nov 2014 edition

online version: http://blogs.publico.es/numeros-rojos/2015/05/06/muchas-mujeres-indonesias-son-feministas-sin-saberlo-okky-madarasi-escritora-y-periodista/

Prev Older Entries