Belenggu Kekuasaan dalam Imaji Sastra

Siapakah aku ini? Siapakah aku?

Demikian baris penutup dalam novel Shanghai Baby (1999) karya Wei Hui. Sebuah pertanyaan eksistensialis – pertanyaan mendasar yang terus diajukan manusia sepanjang keberadaannya di dunia.

Pertanyaan itu terus menggelayut dalam benak Nikki, tokoh utama dalam novel tersebut. Nikki, perempuan 25 tahun itu menatap nanar gemerlap kemajuan Shanghai sekaligus memandang enggan jejak-jejak masa lalu Shanghai. Ia berdiri di perbatasan, terombang-ambing dalam kebingungan, sembari terus bertanya: Siapakah aku?

Siapakah aku adalah sebuah pertanyaan tentang esensi diri, esensi keberadaan. Nikki menjadi simbol dari jutaan perempuan yang sedang kebingungan, tersesat di antara simpang perubahan. Nikki, bagian dari perempuan Tiongkok yang sejak lahir diikat oleh nilai-nilai, dibangun dengan kebiasaan, dididik untuk menjadi seorang perempuan seperti yang kebanyakan. Ia ingin loloskan diri dari semua yang sudah ditanam. Ia ingin membebaskan diri dari ikatan-ikatan usang. Sementara zaman yang baru hanya hadir dalam kelap-kelip lampu, gedung-gedung tinggi, barang-barang dan segala kesenangan yang menjadikan generasi Nikki hanya sebagai mangsa.

Nikki memandang semua yang ada di sekelilingnya dengan penuh keheranan. Masa lalu yang usang dan terus membelenggu di satu sisi, dan masa baru yang menyilaukan mata dan memasang segala sesuatu dengan harga. Nikki tidak memilih dua-duanya. Ia lari ke balik imajinasinya, ia bermain-main dengan kesadarannya. Hadirlah Nikki yang terasing dari sekelilingnya, yang tak peduli, sekaligus yang penuh keberanian dan kenekadan mengikuti kata hatinya. Ia menolak nilai-nilai leluhur yang tak sesuai lagi baginya, dan tak sudi menelan mentah-mentah nilai-nilai baru yang disodorkan padanya. Nikki dengan berani melawan tradisi sekaligus melawan modernisme Shanghai yang telah merebut jiwa perempuan-perempuan segenerasinya.

Nikki telah menunjukkan pada dunia sosok perempuan yang baru: mereka yang tak larut dalam nilai lama juga tak mau tunduk pada nilai baru. Perempuan yang membebaskan diri dari ukuran-ukuran di luar dirinya, dari kekuasaan-kekuasaan yang berusaha mencengkeramnya – entah itu dari tradisi, agama, atau modernisme dan kapitalisme.

Sosok Nikki tak dikenal oleh perempuan-perempuan Tiongkok lainnya. Pemerintah membredel novel ini. Lagi-lagi kekuasaan mengontrol perempuan, mengatur apa yang layak dikonsumsi dan diadopsi, menentukan seperti apa sosok perempuan yang layak dan pantas jadi narasi – bahkan dalam imajinasi sastra. Imaji perempuan seperti Nikki tak mendapat kesempatan untuk bertarung dalam wacana ide. Ia diberangus dan disingkirkan bahkan sebelum sempat dikenal oleh perempuan-perempuan sebangsanya.

Imajinasi Kekuasaan

Bangunan imaji atas sosok perempuan senantiasa menjadi ladang pertempuran. Kekuasaan agama melahirkan teks-teks kitab suci yang menjadi pedoman bagaimana harusnya menjadi perempuan. Bahkan dalam kisah yang pertama kali hadir di dunia tentang turunnya Adam dan Hawa, perempuan dihadirkan sebagai sosok penggoda yang membawa dosa. Dari situlah lahir kisah-kisah lanjutan yang memberi perempuan seperangkat aturan, larangan, dan keharusan.

Di Indonesia hari ini, kita melihat bagaimana karya-karya yang menjadi arus utama adalah karya yang hendak menjadikan dirinya sebagai representasi kekuasaan agama. Karya-karya berlabel Islami dan Religi mendominasi toko-toko buku. Karya-karya seperti ini menggambarkan perempuan sebagai sosok yang menutup aurat, penurut, berbakti pada suami, dan mau dipoligami. Melalui kisah di novel, perempuan diberi pengetahuan cara berbusana sesuai aturan agama, cara memperlakukan suami, hukum perkawinan, hukum bergaul dan sebagainya. Melalui novel, perempuan diberi pengetahuan  – yang sesungguhnya hanya merupakan cara kekuasaan untuk mengontrol dan mengatur perempuan sesuai keinginan mereka.

Lihat saja bagaimana Ayat-Ayat Cinta, novel yang laku keras dan mendapat perhatian besar dalam masyarakat menggambarkan perempuan. Fahri seorang laki-laki yang digilai banyak perempuan. Ia menikah dengan Aisha, perempuan cantik berjilbab dan bercadar, yang kelak mendorong suaminya untuk menikah lagi dengan Maria. Sementara ada satu sosok perempuan, yang membuat pengakuan palsu bahwa ia diperkosa Fahri. Bukankah ini semua adalah narasi yang lahir dari imajinasi patriarki?

Karya ini mendorong lahirnya karya-karya lain yang sejenis. Kepentingan patriarki yang menggunakan agama untuk mengendalikan tubuh, pikiran, dan imajinasi perempuan bertemu dengan logika pasar. Karya-karya semacam ini laku keras, salah satunya karena ada yang berpikir dengan membaca novel berlabel Islami mereka melakukan hal mulia dan mendapat pahala. Terlebih jika kisah yang dihadirkan mampu membuat pembaca terbuai dan larut dalam cerita, sehingga pembaca pun merasa terhibur.

Agama juga dijadikan dasar bagi negara untuk melakukan kontrolnya. Atas nama moral dan penghinaan agama, negara melakukan pemberangusan. Padahal sesungguhnya negara hanya sedang menyusun narasi sosok perempuan yang sesuai dengan kepentingannya. Karya seperti Shanghai Baby dilarang, bukan semata karena ia dianggap merusak moral masyarakat. Lebih dari itu, Shanghai Baby membisikkan keberanian dan semangat untuk melawan semua tatanan – hal yang paling ditakuti oleh kekuasaan.

Di Indonesia, dalam 32 tahun kekuasaan Orde Baru, narasi utama perempuan dalam karya sastra didominasi oleh karya-karya yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang lemah, yang sibuk dengan urusan percintaan dan rumah tangga, yang menempatkan keutuhan perkawinan di atas kebahagiaan. Tentu saja ada karya Nh. Dini yang menyajikan hal sebaliknya. Tapi Nh. Dini hanya sendiri. Ia dikepung oleh karya-karya serupa Karmila (1973) – yang menyajikan sosok perempuan sebagaimana harapan norma agama, norma masyarakat, dan kepentingan negara.

Karmila dan novel-novel yang sejenis, dianggap pemerintah Orde Baru paling pas untuk menjadi narasi utama dalam kesusastraan Indonesia saat itu. Sebab novel-novel seperti ini tidak menghadirkan persoalan sosial politik dan tidak punya kecenderungan untuk kritis untuk mempertanyakan kebijakan pemerintah dan melawan tatanan dalam masyarakat. Selain itu, gambaran masyarakat urban yang hidup dalam kemakmuran menjadi cermin keberhasilan pembangunan pemerintah.

Lagi-lagi, kepentingan pemerintah bertemu dengan kepentingan pasar. Novel Karmila laku keras di pasaran, yang segera menandai kelahiran novel-novel lain yang sejenis. Pembaca yang dibentuk untuk tidak kritis menyukai gambaran perempuan dalam novel-novel seperti ini. Perempuan yang seperti harapan orang kebanyakan. Perempuan yang lemah dan tunduk pada nilai agama dan adat. Perempuan yang makmur dan dipenuhi oleh segala keindahan. Perempuan yang terus dibujuk untuk membeli dan membeli, tapi tidak diajak untuk mempertanyakan dan melawan.

Imaji sosok perempuan seperti inilah yang hingga sekarang masih menjadi arus utama dalam novel-novel Indonesia. Label-label baru disematkan: chicklit, metropop, atau teenlit. Tapi toh tak mengubah esensi. Tagline Being Single and Happy yang dipasang dalam sampul novel-novel chicklit hanya menjadi sekedar gimmick pemasaran. Alih-alih menyuarakan feminisme dan pembebasan, novel-novel ini hanya menjadikan perempuan sebagai obyek konsumerisme di balik citra perempuan karier yang mandiri. Jika novel berlabel Islami memberikan pengetahuan agama pada pembaca, novel-novel chicklit menghadirkan pengetahuan mode mutahir dan sederet merk ternama pada pembaca. Tanpa memberi pemahaman kritis, ia mengantarkan perempuan pada cengkeraman kapitalisme berkedok kebebasan menikmati hidup.

Dari kepentingan agama, negara, hingga kapital, imaji sosok perempuan dibangun dan ditanamkan. Perempuan dipaksa untuk menerima, menelan, dan mengikuti model-model yang direstui. Dalam situasi ini, perempuan hanya bisa gamang dan kebingungan seraya bertanya: Siapakah aku?

***

*) Disampaikan dalam seminar “Gambaran Perempuan Modern dalam Karya Sastra Cina”, dalam rangka Sinofest XIII 2014, di FIB UI, 8 Mei 2014

Prev Next