Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan

Tesis ini membongkar bagaimana kekuasaan bekerja membentuk diskursus arus utama novel-novel Indonesia hari ini. Melalui Foucauldian discourse analysis, ditelusuri asal-usul terbentuknya diskursus dominan dalam tiga genre novel: novel islami, percintaan, dan perlawanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapitalisme bersama-sama dengan negara menjadi aktor utama pembentuk diskursus utama. Novel islami yang pada awalnya otonom, pada akhirnya pun harus tunduk dan berkompromi dengan kepentingan kapitalisme dan negara demi tetap mendapat ruang dalam wacana arus utama. Sumbangan utama tesis ini adalah membuka diskusi kritis terhadap diskursus kesusastraan Indonesia seraya memberi pemahaman bahwa ruang perlawanan senantiasa terbuka, baik terhadap wacana kesusastraan itu sendiri maupun terhadap kekuasaan pada umumnya.

Capitalism, Islam and Critical Literature

This thesis aims to find out and explain how power works to form Indonesia’s existing novels currently become the main/ruling discourses within the society.Using Foucauldian Discourse Analysis, the thesis seek to find the origins of the formation of dominant discourse in three novel genres: Islamic, romance and critical/debunking novels. The research finds that capitalism together with the state become the two main factors behind the creation of such main discourses. Islamic novels which were autonomous at the initial stage later fell into the trap of capitalism and compromised itself and were cooptated to serve the interest of capitalists, markets and the state in an attempt to stay in the main discourse. The Islamic novels even form a coalition with the two actors in one ultimate goal of creating the main discourse which is seen beneficial for all of them. The main contribution of this thesis is allowing and opening critical discussion on main discourses in Indonesian literature while providing an insight and understanding that there will always be room of resistance and being critical against ruling discourses within te country’s literature as well as against power in general.

*) Tesis ini bisa diakses di perpustakaan UI dan akan segera diterbitkan dalam versi buku.

Belenggu Kekuasaan dalam Imaji Sastra

Siapakah aku ini? Siapakah aku?

Demikian baris penutup dalam novel Shanghai Baby (1999) karya Wei Hui. Sebuah pertanyaan eksistensialis – pertanyaan mendasar yang terus diajukan manusia sepanjang keberadaannya di dunia.

Pertanyaan itu terus menggelayut dalam benak Nikki, tokoh utama dalam novel tersebut. Nikki, perempuan 25 tahun itu menatap nanar gemerlap kemajuan Shanghai sekaligus memandang enggan jejak-jejak masa lalu Shanghai. Ia berdiri di perbatasan, terombang-ambing dalam kebingungan, sembari terus bertanya: Siapakah aku? More

MIWF 2013

Makassar International Writers Festival 2013, June 2013

Okky Madasari, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono at Welcome Dinner of MIWF 2013

Perang, Manusia, dan Kemanusiaan

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demi  mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral. More

Lagu Ulang Tahun

Kurangkai nada di hari lahirmu

Terbungkus indah bersama doaku

More

Bahagia Bersyarat

Oleh : Okky Madasari

(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)

Katanya dia mau kawin lagi.

Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.

Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.

Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More

Dari atas bukit..

Kami ke Lombok lagi. berangkat dengan segudang rencana untuk sekaligus menyeberang ke Sumbawa, Moyo, dan Komodo. Tapi apa daya, kami terperangkap oleh keindahan. More

Obsesi

Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.

Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More

Prev Older Entries