Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Tentang Kesempatan

Saya tak terlalu menaruh perhatian saat Sandra Bullock memenangkan Oscar untuk perannya dalam “The Blind Side”. DVD yang sudah dibeli jauh-jauh hari sebelum pengumuman penghargaan itu tetap tak tersentuh. Alasannya sederhana saja, saya sedang malas nonton film yang temanya olahraga : tentang orang-orang yang dianggap enteng, lalu ternyata ditakdirkan sebagai bintang lapangan. Film itu pun semakin terlupakan, tertutup dvd-dvd baru yang terus dibeli setiap akhir minggu.

Hingga akhirnya tiga malam lalu, lima bulan lebih sejak penghargaan Oscar, dan entah sudah berapa lama sejak DVD itu tersimpan di laci, akhirnya saya menontonya. Tanpa alasan khusus. Tanpa pengharapan macam-macam. Pokoknya, ini film untuk mengisi waktu saja. Menonton sambil tiduran, main Twitter dari BB, mengobrol, sampai kemudian tiba-tiba saya memutuskan menghentikan dvd untuk memutarnya kembali dari awal. Ya, film ini memang istimewa.

Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tentang Michael- seorang remaja Afro-Amerika, bertubuh besar, tapi memiliki IQ rendah. Besar dalam kemiskinan tanpa kasih sayang keluarga membuatnya begitu asing dan tak lagi memelihara harapan. Sampai kemudian nasib mempertemukannya dengan keluarga kulit putih yang tak hanya memiliki materi tapi juga kasih sayang melimpah. Nyonya rumah yang diperankan Sandra Bullock, yang memiliki peran besar dalam segala hal yang dilakukan keluarga ini untuk Michael. Ialah yang pertama kali memutuskan mengajak Michael menginap, membelikan baju, sampai akhirnya memutuskan mengadopsi.

Michael pun mendapatkan kesempatan untuk mengolah potensi yang dimiliki. Tubuhnya yang besar dianggap bisa jadi modal untuk menjadi atlet football. Dia dimasukkan sekolah football. Latihan dan ikut pertandingan sebagaimana teman-temannya. Semuanya tak sia-sia. Michael jadi bintang. Semua universitas kemudian berebut menawarinya beasiswa.

Apakah seorang Michael bisa seperti itu jika tak pernah masuk sekolah football? Pastinya tidak. Bagaimana dia bisa berpikir tentang bakatnya, kalau perutnya terus kelaparan, sementara tak ada sekolah football yang gratis. Dan bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya, kalau tak pernah ada pertandingan yang diikutinya? Juga apa jadinya nasib Michael, kalau tak pernah ada keluarga yang peduli padanya? Apa yang akan dilakukannya ketika kesempatan itu tak pernah ada?

‘The Blind Side” diangkat dari sebuah kisah nyata. Kini, Michael menjadi bintang football di Amerika. Dan masihkah ada yang lebih membanggakan bagi keluarga yang telah membukakannya pintu kesempatan?
Ah, film itu membuat dada saya terasa penuh, sementara air mata mendesak untuk dikeluarkan. Rasa haru, rasa iri, rasa bahagia, rasa sedih, semuanya teraduk-aduk menjadi satu. Memory saya berjalan, teringat perjalanan saya bersentuhan dengan anak-anak yang kurang beruntung dari berbagai daerah pedalaman : Jawa, Sumatera, Kalimantan. Masih teringat bagaimana ada yang begitu pintar mengarang cerita, menyanyi, dan olah raga. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa jadinya mereka di masa mendatang? Mereka yang tak punya uang, mereka yang terbelakang dalam kemampuan, mereka yang begitu jauh dari kesempatan.

Dalam semangat yang sama, dua bulan lalu Yayasan Muara Bangsa didirikan. Ingin memberikan yang terbaik untuk membuka kesempatan bagi anak-anak yang kemampuan ekonomi keluarganya hanya pas-pasan. Terseok-seok dalam keterbatasan pendanaan dan tenaga pengajar, melakukan yang paling kecil dari lingkungan yang paling dekat dengan tempat tinggal.

Untuk pendidikan formal kami mendirikan Taman Kanak-Kanak. Memang tidak gratis, tapi jauh lebih murah dibanding TK-TK lain. Uang bayaran digunakan untuk membayar guru, sekaligus menjadi subsidi silang untuk membiayai kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan gratis. Mulai dari pelatihan seni, ketrampilan, Bahasa Inggris, komputer, semuanya bisa diikuti secara cuma-cuma.
Tak selamanya mudah. Kadang juga melelahkan, dan seringkali membuat putus asa, apalagi ketika berhadapan dengan dana. Tapi ketika melihat mereka datang, penuh semangat menembus hujan deras, adakah alasan untuk tak terus berjuang dan mempertahankan?

Biar kesempatan itu ada untuk mereka. Agar kelak mereka bisa mandiri dan bersaing. Agar potensi-potensi itu tak redup dan mati, agar kelak mereka pun bisa menjadi pemenang.

Dan lebih dari itu, sebenarnya ini semua bukan untuk mereka. Ini untuk kami. Agar dada ini selalu terasa penuh. Agar bahagia itu tercecap sempurna.

Kabar dari Muara

Di sinilah kami sekarang : sebuah rumah sederhana berhalaman luas yang dimiliki dengan segenap upaya. Di tengah suasana asri pinggiran lembah Ciliwung, di antara penduduk asli Jakarta yang lugu dan tak banyak tahu. Tempat di mana kami bisa mendengar kokok ayam tetangga setiap pagi dan cicit-cicit burung gereja yang mampir di pohon rambutan tua kami. Di sini kami kerap lupa, kota yang penuh hingar bingar, jalan tol Simatupang yang penuh kendaraan, dan gedung megah ANTAM hanya sepelemparan batu jauhnya.

Inilah kisah lain tentang Jakarta. Di antara banyaknya gedung-gedung tinggi dan restoran cepat saji, ada sekelompok orang yang tak pernah kenal bank sama sekali. Di antara banyaknya sekolah mahal dan bergengsi, orang-orang masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mewah dan tak mesti dipenuhi. Tentang orang-orang yang menyerah pada laju pembangunan dan terdesak oleh kebutuhan, yang perlahan-lahan menyerahkan tanahnya pada pendatang, seperti kami ini.

Ah, terlalu banyak kisah tentang kampung ini untuk bisa saya pilih salah satu dan disajikan dalam tulisan menarik di blog. Kelak, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerita. Sebuah tulisan yang akan menjadi pengingat dan saksi atas sebuah perubahan. Mungkin juga sebagai ucapan terima kasih pada kampung ini, yang telah memberikan tempat nyaman dan asri untuk kami.

Iyah, sepertinya kami akan berutang banyak pada tempat ini. Di kamar berjendela lebar yang langsung menghadap taman dan rambutan tua, dua minggu lalu saya menyelesaikan novel kedua saya. Separuh bagian novel itu saya selesaikan di rumah ini. Kadang di teras rumah, sambil merasakan percikan-percikan hujan. Kadang di ruang utama, beralaskan bantal oranye besar pasangan sofa.

Di kampung ini pelan-pelan kami juga mewujudkan satu persatu mimpi. Tentang keinginan untuk berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Semuanya kami mulai dari yang paling kecil. Memanfaatkan bangunan sebelah rumah untuk menjadi Taman Kanak-Kanan Muara Bangsa. Hei, bahkan taman kanak-kanan saja merupakan barang mewah di kampung ini. Jarak yang terlalu jauh – yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki – dan biaya yang terlalu mahal. Banyak di antara anak-anak kampung ini yang dulu tak pernah TK. Mereka memilih langsung masuk Sekolah Dasar, demi memudahkan banyak hal.

Ah, untuk yang satu inipun rasanya kami masih belum layak untuk terlalu banyak berbagi cerita. Masih banyak yang mesti dilakukan. Masih terlalu kecil untuk menjadikannya sebagai kebanggaan.

Dan lebih dari semuanya, Kampung Muara menjadi tempat bagi kami untuk banyak-banyak belajar. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manusia dan kemanusiaan.

Ode Sebuah Taman


Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.

Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan.

Kata petugas itu, perintah sudah turun sejak Obama mau datang. Katanya, jangan sampai presiden negara besar itu terganggu dengan kehadiran orang-orang. Lalu saat istri Jenderal AH Nasution meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, katanya, banyak pejabat tinggi yang marah karena taman itu bisa dipakai tempat pacaran.

Padahal, taman ini berbatas tembok tinggi dengan Taman Makam Pahlawan. Masing-masing dengan gerbang sendiri-sendiri. Tidak akan pernah ada yang terganggu satu sama lain. Lagipula, seberapa sering ada presiden yang mau datang? Juga seberapa sering ada upacara kematian?

Ah, beginilah rasanya kehilangan kesenangan. Tempat itu terlanjur menghiasi benak saya. Danaunya yang tak terlalu luas, di mana burung-burung prenjak suka menukik rendah, menyentuh air sebentar lalu terbang bebas. Taman rumput di pinggir danau, tempat tumbuh frangipani, aster, dan berbagai bunga yang saya tak tahu namanya. Di situ saya kerap duduk, membaca buku atau melipat kaki dan memejamkan mata. Batako di sekelilingnya, tempat saya dan Abdul lari pagi. Dan yang terindah adalah saat matahari perlahan-lahan turun, membuat air danau keemasan, lalu menghilang tepat tegak lurus dari tempat duduk di pinggir danau.

Kami berdua memang pecinta taman-taman kota. Kami selalu ingat bagaimana matahari tenggelam di balik Gedung Departemen Perhubungan saat kami duduk di kolam ikan koi, sebelah lapangan basket Monas. Di Situ Lembang, saya melebur dalam keceriaan anak-anak yang berenang-renang di danau. Di Suropati kami tahu bagaimana burung dara menikmati alunan biola. Di Danau UI, kalau sedang tak memandang ke arah bangunan tinggi rektorat, kami kerap lupa ini hanya selangkah dari Jakarta. Dan betapapun indahnya taman-taman itu, tetap saja rasa kecewa itu menggelanyuti ketika salah satu terpaksa pergi.

Tolong, tolong, buka kembali pintu pagar itu. Biarkan kami menjadi warga kota yang manusiawi. Jangan paksa kami menua di dalam gedung-gedung tinggi berpendingin udara, mengukur bahagia dengan hanya berbelanja. Biarkan keindahan itu bisa dinikmati. Agar kami masih selalu ingat, masih ada yang bisa disyukuri dari pembangunan kota ini. Danau itu akan merindukan pengunjung, rumput-rumput itu butuh sentuhan kaki kami, dan burung-burung itu akan selalu mencari pemujanya.

Lagipula, bukankah taman itu milik kami juga?

*) first publhised on www.rujak.org

Entrok

beredar 5 April 2010. don’t miss it! :D

Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada kata itu. Kata itu saya peroleh dari nenek saya, di Magetan sana. Sejak saya masih kanak-kanak hingga sekarang, dia senantiasa mengulang-ulang cerita yang sama tentang entrok. Entrok yang membuatnya bisa seperti ini : punya rumah, punya sawah, bisa menyekolahkan anak sampai jadi sarjana. Entrok yang membuatnya mengerti, segala sesuatu dalam hidup hanya bisa didapatkan dengan keringatnya sendiri. Baginya, entrok adalah penderitaan dan kemiskinan, sekaligus kebanggaan dan kejayaan.

Enam puluh tahun sudah entrok menjadi bagian hidup nenek saya. Bagi anak dan cucunya, entrok mungkin hanya bagian dari petuah dan cerita masa lalu yang membosankan karena saking seringnya diulang. Tapi betapapun bosannya, entrok telah terlanjur menempati ruang ingatan di hati kami. Saya mengingat entrok, sebagaimana saya mengingat nenek saya.

Kini, entrok tidak hanya menjadi ingatan dalam keluarga kami. Melalui rangkaian kata-kata, saya menyusun kepingan-kepingan kisah tentang entrok dalam sebuah novel. Entrok bahkan menempati tempat istimewa dengan menjadi judul dari novel ini. Sejak memulai pengerjaan novel ini pertengahan tahun 2009, saya sudah memilih “Entrok” sebagai judul.

Selain menjadi pangkal dari kisah yang saya tuliskan, saya merasa kata itu unik, eksotik, dan mudah diingat. Memang kata ini terlalu asing dan banyak yang tidak mengetahui artinya. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang saat mendengar kata entrok. Jawabannya beragam, mulai dari sejenis bebek hingga obat mencret (entrokstop) . Ada juga yang bertanya bagaimana mengucapkan kata entrok. Saya jawab, ‘e’ nya diucapkan sebagaimana kata ‘tempe’, bukan ‘besar’. Dengan keasingannya, saya dan Gramedia tetap nekat menjadikan ‘entrok’ sebagai judul. Toh nanti pembaca akan mengetahui artinya dengan membaca sendiri novelnya :)

Figur nenek saya dan entroknya hadir melalui tokoh Marni, seorang perempuan Jawa buta huruf yang masih kuat memegang tradisi leluhur. Melalui tumpeng dan ayam panggang ia temukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal tuhan yang datang dari negeri nun jauh. Tidak tuhan dari timur, tidak tuhan dari barat. Dengan caranya sendiri ia mempertahankan hidup, menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak membunuh, menipu, mencuri, atau merampok?

Generasi kedua dan ketiga dalam keluarga kami menjelma dalam karakter Rahayu, anak perempuan Marni. Ia generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika Marni dan Rahayu berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi asing satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing, tak pernah ada titik temu.

Kisah ini berlatar masa Orde Baru, pada periode tahun 70-80-hingga 90an. Saya menunangkan segala ingatan saya tentang masa itu. Sepatu-sepatu lars, sumbangan kampanye dan kewajiban mencoblos partai kuning. Itulah masa dimana banyak sekali dibangun gardu. Kentongan, ronda, warga kampung yang ikut berseragam hijau. Saya masih ingat bagaimana segala sistem keamanan itu membuat kami semua justru merasa tidak aman :( . Disinilah kemudian ada titik temu antara Marni dan Rahayu. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

Diantara mereka juga ada Cayadi. Seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit. Orang tuanya datang ke negeri ini pada satu masa yang lampau. Dia sendiri hanya mengenal tanah dan udara yang ditempatinya, bukan negeri leluhurnya. Dalam segala kepatuhan warga negara, ingin sesekali ia memenuh harapan ibunya untuk berdoa di rumah dewa. Dia mengendap-endap, bersembunyi dalam malam untuk menemui dewanya. Di hari Minggu ia tetap harus menemui tuhan lain. Tuhan yang tak pernah dirindukannya.

Lalu ada Hasbi. Seorang kiai beristri tiga. Berusaha sepenuh hati untuk hidup di jalan Tuhan. Dipuja banyak orang atas kesalehannya. Apakah yang terlihat benar selalu benar?

Baca kisah lengkapnya dalam novel pertama saya “Entrok” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. “Entrok” bisa didapatkan mulai 5 April 2010 di seluruh toko buku Gramedia. Don’t miss it! :D

*ilustrasi cover oleh Restu Ratnaningtyas

Let’s Rock, Baby!


Seorang sahabat ingin kelak anaknya menjadi rockstar :) . Saat ia menuliskannya di status facebook, saya hanya tertawa tanpa meninggalkan komentar. Suatu malam di atas mobil, ia kembali mengatakannya : ingin anaknya jadi rockstar yang rajin sholat. Kami semua tertawa. Katanya, dulu dia punya mimpi jadi rockstar. Saat masih SMA, dia pernah bisa main gitar dan manggung bersama bandnya. Uuuh..saya hampir tak percaya. Empat tahun mengenalnya saya baru tahu ia pernah bisa memainkan gitar!

Dulu sekali, saat masih SMP, saya minta dibelikan sebuah gitar. Gitar akustik murahan seharga lima puluh ribu. Saat itu, sama sekali saya tidak berniat jadi musisi apalagi rockstar. Saya hanya pingin bisa main gitar : agar keren, agar serba bisa, agar saya punya sedikit kemampuan di bidang seni. Maklum, saat itu saya : tidak bisa menyanyi, tidak bisa menari, tidak bisa menggambar :P

Saya mulai menghapalkan kunci-kunci, membeli buku kumpulan lagu seharga seribu limaratusan, mencocokkan kunci dengan lirik-liriknya. Saya masih ingat lagu pertama yang saya coba adalah Kemesraan. Berhari-hari saya hanya mencoba lagu itu saja. Seminggu pertama latihan gitar ujung-ujung jari saya bengkak. Ada bekas senar yang menonjol, agak perih kalau disentuh. Kata orang memang begitu saat pertama. Saya terus latihan, dan di minggu kedua bengkak itu hilang dengan sendirinya.

Emm..satu bulan…tiga bulan..enam bulan…saya tak tahu tepatnya kapan..saya mulai malas latihan. Lagu terakhir yang saya mainkan adalah Big Big World nya Emilia. Saya lebih memilih sibuk dengan majalah sekolah, menghapalkan sejarah, atau latihan soal-soal Fisika. Gitar saya hanya tergantung di dinding, berdebu dan ada sarang laba-laba di tengahnya. Seni itu tidak penting, pikir saya. Tidak bisa main gitar tidak akan membuat saya gagal mendapat juara kelas. Apalagi orang-orang selalu bilang saya tidak punya bakat di bidang seni. Ditambah kenyataan selama punya gitar saya hanya bisa memainkan beberapa lagu saja. Bandingkan dengan sepupu saya yang bisa mahir hanya dalam dua hari. Sejak itu saya melupakan seni.

Baru kemudian, saat kuliah, ketika orang-orang tidak ada yang peduli saya juara kelas atau tidak, ketika saya hanya perlu mempelajari apa yang saya suka, otak kanan saya meronta-ronta minta diperhatikan. Saya jatuh cinta setengah mati pada gambar-gambar. Saya mempelajari fotografi, saya datang ke pameran lukisan. Tentu saja saya masih tetap tak bisa menggambar. Saya hanya sedikit bisa memotret, itupun saya rasa (jangan-jangan) bukan karena saya punya nilai estetika tapi karena fotografi berbatas tipis dengan minat saya yang menggebu pada jurnalistik.

Minat saya pada seni semakin menguat setelah saya bekerja dan pindah ke Jakarta. Aneh juga. Banyak orang menjadi pragmatis dan nggak neko-neko saat sudah bekerja. Eee..saya malah sebaliknya. Saya merasa punya utang pada diri saya yang harus saya lunasi mulai saat itu : saat saya tidak tergantung secara finansial pada orang tua, saat saya punya banyak sumber informasi.

Saya membeli kamera profesional, saya datang ke pameran lukisan, saya menonton teater, saya membeli buku gambar dan pulas warna haha! Semuanya seiring dengan pembayaran utang saya untuk membaca banyak buku (saya tak punya uang saat kuliah, jadi tak bisa beli buku :P ).

Semuanya semakin menjadi setelah menikah. Suami saya itu, hemm…dia tak bisa menyanyi (kecuali di tempat karaoke), dia tak bisa main musik, dia tak berminat dengan seni rupa…tapi dia seorang penikmat musik yang serius. Iya, saya menggunakan kata serius. Dia mendengarkan banyak lagu, hapal semua liriknya, membandingkan musik yang satu dengan lainnya. Dari dia saya tahu Lennon dan McCartney sedang mempelajari agama Hindu saat menciptakan Across The Universe. Dia juga yang menjawab pertanyaan saya kenapa Sheila on 7 bisa begitu meledak di album pertama namun tak bisa bertahan lama. “Musik ‘Dan’ itu original, nggak mirip sama lagu apapun. Sayang, setelah itu lagunya ecek-ecek,” katanya.

Di antara keseriusannya menikmati musik, suami saya itu punya hobi agak norak : mengoleksi kaos-kaos bergambar grup musik kesukaanya. Diantaranya, dia punya The Beatles, The Police, dan The Who. Meski begitu, jangan mengira dia punya mimpi jadi rockstar. Bidang ini jauh sekali dari apa yang menjadi cita-citanya. Kalaupun ada sedikit keinginan dalam urusan musik, dia cuma ingin suatu saat nanti membuat sebuah artikel tentang musik. Katanya yang berbobot, yang memberi kritik secara berkualitas :P

Nah, gara-gara suami saya ini, saya mulai jatuh cinta pada musik, sebagaimana saya meminati fotografi dan menikmati seni rupa. Karena saya sudah tertinggal jauh sekali, saya memulai dari hal paling dasar : sering-sering mendengarkan musik. Saya juga akan mulai belajar alat musik lagi. Tentu saja jangan berpikir saya sedang bercita-cita jadi penyanyi atau pemain musik. Saya hanya sedang ingin menikmati hidup saja dengan selalu belajar, berkarya dan menikmati karya.

Hemm…kalaupun punya mimpi dalam bidang musik…(hehe jangan tertawa yah).. saya ingin sekali bisa menciptakan lagu :D Memadukan kemampuan saya menulis lirik dengan imajinasi saya terhadap bunyi. Kalau Krisdayanti dan Maia yang bisa menyanyi dan main musik saja pingin bisa menulis dan membuat buku, boleh donk kalau saya yang baru saja menyelesaikan satu novel punya keinginan sebaliknya…*nyengir*

ps :Mari bermimpi dan mewujudkannya..:D

Tombo Ati


Mengenang Gus Dur adalah mengingat separuh usia saya. Saat televisi berulang kali menayangkan gambarnya, saya malah sibuk menyusun kepingan-kepingan cerita yang berserakan dalam sisa ingatan. Bukan tentang Gus Dur, tapi tentang orang-orang di kampung halaman saya, sebuah desa di Magetan sana.

Suara Gus Dur menyanyikan Tombo Ati dalam sebuah tayangan obituari mengingatkan saya pada tembang-tembang pujian yang dinyanyikan seusai adzan. Ada banyak tembang dalam Bahasa Jawa yang isinya tentang pemujaan, doa dan harapan pada Ilahi. Ada juga tembang-tembang yang bersifat ajakan, mengingatkan orang untuk beriman dan beribadah. Tembang-tembang itu terdengar lima kali sehari dari seluruh masjid yang ada di kampung saya. Biasanya dinyanyikan keras-keras, dengan suara yang seringkali fals, bisa sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Saya tak pernah lagi mendengar tembang-tembang seperti itu setelah tinggal di Jogja dan Jakarta. Di dua kota itu tembang-tembang berganti dengan suara orang berdzikir atau melafalkan Quran. Awalnya saya tak tak terlalu memperhatikan. Baru belakangan saya tahu, sebagian orang menganggap tembang-tembang pujian itu tidak dibenarkan dalam agama.

Tahlilan selama tujuh hari yang diadakan untuk melepas kepergian Gus Dur mengingatkan saya pada selametan-selametan yang sering dihadiri Bapak saya. Ada banyak sekali selametan di kampung saya. Untuk selametan orang meninggal saja, ada selametan tujuh harian, empat puluh harian, juga selametan seratus hari, tahun pertama, tahun kedua, juga selametan seribu hari.

Selametan biasanya diadakan malam hari dan hanya dihadiri oleh laki-laki. Mereka duduk bersila di lantai, mengelilingi nasi tumpeng dan ayam panggang. Bersama-sama mereka membaca Yasin dan Tahlil, lalu seorang yang dituakan akan memotong tumpeng sambil membaca doa. Setelah itu para pemuda akan mulai sibuk menuju dapur. Mengambil piring-piring nasi dengan segala lauk pauk, dibagikan pada semua yang datang. Saat acara berakhir, semua yang datang masih akan mendapat snack atau nasi untuk dibawa pulang ke rumah, yang biasa disebut berkat. Saya masih ingat bagaimana saya dan adik saya berebut apem atau roti bolu dari berkat yang dibawa Bapak saya.

Di kampung saya, selametan tidak hanya soal bakti dan doa pada orang yang sudah meninggal. Ini juga soal hubungan antar manusia, bagaimana seseorang akan dianggap ‘patut’ dan bisa bertindak yang semestinya. Karena itu semua orang akan selalu mengikuti tradisi, menyelenggarakan selametan, agar tidak dianggap tidak peduli pada orang yang sudah mati. Sajian dalam selametan akan dibuat seenak-enaknya untuk menyenangkan orang yang diundang. Sebaliknya, yang diundang akan selalu datang karena takut dianggap tidak tahu diri.

Maka ketika ada beberapa orang yang tetap tak mau ikut selametan karena dilarang keyakinan, seluruh orang di kampung akan menjadikannya bahan omongan. Katanya orang-orang itu tak bisa bersosialisasi, tak tahu diri dan tak mau menghargai tradisi. Suatu hari, saat orang-orang tersebut punya hajatan, misalnya syukuran kikahan atau pernikahan, orang yang diundang membalas tak mau menghadiri.

Melihat gambar Gus Dur yang sedang berkhotbah di masjid, saya teringat khotib sholat Idul Fitri di lapangan depan rumah. Jamaahnya sedikit, hanya dua baris laki-laki dan sebaris perempuan. Sementara di jalan depan lapangan orang berlalu lalang. Yang rumahnya di sekeliling lapangan menonton dari balik jendela. Kebanyakan orang di kampung masih berpuasa, mengikuti apa yang dikatakan Menteri Agama. Orang-orang akan mengingat-ingat siapa saja yang memilih sholat di lapangan. Membicarakan mereka dalam setiap obrolan.

Dulu, waktu zaman belum sebebas ini, tak ada yang berani berbeda seperti ini. Saya masih ingat beberapa orang yang sholat Ied sembunyi-sembunyi di salah satu rumah tetangga. Pintu ditutup rapat, suara dikecilkan nyaris berbisik-bisik. Orang-orang kampung lainnya membicarakan penuh keheranan dan kebencian. Mendengar omongan orang, saya yang saat itu masih SD, malah berpikir kebablasan dengan menganggap orang-orang yang sholat sendiri itu sebagai pengikut aliran yang sesat.

Mendengar ulang kata-kata Gus Dur saat menentang kekerasan pada Ahmadiyah dan pemidanaan Lia Eden, ingatan saya meloncat tinggi, dari masa lalu ke masa kini. Bukan lagi di desa yang namanya tak tercantum dalam peta, melainkan di ibukota yang punya banyak gedung megah. Dua minggu sebelum Gus Dur pergi, muka saya masam saat mengisi kolom agama dalam formulir pendaftaran di sebuah rumah sakit terkemuka.

Ah, Gus, engkau terlalu cepat pergi!

on the Road : Home

Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

Sawah-sawah yang selalu hijau, di tanah datar atau lereng-lereng yang curam. Jalan utama yang hanya cukup untuk dua mobil, dengan toko-toko kecil di kiri kananya. Di ujung sana ada sebuah gunung, tinggi tapi tak angkuh. Dengan puncak yang landai dan cenderung rata.

Sungai-sungai berbatu yang deras saat musim penghujan, air terjun yang membuat tubuh beku, dan sebuah telaga di tengah pohon-pohon pinus.

Udara yang senantiasa bersih, meski tak selalu dingin dan tahun-tahun belakangan menjadi kering waktu kemarau. Matahari yang muncul dari balik rumah tetangga dan menghilang di sebuah pematang. Waktu yang selalu melambat, membiarkan semua orang berbaringan menikmati siang di teras belakang rumah.

Truk-truk pengangkut tebu yang berlalu lalang saat musim tebang. Juga bau yang khas saat melewati pabrik pembuat gula.

Desa-desa yang rapi. Rumah joglo tua dengan kandang-kandang di sampingnya. Mangga-mangga yang bergelantungan di setiap halaman. Menua, menguning, hingga codot-codot memakannya.

Anak-anak sekolah yang bersepeda atau berebut angkota. Pegawai-pegawai yang pulang ke rumah saat hari masih terang. Ibu-ibu yang duduk sambil mengobrol di warung kelontong dekat rumah.

Sego pecel yang tak pernah membosankan meski dimakan setiap pagi selama bertahun-tahun, gule kambing yang nikmat, juga ayam panggang sisa selametan yang selalu terbayang saat sedang menikmati ayam goreng dari negeri seberang.

Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?

Prev Older Entries