Perang, Manusia, dan Kemanusiaan

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demi  mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral. More

Obsesi

Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.

Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More

Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Haruskah Benar itu Sama?

1 April 2008
Pizza Hut Jakarta Theatre tak menyisakan meja kosong. Empat orang duduk di kursi antrean menunggu ada orang yang meninggalkan mejanya. Saya langsung menuju ke area merokok – mencari sosok yang telah menanti saya.

Memakai kemeja formal, rambut tergerai, lengkap dengan sepatu bertumit 5 centimeter, ia tampil cantik dan elegan malam ini. Saya serahkan bungkusan berisi dua kenang-kenangan dari Phuket yang sudah dua minggu lebih tersimpan di laci almari. Dan seperti yang saya duga, pertemuan ini akan diawali dengan berbagai cerita pencarian saya di tiga negara.

“Oke, cukup cerita tentang perjalanan. Sekarang ceritakan tentang kabarmu,” persahabatan yang telah lama terjalin membuat saya cukup paham dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

“Memang sedang ada masalah. Aku nggak nyangka, masalah yang itu muncul lagi.”

Bibirnya mulai lincah bergerak. Diiringi sorot mata yang mengekspresikan berbagai rasa : kecewa, sedih, berharap, dan ketulusan cinta. Suara yang timbul tenggelam di tengah hiruk pikuk pengunjung lain tak mengurangi konsentrasi saya mendengarkan ceritanya penuh perhatian.

“Ibunya keberatan kami menikah, tapi bukankah sejak dulu dia sudah tahu tentang latar belakang ku?” ujarnya.

Saya diam menyimpan kegeraman sambil menatapnya lekat-lekat. Adakah yang salah jika kebetulan ia terlahir dari keluarga yang percaya ada nabi lain setelah Muhammad?

31 Desember 2006
Kami tiba saat masjid sudah penuh jamaat. Inilah sholat Ied pertama yang saya lakukan di Jakarta. Idul Adha kali ini saya memilih menginap di tempat sahabat, merayakan Idul Adha bersama keluarganya, sekaligus merayakan pergantian tahun 2006-2007.

Usai sholat dua rakaat, khotbah dimulai. “Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Mataram dan berbagai daerah di lain yang masih belum bisa menjalankan ibadah,” kata khotib memulai isi khotbah.

Saya mulai menyadari dimana saya berada. Inilah pertama kali saya sadar latar belakang keyakinan sahabat saya. Kami pun berdiskusi banyak. Tentang segala perbedaan, tentang stigma masyarakat, tentang pemikirannya dan lingkunganya.

“Tapi Ky, emang aku belum pernah cerita ya dari dulu?”

Saya menggeleng. Ia memang belum pernah bercerita. Tapi apakah keimanan menjadi hal yang penting untuk kami bicarakan?

16 April 2008
Sebuah SMS masuk ke handphone saya. Isinya undangan dari Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk membahas keputusan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat yang melarang Ahmadiyah.

“Ber-Tuhan saja dilarang apalagi tidak ber-Tuhan,” tulis seorang teman wartawan di status kotak maya nya.

“Justru lebih enak tidak ber-Tuhan karena tidak ada yang nglarang-nglarang,” kata kekasih saya lewat telepon sebelum kami mengakhiri hari.

18 April 2008
pukul 10.30
Ia menyapa saya melalui kotak maya. “Ibunya masih menganggap kami berbeda dan melihat kami tidak seharusnya menikah.”

“Meskipun kamu sudah berkomitmen nantinya akan mengikuti suami?”

“Ya, bahkan Ayah ku sudah mengizinkan. Tidak ada masalah, yang penting tetap Islam.”

pukul 18.30
Kami bertemu di Taman Ismail Marzuki. Matanya menyimpan sejuta tanya dan kecewa.

“Sepertinya Ibunya takut, suatu saat setelah menikah aku akan mempengaruhi anaknya. Konyol kan? Kami telah 3 tahun berhubungan dan sejak awal mereka tahu semuanya.”

Matanya makin merah. Buliran air mata mulai mengalir.

Maaf sayang, aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu.

Mama dan Koruptor

Handphone saya bergetar jam 06.00 pagi tadi. Saat saya masih terlelap melanjutkan tidur babak kedua setelah bangun sebentar untuk sholat Subuh. Apalagi setelah sehari sebelumnya menghabiskan energi untuk penahanan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah, dan anggota DPR sekaligus suami penyanyi dangdut Kristina, Al Amin Nasution, tak ada alasan bagi saya untuk bangun sebelum jam 09.00.

Selama ini, hanya ada satu orang yang bisa menelpon saya di jam sepagi itu : Mama. Maka saya jawab juga panggilan itu, dengan mata yang masih terpejam dan suara ogah-ogahan. Seperti biasa, Mama selalu menanyakan kabar saya, kegiatan saya hari ini, bercerita soal keadaan keluarga di Magetan, tentang Manda- adik kecil saya yang baru berumur tiga tahun, hingga kabar terbaru situasi politik di Magetan menjelang Pemilihan Kepala Daerah bulan Juni nanti.

Sejak saya SMU, Mama mendirikan satu lembaga swadaya masyarakat dan aktif terlibat dalam berbagai bidang sosial, politik, hingga ekonomi di kota kami. Belakangan, menjelang Pemilu 2004, Mama bergabung dalam salah satu partai politik.

Undang-undang Pemilu saat itu yang memberikan kuota 30% bagi perempuan untuk menjadi anggota parlemen, menjadi salah satu motivasi Mama untuk aktif di parpol. Saya sendiri memberikan dukungan penuh. Bukan sekedar agar Mama bisa terpilih sebagai anggota DPRD, melainkan karena saya melihat inilah bentuk aktualisasi atas potensi yang dimilikinya.

Mama menjadi satu-satunya Ketua Partai Politik perempuan di Magetan. Dalam setiap acara seremonial, Ia akan selalu menonjol di tengah aktivis-aktivis lain yang berjenis kelamin laki-laki. Saat-saat itu saya sering menempatkan diri sebagai advisor dalam hal mode pakaian dan penampilan. Bersama Papa, kami juga menjadi partner diskusi, bahkan tak jarang diselingi letupan emosi karena perbedaan pendapat.

Meski kemudian Mama gagal mendapat kursi di legislatif, aktivitasnya baik melalui LSM maupun partai tidak berhenti. Kelahiran Manda empat bulan setelah Pemilu juga tidak menghambat kegiatan yang diikuti. Semua dilakukan dengan berbagi peran bersama Papa, terutama dalam hal mengasuh Manda.

Saya sendiri tidak terlalu ambil bagian karena setelah selesai kuliah di Jogja, langsung pindah ke Jakarta. Adik saya, Dewi, saat ini juga tengah kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, Malang. Beberapa kali dalam setahun kami bisa berkumpul bersama, menyaksikan tumbuh kembang Manda dari waktu ke waktu.

Marilah kita kembali ke perbincangan saya dan Mama tadi pagi. Sebagai ketua partai politik – bahkan sekalipun partai itu tidak mendapat kursi di parlemen- suara Mama dibutuhkan oleh bakal calon Bupati untuk bisa mencalonkan diri. Dukungan dari partai-partai seperti ini sangat dibutuhkan, selain dukungan dari partai besar seperti PDIP dan Golkar.Sejak tiga bulan lalu, Mama sudah sibuk menimbang-nimbang calon mana yang akan diberi dukungan. Apakah mantan Bupati yang baru keluar dari penjara karena terbukti korupsi, Bupati non aktif yang saat ini tengah menjalani hukuman karena terbukti korupsi, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah atau seorang pengusaha yang sukses menjadi jutawan setelah merantau di Jakarta.

Saya tidak pernah memberi saran siapa yang harus didukung. Selain saya tidak benar-benar tahu kualitas masing-masing calon, saya merasa Mama lebih tahu calon mana yang layak untuk didukung.

Mama tahu keseharian saya sebagai wartawan bidang hukum, yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di Komisi Pemberantasan Korupsi dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Kami sering berdiskusi tentang proses hukum pejabat yang terlibat korupsi.

Saat beberapa bulan lalu, Bupati non aktif, Saleh Muljono masih menjalani persidangan karena korupsi pembangunan GOR senilai Rp8 miliar, Mama selalu hadir dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Magetan.

Mama bercerita tentang kesaksian, tuntutan jaksa, upaya penangguhan penahanan, hingga Sekda Sumantri yang jatuh sakit usai memberi kesaksian. Ada juga cerita unik bagimana spanduk-spanduk saling berperang di tiap sudut Magetan. Isinya banyak yang menecam tindakan korupsi Saleh, tapi lebih banyak lagi yang justru memberi dukungan pada Saleh.

Lalu saya akan menanggapi informasi tersebut dengan ‘sudut pandang jakarta’. Tentang bagaimana KPK mengambil alih kasus korupsi daerah yang macet, tentang vonis Bupati Kendal dan Bupati Kutai Kartanegara.

Kira-kira empat bulan lalu, Saleh dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Mama mulai bercerita dengan cara lain. Setengah menyesalkan, Mama akan mengenang bagaimana tahun 2003, setahun menjelang Pemilu, Saleh terpilih sebagai Bupati Magetan. Saat itu Mama cukup dekat dengan Saleh.

Meski tidak terkatakan, secara tidak langsung kami telah menyepakati korupsi adalah bentuk kejahatan. Seseorang yang terbukti telah melakukan korupsi adalah orang yang secara moral cacat dan tidak layak menjadi pemimpin. Lha bagaimana mau memimpin kalau moralnya sudah cacat?

Bupati non aktif Saleh Mulyono yang divonis empat tahun, mantan Bupati Soedarmono yang menjabat saat orde baru dan baru selesai menjalani hukuman, sudah tidak layak lagi menjadi pemimpin Magetan. Mama tidak mendukung keduanya.

Dua hari lalu, Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Magetan telah menetapkan empat calon Bupati yang berhak mengikuti Pilkada bulan Juni. Dan seperti pentas sandiwara lainnya, Saleh Mulyono menjadi salah satu calon yang lolos verifikasi. Seorang Bupati non aktif yang saat ini tengah menjalani hukuman empat tahun penjara karena terbukti korupsi.

Duh Gusti!

*) foto keluarga oleh Dedy Priambodo, Oktober 2007

Sidang Sandiwara


Adakah kebenaran dalam pentas sandiwara?

Pertama kali saya melihat persidangan lewat televisi, pada pertengahan tahun 1990, ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Sekilas saja, karena hanya bagian kecil dari sebuah film. Biasanya adegan pembacaan vonis seorang penjahat oleh hakim yang berpakaian toga hitam-hitam. Hanya sekilas saja, karena persidangan itu bukan bagian utama cerita film itu sendiri.

Potongan adegan itu memberi saya pemahaman, persidangan di pengadilan adalah hukuman bagi orang-orang jahat. Orang-orang yang telah membunuh orang, mencuri, atau memerkosa. Jaksa dan hakim dengan toga hitamnya adalah orang-orang baik. Si pencari kebenaran, pemberi keadilan.

Tahun-tahun berikutnya, ketika saya duduk di bangku sekolah menengah, saya mulai menyaksikan persidangan dalam porsi yang sedikit lebih banyak. Meskipun tetap melalui televisi. Beberapa film atau serial dengan kisah utama proses persidangan mulai saya kenal pada masa-masa itu. Diantaranya adalah serial Ally Mc Beal atau Judge Bao.

Referensi saya mulai bertambah. Tidak selamanya orang yang dibawa ke persidangan adalah orang-orang jahat. Dalam beberapa kisah detektif ditunjukan, bagaimana seseorang sering dijebak atau terjebak sebagai pelaku pembunuhan. Dia ada di lokasi pembunuhan, sidik jari di tubuh korban, dan tidak ada saksi seorang pun. Padahal, kebetulan saja di berada di lokasi tersebut saat pembunuhan terjadi.

Dalam keadaan seperti inilah muncul pahlawan baru. Seorang pengacara. Mereka tampil sebagai pembela kebenaran. Membantah dakwaan jaksa, meyakinkan pendapat hakim. Mereka mengajukan segala bukti dan saksi. Dan mereka yang menang.

Persidangan dan pengadilan dalam potongan adegan layar kaca menjelaskan permasalahan kehidupan dengan sederhana. Benar atau salah. Pahlawan atau penjahat. Hitam atau putih. Semua dalam satu sudut pandang : kebenaran adalah apa yang nanti dikatakan oleh hakim.

Saat ini – beberapa tahun setelah saya menjadi salah satu penganut logika sederhana itu – saya terjebak dalam adegan persidangan yang seutuhnya. Tidak lagi melalui film ataupun potongan berita sekilas di layar televisi.

Masih ada hakim dan jaksa berpakaian toga, orang yang melakukan kejahatan di kursi terdakwa, dan tentu saja pengacara yang siap membela. Persidangan tidak hanya adegan pembacaan putusan hakim atau penampilan prima pengacara yang mampu mematahkan semua dakwaan jaksa.

Persidangan adalah penyatuan segala skenario. Skenario jaksa, skenario pengacara, skenario pesakitan, skenario saksi, hingga akhirnya skenario hakim. Masing-masing mengemukakan kebenaran dari sudut pandangnya. Sulit melihat mana yang hitam, mana yang putih.

Rokhmin Dahuri, misalnya, tampil sebagai korban sistem. Seorang menteri yang tak tahu apa-apa, melanjutkan kebijakan menteri sebelumnya, lalu membagi uang yang bukan hak nya untuk berbagai pihak. Calon presiden, politisi, mahasiswa, wartawan, hingga korban bencana.

Irawady Joenoes, melakonkan peran seorang detektif. Seorang agen rahasia yang hendak membongkar kasus penyuapan dengan cara menerima suap.

Dalam kasus lain yang belum masuk ruang sidang, Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani yang tertangkap basah melakukan serah terima uang Rp6 miliar, menyusun skenario jual beli permata.

Ruang persidangan menjadi saksi, bagaimana masing-masing skenario saling diadu dan diuji kebenarannya. Hingga pada akhirnya Hakim membacakan skenario yang mereka susun sendiri. Sebuah kebenaran akhir yang disusun berdasarkan skenario-skenario sebelumnya.

Sebuah film Hollywood yang saat ini tengah diputar di bioskop – Vantage Point – menyajikan dengan sangat apik bagaimana skenario dari berbagai orang bertemu di satu titik : kebenaran.

Film ini bercerita tentang aksi terorisme yang hendak melakukan pembunuhan pada Presiden Amerika. Yang menarik, film ini menampilkan 13 menit sebelum penembakan terjadi dari sudut pandang masing-masing pelaku. Sudut pandang media, pengawal Presiden, Presiden, pelaku teror, hingga seorang turis yang kebetulan tengah melancong di Spanyol.

Film ini menyindir dengan sangat tepat bahwa apa yang kita ketahui hanya setitik bagian dari kebenaran itu sendiri. Termasuk fakta bahwa yang disampaikan media hanya selaput tipis paling luar dari kenyataan yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan skenario kebenaran versi hakim? Adakah juri bagi hati nurani?

Post Card from Bali (3)

hohoho…
Adakah yang lebih lucu dibandingkan kematian Soeharto,
satu hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi United Nations Convention Against Corruption?
hohoho…
aku benar-benar bingung dengan ini semua….
Nusa Dua, 29 Januari

Semua yang Hilang


BUPATI cantik itu berbicara setengah histeris. Nada suaranya tinggi, penuh amarah. Matanya membelalak, masih terlihat merah, pertanda baru saja mencucurkan air mata.

“Saya janda. Bekerja keras untuk anak dan keluarga. Saya bekerja di Kalimantan Timur bukan diberi Pak Syaukani!” katanya sambil mengacungkan jari.

Kata-kata terus meluncur dari mulutnya. Pembelaan diri bahwa yang dilakukannya bukan kesalahan. Keyakinan bahwa dia bukan seorang koruptor.

Mendengar kelantangan suaranya, tak akan ada yang menduga jika beberapa menit sebelumnya perempuan ini menangis meraung-raung dan nyaris pingsan.

Justru kini, rombongan yang menunggui pemeriksaannya di KPK selama 9 jam yang tak mampu menahan tangis. Mereka terisak dan berteriak, berusaha menghentikan omongan Si Bupati. “Sudah Ibu…sudah…”

Lalu semuanya berjalan dengan cepat. Petugas KPK menggiring Si Bupati menuju mobil tahanan. Rombongan pendukungnya langsung masuk ke mobil masing-masing. Mesin menderu. Iring-iringan mobil berjalan.

Bupati Minahasa Utara, mantan Putri Sulawesi Utara, Direktur Utama Pt Mahakam Diastar International, Vonnie Anneke Panambuan, memulai hari-harinya di rumah tahanan Bareskrim Mabes Polri. Dia ditahan, satu bulan menjelang perayaan Natal.

Sebuah kenyataan hidup yang mungkin tak pernah terbesit sedikitpun di benak Vonnie. Bahkan saat menerima lebih dari Rp6 miliar untuk mengerjakan uji kelayakan pembangunan bandara di Kutai Kartanegara. Padahal, hanya butuh sekitar Rp2 miliar untuk melakukan uji kelayakan.

Mungkin dia hanya berpikir tentang betapa indahnya kehidupan dengan pundi-pundi kekayaan yang dimiliki. Tentang jumlah mobil dan banyaknya rumah. Tentang kehormatan dan kekuasaan. Kini, alih-alih menikmatinya, penjara justru yang didapatkan.

Vonnie bukanlah satu-satunya. Hampir setiap hari saya menyaksikan tangisan, amarah, dendam, juga sesal dari pesakitan-pesakitan kasus korupsi di negeri ini.

Orang-orang yang semula hampir telah mendapatkan segalanya dalam hidup mereka. Karier cemerlang yang terwujud dalam jabatan, harta yang berkecukupan, kehormatan, dan nama besar. Segalanya dinikmati dengan cinta yang melimpah dari orang-orang terdekat.

Orang-orang yang telah lama bekerja keras. Memeras keringat dengan harapan dapat menikmati kebahagiaan hidup di dunia. Menumpuk kekayaan agar bisa hidup berkecukupan sampai akhir hayat, juga untuk keturunannya.

Beberapa diantaranya telah berusia senja. Masa-masa dimana hari-hari diisi dengan berlibur di rumah tepi danau bersama anak dan cucu. Saat seharusnya dia menikmati hasil kerja keras selama bertahun-tahun, bukan malah duduk seorang diri dalam sel sempit dan dihujat orang setiap hari.

Manusia seringkali lupa, ketika semua telah dimiliki dengan sempurna, saat itulah kita akan kehilangan.

*) foto : mantan Gubernur Kalsel, Sjachriel Darham, sholat berjamaah dengan istrinya di Pengadilan Tipikor di sela-sela sidang korupsi yang dilakukannya.

Prev Older Entries