Dari atas bukit..

Kami ke Lombok lagi. berangkat dengan segudang rencana untuk sekaligus menyeberang ke Sumbawa, Moyo, dan Komodo. Tapi apa daya, kami terperangkap oleh keindahan. More

Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Masih Ada Kereta ke Pariaman, Bundo…

Setiap akhir pekan, kereta itu selalu penuh.  Pada libur Lebaran tahun lalu, penumpang membludak dan tak terangkut. Mereka semua ingin ikut mencicipi sensasi perjalanan di dalam besi panjang dengan mata yang selalu dimanjakan oleh keindahan. Menyusuri sawah yang hijau, naik turun perbukitan, dan melintasi sungai yang airnya mengalir deras. Semuanya bisa didapat dengan Rp15 ribu saja. Tapi itu dulu. Gempa bumi 7,9 skala Richter menghentikan operasi kereta wisata dari Padang ke Padang Pariaman. More

Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Apa gambaran Anda tentang tempat bulan madu? Paket lengkap wisata Bali  atau perjalanan ke berbagai negara, mendatangi tempat yang ditawarkan di brosur wisata?

Impian saya tentang bulan madu adalah pulau yang sepi dengan pantai yang indah. Tak ada belanja, tak ada musik dan keramaian. Tempat dimana saya dan suami hanya akan bermalas-malasan dan bermesraan dengan bebas. Di alam terbuka, kapan saja, karena pulau itu hanya milik saya dan dia.

Impian itu yang membawa kami berdua ke Gili Meno –salah satu pulau di Lombok – minggu terakhir Desember 2008. Kami memilih Meno setelah mempertimbangkan beberapa pulau impian lainnya. Seperti Togian di Teluk Tomini,  Wakatobi di perairan  Sulawesi Tenggara, hingga beberapa pulau di Kepulauan Riau. More

Sisa Gelombang Besar Itu Nyaris Tiada…

Sisa Gelombang Besar Itu Nyaris Tiada

Oleh : Okky Puspa Madasari

Awalnya, kedatangan kami ke Phuket memang hanya untuk Maya Bay. Impian tentang surga dunia yang dinikmati Leonardo DiCaprio dalam film The Beach. Satu tempat rahasia di Laut Andaman yang tersembunyi di balik karang raksasa. Tempat di mana waktu dan keindahan menjadi milik kami seutuhnya.

Empat hari berada di Phuket menyadarkan kami bahwa pulau ini tak hanya menawarkan Maya Bay, berenang di lautan, atau tiduran di kursi malas di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Menikmati Phuket berarti menyaksikan geliat kehidupan setelah lima ribu nyawa terenggut akibat tsunami pada 26 Desember 2004 . More

Ode Sebuah Taman


Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.

Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan.

Kata petugas itu, perintah sudah turun sejak Obama mau datang. Katanya, jangan sampai presiden negara besar itu terganggu dengan kehadiran orang-orang. Lalu saat istri Jenderal AH Nasution meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, katanya, banyak pejabat tinggi yang marah karena taman itu bisa dipakai tempat pacaran.

Padahal, taman ini berbatas tembok tinggi dengan Taman Makam Pahlawan. Masing-masing dengan gerbang sendiri-sendiri. Tidak akan pernah ada yang terganggu satu sama lain. Lagipula, seberapa sering ada presiden yang mau datang? Juga seberapa sering ada upacara kematian?

Ah, beginilah rasanya kehilangan kesenangan. Tempat itu terlanjur menghiasi benak saya. Danaunya yang tak terlalu luas, di mana burung-burung prenjak suka menukik rendah, menyentuh air sebentar lalu terbang bebas. Taman rumput di pinggir danau, tempat tumbuh frangipani, aster, dan berbagai bunga yang saya tak tahu namanya. Di situ saya kerap duduk, membaca buku atau melipat kaki dan memejamkan mata. Batako di sekelilingnya, tempat saya dan Abdul lari pagi. Dan yang terindah adalah saat matahari perlahan-lahan turun, membuat air danau keemasan, lalu menghilang tepat tegak lurus dari tempat duduk di pinggir danau.

Kami berdua memang pecinta taman-taman kota. Kami selalu ingat bagaimana matahari tenggelam di balik Gedung Departemen Perhubungan saat kami duduk di kolam ikan koi, sebelah lapangan basket Monas. Di Situ Lembang, saya melebur dalam keceriaan anak-anak yang berenang-renang di danau. Di Suropati kami tahu bagaimana burung dara menikmati alunan biola. Di Danau UI, kalau sedang tak memandang ke arah bangunan tinggi rektorat, kami kerap lupa ini hanya selangkah dari Jakarta. Dan betapapun indahnya taman-taman itu, tetap saja rasa kecewa itu menggelanyuti ketika salah satu terpaksa pergi.

Tolong, tolong, buka kembali pintu pagar itu. Biarkan kami menjadi warga kota yang manusiawi. Jangan paksa kami menua di dalam gedung-gedung tinggi berpendingin udara, mengukur bahagia dengan hanya berbelanja. Biarkan keindahan itu bisa dinikmati. Agar kami masih selalu ingat, masih ada yang bisa disyukuri dari pembangunan kota ini. Danau itu akan merindukan pengunjung, rumput-rumput itu butuh sentuhan kaki kami, dan burung-burung itu akan selalu mencari pemujanya.

Lagipula, bukankah taman itu milik kami juga?

*) first publhised on www.rujak.org

Hujan Pertama

Hari Minggu pertama bulan Oktober. Hujan deras di Kalibata. Melalui jendela yang sedikit terbuka, saya bisa merasakan percikan-percikan air membasahi lengan. Sesekali hembusan angin menerbangkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

Hujan di hari Minggu bukanlah hal yang menyenangkan. Banyak orang yang harus menunda berangkat ke tempat belanja, menanti dalam gerutu yang membosankan. Orang-orang yang lain sibuk menelpon seseorang di tempat yang berbeda, mengabarkan keterlambatan atau penundaan atas janji pertemuan. Dan sebagian lainnya menyandarkan tubuh di tembok-tembok bangunan yang terkunci, menyembunyikan diri dari air yang mengguyur jalanan, dengan wajah yang tidak sabar.

Dan kami nyaris melewatkan hujan itu sebagaimana biasanya. Meringkuk di depan televisi, menyaksikan reporter-reporter berambut merah menyiarkan kabar dari tanah Minang. Sampai kemudian keinginan itu muncul begitu saja. Merayakan hujan, sebagaimana kami merayakan langit biru dan matahari terbenam.

Kami berlari ke luar rumah. Menyusuri jalanan yang basah, melewati air-air yang tergenang, menuju sebuah lapangan bola. Merasakan dinginnya air yang merembes ke balik baju. Sesekali mendongakkan kepala, membuka mulut, membiarkan air masuk ke dalam kerongkongan.

Inilah perayaan. Saat kami bisa berjingkrak riang dan tertawa lepas. Inilah syukur. Saat tak ada keluh dan tak lagi meminta apa yang tak ada. Inilah hidup. Saat kami bergandengan mesra dengan waktu, berjalan seiring tanpa merasa ditinggal atau meninggalkan.

Lalu kami teringat hujan di tempat lain. Tak ada perayaan karena tak ada yang tertawa riang. Tak ada syukur, karena setiap orang meminta Tuhan merubah keadaan. Bukan pula sebuah kehidupan, karena setiap orang berhadapan dengan kematian.

Di sana orang-orang tak lagi punya atap. Bukan seperti pramuka yang kemudian bisa tidur nyenyak dibawah tenda beralaskan tikar. Tak semua punya tenda, tak semua punya tikar. Semuanya kedinginan, semuanya kelaparan. Dan entah kenapa, di tempat yang sudah bergetar seperti itu, hujan mengguyur sepanjang malam.

Kami berduka. Kami turut juga merasakan. Sehingga tak perlu lagi bertanya, “Bagaimana perasaan, Anda?”

Kami berdoa dalam perayaan. Agar kita saling menguatkan dan saling mengingatkan.

on the Road : Home

Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

Sawah-sawah yang selalu hijau, di tanah datar atau lereng-lereng yang curam. Jalan utama yang hanya cukup untuk dua mobil, dengan toko-toko kecil di kiri kananya. Di ujung sana ada sebuah gunung, tinggi tapi tak angkuh. Dengan puncak yang landai dan cenderung rata.

Sungai-sungai berbatu yang deras saat musim penghujan, air terjun yang membuat tubuh beku, dan sebuah telaga di tengah pohon-pohon pinus.

Udara yang senantiasa bersih, meski tak selalu dingin dan tahun-tahun belakangan menjadi kering waktu kemarau. Matahari yang muncul dari balik rumah tetangga dan menghilang di sebuah pematang. Waktu yang selalu melambat, membiarkan semua orang berbaringan menikmati siang di teras belakang rumah.

Truk-truk pengangkut tebu yang berlalu lalang saat musim tebang. Juga bau yang khas saat melewati pabrik pembuat gula.

Desa-desa yang rapi. Rumah joglo tua dengan kandang-kandang di sampingnya. Mangga-mangga yang bergelantungan di setiap halaman. Menua, menguning, hingga codot-codot memakannya.

Anak-anak sekolah yang bersepeda atau berebut angkota. Pegawai-pegawai yang pulang ke rumah saat hari masih terang. Ibu-ibu yang duduk sambil mengobrol di warung kelontong dekat rumah.

Sego pecel yang tak pernah membosankan meski dimakan setiap pagi selama bertahun-tahun, gule kambing yang nikmat, juga ayam panggang sisa selametan yang selalu terbayang saat sedang menikmati ayam goreng dari negeri seberang.

Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?

Prev Older Entries