Perang, Manusia, dan Kemanusiaan

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demiĀ  mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral. More

Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Entrok

beredar 5 April 2010. don’t miss it! :D

Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada kata itu. Kata itu saya peroleh dari nenek saya, di Magetan sana. Sejak saya masih kanak-kanak hingga sekarang, dia senantiasa mengulang-ulang cerita yang sama tentang entrok. Entrok yang membuatnya bisa seperti ini : punya rumah, punya sawah, bisa menyekolahkan anak sampai jadi sarjana. Entrok yang membuatnya mengerti, segala sesuatu dalam hidup hanya bisa didapatkan dengan keringatnya sendiri. Baginya, entrok adalah penderitaan dan kemiskinan, sekaligus kebanggaan dan kejayaan.

Enam puluh tahun sudah entrok menjadi bagian hidup nenek saya. Bagi anak dan cucunya, entrok mungkin hanya bagian dari petuah dan cerita masa lalu yang membosankan karena saking seringnya diulang. Tapi betapapun bosannya, entrok telah terlanjur menempati ruang ingatan di hati kami. Saya mengingat entrok, sebagaimana saya mengingat nenek saya.

Kini, entrok tidak hanya menjadi ingatan dalam keluarga kami. Melalui rangkaian kata-kata, saya menyusun kepingan-kepingan kisah tentang entrok dalam sebuah novel. Entrok bahkan menempati tempat istimewa dengan menjadi judul dari novel ini. Sejak memulai pengerjaan novel ini pertengahan tahun 2009, saya sudah memilih “Entrok” sebagai judul.

Selain menjadi pangkal dari kisah yang saya tuliskan, saya merasa kata itu unik, eksotik, dan mudah diingat. Memang kata ini terlalu asing dan banyak yang tidak mengetahui artinya. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang saat mendengar kata entrok. Jawabannya beragam, mulai dari sejenis bebek hingga obat mencret (entrokstop) . Ada juga yang bertanya bagaimana mengucapkan kata entrok. Saya jawab, ‘e’ nya diucapkan sebagaimana kata ‘tempe’, bukan ‘besar’. Dengan keasingannya, saya dan Gramedia tetap nekat menjadikan ‘entrok’ sebagai judul. Toh nanti pembaca akan mengetahui artinya dengan membaca sendiri novelnya :)

Figur nenek saya dan entroknya hadir melalui tokoh Marni, seorang perempuan Jawa buta huruf yang masih kuat memegang tradisi leluhur. Melalui tumpeng dan ayam panggang ia temukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal tuhan yang datang dari negeri nun jauh. Tidak tuhan dari timur, tidak tuhan dari barat. Dengan caranya sendiri ia mempertahankan hidup, menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak membunuh, menipu, mencuri, atau merampok?

Generasi kedua dan ketiga dalam keluarga kami menjelma dalam karakter Rahayu, anak perempuan Marni. Ia generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika Marni dan Rahayu berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi asing satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing, tak pernah ada titik temu.

Kisah ini berlatar masa Orde Baru, pada periode tahun 70-80-hingga 90an. Saya menunangkan segala ingatan saya tentang masa itu. Sepatu-sepatu lars, sumbangan kampanye dan kewajiban mencoblos partai kuning. Itulah masa dimana banyak sekali dibangun gardu. Kentongan, ronda, warga kampung yang ikut berseragam hijau. Saya masih ingat bagaimana segala sistem keamanan itu membuat kami semua justru merasa tidak aman :( . Disinilah kemudian ada titik temu antara Marni dan Rahayu. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

Diantara mereka juga ada Cayadi. Seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit. Orang tuanya datang ke negeri ini pada satu masa yang lampau. Dia sendiri hanya mengenal tanah dan udara yang ditempatinya, bukan negeri leluhurnya. Dalam segala kepatuhan warga negara, ingin sesekali ia memenuh harapan ibunya untuk berdoa di rumah dewa. Dia mengendap-endap, bersembunyi dalam malam untuk menemui dewanya. Di hari Minggu ia tetap harus menemui tuhan lain. Tuhan yang tak pernah dirindukannya.

Lalu ada Hasbi. Seorang kiai beristri tiga. Berusaha sepenuh hati untuk hidup di jalan Tuhan. Dipuja banyak orang atas kesalehannya. Apakah yang terlihat benar selalu benar?

Baca kisah lengkapnya dalam novel pertama saya “Entrok” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. “Entrok” bisa didapatkan mulai 5 April 2010 di seluruh toko buku Gramedia. Don’t miss it! :D

*ilustrasi cover oleh Restu Ratnaningtyas

Ahimsa


Entah berapa banyak teman yang marah ketika saya menuliskan : Dunia lebih indah tanpa pabrik senjata, tentara, dan…bonek! Mulai dari teman-teman perempuan yang merasa perlu menyimpan pistol kecil di tasnya untuk melawan pemerkosa, teman-teman SMA yang setelah lulus masuk sekolah militer, dan tentu saja teman-teman sesama arek Jawa Timuran yang mati urip membela Persebaya.

Mereka boleh marah. Tapi saya tetap akan menuliskannya berulang kali : di status Facebook, di account Twitter, dalam kotak perbincangan maya, juga pada secarik kertas yang saya tempel di dinding depan meja kerja saya. Seperti mereka, saya juga sedang marah.

Apa yang ada di kepala pendukung Persebaya saat melempar batu pada orang-orang di Stasiun Jebres? Semua media menulis Bonek yang lebih dulu melempar, lalu orang-orang di Jebres balik melawan. Sementara teman saya yang seorang Bonek berkata, “Bukan kami yang lebih dulu melempar. Orang-orang yang memulai, lalu kami yang jadi korban terpaksa membalas.”

Lalu seperti biasanya, kalau ada masalah-masalah seperti ini, orang-orang yang punya kuasa akan membentuk tim investigasi. Mereka akan mengumpulkan bukti-bukti, mencari tahu siapa yang sebenarnya memulai. Tapi buat apa?

Perang batu sesama suporter kesebelasan bukan baru pertama terjadi di negeri ini. Jika tahun ini mereka dilempar, tahun depan mereka akan ganti melempar. Bisa saja, memang benar insiden di Stasiun Jebres bukan dimulai oleh Bonek. Tapi orang juga tidak akan lupa begitu saja bagaimana tindakan anarki yang mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kefanatikan telah begitu membutakan orang-orang ini. Tidak hanya Bonek, tapi juga pendukung kesebelasan di Solo dan kemungkinan besar juga suporter-suporter lainnya. Ketika saya menulis “Dunia lebih indah tanpa…Bonek” sebenarnya itu hanyalah simplifikasi. Penyebutan sebagian saja untuk mengungkapkan yang keseluruhan. Bisa juga penyebutan seluruhnya padahal yang saya maksud hanya anarkismenya.

Saya ingin tidak usah ada suporter sepak bola saja kalau masih gontok-gontokan. Setidaknya sampai orang-orang Bonek bisa mengerti bagaimana enaknya berfoto bersama pendukung Persija setelah Persebaya kalah 0-1. Sampai yang seperti itu bisa terwujud, biarkan saja suporter bola menonton pertandingan dari televisi, memukul tembok rumah setelah kesebelasan jagoan kalah.

Ini bukan keinginan yang terlalu aneh jika dibanding mimpi saya yang lain : dunia tanpa pabrik senjata dan tentara. Orang-orang di dekat saya pasti sudah maklum. Yang lainnya akan menganggap saya aneh, idiot, tidak mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.

Justru saya begini karena saya mengikutinya. Pabrik senjata kebanggaan negeri yang salah sasaran waktu uji coba roket, Korea Utara-Korea Selatan yang sedang asyik tembak-tembakan, pasokan-pasokan senjata ilegal di Mindanao dan Sudan. Belum lagi bagaimana anggaran yang harusnya bisa digunakan untuk kesehatan dan pendidikan yang tersedot untuk pengadaan pesawat perang.

Film Lord of War yang dibintangi Nicolas Cage memberi kita gambaran yang nyata dan jujur bagaimana senjata diproduksi, dipasok, dan digunakan hanya untuk kekerasan. Oleh penguasa ke masyarakat sipil, kaum radikal yang mentasnamakan agama, juga antara kekuatan militer dua negara.

Saya tak pernah percaya dengan orang-orang realis yang selalu mengatakan dua negara yang punya senjata nuklir tak akan pernah berperang. Lalu buat apa dibuat kalau hanya untuk pajangan. Berapa banyak anak-anak gelandangan bisa ditampung di rumah susun sederhana dan diberi jaminan hidup dengan biaya pembuatan nuklir?

Ah, saya memang berlebihan. Tapi biarkan saja. Saya cuma sedang memelihara mimpi : sebuah dunia tanpa kekerasan, fanatisme tanpa anarkisme. Ahimsa!

Tombo Ati


Mengenang Gus Dur adalah mengingat separuh usia saya. Saat televisi berulang kali menayangkan gambarnya, saya malah sibuk menyusun kepingan-kepingan cerita yang berserakan dalam sisa ingatan. Bukan tentang Gus Dur, tapi tentang orang-orang di kampung halaman saya, sebuah desa di Magetan sana.

Suara Gus Dur menyanyikan Tombo Ati dalam sebuah tayangan obituari mengingatkan saya pada tembang-tembang pujian yang dinyanyikan seusai adzan. Ada banyak tembang dalam Bahasa Jawa yang isinya tentang pemujaan, doa dan harapan pada Ilahi. Ada juga tembang-tembang yang bersifat ajakan, mengingatkan orang untuk beriman dan beribadah. Tembang-tembang itu terdengar lima kali sehari dari seluruh masjid yang ada di kampung saya. Biasanya dinyanyikan keras-keras, dengan suara yang seringkali fals, bisa sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Saya tak pernah lagi mendengar tembang-tembang seperti itu setelah tinggal di Jogja dan Jakarta. Di dua kota itu tembang-tembang berganti dengan suara orang berdzikir atau melafalkan Quran. Awalnya saya tak tak terlalu memperhatikan. Baru belakangan saya tahu, sebagian orang menganggap tembang-tembang pujian itu tidak dibenarkan dalam agama.

Tahlilan selama tujuh hari yang diadakan untuk melepas kepergian Gus Dur mengingatkan saya pada selametan-selametan yang sering dihadiri Bapak saya. Ada banyak sekali selametan di kampung saya. Untuk selametan orang meninggal saja, ada selametan tujuh harian, empat puluh harian, juga selametan seratus hari, tahun pertama, tahun kedua, juga selametan seribu hari.

Selametan biasanya diadakan malam hari dan hanya dihadiri oleh laki-laki. Mereka duduk bersila di lantai, mengelilingi nasi tumpeng dan ayam panggang. Bersama-sama mereka membaca Yasin dan Tahlil, lalu seorang yang dituakan akan memotong tumpeng sambil membaca doa. Setelah itu para pemuda akan mulai sibuk menuju dapur. Mengambil piring-piring nasi dengan segala lauk pauk, dibagikan pada semua yang datang. Saat acara berakhir, semua yang datang masih akan mendapat snack atau nasi untuk dibawa pulang ke rumah, yang biasa disebut berkat. Saya masih ingat bagaimana saya dan adik saya berebut apem atau roti bolu dari berkat yang dibawa Bapak saya.

Di kampung saya, selametan tidak hanya soal bakti dan doa pada orang yang sudah meninggal. Ini juga soal hubungan antar manusia, bagaimana seseorang akan dianggap ‘patut’ dan bisa bertindak yang semestinya. Karena itu semua orang akan selalu mengikuti tradisi, menyelenggarakan selametan, agar tidak dianggap tidak peduli pada orang yang sudah mati. Sajian dalam selametan akan dibuat seenak-enaknya untuk menyenangkan orang yang diundang. Sebaliknya, yang diundang akan selalu datang karena takut dianggap tidak tahu diri.

Maka ketika ada beberapa orang yang tetap tak mau ikut selametan karena dilarang keyakinan, seluruh orang di kampung akan menjadikannya bahan omongan. Katanya orang-orang itu tak bisa bersosialisasi, tak tahu diri dan tak mau menghargai tradisi. Suatu hari, saat orang-orang tersebut punya hajatan, misalnya syukuran kikahan atau pernikahan, orang yang diundang membalas tak mau menghadiri.

Melihat gambar Gus Dur yang sedang berkhotbah di masjid, saya teringat khotib sholat Idul Fitri di lapangan depan rumah. Jamaahnya sedikit, hanya dua baris laki-laki dan sebaris perempuan. Sementara di jalan depan lapangan orang berlalu lalang. Yang rumahnya di sekeliling lapangan menonton dari balik jendela. Kebanyakan orang di kampung masih berpuasa, mengikuti apa yang dikatakan Menteri Agama. Orang-orang akan mengingat-ingat siapa saja yang memilih sholat di lapangan. Membicarakan mereka dalam setiap obrolan.

Dulu, waktu zaman belum sebebas ini, tak ada yang berani berbeda seperti ini. Saya masih ingat beberapa orang yang sholat Ied sembunyi-sembunyi di salah satu rumah tetangga. Pintu ditutup rapat, suara dikecilkan nyaris berbisik-bisik. Orang-orang kampung lainnya membicarakan penuh keheranan dan kebencian. Mendengar omongan orang, saya yang saat itu masih SD, malah berpikir kebablasan dengan menganggap orang-orang yang sholat sendiri itu sebagai pengikut aliran yang sesat.

Mendengar ulang kata-kata Gus Dur saat menentang kekerasan pada Ahmadiyah dan pemidanaan Lia Eden, ingatan saya meloncat tinggi, dari masa lalu ke masa kini. Bukan lagi di desa yang namanya tak tercantum dalam peta, melainkan di ibukota yang punya banyak gedung megah. Dua minggu sebelum Gus Dur pergi, muka saya masam saat mengisi kolom agama dalam formulir pendaftaran di sebuah rumah sakit terkemuka.

Ah, Gus, engkau terlalu cepat pergi!

Politik Ranjang

Kata siapa cinta dan pernikahan menyatukan dua manusia?

Ada banyak ketidaksatuan antara saya dan Abdul dalam memandang suatu perkara. Perkara yang saya maksudkan ini adalah hal-hal umum, terjadi jauh di luar tempat tinggal kami, dan tidak punya urusan langsung dengan kami selain disambungkan oleh gambar-gambar di televisi atau tulisan-tulisan di koran dan buku.

Ketidaksatuan ini mengemuka dalam setiap sesi ngerumpi kami, yang biasanya dilakukan di pagi hari setelah mata melek dan di malam hari sebelum tidur. Kasur kami, yang kian hari makin kempes itu, menjadi tempat paling produktif di tempat tinggal kami. Mulai dari urusan sosialisme dan kapitalisme sampai urusan orgasme (haha).

Waktu kasus Siti Hajar terjadi, saya berkata memang seharusnya tidak ada lagi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri kalau hanya jadi babu. Boleh eksport tenaga kerja ke luar negeri, tapi itu harus tenaga kerja yang terdidik, yang punya keahlian. Kerja di negeri orang harus membawa kebanggaan bukan malah jadi korban penyiksaan. Pemerintah harus kerja keras memikirkan lapangan kerja untuk mereka di negeri sendiri. Lagipula kemana larinya semua sumber daya alam negeri ini?

Abdul tidak sepakat dengan pelarangan. Biarkan saja mereka bekerja di negeri orang walaupun jadi babu. Penghasilan mereka jelas-jelas telah membantu meningkatkan devisa. Selain itu, faktanya di dalam negeri tidak tersedia lapangan kerja. Yang harus dilakukan adalah membenahi sistem. PJTKI harus kerja sesuai aturan, KBRI harus peduli pada warga negaranya dan melakukan kontrol yang rutin pada setiap pekerja. Petugas KBRI sebulan sekali mendatangi TKI, memastikan tidak ada penyiksaan, gaji diterima teratur, dan paspor tidak disembunyikan majikan.

Suatu hari kami terjebak kemacetan akibat pasar kaget di pinggir jalan. Saya bilang, pemerintah harusnya membangun pasar yang layak untuk mereka. Lokasinya harus di pinggir jalan, gampang diakses pembeli, sehingga mendatangkan banyak keuntungan untuk pedagang tanpa mengganggu lalu lintas. Abdul bilang, ini akibat pemerintah yang tidak tegas menerapkan peraturan. Kata dia, untuk hal-hal tertentu kita harus fair dan mengakui bahwa mental manusialah sumber masalahnya.

Abdul sangat tahu saya orang yang akan selalu menolak kenaikan anggaran pertahanan atau militer. Waktu banyak pesawat TNI jatuh, lalu semua orang ribut mendukung kenaikan anggaran, saya justru berpikir sebaliknya. Kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan perut jauh lebih mendesak dibanding membeli pesawat baru. Kalau memang nyatanya pesawat tempur sudah tidak layak terbang, ya tidak perlulah latihan-latihan terbang dulu. Lagipula di atas segalanya, saya percaya dunia akan lebih menyenangkan tanpa senjata.

Dalam hal ini, Abdul berdiri di seberang saya. Sebagai orang yang sama-sama pernah belajar ilmu Hubungan Internasional, kami tahu, kami berada di titik yang saling bertolak belakang : idealis dan realis. Tentu saja saya yang idealis dan Abdul lebih cenderung realis. Saya percaya bahwa semua manusia dasarnya baik dan perang tidak akan terjadi kalau tidak ada senjata. Sementara Abdul meyakini manusia pada dasarnya selalu ingin bersaing, berebut kekuasaan, karena itu masing-masing perlu memiliki senjata agar tidak tertindas oleh yang lain.

Keyakinan dalam memandang sifat manusia ini juga menjadi pangkal perbedaan kami dalam ‘memilih’ sistem pemerintahan yang bisa membawa kesejahteraan pada semua orang. Kalimat Abdul yang selalu saya ingat adalah,”Marx gagal memasukkan fakta bahwa sifat dasar manusia adalah selalu ingin bersaing.”

Saya akan menjawab, “Jika kebutuhan hidup layak, pendidikan dan kesehatan sudah dipenuhi, bukankah persaingan tidak perlu diidentikkan dengan uang? Persaingan adalah soal karya, soal prestasi, soal bagaimana masing-masing manusia berguna untuk yang lainnya.”

Lalu dia akan berkata, “Bagaimana dengan keinginan orang untuk berkuasa?”

“Kekuasaan sebagaimana politik. Dapatkanlah dengan proses yang benar,” kata saya.

“Tidak bisa. Siapa yang punya uang lebih besar, dia yang lebih berkuasa.”

Di lain waktu, saat saya menggugat pengelolaan sumber daya alam oleh asing, dia balik bertanya, “Siapkah kita untuk percaya pegawai-pegawai negara tidak akan korupsi kalau diberi kewenangan untuk mengelola?”

Saya diam. Di titik ini saya sadar kami sedang berdiri berhimpitan. Memandang satu hal dari satu sudut, meski kemudian mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda. Saat pembicaraan berlanjut, kami sepaham bahwa korupsi adalah pangkal banyak masalah di negeri ini. TKI yang disiksa, kecelakaan pesawat, orang-orang yang tak berpendidikan dan sekolah yang tak terjangkau, dan sumber daya alam yang masih dikangkangi orang-orang dari negeri antah berantah.

Kami juga sepaham bahwa kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman adalah lembaga yang masih sulit dipercayai di negeri ini. Saya bilang perlu ada potong generasi, pensiun dini pada orang-orang yang umurnya sudah lima puluh tahun ke atas. Abdul bilang butuh sebuah revolusi di tiga lembaga itu. Reformasi saja tidak akan pernah cukup.

Saya bilang susah memberantas korupsi kalau penguasanya juga korupsi. Abdul bilang itu karena penguasanya dungu, terlalu banyak punya utang budi pada orang lain.

Ya, ya, ya, kami memang selalu berbeda. *wink*

on the Road : De Oosthoek

De Oosthoek. Itu sebutan orang Belanda untuk daerah ini : Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Situbondo. Artinya pojok timur. Tapi orang-orang lebih mengenal istilah lain : Tapal Kuda. Coba buka peta, dan kawasan itu akan berbentuk menyerupai tapal kuda.

Bagi kami yang tinggal di daerah Mataraman (Magetan, Madiun, Ngawi) biasa menyebut kawasan itu sebagai etanan. (dari kata wetan = timur). Orang-orangnya disebut wong etanan. Kami mengenali orang-orang etanan dari bahasa Jawa mereka yang terdengar lebih kasar di telinga kami. Maklum, daerah Mataraman lebih kental dipengaruhi tradisi Kerajaan Mataram di Jogja dan Solo. Bahasa Jawa yang kami gunakan berbeda dengan bahasa Jawa di etanan. Apalagi orang etanan tidak hanya terdiri dari suku Jawa, tapi juga Madura. Mereka berbaur, bahkan di kota-kota tertentu orang Madura yang mendominasi.

Selain bahasa, beda yang paling mencolok adalah soal agama. Daerah Mataraman adalah daerah abangan. Islam adalah sebuah identitas formal. Tapi soal keyakinan dan tradisi spiritual orang-orang di Mataraman punya caranya sendiri. Belakangan, baru ketika pendidikan agama makin menguat, orang-orang di Mataraman mulai menjalankan Islam sebagai sebuah keyakinan.

Sementara di daerah etanan, Islam begitu kental, mengambil bagian dalam setiap sendi kehidupan. Orang-orang nya adalah kaum santri, yang selalu patuh omongan kyai. Pengetahuan agama mereka jauh melebihi orang-orang di Mataraman.

Mengunjungi Tapal Kuda, mengusik segala ketertarikan saya pada sosio-kultural. Ingatan tentang penelitian Clifford Geertz dan pengalaman saya sebagai wong Mataraman teraduk-aduk dalam sebuah adonan di kepala. Segala hal yang saya jumpai menjadi semacam pembenar atau penolakan atas segala dugaan. Mulai dari gapura bertuliskan huruf Arab, reklame besar larangan pelacuran, atau gambar-gambar orang berjanggut putih, bersurban atau berpeci.

Ke Tapal Kuda juga mengulik kembali sebuah lembaran sejarah. Sejarah yang masih terlalu segar untuk dilupakan. Sejarah yang bukti dan saksi-saksinya masih utuh karena baru terjadi sepuluh tahun lalu. Sebuah cerita nyata tentang ninja-ninja yang konon berseliweran dimana-mana. Tentang dukun santet yang memancing kemarahan. Kekerasan dan pembunuhan.

Ah, saya tidak akan mengulasnya lebih dalam lagi. Karena semua catatan di blog ini hanya sekedar menu pembuka saja :D

Surat untuk Kekasihku

Sayang, kau tahu betapa selama bertahun-tahun aku begitu mencintaimu. Setiap pagi, ketika mata ini mulai terbuka, aku selalu mencarimu. Menatapmu, memelukmu, lalu menanyakan bagaimana kabarmu. Kamu akan menjawabnya dengan berbagai cerita yang tak pernah bosan aku dengarkan.

Sayang, aku ingat saat pertama kali berkenalan denganmu. Saat itu listrik baru saja masuk di desaku. Semua rumah jadi terang, semua orang jadi girang. Lalu engkau datang bersama Bapakku. Dari sebuah toko di kota, kau menghiasi rumah kami di desa. Membawa suka cita. semua orang menyambutmu dengan bahagia.

Sejak kau datang, rumahku selalu ramai dipenuhi orang-orang. Mereka juga ingin melihatmu. Memandang kemolekanmu, ikut mencicipi kehebatanmu. Mereka semua bilang kamu hebat. Mereka juga berkata kamu sangat pintar. Kamu memberi tahu kami banyak hal yang tak pernah kami kenal. Kamu seperti seorang resi, tempat orang-orang berguru dan mencari tahu. Kamu seperti kitab suci, tempat orang percaya tanpa lagi bertanya. Tapi kamu juga menjadi matahari pagi, yang menerangi dan membuat cerianya hati.

Bersamamu aku tumbuh besar. Kau menemaniku melewati masa-masa sekolahku. Menghiburku sepanjang hari, membuatku lebih pintar dan lebih berani. Oh..sayang, aku makin mencintaimu dari hari ke hari. Tak bisa kubayangkan kalau kau tak pernah datang ke rumahku waktu itu. Pasti aku hanya akan menjadi anak desa yang dungu, yang hanya tahu apa kata ibuku.

Sayang, tapi kenapa kau berubah akhir-akhir ini. Kau mengoceh tanpa henti, tanpa sedikitpun bertanya apa yang ingin aku ketahui. Kau ulang-ulang cerita yang sedikitpun aku tak bisa mengerti. Sering juga kau salah informasi, tapi kau tetap tak peduli.

Suatu malam aku pernah bertanya, kenapa kau jadi begini. Jawabmu, zaman sudah berubah kini. Semuanya harus cepat dan berani. Lalu aku tanya lagi, kenapa kau sering salah informasi. Kamu jawab, itu bukan salah informasi, hanya belum diklarifikasi.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa kau bohongi? Kau jawab tak peduli. Salah sendiri masih tetap ada di sini.

Aku bertanya masihkah kau ingat seorang perempuan yang katamu ibunya Nur Hasbi? Aku melihatmu, memaksa perempuan itu mengakui apa yang kau maui. Dan saat kau tahu itu tidak benar, tidakkah sedikit saja kau merasa bersalah?

Lalu kemarin kamu membohongiku lagi. Katamu laki-laki itu orang yang paling dicari. Kau ceritakan padaku, laki-laki itu bertubuh tinggi, berjalan tegap, dengan peledak yang terlilit di badannya. Lalu katamu laki-laki itu yang mengaku sendiri, dialah orang yang sedang dicari polisi.

Sayang, aku melihatmu, berada begitu dekat dengan tempat itu. Tentu saja aku yang bodoh ini mempercayaimu. Tapi lagi-lagi kau menipuku.

Sayang, masih adakah satu saja alasan agar aku kembali mencintaimu?

Prev Older Entries