Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Apa gambaran Anda tentang tempat bulan madu? Paket lengkap wisata Bali  atau perjalanan ke berbagai negara, mendatangi tempat yang ditawarkan di brosur wisata?

Impian saya tentang bulan madu adalah pulau yang sepi dengan pantai yang indah. Tak ada belanja, tak ada musik dan keramaian. Tempat dimana saya dan suami hanya akan bermalas-malasan dan bermesraan dengan bebas. Di alam terbuka, kapan saja, karena pulau itu hanya milik saya dan dia.

Impian itu yang membawa kami berdua ke Gili Meno –salah satu pulau di Lombok – minggu terakhir Desember 2008. Kami memilih Meno setelah mempertimbangkan beberapa pulau impian lainnya. Seperti Togian di Teluk Tomini,  Wakatobi di perairan  Sulawesi Tenggara, hingga beberapa pulau di Kepulauan Riau. More

Tentang Kesempatan

Saya tak terlalu menaruh perhatian saat Sandra Bullock memenangkan Oscar untuk perannya dalam “The Blind Side”. DVD yang sudah dibeli jauh-jauh hari sebelum pengumuman penghargaan itu tetap tak tersentuh. Alasannya sederhana saja, saya sedang malas nonton film yang temanya olahraga : tentang orang-orang yang dianggap enteng, lalu ternyata ditakdirkan sebagai bintang lapangan. Film itu pun semakin terlupakan, tertutup dvd-dvd baru yang terus dibeli setiap akhir minggu.

Hingga akhirnya tiga malam lalu, lima bulan lebih sejak penghargaan Oscar, dan entah sudah berapa lama sejak DVD itu tersimpan di laci, akhirnya saya menontonya. Tanpa alasan khusus. Tanpa pengharapan macam-macam. Pokoknya, ini film untuk mengisi waktu saja. Menonton sambil tiduran, main Twitter dari BB, mengobrol, sampai kemudian tiba-tiba saya memutuskan menghentikan dvd untuk memutarnya kembali dari awal. Ya, film ini memang istimewa.

Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tentang Michael- seorang remaja Afro-Amerika, bertubuh besar, tapi memiliki IQ rendah. Besar dalam kemiskinan tanpa kasih sayang keluarga membuatnya begitu asing dan tak lagi memelihara harapan. Sampai kemudian nasib mempertemukannya dengan keluarga kulit putih yang tak hanya memiliki materi tapi juga kasih sayang melimpah. Nyonya rumah yang diperankan Sandra Bullock, yang memiliki peran besar dalam segala hal yang dilakukan keluarga ini untuk Michael. Ialah yang pertama kali memutuskan mengajak Michael menginap, membelikan baju, sampai akhirnya memutuskan mengadopsi.

Michael pun mendapatkan kesempatan untuk mengolah potensi yang dimiliki. Tubuhnya yang besar dianggap bisa jadi modal untuk menjadi atlet football. Dia dimasukkan sekolah football. Latihan dan ikut pertandingan sebagaimana teman-temannya. Semuanya tak sia-sia. Michael jadi bintang. Semua universitas kemudian berebut menawarinya beasiswa.

Apakah seorang Michael bisa seperti itu jika tak pernah masuk sekolah football? Pastinya tidak. Bagaimana dia bisa berpikir tentang bakatnya, kalau perutnya terus kelaparan, sementara tak ada sekolah football yang gratis. Dan bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya, kalau tak pernah ada pertandingan yang diikutinya? Juga apa jadinya nasib Michael, kalau tak pernah ada keluarga yang peduli padanya? Apa yang akan dilakukannya ketika kesempatan itu tak pernah ada?

‘The Blind Side” diangkat dari sebuah kisah nyata. Kini, Michael menjadi bintang football di Amerika. Dan masihkah ada yang lebih membanggakan bagi keluarga yang telah membukakannya pintu kesempatan?
Ah, film itu membuat dada saya terasa penuh, sementara air mata mendesak untuk dikeluarkan. Rasa haru, rasa iri, rasa bahagia, rasa sedih, semuanya teraduk-aduk menjadi satu. Memory saya berjalan, teringat perjalanan saya bersentuhan dengan anak-anak yang kurang beruntung dari berbagai daerah pedalaman : Jawa, Sumatera, Kalimantan. Masih teringat bagaimana ada yang begitu pintar mengarang cerita, menyanyi, dan olah raga. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa jadinya mereka di masa mendatang? Mereka yang tak punya uang, mereka yang terbelakang dalam kemampuan, mereka yang begitu jauh dari kesempatan.

Dalam semangat yang sama, dua bulan lalu Yayasan Muara Bangsa didirikan. Ingin memberikan yang terbaik untuk membuka kesempatan bagi anak-anak yang kemampuan ekonomi keluarganya hanya pas-pasan. Terseok-seok dalam keterbatasan pendanaan dan tenaga pengajar, melakukan yang paling kecil dari lingkungan yang paling dekat dengan tempat tinggal.

Untuk pendidikan formal kami mendirikan Taman Kanak-Kanak. Memang tidak gratis, tapi jauh lebih murah dibanding TK-TK lain. Uang bayaran digunakan untuk membayar guru, sekaligus menjadi subsidi silang untuk membiayai kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan gratis. Mulai dari pelatihan seni, ketrampilan, Bahasa Inggris, komputer, semuanya bisa diikuti secara cuma-cuma.
Tak selamanya mudah. Kadang juga melelahkan, dan seringkali membuat putus asa, apalagi ketika berhadapan dengan dana. Tapi ketika melihat mereka datang, penuh semangat menembus hujan deras, adakah alasan untuk tak terus berjuang dan mempertahankan?

Biar kesempatan itu ada untuk mereka. Agar kelak mereka bisa mandiri dan bersaing. Agar potensi-potensi itu tak redup dan mati, agar kelak mereka pun bisa menjadi pemenang.

Dan lebih dari itu, sebenarnya ini semua bukan untuk mereka. Ini untuk kami. Agar dada ini selalu terasa penuh. Agar bahagia itu tercecap sempurna.

Kabar dari Muara

Di sinilah kami sekarang : sebuah rumah sederhana berhalaman luas yang dimiliki dengan segenap upaya. Di tengah suasana asri pinggiran lembah Ciliwung, di antara penduduk asli Jakarta yang lugu dan tak banyak tahu. Tempat di mana kami bisa mendengar kokok ayam tetangga setiap pagi dan cicit-cicit burung gereja yang mampir di pohon rambutan tua kami. Di sini kami kerap lupa, kota yang penuh hingar bingar, jalan tol Simatupang yang penuh kendaraan, dan gedung megah ANTAM hanya sepelemparan batu jauhnya.

Inilah kisah lain tentang Jakarta. Di antara banyaknya gedung-gedung tinggi dan restoran cepat saji, ada sekelompok orang yang tak pernah kenal bank sama sekali. Di antara banyaknya sekolah mahal dan bergengsi, orang-orang masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mewah dan tak mesti dipenuhi. Tentang orang-orang yang menyerah pada laju pembangunan dan terdesak oleh kebutuhan, yang perlahan-lahan menyerahkan tanahnya pada pendatang, seperti kami ini.

Ah, terlalu banyak kisah tentang kampung ini untuk bisa saya pilih salah satu dan disajikan dalam tulisan menarik di blog. Kelak, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerita. Sebuah tulisan yang akan menjadi pengingat dan saksi atas sebuah perubahan. Mungkin juga sebagai ucapan terima kasih pada kampung ini, yang telah memberikan tempat nyaman dan asri untuk kami.

Iyah, sepertinya kami akan berutang banyak pada tempat ini. Di kamar berjendela lebar yang langsung menghadap taman dan rambutan tua, dua minggu lalu saya menyelesaikan novel kedua saya. Separuh bagian novel itu saya selesaikan di rumah ini. Kadang di teras rumah, sambil merasakan percikan-percikan hujan. Kadang di ruang utama, beralaskan bantal oranye besar pasangan sofa.

Di kampung ini pelan-pelan kami juga mewujudkan satu persatu mimpi. Tentang keinginan untuk berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Semuanya kami mulai dari yang paling kecil. Memanfaatkan bangunan sebelah rumah untuk menjadi Taman Kanak-Kanan Muara Bangsa. Hei, bahkan taman kanak-kanan saja merupakan barang mewah di kampung ini. Jarak yang terlalu jauh – yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki – dan biaya yang terlalu mahal. Banyak di antara anak-anak kampung ini yang dulu tak pernah TK. Mereka memilih langsung masuk Sekolah Dasar, demi memudahkan banyak hal.

Ah, untuk yang satu inipun rasanya kami masih belum layak untuk terlalu banyak berbagi cerita. Masih banyak yang mesti dilakukan. Masih terlalu kecil untuk menjadikannya sebagai kebanggaan.

Dan lebih dari semuanya, Kampung Muara menjadi tempat bagi kami untuk banyak-banyak belajar. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manusia dan kemanusiaan.

Dinasti

Borders Bookstore, kawasan Orchard, Singapura, Jumat kedua November.

Saya menghabiskan siang yang diguyur hujan dengan membaca Mrs Kennedy : The Missing History of the Kennedy Years. Buku karya Barbara Leaming ini menceritakan kehidupan Jacqueline Kennedy semasa mendampingi John F Kennedy. Mulai dari perkenalan hingga saat Jacky harus meninggalkan Gedung Putih setelah suaminya tewas terbunuh.Entah kepiawaian Leaming dalam merangkai setiap kata atau memang ketertarikan saya pada kisah Nyonya Kennedy yang membuat buku itu bisa tuntas hanya dalam hitungan jam. Leaming adalah penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Marilyn Monroe dan Katharine Hepburn. Sementara Jacky Kennedy adalah bagian tak terpisahkan dari dinasti Kennedy yang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan di tempat tinggal kami, terutama setelah Abdul berkesempatan mengunjungi John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston.

Adalah Joseph P Kennedy yang menjadi orang pertama dalam dinasti ini. Laki-laki berdarah Irlandia ini pada mulanya adalah seorang pebisnis yang kemudian sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika. Dengan modal itulah ia masuk ke dunia politik dan menjadi Duta Besar Amerika di Inggris, sebuah jabatan penting dan bergengsi di Amerika.

Lalu dimulailah dinasti politik itu. Anak-anaknya mendapat pendidikan di universitas-universitas bergengsi di Amerika, menjadi anggota kongres dan senat di usia muda, jaksa agung, pahlawan perang, duta besar, bahkan salah satunya berhasil menjadi presiden. Meski kemudian dua orang dari generasi kedua Kennedy terbunuh dengan latar belakang sentimen etnis dan agama, tak menyurutkan langkah generasi ketiga Kennedy untuk terjun ke politik.

Di negara lain, misalnya India, terdapat nama Gandhi sebagai keluarga yang turun-temurun berkiprah di politik. Di Indonesia, meski tak ‘seramai’ dinasti Kennedy atau Gandhi, keluarga Soekarno juga telah membentuk dinasti politik. Setelah generasi kedua, diantaranya Megawati, Guntur, dan Guruh, sekarang generasi ketiga, Puan Maharani, menjadi anggota DPR. Masih terdapat keluarga-keluarga lain yang juga eksis di pentas politik Indonesia meski belum menduduki jabatan nomor satu di negeri ini.

Biasanya anak seorang presiden atau ketua DPR atau pejabat apapun tidak akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berada di lingkaran jabatan bapaknya.

Jika seseorang memiliki bapak yang banyak uang atau seorang duta besar seperti Joseph Kennedy, tentu tak terlalu sulit baginya untuk bisa mendapat pendidikan yang bagus lalu terjun ke politik. Begitu juga bagi seorang Megawati atau Puan, tentu bukan hal yang terlalu aneh jika mereka bisa menjadi pengurus partai, menjadi anggota DPR, bahkan presiden. Atau bagi seorang Agus Yudhoyono yang sekarang sedang belajar di Harvard, tak terlalu menakjubkan jika dua periode kepresidenan mendatang dia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Semuanya terbuka bagi mereka : uang, kemampuan, kesempatan, dan nama besar.

Yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang menjadi perintis dinasti. Orang-orang yang bukan anak siapa-siapa, yang dengan keterbatasan kesempatan dan keadaan membuat segalanya jadi mungkin. Sayangnya, tak semua orang bisa melakukannya.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, saya kerap membayangkan tentang kemungkinan masa depan bagi mereka. Katanya mereka bisa jadi presiden, bisa jadi jenderal, bisa jadi anggota DPR, bisa jadi ilmuwan, atau bahkan bisa pergi ke bulan. Katanya siapapun bisa meraih cita-citanya, asal mau berusaha, asal mau belajar. Memang begitulah teorinya.

Departemen Pendidikan sangat gemar menggunakan jargon-jargon ini. Membuat iklan televisi yang ditayangkan berpuluh kali sehari, membuat poster besar yang ditempelkan di penjuru negeri. Isinya tentang anak-anak sekolah di berbagai daerah, berseragam lengkap dengan topinya, sedang membaca buku atau mendengarkan guru. Semua orang ingin diberitahu pemerintah sudah membuat sekolah di mana-mana. Semua anak bisa sekolah, berseragam, dan membaca buku.

Di bagian lain, Departemen Pendidikan suka mengulang-ulang kisah bagaimana seorang anak yang bapaknya sopir bisa jadi pilot. Seorang anak tukang bangunan bisa jadi astronot atau yang bapaknya loper koran bisa jadi wartawan. Pesannya jelas, semua anak bisa menjadi apapun yang lebih baik dari orang tuanya, asal mau belajar, asal rajin berdoa. Dan saya tak selalu percaya.
Lupakan soal nasib, lupakan soal takdir, lupakan soal satria piningit. Kenyataanya, untuk menjadi presiden atau anggota DPR orang paling tidak harus lulus SD, lalu ke SMP, lalu SMA (di Indonesia lulusan SMA bisa jadi presiden). Untuk jadi dokter orang harus kuliah kedokteran yang biayanya tak murah. Kalau mau jadi jaksa, pengacara, wartawan, pilot, orang juga harus sekolah sampai universitas.

Bagaimana bisa pemerintah begitu berbangga ketika bisa membangun sekolah dasar di satu daerah? Lalu apa setelah itu? Kenyataanya, setelah lulus sekolah dasar banyak dari mereka memilih ikut berjuang mencari makan. Yang bisa lulus SMP atau SMA pun hanya melanjutkan apa yang biasa dilihatnya : pekerjaan orang tua, pekerjaan paman, pekerjaan tetangga. Terlalu mewah bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Membayar biaya kuliah yang tak lagi murah, menanggung biaya hidup di kota lain, dan di saat bersamaan keluarga di desa serba kekurangan.

Novel Laskar Pelangi seringkali menjadi sebuah ‘kitab suci’ bagi anak-anak miskin atau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Mereka seperti mendapat gambaran bahwa seseorang seperti mereka juga bisa kuliah sampai ke Perancis. Tapi jangan lupa, Laskar Pelangi juga menyampaikan fakta, bagaimana Lintang – seorang anak yang pintar – harus melepaskan semua cita-citanya, berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Saya percaya pendidikan yang baik (bukan sekedar sekolah dasar ala kadarnya) adalah cara sesorang untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan pendidikan seseorang bisa keluar dari kemiskinan, merambat ke atas, lalu memainkan peran yang berbeda dengan orang tuanya atau tetangganya. Menjadi presiden, politikus, jenderal, dokter, pengacara, atau apapun yang menjadi cita-cita.

Dengan pendidikan yang bermutu, siapapun bisa mendapatkan apa yang dimiliki generasi Kennedy atau generasi Soekarno. Masalahnya, bagaimana ketika pendidikan yang bermutu hanya terbuka bagi orang-orang yang punya uang saja?

*Foto Keluarga Kennedy diambil dari www.bittendandbound.com

Politik Ranjang

Kata siapa cinta dan pernikahan menyatukan dua manusia?

Ada banyak ketidaksatuan antara saya dan Abdul dalam memandang suatu perkara. Perkara yang saya maksudkan ini adalah hal-hal umum, terjadi jauh di luar tempat tinggal kami, dan tidak punya urusan langsung dengan kami selain disambungkan oleh gambar-gambar di televisi atau tulisan-tulisan di koran dan buku.

Ketidaksatuan ini mengemuka dalam setiap sesi ngerumpi kami, yang biasanya dilakukan di pagi hari setelah mata melek dan di malam hari sebelum tidur. Kasur kami, yang kian hari makin kempes itu, menjadi tempat paling produktif di tempat tinggal kami. Mulai dari urusan sosialisme dan kapitalisme sampai urusan orgasme (haha).

Waktu kasus Siti Hajar terjadi, saya berkata memang seharusnya tidak ada lagi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri kalau hanya jadi babu. Boleh eksport tenaga kerja ke luar negeri, tapi itu harus tenaga kerja yang terdidik, yang punya keahlian. Kerja di negeri orang harus membawa kebanggaan bukan malah jadi korban penyiksaan. Pemerintah harus kerja keras memikirkan lapangan kerja untuk mereka di negeri sendiri. Lagipula kemana larinya semua sumber daya alam negeri ini?

Abdul tidak sepakat dengan pelarangan. Biarkan saja mereka bekerja di negeri orang walaupun jadi babu. Penghasilan mereka jelas-jelas telah membantu meningkatkan devisa. Selain itu, faktanya di dalam negeri tidak tersedia lapangan kerja. Yang harus dilakukan adalah membenahi sistem. PJTKI harus kerja sesuai aturan, KBRI harus peduli pada warga negaranya dan melakukan kontrol yang rutin pada setiap pekerja. Petugas KBRI sebulan sekali mendatangi TKI, memastikan tidak ada penyiksaan, gaji diterima teratur, dan paspor tidak disembunyikan majikan.

Suatu hari kami terjebak kemacetan akibat pasar kaget di pinggir jalan. Saya bilang, pemerintah harusnya membangun pasar yang layak untuk mereka. Lokasinya harus di pinggir jalan, gampang diakses pembeli, sehingga mendatangkan banyak keuntungan untuk pedagang tanpa mengganggu lalu lintas. Abdul bilang, ini akibat pemerintah yang tidak tegas menerapkan peraturan. Kata dia, untuk hal-hal tertentu kita harus fair dan mengakui bahwa mental manusialah sumber masalahnya.

Abdul sangat tahu saya orang yang akan selalu menolak kenaikan anggaran pertahanan atau militer. Waktu banyak pesawat TNI jatuh, lalu semua orang ribut mendukung kenaikan anggaran, saya justru berpikir sebaliknya. Kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan perut jauh lebih mendesak dibanding membeli pesawat baru. Kalau memang nyatanya pesawat tempur sudah tidak layak terbang, ya tidak perlulah latihan-latihan terbang dulu. Lagipula di atas segalanya, saya percaya dunia akan lebih menyenangkan tanpa senjata.

Dalam hal ini, Abdul berdiri di seberang saya. Sebagai orang yang sama-sama pernah belajar ilmu Hubungan Internasional, kami tahu, kami berada di titik yang saling bertolak belakang : idealis dan realis. Tentu saja saya yang idealis dan Abdul lebih cenderung realis. Saya percaya bahwa semua manusia dasarnya baik dan perang tidak akan terjadi kalau tidak ada senjata. Sementara Abdul meyakini manusia pada dasarnya selalu ingin bersaing, berebut kekuasaan, karena itu masing-masing perlu memiliki senjata agar tidak tertindas oleh yang lain.

Keyakinan dalam memandang sifat manusia ini juga menjadi pangkal perbedaan kami dalam ‘memilih’ sistem pemerintahan yang bisa membawa kesejahteraan pada semua orang. Kalimat Abdul yang selalu saya ingat adalah,”Marx gagal memasukkan fakta bahwa sifat dasar manusia adalah selalu ingin bersaing.”

Saya akan menjawab, “Jika kebutuhan hidup layak, pendidikan dan kesehatan sudah dipenuhi, bukankah persaingan tidak perlu diidentikkan dengan uang? Persaingan adalah soal karya, soal prestasi, soal bagaimana masing-masing manusia berguna untuk yang lainnya.”

Lalu dia akan berkata, “Bagaimana dengan keinginan orang untuk berkuasa?”

“Kekuasaan sebagaimana politik. Dapatkanlah dengan proses yang benar,” kata saya.

“Tidak bisa. Siapa yang punya uang lebih besar, dia yang lebih berkuasa.”

Di lain waktu, saat saya menggugat pengelolaan sumber daya alam oleh asing, dia balik bertanya, “Siapkah kita untuk percaya pegawai-pegawai negara tidak akan korupsi kalau diberi kewenangan untuk mengelola?”

Saya diam. Di titik ini saya sadar kami sedang berdiri berhimpitan. Memandang satu hal dari satu sudut, meski kemudian mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda. Saat pembicaraan berlanjut, kami sepaham bahwa korupsi adalah pangkal banyak masalah di negeri ini. TKI yang disiksa, kecelakaan pesawat, orang-orang yang tak berpendidikan dan sekolah yang tak terjangkau, dan sumber daya alam yang masih dikangkangi orang-orang dari negeri antah berantah.

Kami juga sepaham bahwa kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman adalah lembaga yang masih sulit dipercayai di negeri ini. Saya bilang perlu ada potong generasi, pensiun dini pada orang-orang yang umurnya sudah lima puluh tahun ke atas. Abdul bilang butuh sebuah revolusi di tiga lembaga itu. Reformasi saja tidak akan pernah cukup.

Saya bilang susah memberantas korupsi kalau penguasanya juga korupsi. Abdul bilang itu karena penguasanya dungu, terlalu banyak punya utang budi pada orang lain.

Ya, ya, ya, kami memang selalu berbeda. *wink*

Menggambar Gunung Tigo

Dayat (kelas 3 SD) menggambar tiga gunung dengan matahari terbit di tengahnya. Ada jalan, batu-batuan, dan pohon kelapa. Fadel (kelas 2 SD) menggambar satu gunung lancip dengan sawah dan satu rumah. Sedangkan Resti (kelas 1 SD) menggambar dua gunung dan sungai lengkap dengan kapalnya. Mereka semua menuliskan kalimat yang sama di atas gambar : Desaku yang Indah.

Masih banyak lagi versi gambar lainnya. Meskipun hampir selalu ada unsur yang sama dalam setiap gambar – gunung, pohon, dan sawah – masing-masing gambar tetap berbeda. Misalnya gambar gunung. Ada yang menggambar tiga gunung, dua gunung, atau satu gunung. Dan semuanya benar. Mereka mengerjakan tugasnya untuk menggambar apa yang ada di desa mereka, Kampung Palak, Padang Pariaman.

Tiga gunung adalah penggambaran Gunung Tigo, dua gunung untuk Gunung Erte Erwe, dan satu gunung berarti Gunung Tandike. Semuanya ada di desa mereka. Begitu juga sawah, pohon kelapa, sungai, dan gambar sampan yang menurut mereka adalah orang yang sedang memancing di sungai desa.

Yudi (kelas 6 SD) memilih merekam keindahan desanya dalam tulisan. Ia membuat karangan singkat tentang keindahan Kampung Palak. Gunung, sawah, udara, dan keramahan penduduknya. Kalau yang lain menceritakan arti gambar yang dibuatnya, Yudi membacakan karangannya.

Yudi memiliki minat besar pada tulis menulis. Pada bagian lain, Yudi menuliskan bagaimana bencana terjadi di desanya. Dengan detail dia menerangkan tentang tanah yang longsor, rumah yang rusak, dan bagaimana dia bersama teman-temannya panik saat bencana terjadi. Di bagian akhir tulisan, Yudi mengungkapkan rasa syukurnya pada Tuhan karena bisa selamat dari bencana. Ia juga berharap agar sekolah dan rumahnya yang roboh segera diperbaiki.Sejak bencana yang terjadi 30 September lalu, anak-anak ini sudah tidak lagi bersekolah. Dua gedung sekolah dasar di daerah itu roboh. Rumah-rumah rusak, ada yang sebagian dan ada yang seluruhnya. Setiap hari yang dilakukan anak-anak itu adalah berdiri di pinggir jalan, mengacungkan kardus, meminta sumbangan orang-orang yang lewat di jalan depan rumah mereka.

Setiap hari jalanan Kampung Palak ramai dengan lalu lalang kendaraan yang membawa bantuan atau relawan evakuasi. Kampung Palak adalah desa yang berbatasan dengan tiga desa yang tertimbun tanah longsor, yang kini hendak dijadikan kuburan masal.

Anak-anak yang meminta-minta di jalanan tidak hanya ada di Kampung Palak, tapi di setiap jalan yang menuju ke tiga desa yang longsor. Memang tidak ada nyawa yang melayang di luar tiga desa itu. Tapi hampir seluruh bangunan rusak. Tidak ada air bersih dan listrik.

Saya datang ke daerah itu pada hari keenam bencana. Segala tekad dari Jakarta luruh ketika berhadapan dengan barisan anak yang hanya peduli pada kardus-kardus yang dipegangnya. Bingung, kecewa, sekaligus marah.

Sedemikian tidak berdayakah orang tua mereka untuk datang ke posko terdekat, mengambil sembako yang sebenarnya stoknya selalu ada. Juga sebegitu bodohkah cara pendistribusian bantuan sehingga anak-anak mengemis di sepanjang jalan. Alih-alih membantu dengan memberdayakan, saya melemparkan begitu saja susu dan makanan anak ke dalam kardus-kardus itu.

Saya ragu sekaligus takut, apakah dalam kondisi seperti ini mereka masih peduli pada buku dan pena. Dua benda itu masih tersimpan rapat di dalam kardus, tak berani saya keluarkan. Pelan-pelan saya lalu mencobanya. Memberikan buku pada seorang anak perempuan yang duduk kelelahan di sebuah kursi di depan rumahnya yang roboh. Kardus alat meminta-minta masih ada di pangkuannya.

Diluar dugaan saya, anak itu menerima buku dengan begitu gembira. Rasa iba, haru, syukur, dan girang, menjelma menjadi satu tekad baru. Di tenda (sebenarnya hanya goni) yang terpasang di depan rumahnya saya memulai semuanya. Memanggil anak-anak yang masih ada di jalanan, membagikan susu, buku, lalu mulai bersenang-senang.Anak-anak itu lupa pada kardusnya. Mereka begitu antusias mengikuti perkumpulan darurat itu. Mereka mengenalkan diri mereka, saling bercerita, menulis, menggambar, dan menyanyi. Hari itu saya baru tahu, lagu Wali “Mencari Jodoh” ternyata begitu populer di Kampung Palak. Mereka semua hapal lagu itu. Sebagaimana mereka hapal lagu Minangkabau dan Kampuang nan Jauh di Mato.

Keramaian bocah-bocah itu seperti menjadi magnet. Mobil-mobil bantuan berhenti silih berganti di depan tenda. Seseorang membagikan uang dua ribuan pada masing-masing anak. Ada yang memberi empat stoples berisi kue kering. Lalu beras dan berbagai sembako. Semua menjadi terlihat begitu manusiawi disini. Tak ada anak-anak yang meminta atau berebut sumbangan. Orang-orang berhenti dengan sukarela, mendekati mereka, berbagi dengan penuh kasih.

Di sini saya mengerti. Segala sesuatu memang harus ada yang memulai. Tanpa saling menunggu dan bergantung. Tanpa saling mencela atau menyalahkan. Pembangunan gedung sekolah yang baru memang perlu waktu. Tapi mengembalikan hak mereka untuk belajar hanya butuh sebuah tekad dan ketulusan.

Pasar Malam




Malam itu, saat bianglala pasar malam mulai berputar, sebuah ingatan panjang kembali berjalan. Dari satu tikungan waktu masa kini, saya kembali ke sebuah masa dimana pasar malam tidak hanya menjadi obyek kamera dan secuil pengobat rindu. Sebuah masa dimana ia menjelma sebagai harapan, perayaan, sekaligus simbol derita.



Kami menemukan pasar malam itu tak sengaja dalam perjalanan dari satu bukit kapur di pinggiran Jakarta. Kerlap-kerlip lampu bianglala dan keramaian orang di lapangan menggoda kami untuk mampir. Awalnya hanya mau memotret, tapi kemudian malah ingin naik bianglala. Harga karcisnya Rp4000 untuk tiap orang.



Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali saya naik bianglala di pasar malam. Terakhir saat saya SD, dalam sebuah pasar malam yang menjadi penanda dimulainya musim penggilingan tebu, di Magetan sana. Pabrik gula mengadakan pasar malam sebagai ungkapan syukur dan harapan agar penggilingan tebu berjalan lancar, bisa menghasilkan gula dengan kualitas baik.



Pasar malam buka giling menjadi pesta yang selalu ditunggu semua orang. Kami berbondong-bondong kesana, larut dalam suka cita. Ya, sejatinya dimulainya masa giling tak sekedar simbol keuntungan pabrik gula tapi juga simbol uang bagi petani tebu dan buruh-buruh yang ikut menebang.



Pembukaan pasar malam saat itu selalu diawali dengan arak-arakan tebu temanten. Dua batang tebu dihias dengan janur lalu diangkut dengan tandu yang juga sudah dihias. Sepasang tebu temanten ini akan diarak sampai ke tempat penggilingan, menjadi simbol mulai bekerjanya alat giling. Prosesi itu akan dilanjutkan dengan pasar malam yang diselenggarakan hingga sebulan lamanya.

Tebu saat itu menjadi satu tanaman yang diidolakan petani-petani di desa saya. Dengan menanam tebu, orang-orang tidak perlu repot-repot mencari pembeli. Pabrik gula akan siap menampung berapapun banyaknya. Orang juga percaya tebu akan selalu dicari selama manusia masih memerlukan gula.



Saya ingat bagaimana saat panen tebu tiba, semua orang di desa saya menjadi sangat sibuk. Buruh-buruh berangkat sejak pagi dengan mengenakan sarung tangan tebal dan penutup muka. Pemilik tanah mengawasi orang-orang itu bekerja sambil menyiapkan makanan dan minuman. Anak-anak kecil ikut berebut batang tebu untuk dihisap airnya. Dikupas, dikeret menjadi ruas-ruas yang kecil, lalu dihisap di bawah matahari. Segala kesibukan berakhir saat pekerja mulai membakar sisa-sisa batang tebu. Api membesar dan asap hitam membumbung ke langit. Lalu lori yang mengangkut tebu mulai bergerak perlahan, menuju tempat penggilingan.



Pada masa itu, pabrik gula menjadi sebuah lambang kekuatan dan kejayaan. Ingatan masa kecil saya merekam bagaimana orang-orang membicarakan Pak A atau Pak B, pegawai pabrik gula yang memiliki kekayaan melimpah. Maka wajar saja kalau kemudian orang-orang berlomba-lomba nyogok agar anak-anaknya bisa diterima sebagai pegawai pabrik gula.



Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa memberi gambaran yang sangat hidup tentang pabrik gula zaman kolonial. Pimpinan pabrik gula adalah seorang Belanda yang memiliki kedudukan tinggi. Mereka seperti penguasa lokal yang mengalahkan kekuasaan bupati. Seseorang akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hati direktur pabrik gula. Termasuk menjual anak gadisnya agar bisa diangkat sebagai pegawai pabrik gula.



Kekuatan dan kejayaan pabrik gula kini hanya menjadi bagian dari kenangan. Sejak awal 1990, keuntungan pabrik gula menurun Mereka mulai mengurangi pembelian tebu petani. Manajemen pabrik gula yang korup dan amburadul menjadi penyebab utama. Lalu bencana lain datang tahun 1998. Pemerintah mengizinkan gula dari luar negeri masuk tanpa hambatan. Harga gula menjadi murah, demikian juga tebu. Petani-petani di desa saya mulai putus asa. Mereka mengganti tebu dengan tanaman lain. Beberapa orang yang masih setia pada manisnya kenangan tetap bertahan.



Lori tebu pengangkut hasil panen tak pernah lagi datang. Relnya yang sekarang masih ada menjadi saksi sebuah kejayaan yang tergilas roda zaman. Pasar Malam masih diselenggarakan tiap masa buka giling tiba. Ada bianglala dan berbagai mainan anak-anak, ada bermacam-macam penjual makanan. Sayang, tebu itu tak lagi manis…



Pasar Malam Sawangan, 27 Juni 2009

Co Pilot


“Aku bc statusmu di fb. Tidak tahu hrs berkomentar apa, Ky. Co pilot heli yg jatuh tadi siang adalah teman baikku saat SMP di Solo.”


Pesan itu baru saja masuk ke handphone saya. Datar, tapi saya rasakan ada nada menggugat. Pemberitahuan, tapi saya rasakan sebagai ungkapan kekecewaan. Saya merasa SMS itu ingin berkata, “Kamu tidak peduli” atau “Kamu tidak tahu rasanya kehilangan”. Pengaruhnya dahsyat, saya merasa kosong, terharu dan berkaca-kaca.

Lalu saya mengeja kembali status yang saya tuliskan di facebook tadi sore, beberapa saat setelah media menurunkan berita jatuhnya helikopter di Bogor.

“Bukan soal anggaran yang harus dinaikkan, tapi bagaimana anggarannya digunakan dgn tepat buat pemeliharaan alat. Bukan untuk yang lainnya, apalagi dikorupsi.”


Saya memang tidak mendukung kenaikan anggaran pertahanan.Dalam kondisi APBN yang serba terbatas, saya melihat ada yang perlu diprioritaskan, dan itu bukan pertahanan. Menurut saya, prioritas utama adalah pendidikan dan kesehatan. Soal pertahanan, bolehlah menjadi prioritas ketiga. Namanya juga sedang terbatas ya harus ada yang dipilih, meskipun sebenarnya berat.

Anggaran pertahanan tahun 2009 diturunkan menjadi Rp35 triliun dari sebelumnya Rp36,39 triliun. Padahal konon, harusnya anggaran pertahanan itu sebesar Rp127 triliun. Dengan penurunan anggaran seperti ini, TNI harus menghemat pengeluarannya. Tidak akan ada pembelian alat-alat baru, hanya pemeliharaan alat-alat yang sudah ada. Mengganti bagian yang harus diganti, memperbarui komponen yang dipandang tidak layak. Dan itu semua baru bisa dilakukan dengan benar jika anggaran yang ada digunakandengan tepat, tak ada sunat sana sunat sini. Dan saya yakin memang disitu sumber masalahnya.

Lalu seorang teman bertanya, bagaimana jika memang alat-alatnya sudah usang dan tidak layak pakai semua? Saya jawab, ya sudahlah. Tidak usah latihan-latihan terbang dulu. Toh apa sih yang mau dicapai? Perang? Saya rasa negara kita masih akan tetap memilih penyelesaian melalui diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan.

Saya tidak percaya pada mazhab orang-orang realis tentang keseimbangan kekuatan (balance of power) untuk mencegah perang. Bolehlah kepemilikan nuklir menjadi bukti mazhab ini. Dua negara yang sama-sama punya nuklir tidak akan pernah berperang. Tapi saya justru mempertanyakan untuk apa menghabiskan duit membuat senjata nuklir jika ternyata untuk pajangan saja. Sementara pada saat bersamaan masih ada kelaparan, wabah penyakit, dan orang-orang buta huruf.

Waktu berjalan dan kebutuhan selalu berubah. Pada era sebelum kemerdekaan, Bangsa Indonesia memang harus mengorbankan semua yang dimilikinya untuk mendapatkan kedaulatan atas negerinya sendiri. Tapi sekarang, 64 tahun setelah merdeka, sudah tidak ada lagi penjajah yang mesti diusir dengan senjata. Justru yang harus diusir adalah kemiskinan, kebodohan.

Urusan Ambalat, misalnya, harusnya bisa diselesaikan dengan jalur diplomasi asalkan diplomat-diplomatnya berkualitas. Dan memang penyelesaian sengketa lewat diplomasi butuh waktu lama, tapi kita harus menerima. Yang lebih urgent dan mendesak adalah jalan penyelesaian bagi seorang Siti Hajar yang dihajar habis-habisan di Malaysia. Apalagi sumber masalahnya kalau bukan kemiskinan.Ya, saya percaya keamanan manusia (human security) jauh lebih penting dari keamanan batas wilayah (state security).

Jatuhnya helikopter tadi sore, yang merupakan kecelakaan ketiga pesawat TNI selama sebulan ini, semakin menggugat pertanyaan : sampai kapan prajurit-prajurit itu mati konyol? SMS yang baru saya terima, juga saya maknai sebagai gugatan. Gugatan atas sebuah kematian yang sia-sia, pengorbanan nyawa yang seharusnya tidak perlu.

Saya sendiri lebih memilih tidak ada tentara dan senjata. Meskipun Anda semua akan berkata saya naïf.

Prev Older Entries