Borderless books

Note: As our leaders just announced 10 ASEAN countries as one community in Kuala Lumpur last week while I was talking in the Philippine Literary Festival, here is my opinion published in The Jakarta Post

Borderless books

It’s very difficult — even I could say impossible — to find books from Philippine authors in Indonesia. The same is true when we try to find Indonesian novels in the Philippines, Singapore or Malaysia.

We are so close yet we are so far. We know much about writers and literary works from Europe and the United States, but we know nothing about writers and literary works in our region.

We, Indonesians, know nothing about Philippine literature, Singaporean authors, Malaysian writers, let alone those from Cambodia, Myanmar and Laos.

Our leaders just announced the integration of 10 ASEAN countries into one community. One of the biggest consequences is that there will be no borders anymore in business. Every country could sell their products to other countries within ASEAN, people from every countries can work in other ASEAN countries.

While the government thinks about business, industry and all economic aspects, books seem to be forgotten. Our government doesn’t realize yet that books are also an important commodity. More

From our world to people in the world

Note: The main questions from my sessions at the Philippine International Literary Festival 2015 are what does it take for a writer to explain her/himself and her/his works to an audience with different cultural backgrounds? How much responsibility to her/his country does the local writer have when writing for an international audience? Here are my thoughts.

I just got back from this year’s Frankfurt Book Fair, where Indonesia was invited as the guest of honour. Indonesia is the first country in Southeast Asia who get this opportunity and for country like Indonesia this opportunity maybe would be a once in a lifetime opportunity.

As a guest of honour, we were given a big space to display our books and to use it to promote them. Our government spent a lot of money for this event, more than USD 13 million. The money has been used for translating books, bringing writers and performers to Frankfurt, setting up venue and programs that can attract people to come. We received a lot of publications in many international media for this.

But the most important and relevant question for this kind of event is how many books bought by international publishers to be published in their countries? Not many!

More

Uncensored

“Courage is a luxurious thing and can’t be taken for granted, especially when we live in a country like Indonesia. And to fight against censorship, we should have such bravery and courage.”

More

Why Write

Note: I talked at the discussion on “Why Write” at UWRF 2015. Here are my thoughts.

For me writing is always personal and political at the same time.

I started to write novel just 5 years ago. My first novel was published in 2010 and until now I have written 4 novels.

I used to be a journalist for years, had been writing reportage, news, story based on fact, based on what people said, make sure that everything already passed the check and balance process. As a journalist I used to write stories that relates with public interest, trying to make my writing as a criticism to government, trying to make unknown problem get attention from many people, trying to make people who don’t know how to speak can be heard. At the time, I started to believe how words have big influence to people. It can make government change their decision, it can make people know there is something wrong with their society, their country.

And then one day I found that journalism doesn’t fit me anymore. More

Cerita dari Muara

Pendiri ASEAN Literary Festival, Okky Madasari & Abdul Khalik, pada malam pembukaan ASEAN Literary Festival 2015

Lima tahun lalu kami memulainya dari Muara.

Kami menyatukan energi yang kami miliki, menyelaraskan langkah untuk bersama-sama berbuat sesuatu. Untuk tidak sekedar menjalani hidup dan sibuk dengan diri kami sendiri.

Pada awalnya adalah keinginan untuk memanfaatkan bagian rumah kami yang tidak terpakai. Kami membeli rumah dengan lahan yang cukup luas di Kampung Muara, Tanjung Barat, Jakarta Selatan itu pada bulan Mei 2010. More

Letter to Habermas

My letter to Jurgen Habermas is now published in Women of Letters’ newest book “AIRMAIL” by Penguin Books Australia

Ketika Keberuntungan Saja Tidak Cukup

Oleh: Okky Madasari

Satu minggu sebelum peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca saya di Paris. Marie-Angele Martinez, begitu ia menuliskan namanya. Dalam suratnya, ia mengungkapkan apresiasinya setelah membaca The Years of The Voiceless (Entrok), The Outcast (Maryam), Bound (Pasung Jiwa). Surat itu begitu membuat saya terkesan. Pertama, karena surat itu ditulis dengan tangan, dikirim melalui pos melintasi batas negara ketika teknologi telah memberi kita kemudahan untuk mengirim surat melalui email atau berkomunikasi langsung melalui sosial media. Kedua, karena mengetahui karya-karya saya bisa dibaca dan dinikmati masyarakat dari budaya yang berbeda – bahkan hingga menggerakkannya untuk menulis surat kepada saya.

Tiga bulan sebelumnya, seorang wartawan Spanyol mengirim email pada saya dan meminta wawancara untuk majalah Spanyol, tempatnya bekerja. Wartawan tersebut secara tak sengaja menemukan edisi bahasa Inggris novel saya saat sedang liburan di Bali. Ia terkesan dan ingin membuat liputan lebih dalam tentang karya saya. Hasil wawancara tersebut sudah dimuat di majalahnya November tahun lalu.

Saya menganggap dua contoh apresiasi pembaca dari luar negeri yang saya sebutkan ini sebagai keberuntungan. Saya sebut itu sebagai keberuntungan, sebab ia tidak lahir secara terstruktur – massif – sistematis. Pembaca-pembaca buku saya di luar negeri adalah mereka yang secara kebetulan menemukan buku saya yang terselip di antara tumpukan-tumpukan buku berbahasa Inggris lainnya, atau suatu saat membaca artikel tentang saya lalu membeli buku itu di Amazon, atau berjumpa dengan saya di festival atau konferensi lalu membeli buku saya hanya untuk mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Syukurlah kemudian kebetulan dan ketidaksengajaan itu tidak berbuah penyesalan, tapi melahirkan pemahaman dan apresiasi pada karya-karya saya.

Tentu keberuntungan tidak bisa selamanya diandalkan. Sebagai penulis, saya tetap memimpikan buku-buku saya akan tersedia di rak-rak toko-toko buku besar di berbagai negara, diulas di media-media setempat, dan yang lebih utama dikenal dan dibaca oleh masyarakatnya. Tentu ini semua membutuhkan sebuah upaya besar, upaya yang melibatkan banyak pihak. Kita tidak bisa hanya sekedar mengandalkan kualitas dari sebuah buku lalu menutup mata sambil berdoa, menunggu mereka yang rela mengorek-ngorek tumpukan jerami untuk menemukan sekeping logam emas.

Posisi karya sastra di dalam masyarakat tidak terbangun secara kebetulan. Ia adalah produk konsensus, ia lahir dari pertemuan antara kekuasaan pengetahuan, kekuasaan negara, dan kekuasaan modal. Sebuah karya yang berkualitas hanya akan dikenal secara luas jika ada kerja bersama dari tiga kekuasaan tersebut. More

Kekuasaan dan Kebebasan

Apa yang paling dibutuhkan dalam proses berpikir? Kebebasan. Apa yang paling dibutuhkan untuk berkarya? Kebebasan. Apa yang jadi syarat utama kemajuan sebuah peradaban? Kebebasan. Dan apa yang paling ditakutkan oleh kekuasaan? Kebebasan.

Sejarah perjuangan manusia adalah sejarah merebut kebebasan, sementara sejarah kekuasaan adalah rangkaian pengaturan dan kontrol atas kehidupan banyak orang. Di tengah tarik-menarik itu, kebudayaan – antara lain melalui wujudnya: pemikiran, bahasa, karya seni – menjadi medan pertarungan. More

Prev Older Entries