03 Jan 2011
by okkymadasariin Essay, Komunikasi & Media, Politik, my Country Tags: konsultan politik, Noam Chomsky, pencitraan
Baru-baru ini, seorang dosen Paramadina meminta saya menjadi nara sumber untuk disertasi doktoralnya yang mengangkat tema “Konsultan Politik Sebagai Bisnis”. Kami mengobrol banyak tentang pengalaman saya saat bergabung dalam salah satu tim PR yang menangani salah satu calon presiden dalam Pemilu 2009. Saya jadi tertarik untuk menuliskan sedikit pengalaman itu. Agar tak lupa dan bisa dibagi sama-sama saja.
Tak banyak teman yang tahu kalau selepas mengundurkan diri dari wartawan, saya bergabung dalam konsultan public relations. Dari awal saya memang sudah niat tak akan lama-lama berada di sana. Selain karena segera ingin fokus menulis novel, saya agak malas dengan sistem kerja kantoran : bangun pagi-pagi, delapan jam sehari, pulang menjelang petang di antara kemacetan. Maka niat saya waktu itu sepenuhnya hanya untuk menyabet peluang proyek Pilpres saja. Ya soal uang, ya soal pengalaman.
Tugas harian saya mulai dari media monitoring, meng-counter pemberitaan, menciptakan isu, menggelindingkan isu, mengupayakan agar orang-orang yang namanya masuk dalam anggota tim sukses bisa muncul di media. Menyenangkan, karena kita bisa seperti sutradara, mengatur apa yang akan dimunculkan di permukaan. More
28 Dec 2010
by okkymadasariin Essay, Perempuan & Feminisme, Pernikahan
Tak seorang pun meragukan pentingnya air susu ibu (ASI) untuk bayi. Tak seorang pun membantah memberikan ASI jauh lebih baik dibandingkan memberi susu formula. Tapi tak semua orang sadar, tidak semua perempuan bisa memberikan ASI dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
Sore itu, dengan santai dan tanpa bermaksud apa-apa saya bertanya pada seorang teman yang memiliki bayi berusia 6 bulan, ”Minum ASI kan, ya?” Saya anggap itu pertanyaan biasa, karena hampir pasti semua ibu akan menyusui anaknya. Apalagi di tengah gencarnya kampanye pemberian ASI saat ini.
Di luar dugaan, teman saya itu menjadi berkaca-kaca. ”Enggak…enggak bisa keluar,” katanya dengan sedih.
Suaminya yang kemudian cepat-cepat mengendalikan situasi. ”Nggak apa-apa, soalnya ASI nya buat bapaknya,” katanya yang langsung memancing tawa.
Saya langsung sadar, pertanyaan tentang ASI adalah hal yang sensitif dan berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Saya mencoba menebus perasaan bersalah dengan mengalihkan perhatian pada anaknya yang memang tak kalah sehat dan tak kalah pintar dibanding bayi-bayi lain yang mendapat ASI. More
28 Dec 2010
by okkymadasariin Essay, Komunikasi & Media, Politik Tags: Aburizal, elite, Goenawan, Gramsci, hegemoni, ideologi, Twitter
Oleh : Okky Madasari
Menyusul peluncuran situs www.srimulyani.net pada 30 September lalu, kini telah muncul situs www.srimulyono.net yang mengusung tagline, ”…sebab ekonomi terlalu penting untuk diserahkan pada ekonom belaka.”
Bagi mereka yang aktif berinteraksi di sosial media terutama Twitter, sudah mahfum dengan munculnya akun plesetan dari tokoh-tokoh ternama. Mulai dari artis, anggota DPR, motivator, atau institusi-institusi tertentu. Biasanya akun-akun plesetan ini sifatnya anonim, temporer, bermuatan humor, muncul ketika ada isu yang kontroversial dari sang tokoh dan lama-lama menghilang dengan sendirinya. Tapi tidak demikian dengan srimulyono.net. More
28 Dec 2010
by okkymadasariin Essay, Komunikasi & Media Tags: Aburizal Bakrie, jurnalisme, Mario Teguh, media, Sri Mulyani, Twitter, Wimar Witoelar
Oleh : Okky Madasari
Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, tidak perlu menggelar konferensi pers untuk menjelaskan sikap terbarunya tentang kasus lumpur Lapindo. Ia hanya cukup menulis di account Twitter miliknya, dan media-media akan langsung ramai memberitakannya.
Pada 13 Februari, Aburizal menulis, ”Sebaiknya tanyakan pada 98% korban lumpur yang syukuran Ramadhan lalu karena hidupnya jauh lebih baik.Yang 2% tidak mau ikut program.” Pernyataan ini langsung menjadi berita di media online dan media cetak dengan judul yang hampir seragam : Aburizal beri pernyaan soal Lapindo di Twitter. Sebelumnya, Twitter juga menjadi pilihan Aburizal untuk membantah tuduhan bahwa ia membuat kesepakatan dengan Presiden SBY untuk menurunkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani.
Interaksi Aburizal dengan tokoh-tokoh lain di Twitter juga menjadi bahan berita. Beberapa media memberitakan bagaimana Aburizal adu mulut dengan mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar. Wimar yang saat ini mengelola sebuah perusahaan konsultan PR memberikan dukungan penuh terhadap Sri Mulyani dalam kasus bailout Bank Century. Di Twitter, Wimar sering membuat pernyataan negatif tentang Aburizal, baik dalam bentuk sindiran maupun serangan terbuka. Aburizal membalas pernyataan-pernyataan itu. More
04 May 2010
by okkymadasariin Culture, Essay, Nature

Rasanya seperti kerampokan. Kehilangan satu barang kesayangan, yang bersamanya saya telah merangkai banyak kenangan, sekaligus menyimpan harapan. Tapi ini bukan barang. Bukan juga milik saya, yang untuk mendapatkannya saya harus menukar uang. Ini hanya sebuah taman dengan danau buatan. Milik negara, di sebelah timur Taman Makam Pahlawan Kalibata. Kami menemukannya tanpa kesengajaan.
Mungkin memang berlebihan. Tapi memang seperti itu rasanya, saat kemarin petugas itu menutup rapat pagar dan menolak saya untuk bertandang. Taman berdanau itu tak lagi bisa dikunjungi orang-orang. Demi ketertiban. Juga demi keindahan pemandangan.
Kata petugas itu, perintah sudah turun sejak Obama mau datang. Katanya, jangan sampai presiden negara besar itu terganggu dengan kehadiran orang-orang. Lalu saat istri Jenderal AH Nasution meninggal dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, katanya, banyak pejabat tinggi yang marah karena taman itu bisa dipakai tempat pacaran.
Padahal, taman ini berbatas tembok tinggi dengan Taman Makam Pahlawan. Masing-masing dengan gerbang sendiri-sendiri. Tidak akan pernah ada yang terganggu satu sama lain. Lagipula, seberapa sering ada presiden yang mau datang? Juga seberapa sering ada upacara kematian?
Ah, beginilah rasanya kehilangan kesenangan. Tempat itu terlanjur menghiasi benak saya. Danaunya yang tak terlalu luas, di mana burung-burung prenjak suka menukik rendah, menyentuh air sebentar lalu terbang bebas. Taman rumput di pinggir danau, tempat tumbuh frangipani, aster, dan berbagai bunga yang saya tak tahu namanya. Di situ saya kerap duduk, membaca buku atau melipat kaki dan memejamkan mata. Batako di sekelilingnya, tempat saya dan Abdul lari pagi. Dan yang terindah adalah saat matahari perlahan-lahan turun, membuat air danau keemasan, lalu menghilang tepat tegak lurus dari tempat duduk di pinggir danau.
Kami berdua memang pecinta taman-taman kota. Kami selalu ingat bagaimana matahari tenggelam di balik Gedung Departemen Perhubungan saat kami duduk di kolam ikan koi, sebelah lapangan basket Monas. Di Situ Lembang, saya melebur dalam keceriaan anak-anak yang berenang-renang di danau. Di Suropati kami tahu bagaimana burung dara menikmati alunan biola. Di Danau UI, kalau sedang tak memandang ke arah bangunan tinggi rektorat, kami kerap lupa ini hanya selangkah dari Jakarta. Dan betapapun indahnya taman-taman itu, tetap saja rasa kecewa itu menggelanyuti ketika salah satu terpaksa pergi.
Tolong, tolong, buka kembali pintu pagar itu. Biarkan kami menjadi warga kota yang manusiawi. Jangan paksa kami menua di dalam gedung-gedung tinggi berpendingin udara, mengukur bahagia dengan hanya berbelanja. Biarkan keindahan itu bisa dinikmati. Agar kami masih selalu ingat, masih ada yang bisa disyukuri dari pembangunan kota ini. Danau itu akan merindukan pengunjung, rumput-rumput itu butuh sentuhan kaki kami, dan burung-burung itu akan selalu mencari pemujanya.
Lagipula, bukankah taman itu milik kami juga?
*) first publhised on www.rujak.org
28 Jan 2010
by okkymadasariin Essay, Non Violence, my Country

Entah berapa banyak teman yang marah ketika saya menuliskan : Dunia lebih indah tanpa pabrik senjata, tentara, dan…bonek! Mulai dari teman-teman perempuan yang merasa perlu menyimpan pistol kecil di tasnya untuk melawan pemerkosa, teman-teman SMA yang setelah lulus masuk sekolah militer, dan tentu saja teman-teman sesama arek Jawa Timuran yang mati urip membela Persebaya.
Mereka boleh marah. Tapi saya tetap akan menuliskannya berulang kali : di status Facebook, di account Twitter, dalam kotak perbincangan maya, juga pada secarik kertas yang saya tempel di dinding depan meja kerja saya. Seperti mereka, saya juga sedang marah.
Apa yang ada di kepala pendukung Persebaya saat melempar batu pada orang-orang di Stasiun Jebres? Semua media menulis Bonek yang lebih dulu melempar, lalu orang-orang di Jebres balik melawan. Sementara teman saya yang seorang Bonek berkata, “Bukan kami yang lebih dulu melempar. Orang-orang yang memulai, lalu kami yang jadi korban terpaksa membalas.”
Lalu seperti biasanya, kalau ada masalah-masalah seperti ini, orang-orang yang punya kuasa akan membentuk tim investigasi. Mereka akan mengumpulkan bukti-bukti, mencari tahu siapa yang sebenarnya memulai. Tapi buat apa?
Perang batu sesama suporter kesebelasan bukan baru pertama terjadi di negeri ini. Jika tahun ini mereka dilempar, tahun depan mereka akan ganti melempar. Bisa saja, memang benar insiden di Stasiun Jebres bukan dimulai oleh Bonek. Tapi orang juga tidak akan lupa begitu saja bagaimana tindakan anarki yang mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
Kefanatikan telah begitu membutakan orang-orang ini. Tidak hanya Bonek, tapi juga pendukung kesebelasan di Solo dan kemungkinan besar juga suporter-suporter lainnya. Ketika saya menulis “Dunia lebih indah tanpa…Bonek” sebenarnya itu hanyalah simplifikasi. Penyebutan sebagian saja untuk mengungkapkan yang keseluruhan. Bisa juga penyebutan seluruhnya padahal yang saya maksud hanya anarkismenya.
Saya ingin tidak usah ada suporter sepak bola saja kalau masih gontok-gontokan. Setidaknya sampai orang-orang Bonek bisa mengerti bagaimana enaknya berfoto bersama pendukung Persija setelah Persebaya kalah 0-1. Sampai yang seperti itu bisa terwujud, biarkan saja suporter bola menonton pertandingan dari televisi, memukul tembok rumah setelah kesebelasan jagoan kalah.
Ini bukan keinginan yang terlalu aneh jika dibanding mimpi saya yang lain : dunia tanpa pabrik senjata dan tentara. Orang-orang di dekat saya pasti sudah maklum. Yang lainnya akan menganggap saya aneh, idiot, tidak mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.
Justru saya begini karena saya mengikutinya. Pabrik senjata kebanggaan negeri yang salah sasaran waktu uji coba roket, Korea Utara-Korea Selatan yang sedang asyik tembak-tembakan, pasokan-pasokan senjata ilegal di Mindanao dan Sudan. Belum lagi bagaimana anggaran yang harusnya bisa digunakan untuk kesehatan dan pendidikan yang tersedot untuk pengadaan pesawat perang.
Film Lord of War yang dibintangi Nicolas Cage memberi kita gambaran yang nyata dan jujur bagaimana senjata diproduksi, dipasok, dan digunakan hanya untuk kekerasan. Oleh penguasa ke masyarakat sipil, kaum radikal yang mentasnamakan agama, juga antara kekuatan militer dua negara.
Saya tak pernah percaya dengan orang-orang realis yang selalu mengatakan dua negara yang punya senjata nuklir tak akan pernah berperang. Lalu buat apa dibuat kalau hanya untuk pajangan. Berapa banyak anak-anak gelandangan bisa ditampung di rumah susun sederhana dan diberi jaminan hidup dengan biaya pembuatan nuklir?
Ah, saya memang berlebihan. Tapi biarkan saja. Saya cuma sedang memelihara mimpi : sebuah dunia tanpa kekerasan, fanatisme tanpa anarkisme. Ahimsa!
19 Nov 2009
by okkymadasariin Essay, Foundation, Poverty, Travel Writing, my Country
Borders Bookstore, kawasan Orchard, Singapura, Jumat kedua November.
Saya menghabiskan siang yang diguyur hujan dengan membaca Mrs Kennedy : The Missing History of the Kennedy Years. Buku karya Barbara Leaming ini menceritakan kehidupan Jacqueline Kennedy semasa mendampingi John F Kennedy. Mulai dari perkenalan hingga saat Jacky harus meninggalkan Gedung Putih setelah suaminya tewas terbunuh.
Entah kepiawaian Leaming dalam merangkai setiap kata atau memang ketertarikan saya pada kisah Nyonya Kennedy yang membuat buku itu bisa tuntas hanya dalam hitungan jam. Leaming adalah penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Marilyn Monroe dan Katharine Hepburn. Sementara Jacky Kennedy adalah bagian tak terpisahkan dari dinasti Kennedy yang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan di tempat tinggal kami, terutama setelah Abdul berkesempatan mengunjungi John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston.
Adalah Joseph P Kennedy yang menjadi orang pertama dalam dinasti ini. Laki-laki berdarah Irlandia ini pada mulanya adalah seorang pebisnis yang kemudian sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika. Dengan modal itulah ia masuk ke dunia politik dan menjadi Duta Besar Amerika di Inggris, sebuah jabatan penting dan bergengsi di Amerika.
Lalu dimulailah dinasti politik itu. Anak-anaknya mendapat pendidikan di universitas-universitas bergengsi di Amerika, menjadi anggota kongres dan senat di usia muda, jaksa agung, pahlawan perang, duta besar, bahkan salah satunya berhasil menjadi presiden. Meski kemudian dua orang dari generasi kedua Kennedy terbunuh dengan latar belakang sentimen etnis dan agama, tak menyurutkan langkah generasi ketiga Kennedy untuk terjun ke politik.
Di negara lain, misalnya India, terdapat nama Gandhi sebagai keluarga yang turun-temurun berkiprah di politik. Di Indonesia, meski tak ‘seramai’ dinasti Kennedy atau Gandhi, keluarga Soekarno juga telah membentuk dinasti politik. Setelah generasi kedua, diantaranya Megawati, Guntur, dan Guruh, sekarang generasi ketiga, Puan Maharani, menjadi anggota DPR. Masih terdapat keluarga-keluarga lain yang juga eksis di pentas politik Indonesia meski belum menduduki jabatan nomor satu di negeri ini.
Biasanya anak seorang presiden atau ketua DPR atau pejabat apapun tidak akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berada di lingkaran jabatan bapaknya.
Jika seseorang memiliki bapak yang banyak uang atau seorang duta besar seperti Joseph Kennedy, tentu tak terlalu sulit baginya untuk bisa mendapat pendidikan yang bagus lalu terjun ke politik. Begitu juga bagi seorang Megawati atau Puan, tentu bukan hal yang terlalu aneh jika mereka bisa menjadi pengurus partai, menjadi anggota DPR, bahkan presiden. Atau bagi seorang Agus Yudhoyono yang sekarang sedang belajar di Harvard, tak terlalu menakjubkan jika dua periode kepresidenan mendatang dia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Semuanya terbuka bagi mereka : uang, kemampuan, kesempatan, dan nama besar.
Yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang menjadi perintis dinasti. Orang-orang yang bukan anak siapa-siapa, yang dengan keterbatasan kesempatan dan keadaan membuat segalanya jadi mungkin. Sayangnya, tak semua orang bisa melakukannya.
Dalam beberapa pertemuan dengan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, saya kerap membayangkan tentang kemungkinan masa depan bagi mereka. Katanya mereka bisa jadi presiden, bisa jadi jenderal, bisa jadi anggota DPR, bisa jadi ilmuwan, atau bahkan bisa pergi ke bulan. Katanya siapapun bisa meraih cita-citanya, asal mau berusaha, asal mau belajar. Memang begitulah teorinya.
Departemen Pendidikan sangat gemar menggunakan jargon-jargon ini. Membuat iklan televisi yang ditayangkan berpuluh kali sehari, membuat poster besar yang ditempelkan di penjuru negeri. Isinya tentang anak-anak sekolah di berbagai daerah, berseragam lengkap dengan topinya, sedang membaca buku atau mendengarkan guru. Semua orang ingin diberitahu pemerintah sudah membuat sekolah di mana-mana. Semua anak bisa sekolah, berseragam, dan membaca buku.
Di bagian lain, Departemen Pendidikan suka mengulang-ulang kisah bagaimana seorang anak yang bapaknya sopir bisa jadi pilot. Seorang anak tukang bangunan bisa jadi astronot atau yang bapaknya loper koran bisa jadi wartawan. Pesannya jelas, semua anak bisa menjadi apapun yang lebih baik dari orang tuanya, asal mau belajar, asal rajin berdoa. Dan saya tak selalu percaya.
Lupakan soal nasib, lupakan soal takdir, lupakan soal satria piningit. Kenyataanya, untuk menjadi presiden atau anggota DPR orang paling tidak harus lulus SD, lalu ke SMP, lalu SMA (di Indonesia lulusan SMA bisa jadi presiden). Untuk jadi dokter orang harus kuliah kedokteran yang biayanya tak murah. Kalau mau jadi jaksa, pengacara, wartawan, pilot, orang juga harus sekolah sampai universitas.
Bagaimana bisa pemerintah begitu berbangga ketika bisa membangun sekolah dasar di satu daerah? Lalu apa setelah itu? Kenyataanya, setelah lulus sekolah dasar banyak dari mereka memilih ikut berjuang mencari makan. Yang bisa lulus SMP atau SMA pun hanya melanjutkan apa yang biasa dilihatnya : pekerjaan orang tua, pekerjaan paman, pekerjaan tetangga. Terlalu mewah bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Membayar biaya kuliah yang tak lagi murah, menanggung biaya hidup di kota lain, dan di saat bersamaan keluarga di desa serba kekurangan.
Novel Laskar Pelangi seringkali menjadi sebuah ‘kitab suci’ bagi anak-anak miskin atau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Mereka seperti mendapat gambaran bahwa seseorang seperti mereka juga bisa kuliah sampai ke Perancis. Tapi jangan lupa, Laskar Pelangi juga menyampaikan fakta, bagaimana Lintang – seorang anak yang pintar – harus melepaskan semua cita-citanya, berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga.
Saya percaya pendidikan yang baik (bukan sekedar sekolah dasar ala kadarnya) adalah cara sesorang untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan pendidikan seseorang bisa keluar dari kemiskinan, merambat ke atas, lalu memainkan peran yang berbeda dengan orang tuanya atau tetangganya. Menjadi presiden, politikus, jenderal, dokter, pengacara, atau apapun yang menjadi cita-cita.
Dengan pendidikan yang bermutu, siapapun bisa mendapatkan apa yang dimiliki generasi Kennedy atau generasi Soekarno. Masalahnya, bagaimana ketika pendidikan yang bermutu hanya terbuka bagi orang-orang yang punya uang saja?
*Foto Keluarga Kennedy diambil dari www.bittendandbound.com
02 Nov 2009
by okkymadasariin Essay, Non Violence, Pernikahan, Poverty, my Country
Kata siapa cinta dan pernikahan menyatukan dua manusia?
Ada banyak ketidaksatuan antara saya dan Abdul dalam memandang suatu perkara. Perkara yang saya maksudkan ini adalah hal-hal umum, terjadi jauh di luar tempat tinggal kami, dan tidak punya urusan langsung dengan kami selain disambungkan oleh gambar-gambar di televisi atau tulisan-tulisan di koran dan buku.
Ketidaksatuan ini mengemuka dalam setiap sesi ngerumpi kami, yang biasanya dilakukan di pagi hari setelah mata melek dan di malam hari sebelum tidur. Kasur kami, yang kian hari makin kempes itu, menjadi tempat paling produktif di tempat tinggal kami. Mulai dari urusan sosialisme dan kapitalisme sampai urusan orgasme (haha).
Waktu kasus Siti Hajar terjadi, saya berkata memang seharusnya tidak ada lagi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri kalau hanya jadi babu. Boleh eksport tenaga kerja ke luar negeri, tapi itu harus tenaga kerja yang terdidik, yang punya keahlian. Kerja di negeri orang harus membawa kebanggaan bukan malah jadi korban penyiksaan. Pemerintah harus kerja keras memikirkan lapangan kerja untuk mereka di negeri sendiri. Lagipula kemana larinya semua sumber daya alam negeri ini?
Abdul tidak sepakat dengan pelarangan. Biarkan saja mereka bekerja di negeri orang walaupun jadi babu. Penghasilan mereka jelas-jelas telah membantu meningkatkan devisa. Selain itu, faktanya di dalam negeri tidak tersedia lapangan kerja. Yang harus dilakukan adalah membenahi sistem. PJTKI harus kerja sesuai aturan, KBRI harus peduli pada warga negaranya dan melakukan kontrol yang rutin pada setiap pekerja. Petugas KBRI sebulan sekali mendatangi TKI, memastikan tidak ada penyiksaan, gaji diterima teratur, dan paspor tidak disembunyikan majikan.
Suatu hari kami terjebak kemacetan akibat pasar kaget di pinggir jalan. Saya bilang, pemerintah harusnya membangun pasar yang layak untuk mereka. Lokasinya harus di pinggir jalan, gampang diakses pembeli, sehingga mendatangkan banyak keuntungan untuk pedagang tanpa mengganggu lalu lintas. Abdul bilang, ini akibat pemerintah yang tidak tegas menerapkan peraturan. Kata dia, untuk hal-hal tertentu kita harus fair dan mengakui bahwa mental manusialah sumber masalahnya.
Abdul sangat tahu saya orang yang akan selalu menolak kenaikan anggaran pertahanan atau militer. Waktu banyak pesawat TNI jatuh, lalu semua orang ribut mendukung kenaikan anggaran, saya justru berpikir sebaliknya. Kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan perut jauh lebih mendesak dibanding membeli pesawat baru. Kalau memang nyatanya pesawat tempur sudah tidak layak terbang, ya tidak perlulah latihan-latihan terbang dulu. Lagipula di atas segalanya, saya percaya dunia akan lebih menyenangkan tanpa senjata.
Dalam hal ini, Abdul berdiri di seberang saya. Sebagai orang yang sama-sama pernah belajar ilmu Hubungan Internasional, kami tahu, kami berada di titik yang saling bertolak belakang : idealis dan realis. Tentu saja saya yang idealis dan Abdul lebih cenderung realis. Saya percaya bahwa semua manusia dasarnya baik dan perang tidak akan terjadi kalau tidak ada senjata. Sementara Abdul meyakini manusia pada dasarnya selalu ingin bersaing, berebut kekuasaan, karena itu masing-masing perlu memiliki senjata agar tidak tertindas oleh yang lain.
Keyakinan dalam memandang sifat manusia ini juga menjadi pangkal perbedaan kami dalam ‘memilih’ sistem pemerintahan yang bisa membawa kesejahteraan pada semua orang. Kalimat Abdul yang selalu saya ingat adalah,”Marx gagal memasukkan fakta bahwa sifat dasar manusia adalah selalu ingin bersaing.”
Saya akan menjawab, “Jika kebutuhan hidup layak, pendidikan dan kesehatan sudah dipenuhi, bukankah persaingan tidak perlu diidentikkan dengan uang? Persaingan adalah soal karya, soal prestasi, soal bagaimana masing-masing manusia berguna untuk yang lainnya.”
Lalu dia akan berkata, “Bagaimana dengan keinginan orang untuk berkuasa?”
“Kekuasaan sebagaimana politik. Dapatkanlah dengan proses yang benar,” kata saya.
“Tidak bisa. Siapa yang punya uang lebih besar, dia yang lebih berkuasa.”
Di lain waktu, saat saya menggugat pengelolaan sumber daya alam oleh asing, dia balik bertanya, “Siapkah kita untuk percaya pegawai-pegawai negara tidak akan korupsi kalau diberi kewenangan untuk mengelola?”
Saya diam. Di titik ini saya sadar kami sedang berdiri berhimpitan. Memandang satu hal dari satu sudut, meski kemudian mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda. Saat pembicaraan berlanjut, kami sepaham bahwa korupsi adalah pangkal banyak masalah di negeri ini. TKI yang disiksa, kecelakaan pesawat, orang-orang yang tak berpendidikan dan sekolah yang tak terjangkau, dan sumber daya alam yang masih dikangkangi orang-orang dari negeri antah berantah.
Kami juga sepaham bahwa kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman adalah lembaga yang masih sulit dipercayai di negeri ini. Saya bilang perlu ada potong generasi, pensiun dini pada orang-orang yang umurnya sudah lima puluh tahun ke atas. Abdul bilang butuh sebuah revolusi di tiga lembaga itu. Reformasi saja tidak akan pernah cukup.
Saya bilang susah memberantas korupsi kalau penguasanya juga korupsi. Abdul bilang itu karena penguasanya dungu, terlalu banyak punya utang budi pada orang lain.
Ya, ya, ya, kami memang selalu berbeda. *wink*