Bukan Kamera, tapi Manusia di Balik Kamera

DAISAKU IKEDA bukan seorang fotografer profesional. Presiden Sokka Gakai Internasional – organisasi nirlaba pemeluk agama Budha – ini berkenalan dengan kamera secara tak sengaja. Seorang sahabat memberinya hadiah kamera Nikon di saat usianya sudah mencapai 43 tahun. Tanpa tahu teknik fotografi, Daisaku membawa kamera tersebut dalam setiap perjalanan.

Ketika tengah menyetir mobil di malam hari dan didapatinya sinar rembulan memancar dengan indah, dia turun dari mobil dan memotretnya. Sekuntum bunga yang mekar, dibidiknya juga. Jepretannya bertambah lengkap dalam perjalananannya ke berbagai negara. Tempat-tempat indah di dunia diabadikannya. Tanpa tahu apa itu filter, kecepatan (speed), flash, atau tone dan komposisi.

Bahkan, dalam sebuah biografinya ditulis bahwa Daisaku menjepret gambar tanpa melihatnya. Dia tak menempelkan kamera di kedua matanya, tapi justru merapatkan ke dadanya. Begitulah caranya setiap kali memotret.

Tanpa melihat, Daisaku tak kehilangan fokus obyek yang dibidiknya. Ketika melihat koleksi karyanya yang dipamerkan di beberapa kota di Indonesia sepanjang tahun 2006 dengan tajuk “Dialogue with Nature”, tak akan ada yang menyangka Daisaku bukan fotografer profesional.

Foto-foto milik Daisaku sangat ‘halus’. Obyek-obyek yang sebenarnya telah sering dibidik orang lain, tampil dengan gaya yang berbeda. Dan sesuai dengan sosok Daisaku yang tenang dan bijaksana dengan misinya untuk menciptakan perdamaian di dunia, semua fotonya membawa satu pesan : kedamaian.

Seni Fotografi

Perdebatan apakah fotografi merupakan bagian dari seni atau bukan telah berlangsung sejak lama. Bagi sebagian besar pelukis atau seniman karya seni rupa pada umumnya, fotografi bukanlah bagian seni. Mereka menganggap, fotografi merupakan karya yang dihasilkan oleh sebuah alat – kamera – yang teknik penggunaannya bisa dipelajari oleh setiap orang.

Dalam fotografi, peranan alat jauh lebih dominan dibandingkan manusia dengan segala rasa dan ide kreasinya. Tinggal jepret sebuah obyek, maka jadilah. Berbeda dengan proses pembuatan sebuah lukisan, dimana imajinasi dan peranan manusia pembuatnya menjadi penentu. Lamanya waktu pembuatan sebuah karya lukis dengan karya fotografi juga sering dijadikan aspek pertimbangan untuk tidak memasukkan fotografi sebagai bagian karya seni. Untuk menghasilkan sebuah lukisan, bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Sementara sebuah foto bisa dihasilkan dalam hitungan menit saja. Kalaupun butuh waktu lama, itu karena proses pencarian obyek foto (hunting).

Sebuah pertanyaan besar kemudian timbul : Kenapa foto yang dengan obyek yang sama, menggunakan kamera dan teknik fotografi yang serupa, bisa sangat berbeda ketika dihasilkan oleh dua orang yang berbeda? Mengapa juga, ada kalanya sebuah kamera pocket yang memiliki teknologi sederhana ketika digunakan seseorang bisa menghasilkan foto yang lebih indah dibandingkan kamera Lyca seri terbaru yang digunakan orang lain?

Jawabannya adalah karena di balik kamera ada orang yang berbeda. Ada insting, rasa, dan selera akan keindahan yang berbeda. Mengambil gambar manusia hanya dengan teknik yang sempurna, tentu sangat berbeda jika sang fotografer memiliki insting manusiawi. Mengambil foto landscape dengan menggunakan filter, tentu tak sekedar memencet tombol di kamera, namun juga disertai rasa dan selera keindahan dalam menenentukan komposisi warna.

Sosok manusia di belakang kamera menjadi lebih dominant dibandingkan kamera itu sendiri. Seorang Daisaku Ikeda dengan insting, rasa, dan seleranya akan keindahan, mampu menghasilkan foto yang (nyaris) sempurna tanpa ambil pusing dengan teknik dan jenis kamera.

Daisaku percaya kemampuan inderanya untuk melihat obyek dan merasakan cahaya. Karena pada dasarnya fotografi adalah melukis dengan cahaya.

Jakarta, 24 April 2007

*) Photograph by Yudhi Sukma, Elnusa Building, Jakarta