Haji Kecil

Tanggal 28 Januari 2011, Muara Bangsa untuk pertama kalinya menyelenggarakan manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede. Yang ikut hanya anak-anak TK B. Yang TK A dan playgroup memilih untuk manasik tahun depan. Lucu-lucu deh melihat tingkah mereka :)

Tentang Kesempatan

Saya tak terlalu menaruh perhatian saat Sandra Bullock memenangkan Oscar untuk perannya dalam “The Blind Side”. DVD yang sudah dibeli jauh-jauh hari sebelum pengumuman penghargaan itu tetap tak tersentuh. Alasannya sederhana saja, saya sedang malas nonton film yang temanya olahraga : tentang orang-orang yang dianggap enteng, lalu ternyata ditakdirkan sebagai bintang lapangan. Film itu pun semakin terlupakan, tertutup dvd-dvd baru yang terus dibeli setiap akhir minggu.

Hingga akhirnya tiga malam lalu, lima bulan lebih sejak penghargaan Oscar, dan entah sudah berapa lama sejak DVD itu tersimpan di laci, akhirnya saya menontonya. Tanpa alasan khusus. Tanpa pengharapan macam-macam. Pokoknya, ini film untuk mengisi waktu saja. Menonton sambil tiduran, main Twitter dari BB, mengobrol, sampai kemudian tiba-tiba saya memutuskan menghentikan dvd untuk memutarnya kembali dari awal. Ya, film ini memang istimewa.

Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tentang Michael- seorang remaja Afro-Amerika, bertubuh besar, tapi memiliki IQ rendah. Besar dalam kemiskinan tanpa kasih sayang keluarga membuatnya begitu asing dan tak lagi memelihara harapan. Sampai kemudian nasib mempertemukannya dengan keluarga kulit putih yang tak hanya memiliki materi tapi juga kasih sayang melimpah. Nyonya rumah yang diperankan Sandra Bullock, yang memiliki peran besar dalam segala hal yang dilakukan keluarga ini untuk Michael. Ialah yang pertama kali memutuskan mengajak Michael menginap, membelikan baju, sampai akhirnya memutuskan mengadopsi.

Michael pun mendapatkan kesempatan untuk mengolah potensi yang dimiliki. Tubuhnya yang besar dianggap bisa jadi modal untuk menjadi atlet football. Dia dimasukkan sekolah football. Latihan dan ikut pertandingan sebagaimana teman-temannya. Semuanya tak sia-sia. Michael jadi bintang. Semua universitas kemudian berebut menawarinya beasiswa.

Apakah seorang Michael bisa seperti itu jika tak pernah masuk sekolah football? Pastinya tidak. Bagaimana dia bisa berpikir tentang bakatnya, kalau perutnya terus kelaparan, sementara tak ada sekolah football yang gratis. Dan bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya, kalau tak pernah ada pertandingan yang diikutinya? Juga apa jadinya nasib Michael, kalau tak pernah ada keluarga yang peduli padanya? Apa yang akan dilakukannya ketika kesempatan itu tak pernah ada?

‘The Blind Side” diangkat dari sebuah kisah nyata. Kini, Michael menjadi bintang football di Amerika. Dan masihkah ada yang lebih membanggakan bagi keluarga yang telah membukakannya pintu kesempatan?
Ah, film itu membuat dada saya terasa penuh, sementara air mata mendesak untuk dikeluarkan. Rasa haru, rasa iri, rasa bahagia, rasa sedih, semuanya teraduk-aduk menjadi satu. Memory saya berjalan, teringat perjalanan saya bersentuhan dengan anak-anak yang kurang beruntung dari berbagai daerah pedalaman : Jawa, Sumatera, Kalimantan. Masih teringat bagaimana ada yang begitu pintar mengarang cerita, menyanyi, dan olah raga. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa jadinya mereka di masa mendatang? Mereka yang tak punya uang, mereka yang terbelakang dalam kemampuan, mereka yang begitu jauh dari kesempatan.

Dalam semangat yang sama, dua bulan lalu Yayasan Muara Bangsa didirikan. Ingin memberikan yang terbaik untuk membuka kesempatan bagi anak-anak yang kemampuan ekonomi keluarganya hanya pas-pasan. Terseok-seok dalam keterbatasan pendanaan dan tenaga pengajar, melakukan yang paling kecil dari lingkungan yang paling dekat dengan tempat tinggal.

Untuk pendidikan formal kami mendirikan Taman Kanak-Kanak. Memang tidak gratis, tapi jauh lebih murah dibanding TK-TK lain. Uang bayaran digunakan untuk membayar guru, sekaligus menjadi subsidi silang untuk membiayai kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan gratis. Mulai dari pelatihan seni, ketrampilan, Bahasa Inggris, komputer, semuanya bisa diikuti secara cuma-cuma.
Tak selamanya mudah. Kadang juga melelahkan, dan seringkali membuat putus asa, apalagi ketika berhadapan dengan dana. Tapi ketika melihat mereka datang, penuh semangat menembus hujan deras, adakah alasan untuk tak terus berjuang dan mempertahankan?

Biar kesempatan itu ada untuk mereka. Agar kelak mereka bisa mandiri dan bersaing. Agar potensi-potensi itu tak redup dan mati, agar kelak mereka pun bisa menjadi pemenang.

Dan lebih dari itu, sebenarnya ini semua bukan untuk mereka. Ini untuk kami. Agar dada ini selalu terasa penuh. Agar bahagia itu tercecap sempurna.

Kabar dari Muara

Di sinilah kami sekarang : sebuah rumah sederhana berhalaman luas yang dimiliki dengan segenap upaya. Di tengah suasana asri pinggiran lembah Ciliwung, di antara penduduk asli Jakarta yang lugu dan tak banyak tahu. Tempat di mana kami bisa mendengar kokok ayam tetangga setiap pagi dan cicit-cicit burung gereja yang mampir di pohon rambutan tua kami. Di sini kami kerap lupa, kota yang penuh hingar bingar, jalan tol Simatupang yang penuh kendaraan, dan gedung megah ANTAM hanya sepelemparan batu jauhnya.

Inilah kisah lain tentang Jakarta. Di antara banyaknya gedung-gedung tinggi dan restoran cepat saji, ada sekelompok orang yang tak pernah kenal bank sama sekali. Di antara banyaknya sekolah mahal dan bergengsi, orang-orang masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mewah dan tak mesti dipenuhi. Tentang orang-orang yang menyerah pada laju pembangunan dan terdesak oleh kebutuhan, yang perlahan-lahan menyerahkan tanahnya pada pendatang, seperti kami ini.

Ah, terlalu banyak kisah tentang kampung ini untuk bisa saya pilih salah satu dan disajikan dalam tulisan menarik di blog. Kelak, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerita. Sebuah tulisan yang akan menjadi pengingat dan saksi atas sebuah perubahan. Mungkin juga sebagai ucapan terima kasih pada kampung ini, yang telah memberikan tempat nyaman dan asri untuk kami.

Iyah, sepertinya kami akan berutang banyak pada tempat ini. Di kamar berjendela lebar yang langsung menghadap taman dan rambutan tua, dua minggu lalu saya menyelesaikan novel kedua saya. Separuh bagian novel itu saya selesaikan di rumah ini. Kadang di teras rumah, sambil merasakan percikan-percikan hujan. Kadang di ruang utama, beralaskan bantal oranye besar pasangan sofa.

Di kampung ini pelan-pelan kami juga mewujudkan satu persatu mimpi. Tentang keinginan untuk berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Semuanya kami mulai dari yang paling kecil. Memanfaatkan bangunan sebelah rumah untuk menjadi Taman Kanak-Kanan Muara Bangsa. Hei, bahkan taman kanak-kanan saja merupakan barang mewah di kampung ini. Jarak yang terlalu jauh – yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki – dan biaya yang terlalu mahal. Banyak di antara anak-anak kampung ini yang dulu tak pernah TK. Mereka memilih langsung masuk Sekolah Dasar, demi memudahkan banyak hal.

Ah, untuk yang satu inipun rasanya kami masih belum layak untuk terlalu banyak berbagi cerita. Masih banyak yang mesti dilakukan. Masih terlalu kecil untuk menjadikannya sebagai kebanggaan.

Dan lebih dari semuanya, Kampung Muara menjadi tempat bagi kami untuk banyak-banyak belajar. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manusia dan kemanusiaan.

Dinasti

Borders Bookstore, kawasan Orchard, Singapura, Jumat kedua November.

Saya menghabiskan siang yang diguyur hujan dengan membaca Mrs Kennedy : The Missing History of the Kennedy Years. Buku karya Barbara Leaming ini menceritakan kehidupan Jacqueline Kennedy semasa mendampingi John F Kennedy. Mulai dari perkenalan hingga saat Jacky harus meninggalkan Gedung Putih setelah suaminya tewas terbunuh.Entah kepiawaian Leaming dalam merangkai setiap kata atau memang ketertarikan saya pada kisah Nyonya Kennedy yang membuat buku itu bisa tuntas hanya dalam hitungan jam. Leaming adalah penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Marilyn Monroe dan Katharine Hepburn. Sementara Jacky Kennedy adalah bagian tak terpisahkan dari dinasti Kennedy yang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan di tempat tinggal kami, terutama setelah Abdul berkesempatan mengunjungi John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston.

Adalah Joseph P Kennedy yang menjadi orang pertama dalam dinasti ini. Laki-laki berdarah Irlandia ini pada mulanya adalah seorang pebisnis yang kemudian sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika. Dengan modal itulah ia masuk ke dunia politik dan menjadi Duta Besar Amerika di Inggris, sebuah jabatan penting dan bergengsi di Amerika.

Lalu dimulailah dinasti politik itu. Anak-anaknya mendapat pendidikan di universitas-universitas bergengsi di Amerika, menjadi anggota kongres dan senat di usia muda, jaksa agung, pahlawan perang, duta besar, bahkan salah satunya berhasil menjadi presiden. Meski kemudian dua orang dari generasi kedua Kennedy terbunuh dengan latar belakang sentimen etnis dan agama, tak menyurutkan langkah generasi ketiga Kennedy untuk terjun ke politik.

Di negara lain, misalnya India, terdapat nama Gandhi sebagai keluarga yang turun-temurun berkiprah di politik. Di Indonesia, meski tak ‘seramai’ dinasti Kennedy atau Gandhi, keluarga Soekarno juga telah membentuk dinasti politik. Setelah generasi kedua, diantaranya Megawati, Guntur, dan Guruh, sekarang generasi ketiga, Puan Maharani, menjadi anggota DPR. Masih terdapat keluarga-keluarga lain yang juga eksis di pentas politik Indonesia meski belum menduduki jabatan nomor satu di negeri ini.

Biasanya anak seorang presiden atau ketua DPR atau pejabat apapun tidak akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berada di lingkaran jabatan bapaknya.

Jika seseorang memiliki bapak yang banyak uang atau seorang duta besar seperti Joseph Kennedy, tentu tak terlalu sulit baginya untuk bisa mendapat pendidikan yang bagus lalu terjun ke politik. Begitu juga bagi seorang Megawati atau Puan, tentu bukan hal yang terlalu aneh jika mereka bisa menjadi pengurus partai, menjadi anggota DPR, bahkan presiden. Atau bagi seorang Agus Yudhoyono yang sekarang sedang belajar di Harvard, tak terlalu menakjubkan jika dua periode kepresidenan mendatang dia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Semuanya terbuka bagi mereka : uang, kemampuan, kesempatan, dan nama besar.

Yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang menjadi perintis dinasti. Orang-orang yang bukan anak siapa-siapa, yang dengan keterbatasan kesempatan dan keadaan membuat segalanya jadi mungkin. Sayangnya, tak semua orang bisa melakukannya.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, saya kerap membayangkan tentang kemungkinan masa depan bagi mereka. Katanya mereka bisa jadi presiden, bisa jadi jenderal, bisa jadi anggota DPR, bisa jadi ilmuwan, atau bahkan bisa pergi ke bulan. Katanya siapapun bisa meraih cita-citanya, asal mau berusaha, asal mau belajar. Memang begitulah teorinya.

Departemen Pendidikan sangat gemar menggunakan jargon-jargon ini. Membuat iklan televisi yang ditayangkan berpuluh kali sehari, membuat poster besar yang ditempelkan di penjuru negeri. Isinya tentang anak-anak sekolah di berbagai daerah, berseragam lengkap dengan topinya, sedang membaca buku atau mendengarkan guru. Semua orang ingin diberitahu pemerintah sudah membuat sekolah di mana-mana. Semua anak bisa sekolah, berseragam, dan membaca buku.

Di bagian lain, Departemen Pendidikan suka mengulang-ulang kisah bagaimana seorang anak yang bapaknya sopir bisa jadi pilot. Seorang anak tukang bangunan bisa jadi astronot atau yang bapaknya loper koran bisa jadi wartawan. Pesannya jelas, semua anak bisa menjadi apapun yang lebih baik dari orang tuanya, asal mau belajar, asal rajin berdoa. Dan saya tak selalu percaya.
Lupakan soal nasib, lupakan soal takdir, lupakan soal satria piningit. Kenyataanya, untuk menjadi presiden atau anggota DPR orang paling tidak harus lulus SD, lalu ke SMP, lalu SMA (di Indonesia lulusan SMA bisa jadi presiden). Untuk jadi dokter orang harus kuliah kedokteran yang biayanya tak murah. Kalau mau jadi jaksa, pengacara, wartawan, pilot, orang juga harus sekolah sampai universitas.

Bagaimana bisa pemerintah begitu berbangga ketika bisa membangun sekolah dasar di satu daerah? Lalu apa setelah itu? Kenyataanya, setelah lulus sekolah dasar banyak dari mereka memilih ikut berjuang mencari makan. Yang bisa lulus SMP atau SMA pun hanya melanjutkan apa yang biasa dilihatnya : pekerjaan orang tua, pekerjaan paman, pekerjaan tetangga. Terlalu mewah bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Membayar biaya kuliah yang tak lagi murah, menanggung biaya hidup di kota lain, dan di saat bersamaan keluarga di desa serba kekurangan.

Novel Laskar Pelangi seringkali menjadi sebuah ‘kitab suci’ bagi anak-anak miskin atau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Mereka seperti mendapat gambaran bahwa seseorang seperti mereka juga bisa kuliah sampai ke Perancis. Tapi jangan lupa, Laskar Pelangi juga menyampaikan fakta, bagaimana Lintang – seorang anak yang pintar – harus melepaskan semua cita-citanya, berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Saya percaya pendidikan yang baik (bukan sekedar sekolah dasar ala kadarnya) adalah cara sesorang untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan pendidikan seseorang bisa keluar dari kemiskinan, merambat ke atas, lalu memainkan peran yang berbeda dengan orang tuanya atau tetangganya. Menjadi presiden, politikus, jenderal, dokter, pengacara, atau apapun yang menjadi cita-cita.

Dengan pendidikan yang bermutu, siapapun bisa mendapatkan apa yang dimiliki generasi Kennedy atau generasi Soekarno. Masalahnya, bagaimana ketika pendidikan yang bermutu hanya terbuka bagi orang-orang yang punya uang saja?

*Foto Keluarga Kennedy diambil dari www.bittendandbound.com

Menggambar Gunung Tigo

Dayat (kelas 3 SD) menggambar tiga gunung dengan matahari terbit di tengahnya. Ada jalan, batu-batuan, dan pohon kelapa. Fadel (kelas 2 SD) menggambar satu gunung lancip dengan sawah dan satu rumah. Sedangkan Resti (kelas 1 SD) menggambar dua gunung dan sungai lengkap dengan kapalnya. Mereka semua menuliskan kalimat yang sama di atas gambar : Desaku yang Indah.

Masih banyak lagi versi gambar lainnya. Meskipun hampir selalu ada unsur yang sama dalam setiap gambar – gunung, pohon, dan sawah – masing-masing gambar tetap berbeda. Misalnya gambar gunung. Ada yang menggambar tiga gunung, dua gunung, atau satu gunung. Dan semuanya benar. Mereka mengerjakan tugasnya untuk menggambar apa yang ada di desa mereka, Kampung Palak, Padang Pariaman.

Tiga gunung adalah penggambaran Gunung Tigo, dua gunung untuk Gunung Erte Erwe, dan satu gunung berarti Gunung Tandike. Semuanya ada di desa mereka. Begitu juga sawah, pohon kelapa, sungai, dan gambar sampan yang menurut mereka adalah orang yang sedang memancing di sungai desa.

Yudi (kelas 6 SD) memilih merekam keindahan desanya dalam tulisan. Ia membuat karangan singkat tentang keindahan Kampung Palak. Gunung, sawah, udara, dan keramahan penduduknya. Kalau yang lain menceritakan arti gambar yang dibuatnya, Yudi membacakan karangannya.

Yudi memiliki minat besar pada tulis menulis. Pada bagian lain, Yudi menuliskan bagaimana bencana terjadi di desanya. Dengan detail dia menerangkan tentang tanah yang longsor, rumah yang rusak, dan bagaimana dia bersama teman-temannya panik saat bencana terjadi. Di bagian akhir tulisan, Yudi mengungkapkan rasa syukurnya pada Tuhan karena bisa selamat dari bencana. Ia juga berharap agar sekolah dan rumahnya yang roboh segera diperbaiki.Sejak bencana yang terjadi 30 September lalu, anak-anak ini sudah tidak lagi bersekolah. Dua gedung sekolah dasar di daerah itu roboh. Rumah-rumah rusak, ada yang sebagian dan ada yang seluruhnya. Setiap hari yang dilakukan anak-anak itu adalah berdiri di pinggir jalan, mengacungkan kardus, meminta sumbangan orang-orang yang lewat di jalan depan rumah mereka.

Setiap hari jalanan Kampung Palak ramai dengan lalu lalang kendaraan yang membawa bantuan atau relawan evakuasi. Kampung Palak adalah desa yang berbatasan dengan tiga desa yang tertimbun tanah longsor, yang kini hendak dijadikan kuburan masal.

Anak-anak yang meminta-minta di jalanan tidak hanya ada di Kampung Palak, tapi di setiap jalan yang menuju ke tiga desa yang longsor. Memang tidak ada nyawa yang melayang di luar tiga desa itu. Tapi hampir seluruh bangunan rusak. Tidak ada air bersih dan listrik.

Saya datang ke daerah itu pada hari keenam bencana. Segala tekad dari Jakarta luruh ketika berhadapan dengan barisan anak yang hanya peduli pada kardus-kardus yang dipegangnya. Bingung, kecewa, sekaligus marah.

Sedemikian tidak berdayakah orang tua mereka untuk datang ke posko terdekat, mengambil sembako yang sebenarnya stoknya selalu ada. Juga sebegitu bodohkah cara pendistribusian bantuan sehingga anak-anak mengemis di sepanjang jalan. Alih-alih membantu dengan memberdayakan, saya melemparkan begitu saja susu dan makanan anak ke dalam kardus-kardus itu.

Saya ragu sekaligus takut, apakah dalam kondisi seperti ini mereka masih peduli pada buku dan pena. Dua benda itu masih tersimpan rapat di dalam kardus, tak berani saya keluarkan. Pelan-pelan saya lalu mencobanya. Memberikan buku pada seorang anak perempuan yang duduk kelelahan di sebuah kursi di depan rumahnya yang roboh. Kardus alat meminta-minta masih ada di pangkuannya.

Diluar dugaan saya, anak itu menerima buku dengan begitu gembira. Rasa iba, haru, syukur, dan girang, menjelma menjadi satu tekad baru. Di tenda (sebenarnya hanya goni) yang terpasang di depan rumahnya saya memulai semuanya. Memanggil anak-anak yang masih ada di jalanan, membagikan susu, buku, lalu mulai bersenang-senang.Anak-anak itu lupa pada kardusnya. Mereka begitu antusias mengikuti perkumpulan darurat itu. Mereka mengenalkan diri mereka, saling bercerita, menulis, menggambar, dan menyanyi. Hari itu saya baru tahu, lagu Wali “Mencari Jodoh” ternyata begitu populer di Kampung Palak. Mereka semua hapal lagu itu. Sebagaimana mereka hapal lagu Minangkabau dan Kampuang nan Jauh di Mato.

Keramaian bocah-bocah itu seperti menjadi magnet. Mobil-mobil bantuan berhenti silih berganti di depan tenda. Seseorang membagikan uang dua ribuan pada masing-masing anak. Ada yang memberi empat stoples berisi kue kering. Lalu beras dan berbagai sembako. Semua menjadi terlihat begitu manusiawi disini. Tak ada anak-anak yang meminta atau berebut sumbangan. Orang-orang berhenti dengan sukarela, mendekati mereka, berbagi dengan penuh kasih.

Di sini saya mengerti. Segala sesuatu memang harus ada yang memulai. Tanpa saling menunggu dan bergantung. Tanpa saling mencela atau menyalahkan. Pembangunan gedung sekolah yang baru memang perlu waktu. Tapi mengembalikan hak mereka untuk belajar hanya butuh sebuah tekad dan ketulusan.

Untuk Mereka

Yang tersisa dalam benak saya setelah Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron dieksekusi adalah pikiran tentang anak-anak mereka. Di usia yang masih muda – disaat belum benar-benar bisa menyaring informasi yang didengar dan peristiwa yang dilihat – mereka ikut mengantar Sang Ayah ke liang lahat.

Tidak mudah memberi pemahaman pada mereka kenapa Sang Ayah harus menebus kesalahan dengan nyawa. Sama tak mudahnya untuk memberi pemahaman pada seorang pelaku bom bunuh diri bahwa surga tak bisa didapatkan hanya dengan sekali ledakan besar.

Anak-anak sangat dipengaruhi lingkungannya. Saat Sang Ayah dikubur, lalu keluarga menangis, mereka hanya tahu ada yang melakukan kejahatan pada mereka. Membunuh Ayah mereka, merampas milik mereka, dan menciptakan kesedihan dalam keluarga mereka.

Saya penasaran apa yang akan dikatakan ibu-ibu, kakek-nenek, paman dan bibi, untuk memberikan penjelasan yang paling masuk akal dan bisa dimengerti dengan mudah oleh anak-anak. Penjelasan yang bisa menjernihkan keruhnya pemikiran dan meredam benih-benih dendam.

Siapapun tak ingin eksekusi pada tiga orang ini meninggalkan benih-benih kebencian baru. Memunculkan jiwa-jiwa baru yang bersedia mengorbankan nyawa untuk mencapai sorga. Merubah kepolosan anak-anak menjadi calon penerus gerakan ayahnya.
Saya hanya bisa memikirkan anak-anak Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Ghufron, tanpa tahu harus berbuat apa. Saya hanya bisa membayangkan ketika setiap anak – termasuk anak-anak Amrozi, Imam, dan Ali Ghufron- bisa tumbuh dengan lebih manusiawi.

Mereka semua perlu tahu, hidup terlalu singkat untuk hanya diakhiri dengan darah dan air mata. Memahami bahwa masing-masing kita bukan sekedar hidup untuk sorga dan neraka.

Saya percaya pengalaman masa kanak-kanak akan berpengaruh besar pada pola pikir seseorang. Apa yang didengar di masa lalu, itu yang akan dikatakan di masa datang. Peristiwa paling membekas yang pernah dilihat di masa kecil, akan selalu membayang di hari depan.

Dan inilah hal paling sederhana yang baru bisa saya lakukan…

  • Untuk Mereka
  • Cerita Alfred

    ALFRED menghampiri saya pada detik-detik terakhir sebelum kami meninggalkan Desa Tanjung Paku, untuk kembali ke camp PT. Sari Bumi Kusuma dan meneruskan perjalanan 12 jam ke Pontianak.

    Desa Tanjung Paku adalah salah satu desa binaan PT. SBK – perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan (HPH) di Blok Seruyan dan Blok Delang, Kalimantan Tengah.

    Desa ini dihuni 160 kepala keluarga yang semuanya beretnis Dayak – suku asli daerah ini.

    Kehadiran Alfred awalnya tak begitu saya hiraukan. Saya manfaatkan sedikit waktu yang tersisa untuk memotret sebanyak-banyaknya. Segala informasi telah cukup didapat dari pertemuan dengan puluhan warga di balai pertemuan.

    “Begitulah perusahaan. Kalau membantu hanya untuk formalitas,” ujar Alfred tiba-tiba.

    Saya rasa dia cukup tahu bagaimana memancing perhatian seorang wartawan. Dan caranya berhasil.

    “Maksudnya?” saya menggali lebih dalam.

    Alfred melanjutkan ceritanya. Laki-laki yang baru menginjak usia 30 an ini seorang pegawai negeri sipil yang ditugaskan sebagai guru sekolah dasar di desa ini. Sudah 3,5 tahun dia mengajar di SD yang menjadi satu-satunya sekolah di Desa Tanjung Paku.

    “Seluruh warga disini sudah dibungkam dengan uang. Semuanya tidak mau bicara,” ujarnya.

    Alfred membeberkan banyak hal. Tentang perusahaan yang sering menebang di wilayah yang dilindungi, bantuan pendidikan yang tak layak, hingga sulitnya meminta bantuan pada perusahaan ketika ada warga yang sakit.

    “Kalau ada yang sakit minta dibawa ke rumah sakit mobilnya tidak segera datang.”

    Di wilayah ini transportasi merupakan masalah utama. Kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang semuanya milik PT SBK. Dibutuhkan minimal perjalanan 4 jam dengan kendaraan bermotor atau 3 jam jika disambung perjalanan lewat sungai untuk menuju pusat kota terdekat.

    Cerita Alfred pun berganti.

    Kali ini soal pendidikan dan anak-anak, dua hal yang erat dalam kesehariannya sebagai seorang guru. Kami berbincang tepat di halaman gedung sekolah dengan dikelilingi anak-anak yang telah mengantar saya berkeliling desa.

    Setiap kata yang dikatakan Alfred seolah menjadi narasi dalam setiap hal yang saya lihat. Gedung sekolah yang reot, papan dan cat yang terlihat kumuh, dan anak-anak yang terlihat lusuh dan “terpana” dengan kehadiran orang asing.

    Situasi yang sangat berbeda ketika beberapa jam sebelumnya saya mampir di SDS SBK – sekolah dasar yang didirikan perusahaan untuk anak-anak karyawannya. Di SDS SBK, segala fasilitas tersedia.

    Gedung nya terlihat baru dan selalu terawat. Anak-anak terlihat ceria dan pandai besosialisasi. Tahun ini, siswa SD tersebut meraih nilai ujian tertinggi di tingkat kabupaten. Guru-guru di SD ini berstatus sebagai karyawan PT SBK yang ditugaskan sebagai guru pengajar.

    “Anak-anak sini tidak boleh sekolah disana,” ujar Alfred.

    Menurutnya, meski banyak warga Tanjung Paku yang bekerja di perusahaan, mereka hanya sebagai buruh atau pekerja kasar.

    “Paling tidak harus anak mandor yang bisa sekolah di sana.”

    Suara tepukan tangan mengagetkan saya. Antonius dari Radio Netherland tampak melambaikan tangan dari balai pertemuan yang jaraknya sekitar 300 meter dengan sekolah. Isyarat bahwa kami harus segera meneruskan perjalanan.

    Kami menuju camp PT SBK. Sebuah bangunan mirip resort di tengah belantara. Dua jam kemudian kami telah berada dalam sebuah boat yang melintasi sungai Melawi selama 1,5 jam.

    Hutan belantara yang penuh kayu, sungai yang mengandung emas, dan tambang yang penuh mineral. Kemana larinya semua kekayaan itu?

    *) foto 1-4, anak-anak di Desa Tanjung Paku
    foto 5-6, SD SBK- sekolah khusus anak karyawan
    Semua gambar-kecuali gambar 6 & 7 -diambil oleh Okky
    Kalimantan Barat – Kalimantan Tengah, 24 – 27 Agustus 2007