Poles-Memoles

Baru-baru ini, seorang dosen Paramadina meminta saya menjadi nara sumber untuk disertasi doktoralnya yang mengangkat tema “Konsultan Politik Sebagai Bisnis”. Kami mengobrol banyak tentang pengalaman saya saat bergabung dalam salah satu tim PR yang menangani salah satu calon presiden dalam Pemilu 2009. Saya jadi tertarik untuk menuliskan sedikit pengalaman itu. Agar tak lupa dan bisa dibagi sama-sama saja.

Tak banyak teman yang tahu kalau selepas mengundurkan diri dari wartawan, saya bergabung dalam konsultan public relations. Dari awal saya memang sudah niat tak akan lama-lama berada di sana. Selain karena segera ingin fokus menulis novel, saya agak malas dengan sistem kerja kantoran : bangun pagi-pagi, delapan jam sehari, pulang menjelang petang di antara kemacetan. Maka niat saya waktu itu sepenuhnya hanya untuk menyabet peluang proyek Pilpres saja. Ya soal uang, ya soal pengalaman.

Tugas harian saya mulai dari media monitoring, meng-counter pemberitaan, menciptakan isu, menggelindingkan isu, mengupayakan agar orang-orang yang namanya masuk dalam anggota tim sukses bisa muncul di media. Menyenangkan, karena kita bisa seperti sutradara, mengatur apa yang akan dimunculkan di permukaan. More

Surat untuk Kekasihku

Sayang, kau tahu betapa selama bertahun-tahun aku begitu mencintaimu. Setiap pagi, ketika mata ini mulai terbuka, aku selalu mencarimu. Menatapmu, memelukmu, lalu menanyakan bagaimana kabarmu. Kamu akan menjawabnya dengan berbagai cerita yang tak pernah bosan aku dengarkan.

Sayang, aku ingat saat pertama kali berkenalan denganmu. Saat itu listrik baru saja masuk di desaku. Semua rumah jadi terang, semua orang jadi girang. Lalu engkau datang bersama Bapakku. Dari sebuah toko di kota, kau menghiasi rumah kami di desa. Membawa suka cita. semua orang menyambutmu dengan bahagia.

Sejak kau datang, rumahku selalu ramai dipenuhi orang-orang. Mereka juga ingin melihatmu. Memandang kemolekanmu, ikut mencicipi kehebatanmu. Mereka semua bilang kamu hebat. Mereka juga berkata kamu sangat pintar. Kamu memberi tahu kami banyak hal yang tak pernah kami kenal. Kamu seperti seorang resi, tempat orang-orang berguru dan mencari tahu. Kamu seperti kitab suci, tempat orang percaya tanpa lagi bertanya. Tapi kamu juga menjadi matahari pagi, yang menerangi dan membuat cerianya hati.

Bersamamu aku tumbuh besar. Kau menemaniku melewati masa-masa sekolahku. Menghiburku sepanjang hari, membuatku lebih pintar dan lebih berani. Oh..sayang, aku makin mencintaimu dari hari ke hari. Tak bisa kubayangkan kalau kau tak pernah datang ke rumahku waktu itu. Pasti aku hanya akan menjadi anak desa yang dungu, yang hanya tahu apa kata ibuku.

Sayang, tapi kenapa kau berubah akhir-akhir ini. Kau mengoceh tanpa henti, tanpa sedikitpun bertanya apa yang ingin aku ketahui. Kau ulang-ulang cerita yang sedikitpun aku tak bisa mengerti. Sering juga kau salah informasi, tapi kau tetap tak peduli.

Suatu malam aku pernah bertanya, kenapa kau jadi begini. Jawabmu, zaman sudah berubah kini. Semuanya harus cepat dan berani. Lalu aku tanya lagi, kenapa kau sering salah informasi. Kamu jawab, itu bukan salah informasi, hanya belum diklarifikasi.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa kau bohongi? Kau jawab tak peduli. Salah sendiri masih tetap ada di sini.

Aku bertanya masihkah kau ingat seorang perempuan yang katamu ibunya Nur Hasbi? Aku melihatmu, memaksa perempuan itu mengakui apa yang kau maui. Dan saat kau tahu itu tidak benar, tidakkah sedikit saja kau merasa bersalah?

Lalu kemarin kamu membohongiku lagi. Katamu laki-laki itu orang yang paling dicari. Kau ceritakan padaku, laki-laki itu bertubuh tinggi, berjalan tegap, dengan peledak yang terlilit di badannya. Lalu katamu laki-laki itu yang mengaku sendiri, dialah orang yang sedang dicari polisi.

Sayang, aku melihatmu, berada begitu dekat dengan tempat itu. Tentu saja aku yang bodoh ini mempercayaimu. Tapi lagi-lagi kau menipuku.

Sayang, masih adakah satu saja alasan agar aku kembali mencintaimu?