Adam Malik Award

Suami saya, Abdul Khalik, meraih Adam Malik Award 2013 atas penulisan terbaik berita-berita luar negeri dan kebijakan luar negeri. Ini kali kedua ia  meraih penghargaan tersebut. Sebelumnya, ia meraih Adam Malik Award 2007. Penghargaan pertama diperoleh saat ia menjadi jurnalis di The Jakarta Post. Sementara penghargaan kedua diberikan sebagai jurnalis di Jakarta Globe.

Abdul menjadi jurnalis di The Jakarta Post sejak tahun 2003 hingga 2012 dengan posisi terakhir sebagai Assistant Managing Editor. Isu-isu luar negeri, kebijakan luar negeri pemerintah, dan politik adalah bidang keahliannya. Februari 2012 ia pindah ke Jakarta Globe sebagai Managing Editor.

Januari 2013, Jakarta Globe untuk pertama kalinya meraih Adam Malik Award sebagai koran terbaik penyaji berita-berita luar negeri dan kebijakan luar negeri.

More

Bahagia Bersyarat

Oleh : Okky Madasari

(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)

Katanya dia mau kawin lagi.

Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.

Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.

Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More

Obsesi

Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.

Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More

Tentang Asi

Tak seorang pun meragukan pentingnya air susu ibu (ASI) untuk bayi. Tak seorang pun membantah memberikan ASI jauh lebih baik dibandingkan memberi susu formula. Tapi tak semua orang sadar, tidak semua perempuan bisa memberikan ASI dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Sore itu, dengan santai dan tanpa bermaksud apa-apa saya bertanya pada seorang teman yang memiliki bayi berusia 6 bulan, ”Minum ASI kan, ya?” Saya anggap itu pertanyaan biasa, karena hampir pasti semua ibu akan menyusui anaknya. Apalagi di tengah gencarnya kampanye pemberian ASI saat ini.

Di luar dugaan, teman saya itu menjadi berkaca-kaca. ”Enggak…enggak bisa keluar,” katanya dengan sedih.

Suaminya yang kemudian cepat-cepat mengendalikan situasi. ”Nggak apa-apa, soalnya ASI nya buat bapaknya,” katanya yang langsung memancing tawa.

Saya langsung sadar, pertanyaan tentang ASI adalah hal yang sensitif dan berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Saya mencoba menebus perasaan bersalah dengan mengalihkan perhatian pada anaknya yang memang tak kalah sehat dan tak kalah pintar dibanding bayi-bayi lain yang mendapat ASI. More

Politik Ranjang

Kata siapa cinta dan pernikahan menyatukan dua manusia?

Ada banyak ketidaksatuan antara saya dan Abdul dalam memandang suatu perkara. Perkara yang saya maksudkan ini adalah hal-hal umum, terjadi jauh di luar tempat tinggal kami, dan tidak punya urusan langsung dengan kami selain disambungkan oleh gambar-gambar di televisi atau tulisan-tulisan di koran dan buku.

Ketidaksatuan ini mengemuka dalam setiap sesi ngerumpi kami, yang biasanya dilakukan di pagi hari setelah mata melek dan di malam hari sebelum tidur. Kasur kami, yang kian hari makin kempes itu, menjadi tempat paling produktif di tempat tinggal kami. Mulai dari urusan sosialisme dan kapitalisme sampai urusan orgasme (haha).

Waktu kasus Siti Hajar terjadi, saya berkata memang seharusnya tidak ada lagi pengiriman tenaga kerja ke luar negeri kalau hanya jadi babu. Boleh eksport tenaga kerja ke luar negeri, tapi itu harus tenaga kerja yang terdidik, yang punya keahlian. Kerja di negeri orang harus membawa kebanggaan bukan malah jadi korban penyiksaan. Pemerintah harus kerja keras memikirkan lapangan kerja untuk mereka di negeri sendiri. Lagipula kemana larinya semua sumber daya alam negeri ini?

Abdul tidak sepakat dengan pelarangan. Biarkan saja mereka bekerja di negeri orang walaupun jadi babu. Penghasilan mereka jelas-jelas telah membantu meningkatkan devisa. Selain itu, faktanya di dalam negeri tidak tersedia lapangan kerja. Yang harus dilakukan adalah membenahi sistem. PJTKI harus kerja sesuai aturan, KBRI harus peduli pada warga negaranya dan melakukan kontrol yang rutin pada setiap pekerja. Petugas KBRI sebulan sekali mendatangi TKI, memastikan tidak ada penyiksaan, gaji diterima teratur, dan paspor tidak disembunyikan majikan.

Suatu hari kami terjebak kemacetan akibat pasar kaget di pinggir jalan. Saya bilang, pemerintah harusnya membangun pasar yang layak untuk mereka. Lokasinya harus di pinggir jalan, gampang diakses pembeli, sehingga mendatangkan banyak keuntungan untuk pedagang tanpa mengganggu lalu lintas. Abdul bilang, ini akibat pemerintah yang tidak tegas menerapkan peraturan. Kata dia, untuk hal-hal tertentu kita harus fair dan mengakui bahwa mental manusialah sumber masalahnya.

Abdul sangat tahu saya orang yang akan selalu menolak kenaikan anggaran pertahanan atau militer. Waktu banyak pesawat TNI jatuh, lalu semua orang ribut mendukung kenaikan anggaran, saya justru berpikir sebaliknya. Kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan perut jauh lebih mendesak dibanding membeli pesawat baru. Kalau memang nyatanya pesawat tempur sudah tidak layak terbang, ya tidak perlulah latihan-latihan terbang dulu. Lagipula di atas segalanya, saya percaya dunia akan lebih menyenangkan tanpa senjata.

Dalam hal ini, Abdul berdiri di seberang saya. Sebagai orang yang sama-sama pernah belajar ilmu Hubungan Internasional, kami tahu, kami berada di titik yang saling bertolak belakang : idealis dan realis. Tentu saja saya yang idealis dan Abdul lebih cenderung realis. Saya percaya bahwa semua manusia dasarnya baik dan perang tidak akan terjadi kalau tidak ada senjata. Sementara Abdul meyakini manusia pada dasarnya selalu ingin bersaing, berebut kekuasaan, karena itu masing-masing perlu memiliki senjata agar tidak tertindas oleh yang lain.

Keyakinan dalam memandang sifat manusia ini juga menjadi pangkal perbedaan kami dalam ‘memilih’ sistem pemerintahan yang bisa membawa kesejahteraan pada semua orang. Kalimat Abdul yang selalu saya ingat adalah,”Marx gagal memasukkan fakta bahwa sifat dasar manusia adalah selalu ingin bersaing.”

Saya akan menjawab, “Jika kebutuhan hidup layak, pendidikan dan kesehatan sudah dipenuhi, bukankah persaingan tidak perlu diidentikkan dengan uang? Persaingan adalah soal karya, soal prestasi, soal bagaimana masing-masing manusia berguna untuk yang lainnya.”

Lalu dia akan berkata, “Bagaimana dengan keinginan orang untuk berkuasa?”

“Kekuasaan sebagaimana politik. Dapatkanlah dengan proses yang benar,” kata saya.

“Tidak bisa. Siapa yang punya uang lebih besar, dia yang lebih berkuasa.”

Di lain waktu, saat saya menggugat pengelolaan sumber daya alam oleh asing, dia balik bertanya, “Siapkah kita untuk percaya pegawai-pegawai negara tidak akan korupsi kalau diberi kewenangan untuk mengelola?”

Saya diam. Di titik ini saya sadar kami sedang berdiri berhimpitan. Memandang satu hal dari satu sudut, meski kemudian mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda. Saat pembicaraan berlanjut, kami sepaham bahwa korupsi adalah pangkal banyak masalah di negeri ini. TKI yang disiksa, kecelakaan pesawat, orang-orang yang tak berpendidikan dan sekolah yang tak terjangkau, dan sumber daya alam yang masih dikangkangi orang-orang dari negeri antah berantah.

Kami juga sepaham bahwa kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman adalah lembaga yang masih sulit dipercayai di negeri ini. Saya bilang perlu ada potong generasi, pensiun dini pada orang-orang yang umurnya sudah lima puluh tahun ke atas. Abdul bilang butuh sebuah revolusi di tiga lembaga itu. Reformasi saja tidak akan pernah cukup.

Saya bilang susah memberantas korupsi kalau penguasanya juga korupsi. Abdul bilang itu karena penguasanya dungu, terlalu banyak punya utang budi pada orang lain.

Ya, ya, ya, kami memang selalu berbeda. *wink*

Sebuah Proses

Setelah berhasil merumuskan satu alasan kenapa saya memutuskan menikah, sekarang saya berhadapan dengan satu pertanyaan : bagaimana rasanya setelah menikah?

“Rasa?”

“Iya, rasa,”

“Seperti enak dan tidak enak?”

“Ya, seperti itu.”

“Hmm..enak atau tidak enak ya?”
Hingga sekarang – tiga minggu menikah – saya masih belum merasakan menikah adalah sesuatu yang enak atau tidak enak. Tentu saja saya sedang memisahkan pernikahan dari aktivitas seksual, yang harus diakui sebagai sesuatu yang nikmat.
Jika memang pertanyaan enak dan tidak enak ditujukan untuk mengetahui rasanya berhubungan seksual, saya akan dengan mudah menjawab : pokoke nikmat lah!

Masalahnya, pertanyaan yang ditujukan memang selalu ‘bagaimana rasanya menikah’, bukan ‘bagaimana rasanya berhubungan seksual’. Dan karena bagi saya menikah tidak hanya sebatas berhubungan seksual, pertanyaan ‘bagaimana rasanya menikah’ saya lihat sebagai pertanyaan yang tidak bisa saya jawab dengan satu kata : nikmat.

Jika bisa bersama dengan laki-laki yang dicintai sepanjang hari merupakan hal yang enak, kenapa ada pasangan yang memutuskan hidup sendiri-sendiri setelah melewati sepuluh tahun kebersamaan?

Kalau menikah itu merupakan sebuah penjara baru yang menciptakan keterbatasan dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan, kenapa banyak orang yang bisa menemukan kebahagiaan didalamnya?

Enak atau tidak enaknya pernikahan, seperti sebuah perjalanan backpacker keliling dunia atau mendaki gunung. Tak pernah bisa saya menjelaskannya dengan enak atau tidak enak. Mungkin enak ketika saya merasakan kebanggaan melihat tempat yang baru dan mengabadikannya. Tapi juga tidak enak ketika saya menguras seluruh tenaga, berjalan terseok-seok, dan kadang juga terluka.

Sebelum memulai perjalanan dan kemudian pernikahan, saya tidak pernah berpikir apakah ini akan menjadi enak atau tidak enak. Dan nyatanya, setelah menikah, saya tetap masih belum bisa memilih mana yang enak dan mana yang tidak enak, apakah menikah enak atau tidak enak.

Bagi saya, ini hanyalah suatu proses yang saya pilih untuk menjalaninya. Enaknya enak dan tidak enaknya tidak enak, sekaligus saya telah memilihnya.


*) Ini ada satu artikel yang dimuat di rubrik pernikahan Jurnas – sebuah rubrik yang mengangkat kisah pasangan yang menuju pelaminan. Selain ingin memberi inspirasi juga ingin menggaet iklan dari vendor pernikahan gitu. Saya menerima tawaran untuk menulis. bukan untuk narsis, hanya ingin menjadikan penanda bahwa proses itu selalu ada :)

Mencari Jawaban, dari Uluwatu hingga Andaman

Tidak mudah menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawab satu pertanyaan, “Apa yang membuatmu yakin untuk menikah?” Dan semakin sering pertanyaan itu diajukan, bukannya saya makin pandai untuk menjawab tapi justru makin lihai untuk berkelit.

Saya dan Abdul Khalik bertemu di Bali, Januari 2008, saat sama-sama meliput Konferensi Tingkat Tinggi Anti Korupsi. Saya (24), wartawan Jurnal Nasional, orang Jawa yang baru dua tahun tinggal di Jakarta. Abdul (30), wartawan The Jakarta Post, orang Makassar yang lahir dan besar di Jakarta.

Sepuluh hari di Bali, kedekatan terjalin melalui aktivitas sehari-hari. Bertemu tanpa direncana di ruang konferensi, membuat berita di press room, dan obrolan-obrolan mulai dari perilaku orang Bali yang kurang menghargai wisatawan lokal, kematian mantan Presiden Soeharto, hingga kekalahan diplomasi Indonesia dalam KTT.

Yang istimewa dari pertemuan Bali adalah keputusan kami untuk melakukan perjalanan bersama dari ujung selatan Pulau Bali sampai ujung utara. Memulai dari Uluwatu kami menyusuri jalanan hingga Pantai Lovina.

Saya yang tergila-gila pada perjalanan dan fotografi memberi warna baru pada Abdul yang tergila-gila dengan pekerjaan dan tidak pernah mengambil cuti lebih dari dua hari sepanjang kariernya.

Awal Maret 2008, saat Jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima suap dari Artalyta Suryani, kami sedang berjalan-jalan di Raffless Place, Singapura. Itu adalah hari pertama dalam perjalanan kami keliling tiga negara di Asia Tenggara.

Bukan sebuah perjalanan yang romantis dan selalu berjalan manis. Sebagaimana perjalanan backpacker yang sering saya lakukan seorang diri atau bersama teman, ini adalah perjalanan ngirit yang penuh rintangan, melelahkan, memancing emosi, tapi sekaligus menyenangkan.

Kami tiba di Malaysia empat hari sebelum pemilihan umum dimana Nurul Izzah, putri Anwar Ibrahim, berhasil terpilih sebagai anggota parlemen. Kuala Lumpur saat itu penuh dengan bendera partai politik dan spanduk bergambar calon anggota parlemen. Abdul –penggila kerja yang baru belajar menggilai perjalanan – menunjukkan karakter aslinya di kota ini.

Di tengah kesibukan saya memilih Vincci di Menara Petronas, Abdul sibuk mencari koran-koran Malaysia mulai dari The Star sampai Utusan Malaysia. Bukan sekedar untuk dibaca, dia sedang mencari referensi untuk mengirim berita ke kantornya tentang pemilu Malaysia. “Sekalian, mumpung ada disini,” katanya.

Untung suasana backpacker kami tidak terlalu lama terganggu oleh keruwetan kerja seorang wartawan. Sesuai tiket pesawat yang sudah saya pesan melalui internet, kami harus meninggalkan Kuala Lumpur menuju Phuket dua hari sebelum pemilu Malaysia berlangsung.

Di Phuket – tempat yang kami datangi karena keindahan pantainya– justru kami hanya sempat menikmati segarnya air laut di hari pertama. Sisanya, kami hanya bisa duduk di pasir, memandang turis-turis berkulit putih berenang dan menyelam, sambil meringis menahan perih di kaki dan tangan.

Ya, kami kecelakaan di jalan antara Pantai Kata dan Pantai Patong. Motor Mio yang kami sewa bertabrakan dengan motor gede yang dikendarai turis dari Amerika. Saya yang terluka agak parah dalam kecelakaan itu. Pergelangan kaki saya tergores apal dan terkuak cukup dalam. Di sebuah klinik, seorang petugas membersihkan luka dengan alkohol dan menutup dengan perban.

Saat itulah emosi kami benar-benar diuji. Bagaimana sebuah perjalanan yang awalnya penuh harapan tentang keceriaan justru diwarnai dengan tangis menahan sakit. Saya yang melankolis dan mudah terbawa suasana berhadapan dengan karakter Abdul yang rasional dan tegas menetapkan prioritas.

Di hari keempat, kami berlayar dari Phuket ke Phi-Phi Island dan Maya Bay. Ada rasa nelangsa ketika saya hanya bisa memandang orang-orang berenang, snorkeling, bermain kanoe, di ‘surga’ yang diperkenalkan Leonardo DiCaprio dalam film The Beach.

Di tengah perasaan kecewa itulah, Abdul menyampaikan ajakan menikah. Tentu saja saya tak langsung menjawab. Di atas kapal yang melintasi perairan Andaman, saya mencari jawaban atas ajakan itu. Saya tidak tahu apa dan bagaimana saya bisa menjawab ‘ya’ saat itu.

Dari ‘kesepakatan Perairan Andaman’ kami mulai merencakan persiapan pernikahan. Awalnya kami berencana menikah pada pertengahan tahun 2009. Namun karena beberapa pertimbangan, termasuk saran dari orang tua yang percaya bulan baik untuk menikah adalah Bulan Besar (Dzulhijah), kami putuskan menikah di bulan Desember.

Akad nikah dilaksanakan 13 Desember 2008 lalu dilanjutkan resepsi keesokan harinya di kediaman orang tua saya, di Magetan. Acara di Magetan dilaksanakan dalam ritual Jawa. Mulai dari siraman, acara temu manten dengan segala prosesinya, dan diakhiri dengan pergelaran wayang kulit pada 14 Desember malam.

Seminggu kemudian, kami menyelenggarakan pesta di Jakarta dengan format outdoor wedding. Ini pesta yang kami rancang khusus untuk teman-teman dan kolega. Kami memilih konsep nasional dengan sentuhan Makassar di makanan dan sarung yang dikenakan keluarga dan orang tua.

Persiapan pernikahan – layaknya perjalanan backpacker yang kami lakukan – bukanlah hari-hari yang selalu menyenangkan. Ketegangan, emosi yang naik turun, masalah dari hal-hal kecil yang tak terduga, menjadi tantangan yang harus kami taklukan.

Kadang kami menertawakan kekonyolan masing-masing. Ada kala kami lupa diri dan nyaris putus asa. Kami sadar itu semua adalah bagian perjuangan untuk mencapai titik tujuan. Bisa jadi ini adalah ujian sebelum kami naik ke tingkatan hidup selanjutnya.

Sampai disini saya mulai bisa merumuskan satu jawaban, kenapa saya memutuskan untuk menikah. Untuk sebuah peningkatan kualitas hidup. Yang terlihat maupun yang hanya bisa dirasakan, yang terukur atau yang tak pernah bisa terhitung.

Post Card from Gili Meno

After The Wedding


Kami terdampar. Satu tempat indah dan sepi. Tanpa gelak tawa pesta, dentingan sendok, undangan dan ucapan terima kasih. Hanya kami berdua. Benarkah ini menyerupai surga?
Harmoni

…tempat dimana kami tak perlu tergesa menghabiskan makan siang…

Jeda

…tanpa deru mesin, asap kendaraan, berita koran dan gambar televisi …

Land for Sale


…kami datang sebelum tempat ini habis dibatasi pagar-pagar raksasa…

Di Atas Pasir


…pernahkah kau bayangkan, satu tempat dimana waktu dan keindahan hanya milikmu seutuhnya. tempat dimana kamu bisa bercumbu di atas pasir, disaksikan birunya langit dan diiringi deburan ombak…

The Sunset

…hanya kami berdua…

Sebuah Undangan

"....
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
..."
Rendra dalam Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya
Penggalan puisi Rendra itu yang akhirnya kami cantumkan dalam undangan. Kami memang ingin menampilkan puisi cinta yang tidak sekedar berbicara tentang percintaan. Abdul Khalik mengatakan ingin puisi yang berbicara tentang kehidupan. Saya ingin puisi yang jarang dipakai ora ng dalam undangan pernikahan. Kenapa tidak membuat puisi sendiri? Karena kami berdua bukan penyair, tak punya hobby bersyair, dan t ak bisa membuat syair. Kami hanya sekedar ingin mencantumkan syair yang indah dalam undangan kami.

Lalu kenapa Rendra? bukankan dia poligami? huehehe…Jujur untuk yang satu ini kami memang ‘kecolongan’. Saat memutuskan memilih puisi itu kami sama sekali tak ingat dan tak berpikir ada faktor eksternal dari puisi itu. Kami hanya memperhatikan sebatas sajak dan maknanya saja.

Dan meskipun kami mengutip puisi dari penyair yang berp oligami, bukan menjadi alasan untuk tidak hadir dalam pernikahan kami khan?? Datengg yaa…..


*foto oleh
Dedy Priambodo

Prev Older Entries