Gebunden


The german translation of Pasung Jiwa, published by Sujet Verlag, 2015

Maryam

Novel Maryam meraih Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012.

Sebuah kisah tentang mereka yang terusir karena iman di sebuah negeri yang penuh keindahan.

Beredar akhir Februari 2012, dengan bonus CD musik 9 lagu dari album “Terbangkan Mimpi”. More

86 : dari Ruang Sidang

Menjadi wartawan dalam bidang hukum, terutama untuk kasus-kasus korupsi, memberikan kesempatan besar bagi saya untuk melihat dan memahami sisi-sisi manusia dan kemanusiaan. Bukan sekedar untuk tahu sistem hukum, bukan pula untuk menghafal pasal-pasal pidana, juga tidak sebatas pada si A melakukan kesalahan apa, lalu mendapat hukuman apa.

Hari-hari di ruang sidang menjadi laboratorium mini dengan alat-alat uji coba yang semuanya nyata. Saya kerap melihat bagaimana seorang perempuan menangis histeris, lalu diikuti tangisan keluarganya, sesaat setelah hakim menjatuhkan vonis. Saya juga sering mendengarkan bagaimana mereka berusaha membuat cerita-cerita bohong, agar hakim percaya mereka tak bersalah. Juga bagaimana ketika mereka bertahan habis-habisan, menentang semua kesaksian, dan tetap meyakini apa yang mereka lakukan benar. More

86

Novel “86″ masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award 2011.

Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orang tua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh seorang pegawai pengadilan.

Dari seorang pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

*) Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011

Entrok on Lenses

- Beberapa jepretan dari event-event Entrok -

Entrok : Sebuah Novel Multifaset

oleh : Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
Tak ada kriteria apapun untuk menilai kehebatan sebuah novel, yang oleh Bakhtin dan sejumlah pakar dunia dianggap sebagai genre yang sangat terbuka dan bebas. Tapi saya merasa pasti bahwa banyak pengamat dan ahli sastra yang akan setuju bahwa Entrok dapat dianggap sebagai novel klasik yang akan bertahan dalam ruang dan waktu. Semua aspeknya mengesankan, ceritanya kaya, penceritaan mengalir, tema-temanya kuat, dan memang sang pengarang ingin menyampaikan sesuatu dan banyak hal. Sebuah novel indah yang membuat seorang pengamat bingung memilih aspek apa yang akan difokusnya karena fasetnya begitu banyak. Sebagai novel sejarah, Entrok sangat menarik, tema feminisme dan alienasi, juga menarik, begitu pula masalah estetetik, bahasa, budaya dan masih banyak lagi yang lain. Entrok adalah novel yang “scriptoble” menurut istilah Roland Barthes, yang bisa mengilhamkan teks-teks baru di kepala pembacanya, yang makin dibaca makin menampakkan pemandangan yang luas dan beragam. More

Unveiling sexuality and social insanity

by : Kurniawan Hari, The Jakarta Post, Sunday 04/11/2010

There was a time when this country had an authoritarian leader who knew nothing but the accumulation of wealth and power to maintain control over society.

He used military and civilian personnel to intimidate the people for the sake of his family and cronies. So rampant and ruthless was the oppression that the people had no choice but to go along with the abusive ruler for their own safety.

Some of that very intimidation and oppression are vividly described in Okky Madasari’s first novel, Entrok. From the pages, it is apparent that Okky, a journalist, seems to find more excitement in being a novelist than from her actual profession. More

Fiksi Perempuan di Bulan Kartini

Oleh : Sica Harum Wibowo, Media Indonesia, 17 April 2010

Masih bicara mengenai poligami, pluralisme, feodalisme, dan patriarki yang melahirkan kekerasan bagi perempuan. More

Prev Older Entries