Dari atas bukit..

Kami ke Lombok lagi. berangkat dengan segudang rencana untuk sekaligus menyeberang ke Sumbawa, Moyo, dan Komodo. Tapi apa daya, kami terperangkap oleh keindahan. More

Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Poles-Memoles

Baru-baru ini, seorang dosen Paramadina meminta saya menjadi nara sumber untuk disertasi doktoralnya yang mengangkat tema “Konsultan Politik Sebagai Bisnis”. Kami mengobrol banyak tentang pengalaman saya saat bergabung dalam salah satu tim PR yang menangani salah satu calon presiden dalam Pemilu 2009. Saya jadi tertarik untuk menuliskan sedikit pengalaman itu. Agar tak lupa dan bisa dibagi sama-sama saja.

Tak banyak teman yang tahu kalau selepas mengundurkan diri dari wartawan, saya bergabung dalam konsultan public relations. Dari awal saya memang sudah niat tak akan lama-lama berada di sana. Selain karena segera ingin fokus menulis novel, saya agak malas dengan sistem kerja kantoran : bangun pagi-pagi, delapan jam sehari, pulang menjelang petang di antara kemacetan. Maka niat saya waktu itu sepenuhnya hanya untuk menyabet peluang proyek Pilpres saja. Ya soal uang, ya soal pengalaman.

Tugas harian saya mulai dari media monitoring, meng-counter pemberitaan, menciptakan isu, menggelindingkan isu, mengupayakan agar orang-orang yang namanya masuk dalam anggota tim sukses bisa muncul di media. Menyenangkan, karena kita bisa seperti sutradara, mengatur apa yang akan dimunculkan di permukaan. More

Tentang Kesempatan

Saya tak terlalu menaruh perhatian saat Sandra Bullock memenangkan Oscar untuk perannya dalam “The Blind Side”. DVD yang sudah dibeli jauh-jauh hari sebelum pengumuman penghargaan itu tetap tak tersentuh. Alasannya sederhana saja, saya sedang malas nonton film yang temanya olahraga : tentang orang-orang yang dianggap enteng, lalu ternyata ditakdirkan sebagai bintang lapangan. Film itu pun semakin terlupakan, tertutup dvd-dvd baru yang terus dibeli setiap akhir minggu.

Hingga akhirnya tiga malam lalu, lima bulan lebih sejak penghargaan Oscar, dan entah sudah berapa lama sejak DVD itu tersimpan di laci, akhirnya saya menontonya. Tanpa alasan khusus. Tanpa pengharapan macam-macam. Pokoknya, ini film untuk mengisi waktu saja. Menonton sambil tiduran, main Twitter dari BB, mengobrol, sampai kemudian tiba-tiba saya memutuskan menghentikan dvd untuk memutarnya kembali dari awal. Ya, film ini memang istimewa.

Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Tentang Michael- seorang remaja Afro-Amerika, bertubuh besar, tapi memiliki IQ rendah. Besar dalam kemiskinan tanpa kasih sayang keluarga membuatnya begitu asing dan tak lagi memelihara harapan. Sampai kemudian nasib mempertemukannya dengan keluarga kulit putih yang tak hanya memiliki materi tapi juga kasih sayang melimpah. Nyonya rumah yang diperankan Sandra Bullock, yang memiliki peran besar dalam segala hal yang dilakukan keluarga ini untuk Michael. Ialah yang pertama kali memutuskan mengajak Michael menginap, membelikan baju, sampai akhirnya memutuskan mengadopsi.

Michael pun mendapatkan kesempatan untuk mengolah potensi yang dimiliki. Tubuhnya yang besar dianggap bisa jadi modal untuk menjadi atlet football. Dia dimasukkan sekolah football. Latihan dan ikut pertandingan sebagaimana teman-temannya. Semuanya tak sia-sia. Michael jadi bintang. Semua universitas kemudian berebut menawarinya beasiswa.

Apakah seorang Michael bisa seperti itu jika tak pernah masuk sekolah football? Pastinya tidak. Bagaimana dia bisa berpikir tentang bakatnya, kalau perutnya terus kelaparan, sementara tak ada sekolah football yang gratis. Dan bagaimana dia bisa menunjukkan kemampuannya, kalau tak pernah ada pertandingan yang diikutinya? Juga apa jadinya nasib Michael, kalau tak pernah ada keluarga yang peduli padanya? Apa yang akan dilakukannya ketika kesempatan itu tak pernah ada?

‘The Blind Side” diangkat dari sebuah kisah nyata. Kini, Michael menjadi bintang football di Amerika. Dan masihkah ada yang lebih membanggakan bagi keluarga yang telah membukakannya pintu kesempatan?
Ah, film itu membuat dada saya terasa penuh, sementara air mata mendesak untuk dikeluarkan. Rasa haru, rasa iri, rasa bahagia, rasa sedih, semuanya teraduk-aduk menjadi satu. Memory saya berjalan, teringat perjalanan saya bersentuhan dengan anak-anak yang kurang beruntung dari berbagai daerah pedalaman : Jawa, Sumatera, Kalimantan. Masih teringat bagaimana ada yang begitu pintar mengarang cerita, menyanyi, dan olah raga. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa jadinya mereka di masa mendatang? Mereka yang tak punya uang, mereka yang terbelakang dalam kemampuan, mereka yang begitu jauh dari kesempatan.

Dalam semangat yang sama, dua bulan lalu Yayasan Muara Bangsa didirikan. Ingin memberikan yang terbaik untuk membuka kesempatan bagi anak-anak yang kemampuan ekonomi keluarganya hanya pas-pasan. Terseok-seok dalam keterbatasan pendanaan dan tenaga pengajar, melakukan yang paling kecil dari lingkungan yang paling dekat dengan tempat tinggal.

Untuk pendidikan formal kami mendirikan Taman Kanak-Kanak. Memang tidak gratis, tapi jauh lebih murah dibanding TK-TK lain. Uang bayaran digunakan untuk membayar guru, sekaligus menjadi subsidi silang untuk membiayai kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan gratis. Mulai dari pelatihan seni, ketrampilan, Bahasa Inggris, komputer, semuanya bisa diikuti secara cuma-cuma.
Tak selamanya mudah. Kadang juga melelahkan, dan seringkali membuat putus asa, apalagi ketika berhadapan dengan dana. Tapi ketika melihat mereka datang, penuh semangat menembus hujan deras, adakah alasan untuk tak terus berjuang dan mempertahankan?

Biar kesempatan itu ada untuk mereka. Agar kelak mereka bisa mandiri dan bersaing. Agar potensi-potensi itu tak redup dan mati, agar kelak mereka pun bisa menjadi pemenang.

Dan lebih dari itu, sebenarnya ini semua bukan untuk mereka. Ini untuk kami. Agar dada ini selalu terasa penuh. Agar bahagia itu tercecap sempurna.

Kabar dari Muara

Di sinilah kami sekarang : sebuah rumah sederhana berhalaman luas yang dimiliki dengan segenap upaya. Di tengah suasana asri pinggiran lembah Ciliwung, di antara penduduk asli Jakarta yang lugu dan tak banyak tahu. Tempat di mana kami bisa mendengar kokok ayam tetangga setiap pagi dan cicit-cicit burung gereja yang mampir di pohon rambutan tua kami. Di sini kami kerap lupa, kota yang penuh hingar bingar, jalan tol Simatupang yang penuh kendaraan, dan gedung megah ANTAM hanya sepelemparan batu jauhnya.

Inilah kisah lain tentang Jakarta. Di antara banyaknya gedung-gedung tinggi dan restoran cepat saji, ada sekelompok orang yang tak pernah kenal bank sama sekali. Di antara banyaknya sekolah mahal dan bergengsi, orang-orang masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mewah dan tak mesti dipenuhi. Tentang orang-orang yang menyerah pada laju pembangunan dan terdesak oleh kebutuhan, yang perlahan-lahan menyerahkan tanahnya pada pendatang, seperti kami ini.

Ah, terlalu banyak kisah tentang kampung ini untuk bisa saya pilih salah satu dan disajikan dalam tulisan menarik di blog. Kelak, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerita. Sebuah tulisan yang akan menjadi pengingat dan saksi atas sebuah perubahan. Mungkin juga sebagai ucapan terima kasih pada kampung ini, yang telah memberikan tempat nyaman dan asri untuk kami.

Iyah, sepertinya kami akan berutang banyak pada tempat ini. Di kamar berjendela lebar yang langsung menghadap taman dan rambutan tua, dua minggu lalu saya menyelesaikan novel kedua saya. Separuh bagian novel itu saya selesaikan di rumah ini. Kadang di teras rumah, sambil merasakan percikan-percikan hujan. Kadang di ruang utama, beralaskan bantal oranye besar pasangan sofa.

Di kampung ini pelan-pelan kami juga mewujudkan satu persatu mimpi. Tentang keinginan untuk berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Semuanya kami mulai dari yang paling kecil. Memanfaatkan bangunan sebelah rumah untuk menjadi Taman Kanak-Kanan Muara Bangsa. Hei, bahkan taman kanak-kanan saja merupakan barang mewah di kampung ini. Jarak yang terlalu jauh – yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki – dan biaya yang terlalu mahal. Banyak di antara anak-anak kampung ini yang dulu tak pernah TK. Mereka memilih langsung masuk Sekolah Dasar, demi memudahkan banyak hal.

Ah, untuk yang satu inipun rasanya kami masih belum layak untuk terlalu banyak berbagi cerita. Masih banyak yang mesti dilakukan. Masih terlalu kecil untuk menjadikannya sebagai kebanggaan.

Dan lebih dari semuanya, Kampung Muara menjadi tempat bagi kami untuk banyak-banyak belajar. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manusia dan kemanusiaan.

Entrok

beredar 5 April 2010. don’t miss it! :D

Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada kata itu. Kata itu saya peroleh dari nenek saya, di Magetan sana. Sejak saya masih kanak-kanak hingga sekarang, dia senantiasa mengulang-ulang cerita yang sama tentang entrok. Entrok yang membuatnya bisa seperti ini : punya rumah, punya sawah, bisa menyekolahkan anak sampai jadi sarjana. Entrok yang membuatnya mengerti, segala sesuatu dalam hidup hanya bisa didapatkan dengan keringatnya sendiri. Baginya, entrok adalah penderitaan dan kemiskinan, sekaligus kebanggaan dan kejayaan.

Enam puluh tahun sudah entrok menjadi bagian hidup nenek saya. Bagi anak dan cucunya, entrok mungkin hanya bagian dari petuah dan cerita masa lalu yang membosankan karena saking seringnya diulang. Tapi betapapun bosannya, entrok telah terlanjur menempati ruang ingatan di hati kami. Saya mengingat entrok, sebagaimana saya mengingat nenek saya.

Kini, entrok tidak hanya menjadi ingatan dalam keluarga kami. Melalui rangkaian kata-kata, saya menyusun kepingan-kepingan kisah tentang entrok dalam sebuah novel. Entrok bahkan menempati tempat istimewa dengan menjadi judul dari novel ini. Sejak memulai pengerjaan novel ini pertengahan tahun 2009, saya sudah memilih “Entrok” sebagai judul.

Selain menjadi pangkal dari kisah yang saya tuliskan, saya merasa kata itu unik, eksotik, dan mudah diingat. Memang kata ini terlalu asing dan banyak yang tidak mengetahui artinya. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang saat mendengar kata entrok. Jawabannya beragam, mulai dari sejenis bebek hingga obat mencret (entrokstop) . Ada juga yang bertanya bagaimana mengucapkan kata entrok. Saya jawab, ‘e’ nya diucapkan sebagaimana kata ‘tempe’, bukan ‘besar’. Dengan keasingannya, saya dan Gramedia tetap nekat menjadikan ‘entrok’ sebagai judul. Toh nanti pembaca akan mengetahui artinya dengan membaca sendiri novelnya :)

Figur nenek saya dan entroknya hadir melalui tokoh Marni, seorang perempuan Jawa buta huruf yang masih kuat memegang tradisi leluhur. Melalui tumpeng dan ayam panggang ia temukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal tuhan yang datang dari negeri nun jauh. Tidak tuhan dari timur, tidak tuhan dari barat. Dengan caranya sendiri ia mempertahankan hidup, menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak membunuh, menipu, mencuri, atau merampok?

Generasi kedua dan ketiga dalam keluarga kami menjelma dalam karakter Rahayu, anak perempuan Marni. Ia generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika Marni dan Rahayu berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi asing satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing, tak pernah ada titik temu.

Kisah ini berlatar masa Orde Baru, pada periode tahun 70-80-hingga 90an. Saya menunangkan segala ingatan saya tentang masa itu. Sepatu-sepatu lars, sumbangan kampanye dan kewajiban mencoblos partai kuning. Itulah masa dimana banyak sekali dibangun gardu. Kentongan, ronda, warga kampung yang ikut berseragam hijau. Saya masih ingat bagaimana segala sistem keamanan itu membuat kami semua justru merasa tidak aman :( . Disinilah kemudian ada titik temu antara Marni dan Rahayu. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

Diantara mereka juga ada Cayadi. Seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit. Orang tuanya datang ke negeri ini pada satu masa yang lampau. Dia sendiri hanya mengenal tanah dan udara yang ditempatinya, bukan negeri leluhurnya. Dalam segala kepatuhan warga negara, ingin sesekali ia memenuh harapan ibunya untuk berdoa di rumah dewa. Dia mengendap-endap, bersembunyi dalam malam untuk menemui dewanya. Di hari Minggu ia tetap harus menemui tuhan lain. Tuhan yang tak pernah dirindukannya.

Lalu ada Hasbi. Seorang kiai beristri tiga. Berusaha sepenuh hati untuk hidup di jalan Tuhan. Dipuja banyak orang atas kesalehannya. Apakah yang terlihat benar selalu benar?

Baca kisah lengkapnya dalam novel pertama saya “Entrok” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. “Entrok” bisa didapatkan mulai 5 April 2010 di seluruh toko buku Gramedia. Don’t miss it! :D

*ilustrasi cover oleh Restu Ratnaningtyas

Ahimsa


Entah berapa banyak teman yang marah ketika saya menuliskan : Dunia lebih indah tanpa pabrik senjata, tentara, dan…bonek! Mulai dari teman-teman perempuan yang merasa perlu menyimpan pistol kecil di tasnya untuk melawan pemerkosa, teman-teman SMA yang setelah lulus masuk sekolah militer, dan tentu saja teman-teman sesama arek Jawa Timuran yang mati urip membela Persebaya.

Mereka boleh marah. Tapi saya tetap akan menuliskannya berulang kali : di status Facebook, di account Twitter, dalam kotak perbincangan maya, juga pada secarik kertas yang saya tempel di dinding depan meja kerja saya. Seperti mereka, saya juga sedang marah.

Apa yang ada di kepala pendukung Persebaya saat melempar batu pada orang-orang di Stasiun Jebres? Semua media menulis Bonek yang lebih dulu melempar, lalu orang-orang di Jebres balik melawan. Sementara teman saya yang seorang Bonek berkata, “Bukan kami yang lebih dulu melempar. Orang-orang yang memulai, lalu kami yang jadi korban terpaksa membalas.”

Lalu seperti biasanya, kalau ada masalah-masalah seperti ini, orang-orang yang punya kuasa akan membentuk tim investigasi. Mereka akan mengumpulkan bukti-bukti, mencari tahu siapa yang sebenarnya memulai. Tapi buat apa?

Perang batu sesama suporter kesebelasan bukan baru pertama terjadi di negeri ini. Jika tahun ini mereka dilempar, tahun depan mereka akan ganti melempar. Bisa saja, memang benar insiden di Stasiun Jebres bukan dimulai oleh Bonek. Tapi orang juga tidak akan lupa begitu saja bagaimana tindakan anarki yang mereka lakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Kefanatikan telah begitu membutakan orang-orang ini. Tidak hanya Bonek, tapi juga pendukung kesebelasan di Solo dan kemungkinan besar juga suporter-suporter lainnya. Ketika saya menulis “Dunia lebih indah tanpa…Bonek” sebenarnya itu hanyalah simplifikasi. Penyebutan sebagian saja untuk mengungkapkan yang keseluruhan. Bisa juga penyebutan seluruhnya padahal yang saya maksud hanya anarkismenya.

Saya ingin tidak usah ada suporter sepak bola saja kalau masih gontok-gontokan. Setidaknya sampai orang-orang Bonek bisa mengerti bagaimana enaknya berfoto bersama pendukung Persija setelah Persebaya kalah 0-1. Sampai yang seperti itu bisa terwujud, biarkan saja suporter bola menonton pertandingan dari televisi, memukul tembok rumah setelah kesebelasan jagoan kalah.

Ini bukan keinginan yang terlalu aneh jika dibanding mimpi saya yang lain : dunia tanpa pabrik senjata dan tentara. Orang-orang di dekat saya pasti sudah maklum. Yang lainnya akan menganggap saya aneh, idiot, tidak mengikuti perkembangan informasi dan teknologi.

Justru saya begini karena saya mengikutinya. Pabrik senjata kebanggaan negeri yang salah sasaran waktu uji coba roket, Korea Utara-Korea Selatan yang sedang asyik tembak-tembakan, pasokan-pasokan senjata ilegal di Mindanao dan Sudan. Belum lagi bagaimana anggaran yang harusnya bisa digunakan untuk kesehatan dan pendidikan yang tersedot untuk pengadaan pesawat perang.

Film Lord of War yang dibintangi Nicolas Cage memberi kita gambaran yang nyata dan jujur bagaimana senjata diproduksi, dipasok, dan digunakan hanya untuk kekerasan. Oleh penguasa ke masyarakat sipil, kaum radikal yang mentasnamakan agama, juga antara kekuatan militer dua negara.

Saya tak pernah percaya dengan orang-orang realis yang selalu mengatakan dua negara yang punya senjata nuklir tak akan pernah berperang. Lalu buat apa dibuat kalau hanya untuk pajangan. Berapa banyak anak-anak gelandangan bisa ditampung di rumah susun sederhana dan diberi jaminan hidup dengan biaya pembuatan nuklir?

Ah, saya memang berlebihan. Tapi biarkan saja. Saya cuma sedang memelihara mimpi : sebuah dunia tanpa kekerasan, fanatisme tanpa anarkisme. Ahimsa!

Dinasti

Borders Bookstore, kawasan Orchard, Singapura, Jumat kedua November.

Saya menghabiskan siang yang diguyur hujan dengan membaca Mrs Kennedy : The Missing History of the Kennedy Years. Buku karya Barbara Leaming ini menceritakan kehidupan Jacqueline Kennedy semasa mendampingi John F Kennedy. Mulai dari perkenalan hingga saat Jacky harus meninggalkan Gedung Putih setelah suaminya tewas terbunuh.Entah kepiawaian Leaming dalam merangkai setiap kata atau memang ketertarikan saya pada kisah Nyonya Kennedy yang membuat buku itu bisa tuntas hanya dalam hitungan jam. Leaming adalah penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Marilyn Monroe dan Katharine Hepburn. Sementara Jacky Kennedy adalah bagian tak terpisahkan dari dinasti Kennedy yang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan di tempat tinggal kami, terutama setelah Abdul berkesempatan mengunjungi John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston.

Adalah Joseph P Kennedy yang menjadi orang pertama dalam dinasti ini. Laki-laki berdarah Irlandia ini pada mulanya adalah seorang pebisnis yang kemudian sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika. Dengan modal itulah ia masuk ke dunia politik dan menjadi Duta Besar Amerika di Inggris, sebuah jabatan penting dan bergengsi di Amerika.

Lalu dimulailah dinasti politik itu. Anak-anaknya mendapat pendidikan di universitas-universitas bergengsi di Amerika, menjadi anggota kongres dan senat di usia muda, jaksa agung, pahlawan perang, duta besar, bahkan salah satunya berhasil menjadi presiden. Meski kemudian dua orang dari generasi kedua Kennedy terbunuh dengan latar belakang sentimen etnis dan agama, tak menyurutkan langkah generasi ketiga Kennedy untuk terjun ke politik.

Di negara lain, misalnya India, terdapat nama Gandhi sebagai keluarga yang turun-temurun berkiprah di politik. Di Indonesia, meski tak ‘seramai’ dinasti Kennedy atau Gandhi, keluarga Soekarno juga telah membentuk dinasti politik. Setelah generasi kedua, diantaranya Megawati, Guntur, dan Guruh, sekarang generasi ketiga, Puan Maharani, menjadi anggota DPR. Masih terdapat keluarga-keluarga lain yang juga eksis di pentas politik Indonesia meski belum menduduki jabatan nomor satu di negeri ini.

Biasanya anak seorang presiden atau ketua DPR atau pejabat apapun tidak akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berada di lingkaran jabatan bapaknya.

Jika seseorang memiliki bapak yang banyak uang atau seorang duta besar seperti Joseph Kennedy, tentu tak terlalu sulit baginya untuk bisa mendapat pendidikan yang bagus lalu terjun ke politik. Begitu juga bagi seorang Megawati atau Puan, tentu bukan hal yang terlalu aneh jika mereka bisa menjadi pengurus partai, menjadi anggota DPR, bahkan presiden. Atau bagi seorang Agus Yudhoyono yang sekarang sedang belajar di Harvard, tak terlalu menakjubkan jika dua periode kepresidenan mendatang dia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Semuanya terbuka bagi mereka : uang, kemampuan, kesempatan, dan nama besar.

Yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang menjadi perintis dinasti. Orang-orang yang bukan anak siapa-siapa, yang dengan keterbatasan kesempatan dan keadaan membuat segalanya jadi mungkin. Sayangnya, tak semua orang bisa melakukannya.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, saya kerap membayangkan tentang kemungkinan masa depan bagi mereka. Katanya mereka bisa jadi presiden, bisa jadi jenderal, bisa jadi anggota DPR, bisa jadi ilmuwan, atau bahkan bisa pergi ke bulan. Katanya siapapun bisa meraih cita-citanya, asal mau berusaha, asal mau belajar. Memang begitulah teorinya.

Departemen Pendidikan sangat gemar menggunakan jargon-jargon ini. Membuat iklan televisi yang ditayangkan berpuluh kali sehari, membuat poster besar yang ditempelkan di penjuru negeri. Isinya tentang anak-anak sekolah di berbagai daerah, berseragam lengkap dengan topinya, sedang membaca buku atau mendengarkan guru. Semua orang ingin diberitahu pemerintah sudah membuat sekolah di mana-mana. Semua anak bisa sekolah, berseragam, dan membaca buku.

Di bagian lain, Departemen Pendidikan suka mengulang-ulang kisah bagaimana seorang anak yang bapaknya sopir bisa jadi pilot. Seorang anak tukang bangunan bisa jadi astronot atau yang bapaknya loper koran bisa jadi wartawan. Pesannya jelas, semua anak bisa menjadi apapun yang lebih baik dari orang tuanya, asal mau belajar, asal rajin berdoa. Dan saya tak selalu percaya.
Lupakan soal nasib, lupakan soal takdir, lupakan soal satria piningit. Kenyataanya, untuk menjadi presiden atau anggota DPR orang paling tidak harus lulus SD, lalu ke SMP, lalu SMA (di Indonesia lulusan SMA bisa jadi presiden). Untuk jadi dokter orang harus kuliah kedokteran yang biayanya tak murah. Kalau mau jadi jaksa, pengacara, wartawan, pilot, orang juga harus sekolah sampai universitas.

Bagaimana bisa pemerintah begitu berbangga ketika bisa membangun sekolah dasar di satu daerah? Lalu apa setelah itu? Kenyataanya, setelah lulus sekolah dasar banyak dari mereka memilih ikut berjuang mencari makan. Yang bisa lulus SMP atau SMA pun hanya melanjutkan apa yang biasa dilihatnya : pekerjaan orang tua, pekerjaan paman, pekerjaan tetangga. Terlalu mewah bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Membayar biaya kuliah yang tak lagi murah, menanggung biaya hidup di kota lain, dan di saat bersamaan keluarga di desa serba kekurangan.

Novel Laskar Pelangi seringkali menjadi sebuah ‘kitab suci’ bagi anak-anak miskin atau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Mereka seperti mendapat gambaran bahwa seseorang seperti mereka juga bisa kuliah sampai ke Perancis. Tapi jangan lupa, Laskar Pelangi juga menyampaikan fakta, bagaimana Lintang – seorang anak yang pintar – harus melepaskan semua cita-citanya, berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Saya percaya pendidikan yang baik (bukan sekedar sekolah dasar ala kadarnya) adalah cara sesorang untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan pendidikan seseorang bisa keluar dari kemiskinan, merambat ke atas, lalu memainkan peran yang berbeda dengan orang tuanya atau tetangganya. Menjadi presiden, politikus, jenderal, dokter, pengacara, atau apapun yang menjadi cita-cita.

Dengan pendidikan yang bermutu, siapapun bisa mendapatkan apa yang dimiliki generasi Kennedy atau generasi Soekarno. Masalahnya, bagaimana ketika pendidikan yang bermutu hanya terbuka bagi orang-orang yang punya uang saja?

*Foto Keluarga Kennedy diambil dari www.bittendandbound.com

Prev Older Entries