After 3 Years…

Menonton ulang “Before Sunrise” yang settingnya di Vienna, mengingatkan kalau saya masih punya utang menulis sesuatu tentang “Vienna”. Bukan tentang Vienna-nya tapi tentang kisah sahabat-sahabat saya yang tenggat waktunya dihitung dari keberangkatan salah seorang di antara kami, Nunuk, ke Eropa hampir 3 tahun lalu sampai kepulangannya kembali  dari Vienna sekitar enam bulan lalu.

Hampir tiga tahun lalu saat Nunuk akan berangkat, saya membuat catatan kecil tentang sahabat-sahabat saya itu. Seperti apa mereka saat itu, apa yang sedang mereka lakukan, apa yang mereka mimpikan, sekaligus apa yang sedang mereka gelisahkan. Saat itu, 3 tahun ke depan, masih waktu yang sangat panjang. Misterius, tak ada yang bisa memastikan, masing-masing hanya bisa menebak dan mengira-ngira. Dan sekarang rentang waktu itu telah terlampaui. Banyak yang terjadi. Banyak yang berubah. Ada yang tebakannya salah. Ada banyak hal yang tak terduga. More

Obsesi

Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.

Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More

Kabar dari Muara

Di sinilah kami sekarang : sebuah rumah sederhana berhalaman luas yang dimiliki dengan segenap upaya. Di tengah suasana asri pinggiran lembah Ciliwung, di antara penduduk asli Jakarta yang lugu dan tak banyak tahu. Tempat di mana kami bisa mendengar kokok ayam tetangga setiap pagi dan cicit-cicit burung gereja yang mampir di pohon rambutan tua kami. Di sini kami kerap lupa, kota yang penuh hingar bingar, jalan tol Simatupang yang penuh kendaraan, dan gedung megah ANTAM hanya sepelemparan batu jauhnya.

Inilah kisah lain tentang Jakarta. Di antara banyaknya gedung-gedung tinggi dan restoran cepat saji, ada sekelompok orang yang tak pernah kenal bank sama sekali. Di antara banyaknya sekolah mahal dan bergengsi, orang-orang masih menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang mewah dan tak mesti dipenuhi. Tentang orang-orang yang menyerah pada laju pembangunan dan terdesak oleh kebutuhan, yang perlahan-lahan menyerahkan tanahnya pada pendatang, seperti kami ini.

Ah, terlalu banyak kisah tentang kampung ini untuk bisa saya pilih salah satu dan disajikan dalam tulisan menarik di blog. Kelak, saya ingin mengabadikannya dalam sebuah kumpulan cerita. Sebuah tulisan yang akan menjadi pengingat dan saksi atas sebuah perubahan. Mungkin juga sebagai ucapan terima kasih pada kampung ini, yang telah memberikan tempat nyaman dan asri untuk kami.

Iyah, sepertinya kami akan berutang banyak pada tempat ini. Di kamar berjendela lebar yang langsung menghadap taman dan rambutan tua, dua minggu lalu saya menyelesaikan novel kedua saya. Separuh bagian novel itu saya selesaikan di rumah ini. Kadang di teras rumah, sambil merasakan percikan-percikan hujan. Kadang di ruang utama, beralaskan bantal oranye besar pasangan sofa.

Di kampung ini pelan-pelan kami juga mewujudkan satu persatu mimpi. Tentang keinginan untuk berguna bagi manusia dan kemanusiaan. Semuanya kami mulai dari yang paling kecil. Memanfaatkan bangunan sebelah rumah untuk menjadi Taman Kanak-Kanan Muara Bangsa. Hei, bahkan taman kanak-kanan saja merupakan barang mewah di kampung ini. Jarak yang terlalu jauh – yang tak bisa dijangkau dengan jalan kaki – dan biaya yang terlalu mahal. Banyak di antara anak-anak kampung ini yang dulu tak pernah TK. Mereka memilih langsung masuk Sekolah Dasar, demi memudahkan banyak hal.

Ah, untuk yang satu inipun rasanya kami masih belum layak untuk terlalu banyak berbagi cerita. Masih banyak yang mesti dilakukan. Masih terlalu kecil untuk menjadikannya sebagai kebanggaan.

Dan lebih dari semuanya, Kampung Muara menjadi tempat bagi kami untuk banyak-banyak belajar. Tentang hidup dan kehidupan. Tentang manusia dan kemanusiaan.

Let’s Rock, Baby!


Seorang sahabat ingin kelak anaknya menjadi rockstar :) . Saat ia menuliskannya di status facebook, saya hanya tertawa tanpa meninggalkan komentar. Suatu malam di atas mobil, ia kembali mengatakannya : ingin anaknya jadi rockstar yang rajin sholat. Kami semua tertawa. Katanya, dulu dia punya mimpi jadi rockstar. Saat masih SMA, dia pernah bisa main gitar dan manggung bersama bandnya. Uuuh..saya hampir tak percaya. Empat tahun mengenalnya saya baru tahu ia pernah bisa memainkan gitar!

Dulu sekali, saat masih SMP, saya minta dibelikan sebuah gitar. Gitar akustik murahan seharga lima puluh ribu. Saat itu, sama sekali saya tidak berniat jadi musisi apalagi rockstar. Saya hanya pingin bisa main gitar : agar keren, agar serba bisa, agar saya punya sedikit kemampuan di bidang seni. Maklum, saat itu saya : tidak bisa menyanyi, tidak bisa menari, tidak bisa menggambar :P

Saya mulai menghapalkan kunci-kunci, membeli buku kumpulan lagu seharga seribu limaratusan, mencocokkan kunci dengan lirik-liriknya. Saya masih ingat lagu pertama yang saya coba adalah Kemesraan. Berhari-hari saya hanya mencoba lagu itu saja. Seminggu pertama latihan gitar ujung-ujung jari saya bengkak. Ada bekas senar yang menonjol, agak perih kalau disentuh. Kata orang memang begitu saat pertama. Saya terus latihan, dan di minggu kedua bengkak itu hilang dengan sendirinya.

Emm..satu bulan…tiga bulan..enam bulan…saya tak tahu tepatnya kapan..saya mulai malas latihan. Lagu terakhir yang saya mainkan adalah Big Big World nya Emilia. Saya lebih memilih sibuk dengan majalah sekolah, menghapalkan sejarah, atau latihan soal-soal Fisika. Gitar saya hanya tergantung di dinding, berdebu dan ada sarang laba-laba di tengahnya. Seni itu tidak penting, pikir saya. Tidak bisa main gitar tidak akan membuat saya gagal mendapat juara kelas. Apalagi orang-orang selalu bilang saya tidak punya bakat di bidang seni. Ditambah kenyataan selama punya gitar saya hanya bisa memainkan beberapa lagu saja. Bandingkan dengan sepupu saya yang bisa mahir hanya dalam dua hari. Sejak itu saya melupakan seni.

Baru kemudian, saat kuliah, ketika orang-orang tidak ada yang peduli saya juara kelas atau tidak, ketika saya hanya perlu mempelajari apa yang saya suka, otak kanan saya meronta-ronta minta diperhatikan. Saya jatuh cinta setengah mati pada gambar-gambar. Saya mempelajari fotografi, saya datang ke pameran lukisan. Tentu saja saya masih tetap tak bisa menggambar. Saya hanya sedikit bisa memotret, itupun saya rasa (jangan-jangan) bukan karena saya punya nilai estetika tapi karena fotografi berbatas tipis dengan minat saya yang menggebu pada jurnalistik.

Minat saya pada seni semakin menguat setelah saya bekerja dan pindah ke Jakarta. Aneh juga. Banyak orang menjadi pragmatis dan nggak neko-neko saat sudah bekerja. Eee..saya malah sebaliknya. Saya merasa punya utang pada diri saya yang harus saya lunasi mulai saat itu : saat saya tidak tergantung secara finansial pada orang tua, saat saya punya banyak sumber informasi.

Saya membeli kamera profesional, saya datang ke pameran lukisan, saya menonton teater, saya membeli buku gambar dan pulas warna haha! Semuanya seiring dengan pembayaran utang saya untuk membaca banyak buku (saya tak punya uang saat kuliah, jadi tak bisa beli buku :P ).

Semuanya semakin menjadi setelah menikah. Suami saya itu, hemm…dia tak bisa menyanyi (kecuali di tempat karaoke), dia tak bisa main musik, dia tak berminat dengan seni rupa…tapi dia seorang penikmat musik yang serius. Iya, saya menggunakan kata serius. Dia mendengarkan banyak lagu, hapal semua liriknya, membandingkan musik yang satu dengan lainnya. Dari dia saya tahu Lennon dan McCartney sedang mempelajari agama Hindu saat menciptakan Across The Universe. Dia juga yang menjawab pertanyaan saya kenapa Sheila on 7 bisa begitu meledak di album pertama namun tak bisa bertahan lama. “Musik ‘Dan’ itu original, nggak mirip sama lagu apapun. Sayang, setelah itu lagunya ecek-ecek,” katanya.

Di antara keseriusannya menikmati musik, suami saya itu punya hobi agak norak : mengoleksi kaos-kaos bergambar grup musik kesukaanya. Diantaranya, dia punya The Beatles, The Police, dan The Who. Meski begitu, jangan mengira dia punya mimpi jadi rockstar. Bidang ini jauh sekali dari apa yang menjadi cita-citanya. Kalaupun ada sedikit keinginan dalam urusan musik, dia cuma ingin suatu saat nanti membuat sebuah artikel tentang musik. Katanya yang berbobot, yang memberi kritik secara berkualitas :P

Nah, gara-gara suami saya ini, saya mulai jatuh cinta pada musik, sebagaimana saya meminati fotografi dan menikmati seni rupa. Karena saya sudah tertinggal jauh sekali, saya memulai dari hal paling dasar : sering-sering mendengarkan musik. Saya juga akan mulai belajar alat musik lagi. Tentu saja jangan berpikir saya sedang bercita-cita jadi penyanyi atau pemain musik. Saya hanya sedang ingin menikmati hidup saja dengan selalu belajar, berkarya dan menikmati karya.

Hemm…kalaupun punya mimpi dalam bidang musik…(hehe jangan tertawa yah).. saya ingin sekali bisa menciptakan lagu :D Memadukan kemampuan saya menulis lirik dengan imajinasi saya terhadap bunyi. Kalau Krisdayanti dan Maia yang bisa menyanyi dan main musik saja pingin bisa menulis dan membuat buku, boleh donk kalau saya yang baru saja menyelesaikan satu novel punya keinginan sebaliknya…*nyengir*

ps :Mari bermimpi dan mewujudkannya..:D

Hujan Pertama

Hari Minggu pertama bulan Oktober. Hujan deras di Kalibata. Melalui jendela yang sedikit terbuka, saya bisa merasakan percikan-percikan air membasahi lengan. Sesekali hembusan angin menerbangkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

Hujan di hari Minggu bukanlah hal yang menyenangkan. Banyak orang yang harus menunda berangkat ke tempat belanja, menanti dalam gerutu yang membosankan. Orang-orang yang lain sibuk menelpon seseorang di tempat yang berbeda, mengabarkan keterlambatan atau penundaan atas janji pertemuan. Dan sebagian lainnya menyandarkan tubuh di tembok-tembok bangunan yang terkunci, menyembunyikan diri dari air yang mengguyur jalanan, dengan wajah yang tidak sabar.

Dan kami nyaris melewatkan hujan itu sebagaimana biasanya. Meringkuk di depan televisi, menyaksikan reporter-reporter berambut merah menyiarkan kabar dari tanah Minang. Sampai kemudian keinginan itu muncul begitu saja. Merayakan hujan, sebagaimana kami merayakan langit biru dan matahari terbenam.

Kami berlari ke luar rumah. Menyusuri jalanan yang basah, melewati air-air yang tergenang, menuju sebuah lapangan bola. Merasakan dinginnya air yang merembes ke balik baju. Sesekali mendongakkan kepala, membuka mulut, membiarkan air masuk ke dalam kerongkongan.

Inilah perayaan. Saat kami bisa berjingkrak riang dan tertawa lepas. Inilah syukur. Saat tak ada keluh dan tak lagi meminta apa yang tak ada. Inilah hidup. Saat kami bergandengan mesra dengan waktu, berjalan seiring tanpa merasa ditinggal atau meninggalkan.

Lalu kami teringat hujan di tempat lain. Tak ada perayaan karena tak ada yang tertawa riang. Tak ada syukur, karena setiap orang meminta Tuhan merubah keadaan. Bukan pula sebuah kehidupan, karena setiap orang berhadapan dengan kematian.

Di sana orang-orang tak lagi punya atap. Bukan seperti pramuka yang kemudian bisa tidur nyenyak dibawah tenda beralaskan tikar. Tak semua punya tenda, tak semua punya tikar. Semuanya kedinginan, semuanya kelaparan. Dan entah kenapa, di tempat yang sudah bergetar seperti itu, hujan mengguyur sepanjang malam.

Kami berduka. Kami turut juga merasakan. Sehingga tak perlu lagi bertanya, “Bagaimana perasaan, Anda?”

Kami berdoa dalam perayaan. Agar kita saling menguatkan dan saling mengingatkan.

The Days on the Road

Tidak ada alasan yang spesial sehingga kami melakukan perjalanan panjang saat sedang melakukan ibadah puasa. Hanya sebuah pertimbangan waktu dan kesempatan yang memang datangnya saat ini. Dua hari setelah Lebaran kami sudah harus berada di Jakarta karena urusan pekerjaan. Karena itu, perjalanan yang awalnya akan dilakukan setelah Lebaran dimajukan sebelum Lebaran.

Ini akan menjadi perjalanan yang berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya. Kami akan bermobil, menempuh jarak ribuan kilometer, singgah di berbagai tempat, membingkai apa yang kami lihat dan kami rasakan dalam ingatan. Tujuan utama kami adalah Jawa bagian timur yang eksotis dan kaya dengan tempat-tempat indah yang belum banyak dijamah.

Sejauh mana roda kami berputar dan sebanyak apa ingatan baru yang mampu terekam, akan tergantung sampai dimana uang, tenaga dan waktu mencukupi. Jadi, mari kita berjalan. *tuing*

Spasi

Jam 04.30. The Last Word yang dibintangi Winona Ryder baru saja selesai. Itu film kedua yang saya tonton malam ini. Dan mata saya masih tetap terbuka lebar. Otak masih sibuk berkelana, enggan untuk sejenak saja melupakan segala yang ada. Energi saya masih terasa meluap-luap, walaupun sebenarnya raga ini sudah merintih-rintih karena jam istirahatnya dikorupsi.

Saya belum tidur seharian ini. Kemarin pagi, saya bangun jam setengah sembilan setelah berhasil tidur dengan kualitas ala kadarnya, lalu bermain basket sebentar dengan suami. Seharian saya melakukan berbagai cara untuk bisa tidur nyenyak malam ini. Dan gagal lagi.

Malam ini adalah malam kesepuluh saya harus berusaha mati-matian untuk ‘sekedar’ bisa tidur. Saya kalah dan tertindas oleh kekuatan yang entah dari mana datangnya. Kekuatan yang selalu ingin terjaga, merontokkan raga, dan mungkin sebentar lagi jiwa. Sepuluh malam, saya tak lagi bisa memerintah otak dan pikiran saya sendiri. Saya bisa menghitungnya, karena saya sangat ingat kapan saya menjadi asing dengan diri saya sendiri.

Malam tanggal 5 Agustus 2009 awalnya. Hari itu, saya menyelesaikan calon buku pertama saya. Jumlah kata yang tertulis mencapai 60. 841 kata, dengan jumlah halaman sebanyak 261 halaman. Ada rasa plong ketika perjalanan yang telah saya mulai dari sebuah outline pada 20 April 2009 itu mencapai kata terakhir. Ada rasa puas ketika keputusan saya untuk keluar dari pekerjaan saya mulai 1 Juni untuk konsentrasi menulis ternyata membuahkan hasil. Semuanya berjalan dalam batas waktu yang saya targetkan. Praktis, waktu efektif penulisan buku ini tak lebih dari tiga bulan.

Selama tiga bulan penulisan, saya selalu membayangkan hari ketika saya telah sampai pada kata terakhir. Dalam bayangan saya, itu akan menjadi sebuah puncak pencapaian, dimana rasa puas-bangga-bahagia-bebas bergumul menjadi satu. Saya membayangkan hari itu saya seperti seorang pendaki gunung yang akhirnya berhasil melihat indahnya matahari terbit dari puncak tertinggi. Bisa jadi juga rasanya seperti saat saya selesai ujian SMP lalu diumumkan mendapat nilai tertinggi. Dalam segala pasang surut penulisan, dengan langkah yang kadang terseok-seok dan kadang berlari kencang, kepala saya tegak memandang jauh ke depan, ke hari dimana saya akan sampai di akhir perjalanan saya. Lalu semuanya selesai. Lalu semuanya bebas. Dan saya bahagia. Ternyata saya salah besar.

Justru hari itu menjadi awal siksaan bagi saya. Ketika semunya telah selesai dan tercapai. Ketika saya tinggal duduk santai sembari menunggu proses penerbitan. Ketika saya tak lagi merasa frustasi dengan ide yang tiba-tiba menghilang. Ketika saya tak lagi merasa kewalahan dengan berbagai riset yang membosankan. Saya justru mulai kehilangan segalanya di titik yang menjadi tujuan perjalanan saya.

Selama tiga bulan ini, saya merasa menjadi manusia yang sangat utuh. Jiwa dan raga menjadi milik saya sepenuhnya. Keputusan saya untuk berhenti bekerja dan konsentrasi menulis merupakan sebuah keputusan besar yang sebenarnya sudah jauh-jauh hari saya rencanakan. Saya hanya menunggu waktu yang tepat. Meski demikian, bukan berarti saya tidak menikmati apa yang saya lakukan pada saat saya bekerja. Hanya saja, ada kenikmatan yang berlimpah ketika saya sepenuhnya melakukan apa yang saya sukai untuk mewujudkan apa yang selama ini tersimpan dalam mimpi.

Tiga bulan ini, sepanjang hari saya berada di rumah duduk menghadap laptop yang saya letakkan di meja di samping jendela. Saya hanya keluar rumah untuk memotret, olahraga di pagi hari, berbelanja kebutuhan sehari-hari, sesekali bertemu teman, dan berjalan-jalan di hari Sabtu bersama suami.

Banyak teman yang bertanya apakah saya tidak bosan. Saya selalu menjawab dengan yakin : tidak. Dan justru hari-hari itulah saya merasa dilimpahi begitu banyak energi positif. Semangat, harapan, kebahagiaan, kesehatan, dan perasaan bahwa saya berarti. Saya bangun dengan penuh semangat di pagi hari dan tidur dengan rasa puas dan nyaman di malam hari. Sering juga di siang hari, di sela-sela saya menulis, saya mencuri waktu untuk tidur siang sebentar. Ternyata efeknya begitu dahsyat. Saya menjadi lebih segar dan penuh inspirasi ketika kembali meneruskan kata-kata yang terpenggal. Dan saya kehilangan semuanya sekarang.

Di malam yang kesepuluh ini, saya memikirkan semuanya. Bukan kata terakhir yang menjadi titik puncak kenikmatan itu. Tapi justru ketika kata-kata itu menenggelamkan saya. Saya hanya harus terus menulis tanpa berpikir tentang kata akhir. Hanya supaya saya bisa tidur nyenyak dan bangun dengan enak. Yang lain-lain biarlah menjadi bonus saja.

Atap 234




Ini sepenggal kisah tentang atap satu bangunan berlantai empat di JakartaRaya. Bagian yang seringkali terlupakan dan hanya dihampiri seperlunya saja. Bahkan seringkali orang mampir karena terpaksa. Terpaksa menunggu antrian sholat di mushola atau terpaksa menghindari orang karena ingin menerima telepon dari seseorang yang dirahasiakan.

Di atap itu, aku pernah menyaksikan salah satu senja JakartaRaya yang paling indah. Sepanjang hari angin semilir, makin kencang setelah matahari terbenam. Saat malam, kalau menghadap ke arah barat, lampu-lampu kota terlihat seperti kunang-kunang. Di tengah bulan, aku sering mendapati purnama tepat berada di atas ubun-ubunku. Sayang, aku tak pernah melihat bintang.

Sebagai wong ndeso yang baru hijrah ke metropolitan, aku seperti menemukan satu tempat pelarian. Tempat yang memberiku rasa damai dan rasa nyaman. Tempat untuk sejenak melepaskan diri dari kemacetan jalanan, keruwetan bahan berita, dan kebebalan otak pemal as seperti aku. Kalau sudah ada di atap..rasanya b-e-b-a-s.

Tak ada satu kegiatan khusus yang kulakukan di atap. Paling-paling ya, melamunkan hal-hal tak penting. Ya, maklumlah..saat itu nasibku sebagai wong ndeso sedang apes-apesnya. Sebatang kara di Jakarta, jauh sama pacar, meskipun ujung-ujungnya putus juga.

Bulan-bulan selanjutnya, setelah tidak lagi ndeso dan agak ng(k)ota (ciyeeehh), aku mulai berbagi kenyamanan atap dengan orang-orang sekitarku. Foto-foto, ngobrol-ngobrol, ketawa-ketiwi, yah..lebih banyak nggosipnya sih. Di atap itu juga, aku pernah mendapat kejutan ulang tahun paling mengharukan dan menyenangkan dari sah

abat-sahabatku, disaat calon suamiku sendiri melupakannya.

Dua bulan lalu, bersama Tya dan Nunik, tiba-tiba terbesit ide untuk membuat sesuatu di atas atap. Sesuatu untuk perpisahanku, kata Tya (siapa yang mau perpisahan?). Tya membanyangkan sebuah acara yang hangat, romantis, dihiasi temaram lilin, dihadiri sedikit orang. Aku sendiri malah membayangkan pesta besar dihadiri banyak orang.

Hari terus berjalan, tanpa menyinggung lagi ide gila di atas atap itu. Lagipula, agak naïf berkeinginan mengumpulkan teman-teman yang berjibaku di pabrik berita untuk berkumpul dalam sebuah acara yang sama sekali tidak penting.

Aku merencanakan hal yang lebih membumi, tidak lagi di atap tapi menginjak tanah. Bernyanyi di ruang karaoke. Memang masih naïf juga. Bagaimana mengajak banyak orang yang dikejar deadline untuk karaokean. Paling ujung-ujungnya hanya elu lagi-elu lagi yang bisa ikut.

Tapi tenyata tidak. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan, tak kalah menggembirakan dengan kejutan ulang tahun di atap.

Melihat Bang Pohan, Mas Koesworo, Pak Rihad, Pak Encung, Mas Iman, Pak Wahyudi bernyanyi, menjadi bagian dari kegilaan teman-teman semua, akupun bertanya dalam hati : Benarkah aku ingin berpisah? Siapkah aku untuk tidak lagi menjadi bagian dari mereka? Relakah aku kehilangan atapku? Akankah kudapatkan atapku yang nyaman di tempat lain?

Mungkin aku bisa menemukan atap lain, tapi tentu saja berbeda. Atap itu tetap akan menjadi yang terbaik. Menjadi saksi dari proses yang kujalani. Tempat aduan wong ndeso yang terdampar di ibukota. Sesuatu yang tak akan kutemui di tempat lain, di bangunan bercakar langit sekalipun.

Tapi toh, aku memang tetap harus undur diri. Bukan karena atapku tak lagi nyaman. Tapi semata-mata hanya karena waktu terus berjalan. Genap tiga tahun aku merasakan nyamannya atap itu, seperti ada genta berbunyi, mengingatkan aku untuk berdiri, kembali melangkah, melanjutkan perjalanan.

Tentu saja bukan perjalanan yang selalu indah. Belum pasti juga akan ada atap nyaman yang kutemukan. Tapi memang aku harus melangkah.

Aku hanya bisa berharap, sesekali aku masih bisa mampir ke atap itu. Masih bisa menjadi bagian dari orang-orang yang dinaunginya. Aku juga masih menyimpan impian pesta atapku. Di atap itu, bersama kalian semua. Sewaktu-waktu, sampai kapanpun, meski kita semua telah berada di jalan yang berlainan.

Kalibata, 26 Mei 2009 (first published on FB)

Prev Older Entries