15 Mar 2012
by okkymadasariin Maryam, News & Review, Perempuan & Feminisme, Pluralisme Tags: Kompas, Maryam
Wardah Fazriyati | wawa | Kamis, 8 Maret 2012 | 08:36 WIB

KOMPAS.COM/WARDAH FAJRI Aktivis perempuan Maria Ulfa Anshor bersama Okky Madasari, penulis novel fiksi realis berjudul Maryam, seusai peluncuran Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Rabu, 7/3/2012.
KOMPAS.com – Maryam, sosok perempuan muda ini menonjolkan pengaruh dan kekuatannya dari halaman awal hingga akhir sebuah novel realis karangan penulis fiksi Okky Madasari. Melalui Maryam, Okky menyuarakan kaum minoritas yang kerap mengalami diskriminasi, menderita karena ketidakadilan, terusir karena keyakinan. Maryam adalah sosok perempuan kuat yang diciptakan Okky dalam novelnya, untuk mengajak pembaca dari kalangan mayoritas agar bisa membayangkan bagaimana penderitaan kaum minoritas yang mengalami diskriminasi karena memilih berbeda.
“Perempuan harus selangkah lebih maju, aktif memperjuangkan hak yang terampas dan terabaikan oleh negara. Perempuan jangan menjadi obyek tetapi subyek pada perubahan. Perempuan dan semua warga negara harus ikut memperjuangkan keberagaman. Ini diwakili sosok Maryam,” jelas Okky kepada Kompas Female seusai peluncuran buku Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (7/3/2012) lalu.
More
05 Jun 2011
by okkymadasariin Blog, Perempuan & Feminisme, Pernikahan, Short Story Tags: 86, cerpen, Entrok, eve
Oleh : Okky Madasari
(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)
Katanya dia mau kawin lagi.
Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.
Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.
Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More
11 Jan 2011
by okkymadasariin Blog, Film, Human Being, My life, Perempuan & Feminisme, Pernikahan
Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.
Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More
28 Dec 2010
by okkymadasariin Essay, Perempuan & Feminisme, Pernikahan
Tak seorang pun meragukan pentingnya air susu ibu (ASI) untuk bayi. Tak seorang pun membantah memberikan ASI jauh lebih baik dibandingkan memberi susu formula. Tapi tak semua orang sadar, tidak semua perempuan bisa memberikan ASI dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
Sore itu, dengan santai dan tanpa bermaksud apa-apa saya bertanya pada seorang teman yang memiliki bayi berusia 6 bulan, ”Minum ASI kan, ya?” Saya anggap itu pertanyaan biasa, karena hampir pasti semua ibu akan menyusui anaknya. Apalagi di tengah gencarnya kampanye pemberian ASI saat ini.
Di luar dugaan, teman saya itu menjadi berkaca-kaca. ”Enggak…enggak bisa keluar,” katanya dengan sedih.
Suaminya yang kemudian cepat-cepat mengendalikan situasi. ”Nggak apa-apa, soalnya ASI nya buat bapaknya,” katanya yang langsung memancing tawa.
Saya langsung sadar, pertanyaan tentang ASI adalah hal yang sensitif dan berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Saya mencoba menebus perasaan bersalah dengan mengalihkan perhatian pada anaknya yang memang tak kalah sehat dan tak kalah pintar dibanding bayi-bayi lain yang mendapat ASI. More
16 Mar 2010
by okkymadasariin Culture, My books, Non Violence, Perempuan & Feminisme, my Country
beredar 5 April 2010. don’t miss it!
Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada kata itu. Kata itu saya peroleh dari nenek saya, di Magetan sana. Sejak saya masih kanak-kanak hingga sekarang, dia senantiasa mengulang-ulang cerita yang sama tentang entrok. Entrok yang membuatnya bisa seperti ini : punya rumah, punya sawah, bisa menyekolahkan anak sampai jadi sarjana. Entrok yang membuatnya mengerti, segala sesuatu dalam hidup hanya bisa didapatkan dengan keringatnya sendiri. Baginya, entrok adalah penderitaan dan kemiskinan, sekaligus kebanggaan dan kejayaan.
Enam puluh tahun sudah entrok menjadi bagian hidup nenek saya. Bagi anak dan cucunya, entrok mungkin hanya bagian dari petuah dan cerita masa lalu yang membosankan karena saking seringnya diulang. Tapi betapapun bosannya, entrok telah terlanjur menempati ruang ingatan di hati kami. Saya mengingat entrok, sebagaimana saya mengingat nenek saya.
Kini, entrok tidak hanya menjadi ingatan dalam keluarga kami. Melalui rangkaian kata-kata, saya menyusun kepingan-kepingan kisah tentang entrok dalam sebuah novel. Entrok bahkan menempati tempat istimewa dengan menjadi judul dari novel ini. Sejak memulai pengerjaan novel ini pertengahan tahun 2009, saya sudah memilih “Entrok” sebagai judul.
Selain menjadi pangkal dari kisah yang saya tuliskan, saya merasa kata itu unik, eksotik, dan mudah diingat. Memang kata ini terlalu asing dan banyak yang tidak mengetahui artinya. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang saat mendengar kata entrok. Jawabannya beragam, mulai dari sejenis bebek hingga obat mencret (entrokstop) . Ada juga yang bertanya bagaimana mengucapkan kata entrok. Saya jawab, ‘e’ nya diucapkan sebagaimana kata ‘tempe’, bukan ‘besar’. Dengan keasingannya, saya dan Gramedia tetap nekat menjadikan ‘entrok’ sebagai judul. Toh nanti pembaca akan mengetahui artinya dengan membaca sendiri novelnya
Figur nenek saya dan entroknya hadir melalui tokoh Marni, seorang perempuan Jawa buta huruf yang masih kuat memegang tradisi leluhur. Melalui tumpeng dan ayam panggang ia temukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal tuhan yang datang dari negeri nun jauh. Tidak tuhan dari timur, tidak tuhan dari barat. Dengan caranya sendiri ia mempertahankan hidup, menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak membunuh, menipu, mencuri, atau merampok?
Generasi kedua dan ketiga dalam keluarga kami menjelma dalam karakter Rahayu, anak perempuan Marni. Ia generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika Marni dan Rahayu berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi asing satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing, tak pernah ada titik temu.
Kisah ini berlatar masa Orde Baru, pada periode tahun 70-80-hingga 90an. Saya menunangkan segala ingatan saya tentang masa itu. Sepatu-sepatu lars, sumbangan kampanye dan kewajiban mencoblos partai kuning. Itulah masa dimana banyak sekali dibangun gardu. Kentongan, ronda, warga kampung yang ikut berseragam hijau. Saya masih ingat bagaimana segala sistem keamanan itu membuat kami semua justru merasa tidak aman
. Disinilah kemudian ada titik temu antara Marni dan Rahayu. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.
Diantara mereka juga ada Cayadi. Seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit. Orang tuanya datang ke negeri ini pada satu masa yang lampau. Dia sendiri hanya mengenal tanah dan udara yang ditempatinya, bukan negeri leluhurnya. Dalam segala kepatuhan warga negara, ingin sesekali ia memenuh harapan ibunya untuk berdoa di rumah dewa. Dia mengendap-endap, bersembunyi dalam malam untuk menemui dewanya. Di hari Minggu ia tetap harus menemui tuhan lain. Tuhan yang tak pernah dirindukannya.
Lalu ada Hasbi. Seorang kiai beristri tiga. Berusaha sepenuh hati untuk hidup di jalan Tuhan. Dipuja banyak orang atas kesalehannya. Apakah yang terlihat benar selalu benar?
Baca kisah lengkapnya dalam novel pertama saya “Entrok” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. “Entrok” bisa didapatkan mulai 5 April 2010 di seluruh toko buku Gramedia. Don’t miss it!
*ilustrasi cover oleh Restu Ratnaningtyas
16 Apr 2009
by okkymadasariin Culture, Perempuan & Feminisme
Ibu saya meneteskan air mata waktu saya membasuh kaki suami saya. Padahal saat ritual itu dilakukan, kami telah melewati detik-detik menegangkan dan mengharukan saat ijab kabul atau siraman.
Ritual basuh kaki justru hanya bagian upacara yang menjadi milik banyak orang, yang ditonton lebih seratus orang. Kami mirip pemain ketoprak yang sedang memainkan peran menyenangkan banyak orang. Tapi kenapa saat itu justru ibu saya menangis? Kenapa bukan saat saya sungkem setelah siraman – sebuah upacara pribadi antara saya dan orang tua saya?
Ibu saya tak pernah menjelaskan apa yang membuatnya meneteskan air mata saat itu. Ia tak pernah mengungkapkan kekuatan apa yang merobohkan benteng keharuannya. Tak pernah dijelaskan untuk alasan apa air matanya mengucur.
Namun saya telah mengartikan air matanya saat itu juga. Mungkin dia terharu, bisa jadi sedih, karena ritual itu secara kasat mata menggambarkan posisi saya di hari-hari ke depan nanti. Membasuh kaki bisa diartikan sebagai pengabdian, penyerahan diri, kesediaan untuk selalu melayani. Ritual itu memberi gambaran sebuah penaklukan laki-laki, sebuah ilustrasi bagaimana di hari-hari mendatang anak perempuannya akan takluk dalam kekuasaan seorang laki-laki.
Memang, upacara basuh kaki akan diakhiri sikap seorang laki-laki dengan penuh kasih sayang mengangkat tubuh istrinya. Itu menyiratkan bagaimana laki-laki tidak akan pernah menindas istrinya. Juga sebagai gambaran bahwa laki-laki akan selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sebagai balasan pengabdian yang diberikan istrinya.
Memang itu pesan yang ingin disampaikan dalam upacara ini. Saya sudah mengetahuinya jauh-jauh hari. Sempat berpikir untuk menghilangkannya dalam rangkaian prosesi pernikahan saya. Sempat juga membayangkan untuk memodifikasinya.
Seorang teman pernah memodifikasi dengan mengajak suami berjongkok bersama. Mereka menghilangkan adegan dimana laki-laki berdiri, sementara perempuan berjongkok. Mungkin dengan berjongkok bersama dianggap lebih menyiratkan kesetaraan, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Lalu mereka berdua akan bersama-sama membasuh kaki laki-laki yang sudah belepotan dengan telor. Tetap sih, kaki laki-laki saja yang dibasuh.
Imajinasi modifikasi yang sempat terlintas dalam pikiran saya adalah kami gantian membasuh kaki. Pertama saya akan membasuh kakinya, lalu selanjutnya dia membasuh kaki saya. Hehe..tentu saja ide itu hanya mengendap dalam pikiran. Saya melaksanakan upacara basuh kaki sesuai pakem yang dipelajari perias pengantin Jawa tradisional.
Saat menjalaninya, tak terbesit sedikitpun pikiran bahwa ini bentuk pengabdian saya pada suami. Juga tak ada keyakinan terhadap simbol-simbol Jawa tentang penyerahan diri istri untuk melayani suami. Saya hanya melakukannya karena itu bagian dari prosesi pernikahan Jawa. Meski tak sepaham dengan makna upacara itu, saya juga tidak merasa berat hati, menyesal, atau berdosa telah melakukannya.
Toh basuh kaki hanya sebuah adegan. Sebuah bagian dalam prosesi yang lebih bermakna bagi banyak orang, bagi keluarga besar, bagi orang tua, dibanding untuk kita sendiri. Sebagai simbol, adegan itu hanya akan menjadi kenangan, dicetak dalam kertas foto yang dipajang di tembok kamar, yang akan dikenang setahun, sepuluh tahun, atau lima puluh tahun lagi.
Pada kenyataanya, saya tak pernah harus membasuh kaki suami saya. Tak harus sama-sama berjongkok jika memang saya ingin berdiri. Tak ada bentuk pengabdian dan pelayanan.
Barangkali, justru ada perempuan yang menolak melakukan upacara itu dengan segala alasan kesetaraan, kini malah berkutat dengan mitos-mitos pengabdian. Merelakan mimpi pribadinya, melupakan bahwa setiap kita punya satu ruang pribadi yang tidak bisa dibagi dengan siapapun.
Toh, pernikahan hanya proses. Menikah hanya status dalam KTP. Suami hanya sebutan lain untuk seorang sahabat, orang yang menemani kita berproses.
Toh, kawin hanya sebuah aktivitas penyatuan fisik. Bukan peleburan jiwa, pikiran, dan cita-cita.
Selamat Hari Kartini.
25 Feb 2009
by okkymadasariin Perempuan & Feminisme, Poverty
Semua orang memanggilnya Yangbeng. Katanya singkatan dari Yang Gembeng. Yang, Bahasa Jawa setara artinya dengan Sang. Gembeng berarti gampang menangis. Dia memang gampang sekali menangis. Sedih, terharu, rasa senang, semua akan diekspresikannya dengan air mata. Entah itu di tempat umum atau dia sendiri yang tahu.
Aku tidak pernah tahu berapa usianya. Diapun demikian. Yang dia tahu, dia lahir waktu zaman Jepang. Tapi coba tanyakan apa yang dia tahu tentang zaman itu. Tak akan ada yang diketahuinya selain kemelaratan.
Dia anak satu-satunya dari orang tua yang tak kenal bentuk huruf dan tak jelas mata pencaharian. Bapaknya minggat saat dia mulai bisa membantu ibunya mengankat air yang sedang direbus. Lalu dia hanya tinggal berdua dengan ibunya, di gubuk reyot bersebelahan dengan gubuk dua adik ibunya yang juga sudah beranak.
Cerita itu terus diulangnya. Tidak terlalu detail. Tidak selalu sama setiap kali bercerita. Ingatannya terlalu pendek, untuk sebuah ingatan panjang tentang kemelaratan.
Satu-satunya cerita masa mudanya yang selalu sama dan terus kuingat tentang entrok. Entrok, itu kata yang dia tahu untuk menyebut kutang atau BH.
Saat itu, ketika gumpalan daging mulai menyembul di dadanya, dia merasakan kekecewaan. Sepupunya,yang seumuran dengannya, mendapat sebuah entrok dari orang tuanya. Entrok putih berbahan kain goni. Dua kantongnya bisa menutupi dan menahan dada yang bergerak naik turun. Itulah kali pertama Yangbeng melihat entrok.
Yangbeng muda meminta entrok yang sama kepada bibinya. Tapi ia tak mendapatkanya. Yangbeng marah dan kecewa. “Aku bersumpah akan membeli entrok sendiri,” kata Yangbeng setiap kali bercerita padaku.
Demi entrok, Yangbeng muda mulai berkenalan dengan pasar. Pada kokok ayam pertama, dia berjalan kaki dari gubuknya ke pasar yang berada di lain desa. Dari pasar di membawa bawang, brambang, lombok, yang kemudian dijualnya keliling desa. Bukan dalam jumlah besar.
Yangbeng menjalani, tanpa menghitung bulan atau tahun. Yang dia hitung hanya uang yang pelan-pelan terkumpul. Untuk sebuah entrok, uang yang dimilikinya sudah bisa membeli sepuluh sekaligus.
Tapi entrok ternyata bukan lagi satu-satunya tujuan Yangbeng. Uang yang dikumpulkannya terus digunakan untuk membeli dagangan, dalam jumlah yang lebih besar.
Yangbeng tidak lagi hanya berjualan bawang dan brambang. Ia berdagang wajan, panci, pisau, kadang juga kain batik. Dia bolehkan orang membeli dengan mencicil. Bukan cicilan bulanan, tapi cicilan harian. Setiap hari Yangbeng berkeliling mengambil uang cicilan. Rata-rata seratus rupiah sehari.
***
Saat Gestok, begitu Yangbeng menyebut peristiwa berdarah 31 September 1965, Yangbeng sudah memiliki dua anak yang berumur tiga tahun dan dua bulan. Dia sudah tidak lagi tinggal di gubuk, tapi rumah yang dibangun dengan bata. Sebuah sepeda onta sudah dimilikinya.
Yangbeng tidak hanya berjualan barang, tapi uang. Ia meminjamkan uang pada penjual di pasar juga pada langganannya di seluruh desa. Dia mengambil bunga 5% dari uang yang dipinjamkan, lalu orang boleh mencicil setiap hari.
Orang menyebutnya rentenir. Pekerjaan yang dilaknat dalam agama Yangbeng. Tapi benarkah dia beragama sesuai KTP nya? Sejak kecil ia tidak tahu bagaimana cara sholat dan tak mengenal satupun doa.
Dia memang berdoa tiap malam, tidak dengan sholat, tapi dengan terdiam di halaman yang gelap. Di memohon, bukan pada Allah, tapi pada penguasa langit dan bumi. Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, begitu katanya.
Dia hanya mencari makan dengan bekerja, apakah itu dosa? “Yang dosa itu orang yang berdoa siang malam tapi membiarkan anak istrinya keleleran,” kata dia suatu ketika.
Dengan hasil kerjanya, Yangbeng yang tak mengenal satu huruf dan angkapun, menyekolahkan anak-anaknya. Tahun 1982, anak pertamanya masuk di perguruan tinggi. Ia menjadi orang pertama di desanya yang punya anak sarjana.
“Keinginanku terkabul. Aku buta huruf, tapi anakku sarjana,” kata dia.
Masa itu, Yangbeng mencapai punjak kejayaan. Rumah batanya dibangun dengan cara modern. Ada empat bangunan rumah kampung yang digabung menjadi satu rumah. Di rumah, dia membangun toko. Yangbeng membeli diesel, disewakan pada orang yang punya hajat. Dia juga punya dua truk. YAngbeng juga membeli tanah untuk ditanami jeruk dan padi.
Meski punya toko di rumah, Yangbeng tetap berkeliling dari rumah ke rumah. Namun ia tak lagi mengayuh sepeda ontanya. Motor Yamaha Bebek mengantarkanya berkeliling. Ia sudah menggaji sopir.
***
Oktober 2008, dua bulan sebelum pernikahanku, kami mengobrol berdua di kamar. Yangbeng, sebagaimana namanya, sudah siap mengucurkan air matanya. Dia menangis, tidak bisa memberikan apa-apa di hari pernikahanku.
Yangbeng memang sudah tak memiliki apa-apa. Hanya rumah megahnya yang menjadi saksi kejayaanya. Kebon jeruk masih ada, namun dengan panen seadanya.
Tahun 90an menjadi saksi bagaimana uang sedikit demi sedikit meninggalkan Yangbeng. Yangbeng bangkrut. Uangnya yang dipinjam orang susah kembali. Dia pelan-pelan menjual hartanya, untuk mendapat modal, kembali meminjamkan orang lain. Tapi uang pun tak kembali.
Yangbeng juga makin tersisih dengan banyaknya orang yang pekerjaanya sama denganya, dengan berbagai bank suwek, kredit dari bank umum.
Tapi Yangbeng tetap Yangbeng. Jika dulu dia bekerja keras demi entrok, kini dia bekerja keras untuk mempertahankan hidup. Bukan sekedar uang, tapi harga diri.
Dialah Sainem. Ibu dari Ibuku.
25 Jun 2008
by okkymadasariin My life, Perempuan & Feminisme
Jam 19.30.
Aku baru menyelesaikan pekerjaanku. Dua tulisan tentang korupsi mantan Gubernur BI dan penyuapan jaksa selesai dalam waktu dua jam. Hmm..sekarang aku sadar, tak ada satupun kalian di ruangan ini. Juga di ruangan sebelah. Tak ada satupun.
Hanya ada pria-pria setengah umur yang sibuk membaca tulisan satu persatu dan menata letaknya dalam halaman. Sisanya beberapa orang yang masih berjuang merajut kata – orang-orang yang masuk ke gedung ini beberapa bulan setelah kita.
Kalian tahu, aku merasa aneh, sepi dan kehilangan. Setelah semalam kita habiskan waktu berbagi mimpi dengan Carrie Bradshaw. Tontonan yang pas untuk perempuan-perempuan seperti kita yang sedang berjuang untuk Label dan Love.
Tanpa harus dikatakan, aku yakin Carrie telah mengusik mimpi kita semua. Tentang sosok perempuan lajang, mandiri, punya karya, dan tentu saja punya uang. Adakah yang kurang kalau kita bisa terus membeli sepatu berlabel dan terkenal dari buku yang kita tulis?
Huh, untung Carrie akhirnya menikah. Kalau tidak, hampir saja aku berpikir ulang tentang pernikahan. Untung juga kamu datang, Sayang. Makasih ya sudah menjemput dan mentraktir sahabat-sahabat lajangku…;P
Sekarang tak ada satupun kalian di ruangan ini.
Nunuk, kamu pasti sedang sibuk memilih koper-koper ukuran besar dan jaket-jaket tebal penuh bulu. Dua tahun lagi apa ya, yang akan kita obrolkan? Tentang keberhasilanmu melawan rindu pada belahan hati di tengah salju Eropa atau jangan-jangan bibir pria bule pertama yang kau cicipi di kereta bawah tanah Helsinki?
Tidak ada salahnya kamu belajar pada Meita. Tentang sensasi bibir bule di tengah keramaian Berlin. Kata Meta, it’s amazing! Aduh Meta, kamu lagi dimana sekarang? Hmm..aku tahu, pasti kamu sedang bersama seseorang di satu sudut Jakarta ini. Sibuk menakar perasaan, to love him or to kiss him..oops maksudku, to leave him.
Moga, kamu segera dapat jawaban deh, Met. Lalu mewujudkan mimpi usia 25 hadiah ulang tahun dari ibu mu. Seperti Ika yang sedang mengukir mimpi ibu nya. Baju pengantin pink dan 750 lembar undangan. “Yang gua pilih sendiri kan cuma calon suami doank..,” aduuh Ikot aku selalu tertawa sekaligus terharu kalau ingat kata-kata itu. Pasti malam ini kamu sedang deg-degan memikirkan tetek bengek hari besar mu sambil bergulat dengan ujian tesismu. Biar di undangan nanti sudah ada tambahan master komunikasi di belakang namamu.
Deg-deganmu pasti sama dengan Suci. Aku juga tak tahu dia sedang dimana. Mungkin sedang ke mesin ATM, menghitung tambahan saldo dari gaji yang baru masuk. Bersama pacarnya ia sedang menghitung jumlah mahar sesuai adat Aceh. Lagi-lagi, persembahan istimewa untuk Bunda di hari lajang terakhir.
Dan kalian pun tak disini sekarang.
Tussie, apakah kamu sedang menemani pacarmu yang calon diplomat itu memilih batik. Aku tahu kamu menunda rencanamu tadi malam demi sahabat-sahabat lajangmu ini. Atau kamu sedang sibuk mengirimkan daftar riwayat hidup melalui laptop mu? Ya, katamu memang yang penting sekarang adalah pindah kerja. Sambil menunggu calon diplomat itu dibaiat lalu pulang ke Jakarta dan mengajakmu mengikat janji.
Saat itu aku yakin kamu tak akan menolaknya. Karena kamu bukan Tya – yang masih sedang tidak berpikir untuk menikah. Yach, dimana kamu Tya? Aku membayangkan kamu sedang bermanja pada pria jawa eksotik di salah satu angkringan Jogja. Kapan kau kembali? Tidakkah kau rindukan pria jawa eksotikmu yang lain yang menunggu di gedung ini?
Bisa kau tanyakan pada Cinin, bagaimana sekarang dia menjadi teman setia pria jawa eksotikmu itu. Cinin yang aneh, Cinin yang mencoba mendua, Cinin yang selalu menangis akibat mendua. Ia sedang berharap cemas sekarang. Menunggu (salah satu?) belahan hatinya datang dari negeri jiran ke Jakarta. Tentu bukan untuk melamar.
Memilih satu dari dua masih terlalu mahal buat Cinin. Juga buat Nunik. Nik, kamu dimana sekarang? Tahukah kamu semalam kamu menjadi bahan obrolan kami. Tentang pengakuan seorang pria yang merasa terganggu olehmu di hari menjelang pernikahannya? Aduh, Nunik, apa yang kau lakukan padanya sampai dia begitu tergoda? Dan kini kau tengah sibuk dengan rasa penasaran dalam hatimu. Menebak rasa seorang pria. Membandingkan berbagai teori psikologi.
Kalian semua tak disini malam ini.

foto Sex and the City dari www3.arts.umich.edu