Perempuan Pertama

Jurnal Perempuan No 77, Mei – Juni 2013

Oleh: Okky Madasari

Aku selalu percaya, kami berdua dilahirkan bersama. Tak ada yang lebih dulu, tak ada yang lebih tahu. Bukan dia yang lebih tua, bukan pula aku yang lebih kuasa.

Kami tumbuh bersama. Meraba setiap yang tertangkap mata,  mengendus satu persatu hal yang baru. Dari sepasang bayi yang bicara hanya dengan air mata, kami menjadi kanak-kanak yang sepanjang hari bermain dan tertawa.

Setiap pagi kami berlarian di antara pohon-pohon yang penuh buah bergelantungan. Pada sore hari kami memetik bunga-bunga yang selalu mekar dan menyerebakkan wewangian. Pada hari-hari tertentu kami menyebur ke telaga penuh madu, berenang dalam cairan yang lengket, lalu saling menjilati tubuh kami hingga masing-masing kami berteriak-teriak menahan geli. More

Menyuarakan Pemikiran Kartini

Jurnal Nasional | Minggu, 12 Mei 2013

Teks dan Foto: Ratu Selvi Agnesia

Mengagumi seorang tokoh seperti pejuang emansipasi, Raden Ajeng Kartini bukanlah taklit atau pemujaan. Penulis novel “Maryam” Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012, Okky Madasari merespon rasa kagumnya kepada Kartini—dalam pemikiran-pemikirannya sebagai inspirasi dan karya-karya. Namun Okky tetap ingin jadi dirinya sendiri.

“Saya tidak ingin jadi Kartini. Saya mengapresiasi Kartini karena pemikiran-pemikirannya. Lebih seratus tahun lalu, dalam kondisi yang serba mengungkung dan sistem patriarki yang sangat mengakar, Kartini bisa memiliki pemikiran yang sedemikian maju. Tentu saja itu membuat saya iri,” tutur pemilik nama lengkap Okky Puspa Madasari kepada Jurnal Nasional. More

Maryam, Korban Diskriminasi Mengusik Empati

Wardah Fazriyati | wawa | Kamis, 8 Maret 2012 | 08:36 WIB

KOMPAS.COM/WARDAH FAJRI Aktivis perempuan Maria Ulfa Anshor bersama Okky Madasari, penulis novel fiksi realis berjudul Maryam, seusai peluncuran Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Rabu, 7/3/2012.

KOMPAS.com – Maryam, sosok perempuan muda ini menonjolkan pengaruh dan kekuatannya dari halaman awal hingga akhir sebuah novel realis karangan penulis fiksi Okky Madasari. Melalui Maryam, Okky menyuarakan kaum minoritas yang kerap mengalami diskriminasi, menderita karena ketidakadilan, terusir karena keyakinan. Maryam adalah sosok perempuan kuat yang diciptakan Okky dalam novelnya, untuk mengajak pembaca dari kalangan mayoritas agar bisa membayangkan bagaimana penderitaan kaum minoritas yang mengalami diskriminasi karena memilih berbeda.

“Perempuan harus selangkah lebih maju, aktif memperjuangkan hak yang terampas dan terabaikan oleh negara. Perempuan jangan menjadi obyek tetapi subyek pada perubahan. Perempuan dan semua warga negara harus ikut memperjuangkan keberagaman. Ini diwakili sosok Maryam,” jelas Okky kepada Kompas Female seusai peluncuran buku Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (7/3/2012) lalu.
More

Bahagia Bersyarat

Oleh : Okky Madasari

(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)

Katanya dia mau kawin lagi.

Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.

Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.

Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More

Obsesi

Sudah hampir seminggu sejak saya nonton Black Swan di DVD. Masih ada yang berbekas : rasa ngilu, rasa kasihan, sekaligus rasa takut. Mungkin rasa takut ini yang paling nyata. Karena rasa takut itu saya selalu menariknya meloncati batas-batas fiksi dan imajinasi untuk dibandingkan dengan kenyataan yang benar-benar terjadi.

Black Swan dibintangi Natalie Portman. Ia berperan sebagai Nina, seorang balerina yang begitu terobsesi untuk memainkan peran ratu dalam pertunjukan Black Swan. Sebuah peran yang diimpikan semua balerina. Sesuatu yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam karier mereka. Untuk bisa mendapatkan peran itu, seorang penari balet harus bisa memainkan dua karakter : si angsa putih yang lembut, rapuh, baik hati dan si angsa hitam yang jahat dan bisa melakukan apa saja untuk mencapai apa yang diinginkan. More

Tentang Asi

Tak seorang pun meragukan pentingnya air susu ibu (ASI) untuk bayi. Tak seorang pun membantah memberikan ASI jauh lebih baik dibandingkan memberi susu formula. Tapi tak semua orang sadar, tidak semua perempuan bisa memberikan ASI dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Sore itu, dengan santai dan tanpa bermaksud apa-apa saya bertanya pada seorang teman yang memiliki bayi berusia 6 bulan, ”Minum ASI kan, ya?” Saya anggap itu pertanyaan biasa, karena hampir pasti semua ibu akan menyusui anaknya. Apalagi di tengah gencarnya kampanye pemberian ASI saat ini.

Di luar dugaan, teman saya itu menjadi berkaca-kaca. ”Enggak…enggak bisa keluar,” katanya dengan sedih.

Suaminya yang kemudian cepat-cepat mengendalikan situasi. ”Nggak apa-apa, soalnya ASI nya buat bapaknya,” katanya yang langsung memancing tawa.

Saya langsung sadar, pertanyaan tentang ASI adalah hal yang sensitif dan berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Saya mencoba menebus perasaan bersalah dengan mengalihkan perhatian pada anaknya yang memang tak kalah sehat dan tak kalah pintar dibanding bayi-bayi lain yang mendapat ASI. More

Entrok

beredar 5 April 2010. don’t miss it! :D

Entah sejak kapan saya jatuh cinta pada kata itu. Kata itu saya peroleh dari nenek saya, di Magetan sana. Sejak saya masih kanak-kanak hingga sekarang, dia senantiasa mengulang-ulang cerita yang sama tentang entrok. Entrok yang membuatnya bisa seperti ini : punya rumah, punya sawah, bisa menyekolahkan anak sampai jadi sarjana. Entrok yang membuatnya mengerti, segala sesuatu dalam hidup hanya bisa didapatkan dengan keringatnya sendiri. Baginya, entrok adalah penderitaan dan kemiskinan, sekaligus kebanggaan dan kejayaan.

Enam puluh tahun sudah entrok menjadi bagian hidup nenek saya. Bagi anak dan cucunya, entrok mungkin hanya bagian dari petuah dan cerita masa lalu yang membosankan karena saking seringnya diulang. Tapi betapapun bosannya, entrok telah terlanjur menempati ruang ingatan di hati kami. Saya mengingat entrok, sebagaimana saya mengingat nenek saya.

Kini, entrok tidak hanya menjadi ingatan dalam keluarga kami. Melalui rangkaian kata-kata, saya menyusun kepingan-kepingan kisah tentang entrok dalam sebuah novel. Entrok bahkan menempati tempat istimewa dengan menjadi judul dari novel ini. Sejak memulai pengerjaan novel ini pertengahan tahun 2009, saya sudah memilih “Entrok” sebagai judul.

Selain menjadi pangkal dari kisah yang saya tuliskan, saya merasa kata itu unik, eksotik, dan mudah diingat. Memang kata ini terlalu asing dan banyak yang tidak mengetahui artinya. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan untuk mengetahui apa yang dipikirkan orang saat mendengar kata entrok. Jawabannya beragam, mulai dari sejenis bebek hingga obat mencret (entrokstop) . Ada juga yang bertanya bagaimana mengucapkan kata entrok. Saya jawab, ‘e’ nya diucapkan sebagaimana kata ‘tempe’, bukan ‘besar’. Dengan keasingannya, saya dan Gramedia tetap nekat menjadikan ‘entrok’ sebagai judul. Toh nanti pembaca akan mengetahui artinya dengan membaca sendiri novelnya :)

Figur nenek saya dan entroknya hadir melalui tokoh Marni, seorang perempuan Jawa buta huruf yang masih kuat memegang tradisi leluhur. Melalui tumpeng dan ayam panggang ia temukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal tuhan yang datang dari negeri nun jauh. Tidak tuhan dari timur, tidak tuhan dari barat. Dengan caranya sendiri ia mempertahankan hidup, menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak membunuh, menipu, mencuri, atau merampok?

Generasi kedua dan ketiga dalam keluarga kami menjelma dalam karakter Rahayu, anak perempuan Marni. Ia generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, meskipun itu ibu kandungnya sendiri. Adakah yang salah jika Marni dan Rahayu berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi asing satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing, tak pernah ada titik temu.

Kisah ini berlatar masa Orde Baru, pada periode tahun 70-80-hingga 90an. Saya menunangkan segala ingatan saya tentang masa itu. Sepatu-sepatu lars, sumbangan kampanye dan kewajiban mencoblos partai kuning. Itulah masa dimana banyak sekali dibangun gardu. Kentongan, ronda, warga kampung yang ikut berseragam hijau. Saya masih ingat bagaimana segala sistem keamanan itu membuat kami semua justru merasa tidak aman :( . Disinilah kemudian ada titik temu antara Marni dan Rahayu. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

Diantara mereka juga ada Cayadi. Seorang laki-laki berkulit kuning dan bermata sipit. Orang tuanya datang ke negeri ini pada satu masa yang lampau. Dia sendiri hanya mengenal tanah dan udara yang ditempatinya, bukan negeri leluhurnya. Dalam segala kepatuhan warga negara, ingin sesekali ia memenuh harapan ibunya untuk berdoa di rumah dewa. Dia mengendap-endap, bersembunyi dalam malam untuk menemui dewanya. Di hari Minggu ia tetap harus menemui tuhan lain. Tuhan yang tak pernah dirindukannya.

Lalu ada Hasbi. Seorang kiai beristri tiga. Berusaha sepenuh hati untuk hidup di jalan Tuhan. Dipuja banyak orang atas kesalehannya. Apakah yang terlihat benar selalu benar?

Baca kisah lengkapnya dalam novel pertama saya “Entrok” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. “Entrok” bisa didapatkan mulai 5 April 2010 di seluruh toko buku Gramedia. Don’t miss it! :D

*ilustrasi cover oleh Restu Ratnaningtyas

Saat Kubasuh Kakinya…

Ibu saya meneteskan air mata waktu saya membasuh kaki suami saya. Padahal saat ritual itu dilakukan, kami telah melewati detik-detik menegangkan dan mengharukan saat ijab kabul atau siraman.

Ritual basuh kaki justru hanya bagian upacara yang menjadi milik banyak orang, yang ditonton lebih seratus orang. Kami mirip pemain ketoprak yang sedang memainkan peran menyenangkan banyak orang. Tapi kenapa saat itu justru ibu saya menangis? Kenapa bukan saat saya sungkem setelah siraman – sebuah upacara pribadi antara saya dan orang tua saya?
Ibu saya tak pernah menjelaskan apa yang membuatnya meneteskan air mata saat itu. Ia tak pernah mengungkapkan kekuatan apa yang merobohkan benteng keharuannya. Tak pernah dijelaskan untuk alasan apa air matanya mengucur.

Namun saya telah mengartikan air matanya saat itu juga. Mungkin dia terharu, bisa jadi sedih, karena ritual itu secara kasat mata menggambarkan posisi saya di hari-hari ke depan nanti. Membasuh kaki bisa diartikan sebagai pengabdian, penyerahan diri, kesediaan untuk selalu melayani. Ritual itu memberi gambaran sebuah penaklukan laki-laki, sebuah ilustrasi bagaimana di hari-hari mendatang anak perempuannya akan takluk dalam kekuasaan seorang laki-laki.

Memang, upacara basuh kaki akan diakhiri sikap seorang laki-laki dengan penuh kasih sayang mengangkat tubuh istrinya. Itu menyiratkan bagaimana laki-laki tidak akan pernah menindas istrinya. Juga sebagai gambaran bahwa laki-laki akan selalu memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sebagai balasan pengabdian yang diberikan istrinya.

Memang itu pesan yang ingin disampaikan dalam upacara ini. Saya sudah mengetahuinya jauh-jauh hari. Sempat berpikir untuk menghilangkannya dalam rangkaian prosesi pernikahan saya. Sempat juga membayangkan untuk memodifikasinya.

Seorang teman pernah memodifikasi dengan mengajak suami berjongkok bersama. Mereka menghilangkan adegan dimana laki-laki berdiri, sementara perempuan berjongkok. Mungkin dengan berjongkok bersama dianggap lebih menyiratkan kesetaraan, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Lalu mereka berdua akan bersama-sama membasuh kaki laki-laki yang sudah belepotan dengan telor. Tetap sih, kaki laki-laki saja yang dibasuh.

Imajinasi modifikasi yang sempat terlintas dalam pikiran saya adalah kami gantian membasuh kaki. Pertama saya akan membasuh kakinya, lalu selanjutnya dia membasuh kaki saya. Hehe..tentu saja ide itu hanya mengendap dalam pikiran. Saya melaksanakan upacara basuh kaki sesuai pakem yang dipelajari perias pengantin Jawa tradisional.

Saat menjalaninya, tak terbesit sedikitpun pikiran bahwa ini bentuk pengabdian saya pada suami. Juga tak ada keyakinan terhadap simbol-simbol Jawa tentang penyerahan diri istri untuk melayani suami. Saya hanya melakukannya karena itu bagian dari prosesi pernikahan Jawa. Meski tak sepaham dengan makna upacara itu, saya juga tidak merasa berat hati, menyesal, atau berdosa telah melakukannya.

Toh basuh kaki hanya sebuah adegan. Sebuah bagian dalam prosesi yang lebih bermakna bagi banyak orang, bagi keluarga besar, bagi orang tua, dibanding untuk kita sendiri. Sebagai simbol, adegan itu hanya akan menjadi kenangan, dicetak dalam kertas foto yang dipajang di tembok kamar, yang akan dikenang setahun, sepuluh tahun, atau lima puluh tahun lagi.

Pada kenyataanya, saya tak pernah harus membasuh kaki suami saya. Tak harus sama-sama berjongkok jika memang saya ingin berdiri. Tak ada bentuk pengabdian dan pelayanan.

Barangkali, justru ada perempuan yang menolak melakukan upacara itu dengan segala alasan kesetaraan, kini malah berkutat dengan mitos-mitos pengabdian. Merelakan mimpi pribadinya, melupakan bahwa setiap kita punya satu ruang pribadi yang tidak bisa dibagi dengan siapapun.

Toh, pernikahan hanya proses. Menikah hanya status dalam KTP. Suami hanya sebutan lain untuk seorang sahabat, orang yang menemani kita berproses.

Toh, kawin hanya sebuah aktivitas penyatuan fisik. Bukan peleburan jiwa, pikiran, dan cita-cita.

Selamat Hari Kartini.

Prev Older Entries