Perang, Manusia, dan Kemanusiaan

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demiĀ  mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral. More

Poles-Memoles

Baru-baru ini, seorang dosen Paramadina meminta saya menjadi nara sumber untuk disertasi doktoralnya yang mengangkat tema “Konsultan Politik Sebagai Bisnis”. Kami mengobrol banyak tentang pengalaman saya saat bergabung dalam salah satu tim PR yang menangani salah satu calon presiden dalam Pemilu 2009. Saya jadi tertarik untuk menuliskan sedikit pengalaman itu. Agar tak lupa dan bisa dibagi sama-sama saja.

Tak banyak teman yang tahu kalau selepas mengundurkan diri dari wartawan, saya bergabung dalam konsultan public relations. Dari awal saya memang sudah niat tak akan lama-lama berada di sana. Selain karena segera ingin fokus menulis novel, saya agak malas dengan sistem kerja kantoran : bangun pagi-pagi, delapan jam sehari, pulang menjelang petang di antara kemacetan. Maka niat saya waktu itu sepenuhnya hanya untuk menyabet peluang proyek Pilpres saja. Ya soal uang, ya soal pengalaman.

Tugas harian saya mulai dari media monitoring, meng-counter pemberitaan, menciptakan isu, menggelindingkan isu, mengupayakan agar orang-orang yang namanya masuk dalam anggota tim sukses bisa muncul di media. Menyenangkan, karena kita bisa seperti sutradara, mengatur apa yang akan dimunculkan di permukaan. More