Maryam, Korban Diskriminasi Mengusik Empati

Wardah Fazriyati | wawa | Kamis, 8 Maret 2012 | 08:36 WIB

KOMPAS.COM/WARDAH FAJRI Aktivis perempuan Maria Ulfa Anshor bersama Okky Madasari, penulis novel fiksi realis berjudul Maryam, seusai peluncuran Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Rabu, 7/3/2012.

KOMPAS.com – Maryam, sosok perempuan muda ini menonjolkan pengaruh dan kekuatannya dari halaman awal hingga akhir sebuah novel realis karangan penulis fiksi Okky Madasari. Melalui Maryam, Okky menyuarakan kaum minoritas yang kerap mengalami diskriminasi, menderita karena ketidakadilan, terusir karena keyakinan. Maryam adalah sosok perempuan kuat yang diciptakan Okky dalam novelnya, untuk mengajak pembaca dari kalangan mayoritas agar bisa membayangkan bagaimana penderitaan kaum minoritas yang mengalami diskriminasi karena memilih berbeda.

“Perempuan harus selangkah lebih maju, aktif memperjuangkan hak yang terampas dan terabaikan oleh negara. Perempuan jangan menjadi obyek tetapi subyek pada perubahan. Perempuan dan semua warga negara harus ikut memperjuangkan keberagaman. Ini diwakili sosok Maryam,” jelas Okky kepada Kompas Female seusai peluncuran buku Maryam, di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (7/3/2012) lalu.
More

Tombo Ati


Mengenang Gus Dur adalah mengingat separuh usia saya. Saat televisi berulang kali menayangkan gambarnya, saya malah sibuk menyusun kepingan-kepingan cerita yang berserakan dalam sisa ingatan. Bukan tentang Gus Dur, tapi tentang orang-orang di kampung halaman saya, sebuah desa di Magetan sana.

Suara Gus Dur menyanyikan Tombo Ati dalam sebuah tayangan obituari mengingatkan saya pada tembang-tembang pujian yang dinyanyikan seusai adzan. Ada banyak tembang dalam Bahasa Jawa yang isinya tentang pemujaan, doa dan harapan pada Ilahi. Ada juga tembang-tembang yang bersifat ajakan, mengingatkan orang untuk beriman dan beribadah. Tembang-tembang itu terdengar lima kali sehari dari seluruh masjid yang ada di kampung saya. Biasanya dinyanyikan keras-keras, dengan suara yang seringkali fals, bisa sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Saya tak pernah lagi mendengar tembang-tembang seperti itu setelah tinggal di Jogja dan Jakarta. Di dua kota itu tembang-tembang berganti dengan suara orang berdzikir atau melafalkan Quran. Awalnya saya tak tak terlalu memperhatikan. Baru belakangan saya tahu, sebagian orang menganggap tembang-tembang pujian itu tidak dibenarkan dalam agama.

Tahlilan selama tujuh hari yang diadakan untuk melepas kepergian Gus Dur mengingatkan saya pada selametan-selametan yang sering dihadiri Bapak saya. Ada banyak sekali selametan di kampung saya. Untuk selametan orang meninggal saja, ada selametan tujuh harian, empat puluh harian, juga selametan seratus hari, tahun pertama, tahun kedua, juga selametan seribu hari.

Selametan biasanya diadakan malam hari dan hanya dihadiri oleh laki-laki. Mereka duduk bersila di lantai, mengelilingi nasi tumpeng dan ayam panggang. Bersama-sama mereka membaca Yasin dan Tahlil, lalu seorang yang dituakan akan memotong tumpeng sambil membaca doa. Setelah itu para pemuda akan mulai sibuk menuju dapur. Mengambil piring-piring nasi dengan segala lauk pauk, dibagikan pada semua yang datang. Saat acara berakhir, semua yang datang masih akan mendapat snack atau nasi untuk dibawa pulang ke rumah, yang biasa disebut berkat. Saya masih ingat bagaimana saya dan adik saya berebut apem atau roti bolu dari berkat yang dibawa Bapak saya.

Di kampung saya, selametan tidak hanya soal bakti dan doa pada orang yang sudah meninggal. Ini juga soal hubungan antar manusia, bagaimana seseorang akan dianggap ‘patut’ dan bisa bertindak yang semestinya. Karena itu semua orang akan selalu mengikuti tradisi, menyelenggarakan selametan, agar tidak dianggap tidak peduli pada orang yang sudah mati. Sajian dalam selametan akan dibuat seenak-enaknya untuk menyenangkan orang yang diundang. Sebaliknya, yang diundang akan selalu datang karena takut dianggap tidak tahu diri.

Maka ketika ada beberapa orang yang tetap tak mau ikut selametan karena dilarang keyakinan, seluruh orang di kampung akan menjadikannya bahan omongan. Katanya orang-orang itu tak bisa bersosialisasi, tak tahu diri dan tak mau menghargai tradisi. Suatu hari, saat orang-orang tersebut punya hajatan, misalnya syukuran kikahan atau pernikahan, orang yang diundang membalas tak mau menghadiri.

Melihat gambar Gus Dur yang sedang berkhotbah di masjid, saya teringat khotib sholat Idul Fitri di lapangan depan rumah. Jamaahnya sedikit, hanya dua baris laki-laki dan sebaris perempuan. Sementara di jalan depan lapangan orang berlalu lalang. Yang rumahnya di sekeliling lapangan menonton dari balik jendela. Kebanyakan orang di kampung masih berpuasa, mengikuti apa yang dikatakan Menteri Agama. Orang-orang akan mengingat-ingat siapa saja yang memilih sholat di lapangan. Membicarakan mereka dalam setiap obrolan.

Dulu, waktu zaman belum sebebas ini, tak ada yang berani berbeda seperti ini. Saya masih ingat beberapa orang yang sholat Ied sembunyi-sembunyi di salah satu rumah tetangga. Pintu ditutup rapat, suara dikecilkan nyaris berbisik-bisik. Orang-orang kampung lainnya membicarakan penuh keheranan dan kebencian. Mendengar omongan orang, saya yang saat itu masih SD, malah berpikir kebablasan dengan menganggap orang-orang yang sholat sendiri itu sebagai pengikut aliran yang sesat.

Mendengar ulang kata-kata Gus Dur saat menentang kekerasan pada Ahmadiyah dan pemidanaan Lia Eden, ingatan saya meloncat tinggi, dari masa lalu ke masa kini. Bukan lagi di desa yang namanya tak tercantum dalam peta, melainkan di ibukota yang punya banyak gedung megah. Dua minggu sebelum Gus Dur pergi, muka saya masam saat mengisi kolom agama dalam formulir pendaftaran di sebuah rumah sakit terkemuka.

Ah, Gus, engkau terlalu cepat pergi!

on the Road : De Oosthoek

De Oosthoek. Itu sebutan orang Belanda untuk daerah ini : Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Bondowoso, Situbondo. Artinya pojok timur. Tapi orang-orang lebih mengenal istilah lain : Tapal Kuda. Coba buka peta, dan kawasan itu akan berbentuk menyerupai tapal kuda.

Bagi kami yang tinggal di daerah Mataraman (Magetan, Madiun, Ngawi) biasa menyebut kawasan itu sebagai etanan. (dari kata wetan = timur). Orang-orangnya disebut wong etanan. Kami mengenali orang-orang etanan dari bahasa Jawa mereka yang terdengar lebih kasar di telinga kami. Maklum, daerah Mataraman lebih kental dipengaruhi tradisi Kerajaan Mataram di Jogja dan Solo. Bahasa Jawa yang kami gunakan berbeda dengan bahasa Jawa di etanan. Apalagi orang etanan tidak hanya terdiri dari suku Jawa, tapi juga Madura. Mereka berbaur, bahkan di kota-kota tertentu orang Madura yang mendominasi.

Selain bahasa, beda yang paling mencolok adalah soal agama. Daerah Mataraman adalah daerah abangan. Islam adalah sebuah identitas formal. Tapi soal keyakinan dan tradisi spiritual orang-orang di Mataraman punya caranya sendiri. Belakangan, baru ketika pendidikan agama makin menguat, orang-orang di Mataraman mulai menjalankan Islam sebagai sebuah keyakinan.

Sementara di daerah etanan, Islam begitu kental, mengambil bagian dalam setiap sendi kehidupan. Orang-orang nya adalah kaum santri, yang selalu patuh omongan kyai. Pengetahuan agama mereka jauh melebihi orang-orang di Mataraman.

Mengunjungi Tapal Kuda, mengusik segala ketertarikan saya pada sosio-kultural. Ingatan tentang penelitian Clifford Geertz dan pengalaman saya sebagai wong Mataraman teraduk-aduk dalam sebuah adonan di kepala. Segala hal yang saya jumpai menjadi semacam pembenar atau penolakan atas segala dugaan. Mulai dari gapura bertuliskan huruf Arab, reklame besar larangan pelacuran, atau gambar-gambar orang berjanggut putih, bersurban atau berpeci.

Ke Tapal Kuda juga mengulik kembali sebuah lembaran sejarah. Sejarah yang masih terlalu segar untuk dilupakan. Sejarah yang bukti dan saksi-saksinya masih utuh karena baru terjadi sepuluh tahun lalu. Sebuah cerita nyata tentang ninja-ninja yang konon berseliweran dimana-mana. Tentang dukun santet yang memancing kemarahan. Kekerasan dan pembunuhan.

Ah, saya tidak akan mengulasnya lebih dalam lagi. Karena semua catatan di blog ini hanya sekedar menu pembuka saja :D

on the Road : Losari

Ini semua berawal dari selembar potret. Bukan potret di artikel perjalanan atau brosur wisata melainkan potret Pak Beye dan Bu Ani :P . Well, saya mengaku norak. Tapi memang gara-gara potret dua orang itulah saya ingin datang ke perkebunan kopi di Losari, desa di perbatasan Semarang-Magelang.

Di potret yang diambil tahun 2006 itu, Pak Beye yang berbaju putih tampak serius menulis. Badannya membungkuk ke meja. Di sampingnya, Bu Ani menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mereka berdua duduk di teras atau bisa jadi sebuah balkon. Di depan mereka terhampar perkebunan kopi dengan kabut yang tebal. Potret itu benar-benar menggambarkan kesempurnaan pesona perkebunan kopi. Mereka sedang berada di Losari Coffee Plantation Resort and Spa, sebuah resort di tengah perkebunan kopi Desa Losari.

Sejak itu saya mulai mencari tahu tentang tempat itu. Saya membaca berbagai versi penulisan daya tarik resort itu. Saya ikut merasakan dinginnya, melihat kabut tebal menyelimuti sekeliling resort, dan mencium aroma kopi yang baru digiling atau aroma seduhan kopi. Berbagai penggambaran suasana tempo doeloe, bangunan loji peninggalan zaman Belanda dan mebel yang antik, membentuk imaginasi sempurna tentang seorang noni Belanda yang sedang merajut dan menikmati secangkir kopi di tengah-tengah pohon-pohon kopi berselimut kabut.

Malam itu saya berdiri di depan pagar-pagar putih itu. Sejak awal saya tahu resort ini bukan penginapan seharga 500 ribu semalam. Tarifnya 250 USD semalam, dengan sedikit potongan untuk orang lokal. Dan ketika saya berada begitu dekat, keinginan itu menjadi luntur. Apalagi di depan saya terdapat jalanan aspal menanjak yang kanan kirinya ditanami dengan kopi. Kami tinggalkan resort – yang kata satpam – milik Sandiaga Uno itu, menuju Losari yang sesungguhnya.

Tiba di perkampungan penduduk, kami disambut dengan sebuah gereja dan masjid yang berdiri berhadapan. Di sebelah gereja ada kantor kepala desa, lalu di sebelahnya lagi sekolah dasar. Perempuan-perempuan berkerudung mukena putih dan laki-laki bersarung keluar dari masjid. Mereka baru selesai sholat tarawih.Kami berkeliling desa, melihat-lihat suasana sambil mencari kemungkinan untuk menumpang di salah satu rumah penduduk. Resort mewah itu adalah satu-satunya penginapan di desa ini. Saya menghampiri seorang perempuan yang berdiri di depan rumah. Tanpa membuang waktu, dia langsung menawari kami menginap di rumahnya. Suaminya, Sukidi, seorang ketua RT.

Lukisan Perjamuan Terakhir terpajang di ruang tamu Sukidi. Di ruang keluarga, Patung Yesus dan Bunda Maria berjajar di sudut ruangan. Timbul sedikit keraguan di benak kami. Bukan masalah yang besar, hanya memikirkan bagaimana kami makan sahur kalau menginap di rumah ini. Pelan-pelan saya katakan itu ke Sukidi. Ternyata dia malah menepis keraguan kami.

Jam 3 pagi, istri Sukidi dan anak perempuannya sudah menyiapkan berbagai sajian di meja makan. Tak lupa secangkir kopi khas Desa Losari. Kata Sukidi rasanya memang masih kalah enak dengan kopi yang ada di resort. Entah apa yang membuatnya berbeda. Orang-orang desa tak pernah tahu apa rahasianya. Tapi di lidah saya dan Abdul, kopi itu begitu nyamleng tanpa rasa pahit yang berlebihan.

Usai makan sahur, sayamelirik termometer yang terpasang di dinding rumah Sukidi. Tanda merahnya menunjukkan angka 22 derajat celcius. Suara berbagai burung terdengar. Di luar rumah, rumput-rumput basah, angin bertiup lembut, dan kabut tebal turun sampai ke tanah. Ah, inilah Losari yang sesungguhnya.

Tirakat


Hari pertama puasa. Bukan hari yang istimewa karena saya telah dua puluh tahun melakukannya. Kalaupun ada yang berbeda – meniru apa yang biasa ditampilkan infotainment – ini puasa pertama saya bersama suami. Bedanya ya hanya terletak pada urusan masak-memasak. Hal-hal lain tetap saja tidak berbeda dengan apa yang saya lakukan tahun-tahun sebelumnya.

Tadi malam saya tidur jam dua belas dan sudah terbangun jam setengah dua. Padahal rencanaya saya baru akan bangun jam setengah empat untuk memasak sebentar lalu makan sahur. Hari ini imsak jatuh jam setengah lima. Tapi ternyata suara teriakan-teriakan orang sudah terdengar sejak jam setengah dua. Suaranya dekat, karena mereka berkeliling di depan rumah di Kalibata. Teriakan “Sahur…Sahur” sahut menyahut tak karuan. Diselingi dengan suara bambu dan tiang listrik yang dipukul-pukul.

Tiga tahun lalu, saat saya pertama kali tinggal di Jakarta, saya terkejut dengan cara penanda sahur yang menurut saya berlebihan. Di Rawamangun, masjid kompleks perumahan sudah memberikan penanda sejak jam dua malam. Melalui pengeras suara masjid, suara laki-laki terdengar ke semua rumah di kompleks, mengingatkan kalau sekarang sudah jam dua dan sebentar lagi waktu sahur tiba.

Saya membandingkan dengan penanda sahur di desa saya. Orang di masjid mengingatkan sahur saat sudah jam tiga. Anak-anak yang berkeliling juga baru berkeliling jam setengah tiga. Semuanya dengan suara yang lembut, enak didengar. Padahal penduduk desa saya mayoritas adalah muslim. Teriakan sahur tidak akan pernah dianggap sebagai gangguan oleh orang-orang. Tapi justru di Jakarta, kota dimana orang-orang dengan berbagai kepercayaan bercampur seperti salad, penanda sahur dilakukan dengan begitu agresif dan memakan banyak waktu. Saya berpikir, kalau saya saja yang melaksanakan puasa terganggu, bagaimana dengan orang-orang yang tidak melaksanakannya?

Bagi saya, puasa adalah sebuah kontemplasi. Perenungan dan juga meditasi. Ini adalah sebuah kegiatan pribadi, dimana saya sedang berdialog dengan diri saya sendiri sambil meyakini ada kekuatan Ilahi yang sedang membimbing kami. Semuanya dilakukan diam-diam, lirih berbisik-bisik, bahkan seringkali sembunyi-sembunyi.

Besar dalam keluarga Jawa yang masih memegang tradisi, puasa telah menjadi bagian kental dalam kehidupan keluarga kami. Puasa adalah laku spiritualitas untuk mencapai kekayaan batin, juga tirakat sebagai bagian dari perjuangan mencapai apa yang diinginkan. Puasa bagi kami bukan hanya sebulan saat Ramadan, tapi sepanjang waktu.

Ketika ajaran agama memberikan pengaruh besar dalam kehidupan kami, puasa di luar Ramadan salah satunya menjelma dalam puasa yang dilakukan di hari Senin dan Kamis. Semuanya dilakukan diam-diam, kadang sembunyi-sembunyi. Sungguh, saya berulang kali menolak ajakan makan di hari Senin dan Kamis dengan berkata, “Saya sudah makan.” Ada rasa malu dan kikuk kalau saya harus menjawab, “Saya sedang puasa,” karena kalimat itu akan sama artinya dengan, “Saya sedang tirakat.”

Sebagai laku tirakat, dalam puasa saya dengan sadar mengendalikan segala diri dan keinginan. Saya dengan sadar, mengambil posisi meditasi dan berkontemplasi di saat sekitar saya begitu berisik dan penuh godaan. Puasa justru menguatkan saya untuk menantang semuanya. Bukan dengan manja meminta orang di sekitar saya untuk tidak makan, tidak berpesta, demi menghormati puasa saya.

Puasa, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang diajarkan dalam kitab suci, merupakan cara yang diajarkan Tuhan agar manusia bisa meningkatkan kualitasnya. Baik kualitas dalam mengolah rasa, mengolah pemikiran, dan mengasah religiusitas. Saya puasa dan sholat, agar saya senantiasa ingat saya hanya bagian kecil saja dari sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Puasa dan sholat, membantu saya untuk bisa lebih menahan emosi, berkonsentrasi, memandang setiap hal dari sisi yang berbeda. Puasa dan sholat menjadi cara saya untuk mengendalikan diri, mempertimbangkan setiap apa yang saya maui.

Konsep puasa Ramadan sendiri menurut kitab suci adalah sebuah ibadah untuk Tuhan. Tapi alih-alih bisa ikhlas melakukanya untuk Tuhan, kadang saya malah ikut terjebak dalam hitung-hitungan pahala dan dosa. Berpuasa sembari berhitung banyaknya pahala yang telah saya kumpulkan.

Padahal, saya tak terlalu percaya pada rumusan pahala dan dosa. Karena jika pahala atau dosa bisa dihitung sebagaimana saya menghitung simpanan uang di bank, tentu akan sangat gampang untuk melakukan perhitungan dengan Tuhan. Saya akan bertanya, berapa pahala minimal agar saya bisa masuk sorga. Kalau Tuhan berkata seribu, saya tinggal mengumpulkan angka itu sepanjang hidup saya, lalu sim salabim saya akan masuk surga.

Sungguh, saya tidak sedang berhitung soal pahala dan dosa. Saya hanya sedang melakukanya untuk diri saya. Sembari menunggu rasa ikhlas untuk Tuhan itu datang dengan sendirinya. Entah kapan.

Post Card from Jakarta

Monas
Kau pasti sudah mendengar kabar itu bukan?
tentang orang bersorban yang memukul dan menendang.
Mereka punya keyakinan
kita pun demikian
haruskah semua ditebus dengan kekerasan?
Fatahillah

Di negeri ku
orang membangun masjid dari emas
menata pualam di gereja
dan menimbun aneka sesembahan
adakah Tuhan memerlukan itu semua
ketika ada makhluknya yang masih kelaparan?
Sunda Kelapa
Kami selalu mengenang
kisah jaya Majapahit dan Sriwijaya
tapi tak pernah mengingat
bagaimana keduanya runtuh ditelan zaman

Dermaga
Memang tak seindah di negeri mu
tapi aku masih disini
menikmati dan menjadi bagian
segala kisahnya

Haruskah Benar itu Sama?

1 April 2008
Pizza Hut Jakarta Theatre tak menyisakan meja kosong. Empat orang duduk di kursi antrean menunggu ada orang yang meninggalkan mejanya. Saya langsung menuju ke area merokok – mencari sosok yang telah menanti saya.

Memakai kemeja formal, rambut tergerai, lengkap dengan sepatu bertumit 5 centimeter, ia tampil cantik dan elegan malam ini. Saya serahkan bungkusan berisi dua kenang-kenangan dari Phuket yang sudah dua minggu lebih tersimpan di laci almari. Dan seperti yang saya duga, pertemuan ini akan diawali dengan berbagai cerita pencarian saya di tiga negara.

“Oke, cukup cerita tentang perjalanan. Sekarang ceritakan tentang kabarmu,” persahabatan yang telah lama terjalin membuat saya cukup paham dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

“Memang sedang ada masalah. Aku nggak nyangka, masalah yang itu muncul lagi.”

Bibirnya mulai lincah bergerak. Diiringi sorot mata yang mengekspresikan berbagai rasa : kecewa, sedih, berharap, dan ketulusan cinta. Suara yang timbul tenggelam di tengah hiruk pikuk pengunjung lain tak mengurangi konsentrasi saya mendengarkan ceritanya penuh perhatian.

“Ibunya keberatan kami menikah, tapi bukankah sejak dulu dia sudah tahu tentang latar belakang ku?” ujarnya.

Saya diam menyimpan kegeraman sambil menatapnya lekat-lekat. Adakah yang salah jika kebetulan ia terlahir dari keluarga yang percaya ada nabi lain setelah Muhammad?

31 Desember 2006
Kami tiba saat masjid sudah penuh jamaat. Inilah sholat Ied pertama yang saya lakukan di Jakarta. Idul Adha kali ini saya memilih menginap di tempat sahabat, merayakan Idul Adha bersama keluarganya, sekaligus merayakan pergantian tahun 2006-2007.

Usai sholat dua rakaat, khotbah dimulai. “Marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita di Mataram dan berbagai daerah di lain yang masih belum bisa menjalankan ibadah,” kata khotib memulai isi khotbah.

Saya mulai menyadari dimana saya berada. Inilah pertama kali saya sadar latar belakang keyakinan sahabat saya. Kami pun berdiskusi banyak. Tentang segala perbedaan, tentang stigma masyarakat, tentang pemikirannya dan lingkunganya.

“Tapi Ky, emang aku belum pernah cerita ya dari dulu?”

Saya menggeleng. Ia memang belum pernah bercerita. Tapi apakah keimanan menjadi hal yang penting untuk kami bicarakan?

16 April 2008
Sebuah SMS masuk ke handphone saya. Isinya undangan dari Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan untuk membahas keputusan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat yang melarang Ahmadiyah.

“Ber-Tuhan saja dilarang apalagi tidak ber-Tuhan,” tulis seorang teman wartawan di status kotak maya nya.

“Justru lebih enak tidak ber-Tuhan karena tidak ada yang nglarang-nglarang,” kata kekasih saya lewat telepon sebelum kami mengakhiri hari.

18 April 2008
pukul 10.30
Ia menyapa saya melalui kotak maya. “Ibunya masih menganggap kami berbeda dan melihat kami tidak seharusnya menikah.”

“Meskipun kamu sudah berkomitmen nantinya akan mengikuti suami?”

“Ya, bahkan Ayah ku sudah mengizinkan. Tidak ada masalah, yang penting tetap Islam.”

pukul 18.30
Kami bertemu di Taman Ismail Marzuki. Matanya menyimpan sejuta tanya dan kecewa.

“Sepertinya Ibunya takut, suatu saat setelah menikah aku akan mempengaruhi anaknya. Konyol kan? Kami telah 3 tahun berhubungan dan sejak awal mereka tahu semuanya.”

Matanya makin merah. Buliran air mata mulai mengalir.

Maaf sayang, aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu.

Ini Halal Bukan?


NAMANYA Matsukawa Nozomi. Seorang Jepang totok yang fasih berbahasa Indonesia. Wajar saja, karena dia wartawan The Daily Jakarta Shimbun-koran Jepang yang terbit di Jakarta. Malam itu kami berjumpa saat menonton pementasan balet asli dari Rusia “Sleeping Beauty”. Pertunjukan yang terbilang langka di Jakarta dan Indonesia pada umumnya.

Matsukawa pecinta balet sejati. Menurutnya, di Jepang menonton balet adalah hal yang menjadi bagian keseharianya. “Sayang sekali di Indonesia jarang ada,” ujarnya.

Selama 2,5 jam pertunjukkan, Matsukawa memperhatikan dengan sangat antusias. Tampak sekali dia sangat mengerti setiap detail gerakan yang dilakukan para pemain. Tak jarang dia mendahuli bertepuk tangan di saat penonton yang lain merasa belum perlu bertepuk tangan. “Ups sorry, bagus sekali,” bisiknya saat menyadari tepuk tanganya menyita perhatian.

“Kamu bisa mengerti?” tanyanya pada saya. Matsukawa tahu ini kali pertama saya menonton balet, apalagi balet asli dari Rusia. Saya menggeleng sambil tertawa. “Aku hanya tahu ini dongeng Putri Tidur. Selebihnya, aku lebih menikmati gerakan dan tarian mereka, sangat indah,” jawabku jujur.

Pembicaraan kami pun berlanjut. “Kamu kan muslim, apa pendapatmu melihat pementasan yang menggunakan busana yang sangat minim dan gerakan yang tidak sopan seperti ini?” tanyanya.

“Tidak masalah, ini adalah seni,” jawab saya penuh keyakinan.

Sekilas saya lihat, Matsukawa setengah tak percaya dengan jawaban tersebut. Dia lalu memaparkan persepsinya tentang RUU Pornografi dan Pornoaksi yang sempat menggegerkan itu. Menurutnya, pementasan balet jarang diadakan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tak bisa menerimanya. Andai RUU APP jadi disahkan, pementasan balet akan dilarang di Indonesia. “Ini tidak halal kan?”

Hmm, saya agak terpukau mendengar paparannya. Mungkin apa yang ada di pikiran matsukawa juga ada di benak orang di berbagai negara di seluruh dunia. Saya pun mulai menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan RUU APP. Dalam pandangan saya, hal seperti itu tidak selayaknya diatur oleh negara. Meski demikian, saya mengoreksi pendapat Matsukawa. “Andai RUU APP disahkan, pertunjukkan seperti ini juga tidak mungkin dilarang,” jelas saya.

Matsukawa tak percaya. Lalu saya menyampaikan bahwa RUU APP juga tidak semena-mena menentukan mana yang pornografi dan mana yang tidak. Sebuah tarian balet yang dimainkan dengan indah, pada sebuah panggung pertunjukkan dengan penonton yang jelas, tentu bukan pornografi. Berbeda halnya jika seseorang menari telanjang di tengah jalan. Pun walaupun pakaian yang dikenakan penari balet minim, itu juga tidak salah. Apa bedanya dengan kita yang mengenakan bikini saat berenang?

Tapi lagi-lagi saya bilang, saya tak sepakat RUU APP diserahkan. Batasan pornografi adalah ruang dan waktu. Jika tempatnya benar dan waktunya tepat, tentu tak ada masalah. Dan itu sudah terwakili dalam UU Penyiaran. Kalau misalnya, ada seorang menari telanjang di tengah jalan, tanpa UU anti pornografi, dia bisa dikenai pasal mengganggu ketertiban umum. Atau bisa jadi membawa orang tersebut ke rumah sakit jiwa menjadi pilihan tepat. Jangan-jangan dia memang wong edan.

*) Picture by Dedy Priambodo. Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Prev Older Entries