Perempuan Pertama

Jurnal Perempuan No 77, Mei – Juni 2013

Oleh: Okky Madasari

Aku selalu percaya, kami berdua dilahirkan bersama. Tak ada yang lebih dulu, tak ada yang lebih tahu. Bukan dia yang lebih tua, bukan pula aku yang lebih kuasa.

Kami tumbuh bersama. Meraba setiap yang tertangkap mata,  mengendus satu persatu hal yang baru. Dari sepasang bayi yang bicara hanya dengan air mata, kami menjadi kanak-kanak yang sepanjang hari bermain dan tertawa.

Setiap pagi kami berlarian di antara pohon-pohon yang penuh buah bergelantungan. Pada sore hari kami memetik bunga-bunga yang selalu mekar dan menyerebakkan wewangian. Pada hari-hari tertentu kami menyebur ke telaga penuh madu, berenang dalam cairan yang lengket, lalu saling menjilati tubuh kami hingga masing-masing kami berteriak-teriak menahan geli. More

Dua Lelaki

Media Indonesia, 12 Mei 2013

Oleh: Okky Madasari

Dua pasang mata itu berjumpa.

Agak lama mereka terpaku. Hingga kemudian kedua tangan berjabat dengan ragu. Mereka kini melangkah bersama, beriringan menyusuri jalan raya, lalu berbelok ke tanah lapang yang berbatas dengan laut. Mereka duduk di beton pembatas. Pandangan mata jauh ke arah laut lepas. More

Bahagia Bersyarat

Oleh : Okky Madasari

(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)

Katanya dia mau kawin lagi.

Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.

Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.

Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More