From our world to people in the world

Note: The main questions from my sessions at the Philippine International Literary Festival 2015 are what does it take for a writer to explain her/himself and her/his works to an audience with different cultural backgrounds? How much responsibility to her/his country does the local writer have when writing for an international audience? Here are my thoughts.

I just got back from this year’s Frankfurt Book Fair, where Indonesia was invited as the guest of honour. Indonesia is the first country in Southeast Asia who get this opportunity and for country like Indonesia this opportunity maybe would be a once in a lifetime opportunity.

As a guest of honour, we were given a big space to display our books and to use it to promote them. Our government spent a lot of money for this event, more than USD 13 million. The money has been used for translating books, bringing writers and performers to Frankfurt, setting up venue and programs that can attract people to come. We received a lot of publications in many international media for this.

But the most important and relevant question for this kind of event is how many books bought by international publishers to be published in their countries? Not many!

More

Uncensored

“Courage is a luxurious thing and can’t be taken for granted, especially when we live in a country like Indonesia. And to fight against censorship, we should have such bravery and courage.”

More

Why Write

Note: I talked at the discussion on “Why Write” at UWRF 2015. Here are my thoughts.

For me writing is always personal and political at the same time.

I started to write novel just 5 years ago. My first novel was published in 2010 and until now I have written 4 novels.

I used to be a journalist for years, had been writing reportage, news, story based on fact, based on what people said, make sure that everything already passed the check and balance process. As a journalist I used to write stories that relates with public interest, trying to make my writing as a criticism to government, trying to make unknown problem get attention from many people, trying to make people who don’t know how to speak can be heard. At the time, I started to believe how words have big influence to people. It can make government change their decision, it can make people know there is something wrong with their society, their country.

And then one day I found that journalism doesn’t fit me anymore. More

Membaca Wiji dan Melahirkan Wiji Kembali

Lima puluh dua tahun silam, laki-laki ceking itu lahir di kota ini. Ia tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya kota ini. Ia melihat bagaimana bangunan-bangunan mulai menggusur pohon-pohon besar, bagaimana diskotik dan toko roti bermunculan. Sementara tempatnya tinggal terasa semakin kumuh dan becak yang dikayuh bapaknya terasa semakin reyot, tak mampu bersaing dengan motor-motor Honda yang semakin banyak jumlahnya.

Laki-laki itu tumbuh dengan melihat Pak RT dan Pak RW yang petentang-petenteng, memaksanya turun dari panggung tujuh belasan karena menganggap sajak-sajaknya sungguh kurang ajar. Hingga kemudian ia harus terpaksa meninggalkan kota ini, pergi dari rumahnya sendiri, karena terus dikejar-kejar tentara dan polisi. More

Ketika Keberuntungan Saja Tidak Cukup

Oleh: Okky Madasari

Satu minggu sebelum peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris, saya menerima sepucuk surat dari seorang pembaca saya di Paris. Marie-Angele Martinez, begitu ia menuliskan namanya. Dalam suratnya, ia mengungkapkan apresiasinya setelah membaca The Years of The Voiceless (Entrok), The Outcast (Maryam), Bound (Pasung Jiwa). Surat itu begitu membuat saya terkesan. Pertama, karena surat itu ditulis dengan tangan, dikirim melalui pos melintasi batas negara ketika teknologi telah memberi kita kemudahan untuk mengirim surat melalui email atau berkomunikasi langsung melalui sosial media. Kedua, karena mengetahui karya-karya saya bisa dibaca dan dinikmati masyarakat dari budaya yang berbeda – bahkan hingga menggerakkannya untuk menulis surat kepada saya.

Tiga bulan sebelumnya, seorang wartawan Spanyol mengirim email pada saya dan meminta wawancara untuk majalah Spanyol, tempatnya bekerja. Wartawan tersebut secara tak sengaja menemukan edisi bahasa Inggris novel saya saat sedang liburan di Bali. Ia terkesan dan ingin membuat liputan lebih dalam tentang karya saya. Hasil wawancara tersebut sudah dimuat di majalahnya November tahun lalu.

Saya menganggap dua contoh apresiasi pembaca dari luar negeri yang saya sebutkan ini sebagai keberuntungan. Saya sebut itu sebagai keberuntungan, sebab ia tidak lahir secara terstruktur – massif – sistematis. Pembaca-pembaca buku saya di luar negeri adalah mereka yang secara kebetulan menemukan buku saya yang terselip di antara tumpukan-tumpukan buku berbahasa Inggris lainnya, atau suatu saat membaca artikel tentang saya lalu membeli buku itu di Amazon, atau berjumpa dengan saya di festival atau konferensi lalu membeli buku saya hanya untuk mendapatkan tanda tangan langsung dari penulisnya. Syukurlah kemudian kebetulan dan ketidaksengajaan itu tidak berbuah penyesalan, tapi melahirkan pemahaman dan apresiasi pada karya-karya saya.

Tentu keberuntungan tidak bisa selamanya diandalkan. Sebagai penulis, saya tetap memimpikan buku-buku saya akan tersedia di rak-rak toko-toko buku besar di berbagai negara, diulas di media-media setempat, dan yang lebih utama dikenal dan dibaca oleh masyarakatnya. Tentu ini semua membutuhkan sebuah upaya besar, upaya yang melibatkan banyak pihak. Kita tidak bisa hanya sekedar mengandalkan kualitas dari sebuah buku lalu menutup mata sambil berdoa, menunggu mereka yang rela mengorek-ngorek tumpukan jerami untuk menemukan sekeping logam emas.

Posisi karya sastra di dalam masyarakat tidak terbangun secara kebetulan. Ia adalah produk konsensus, ia lahir dari pertemuan antara kekuasaan pengetahuan, kekuasaan negara, dan kekuasaan modal. Sebuah karya yang berkualitas hanya akan dikenal secara luas jika ada kerja bersama dari tiga kekuasaan tersebut. More

Kekuasaan dan Kebebasan

Apa yang paling dibutuhkan dalam proses berpikir? Kebebasan. Apa yang paling dibutuhkan untuk berkarya? Kebebasan. Apa yang jadi syarat utama kemajuan sebuah peradaban? Kebebasan. Dan apa yang paling ditakutkan oleh kekuasaan? Kebebasan.

Sejarah perjuangan manusia adalah sejarah merebut kebebasan, sementara sejarah kekuasaan adalah rangkaian pengaturan dan kontrol atas kehidupan banyak orang. Di tengah tarik-menarik itu, kebudayaan – antara lain melalui wujudnya: pemikiran, bahasa, karya seni – menjadi medan pertarungan. More

Belenggu Kekuasaan dalam Imaji Sastra

Siapakah aku ini? Siapakah aku?

Demikian baris penutup dalam novel Shanghai Baby (1999) karya Wei Hui. Sebuah pertanyaan eksistensialis – pertanyaan mendasar yang terus diajukan manusia sepanjang keberadaannya di dunia.

Pertanyaan itu terus menggelayut dalam benak Nikki, tokoh utama dalam novel tersebut. Nikki, perempuan 25 tahun itu menatap nanar gemerlap kemajuan Shanghai sekaligus memandang enggan jejak-jejak masa lalu Shanghai. Ia berdiri di perbatasan, terombang-ambing dalam kebingungan, sembari terus bertanya: Siapakah aku? More

Interupsi di Tengah Kebisingan

*) Pengantar dalam booklet Khatulistiwa Literary Award 2013

Setelah novel “Maryam” meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012, berulang kali saya mendapat pertanyaan serupa: Apa arti kemenangan ini bagi saya?

Tentu saja penghargaan ini punya arti besar bagi saya. Dengan meraih KLA 2012, karya saya semakin didengar dan diperhatikan. Novel-novel saya dibaca oleh semakin banyak orang. Itu artinya, pengalaman yang ditawarkan oleh novel-novel saya bisa dialami oleh lebih banyak orang hingga akhirnya lahirlah kesadaran-kesadaran baru dalam diri banyak orang. More

Prev Older Entries