A letter to Jurgen Habermas

A letter to Jurgen

Dear Jurgen,

This is the first letter I write since 15 years ago. Since then, letter as you and I know it has been forgotten just like people have massively also crossed their private boundary to migrate to meet within the crowded virtual public sphere created by the advanced technology never imagined by your generation.

My generation has been busy and spoilt by the so-called short, instant and rapid communication. So, why do we need to write this absolete-formed letter when everything can be expressed through an electronic messages called SMS, or social media, like Youtube, Facebook or Twitter.

But today I miss writing, and want to write a real letter, one that can provide me more space for what I have been thinking so that I can write deeper and thoughtful without a rush, and end up being shallow. For this, I have to get out from this boring virtual public sphere which is becoming the one you predict and much more.

Jurgen,

The other day someone asked me why I still wanted to write novels. Was novels still needed in this era – when people love television and internet more than books? Will the digital generation love to read book and love novel like the previous generation did?

These questions are deeply haunting me since. I need time to think it through what kind of answers I can give. More than that, I need an answer for myself why I write novel. What do I need them for? More

Melawan Ketidaktahuan dan Ketidakpedulian

Oleh: Okky Madasari

Saya adalah bagian dari generasi yang lahir dalam kebutaan.

Saat peristiwa 30 September 1965 terjadi lalu disusul pembantaian ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang di berbagai wilayah, termasuk di kampung halaman saya di Magetan Jawa Timur, ibu saya baru berumur dua tahun. Ibu saya dan ibu-ibu dari kawan segenerasi saya masih terlalu muda untuk mengerti segala yang terjadi. Sementara nenek saya, adalah bagian dari generasi yang lahir pada masa kolonial hingga masa perang. Hidup di sebuah desa di pedalaman Jawa, ia adalah bagian dari masyarakat awam yang hanya berpikir bagaimana caranya bisa tetap makan dan mempertahankan hidupnya. Nenek saya adalah bagian dari orang-orang yang tak pernah mengecap pendidikan. Ia terlalu bodoh untuk bisa benar-benar memahami apa yang sesungguhnya terjadi.

Saya dan kawan-kawan segenerasi saya, lahir pada periode awal tahun 1980an. Kami adalah janin-janin yang dikandung dan dilahirkan di tengah kemapanan rezim Orde Baru.Suharto adalah hal pertama yang kami tahu tentang negeri ini. Pancasila adalah hal pertama yang kami hapalkan di bangku sekolah. Dan film “Pengkhianatan G 30 S PKI” adalah film pertama – film dewasa pertama  – yang kami tonton di ruang keluarga kami. More

A small step of a longer journey

Okky Madasari at the launch of "The Years of the Voiceless", August 2013

When i wrote this novel 4 years ago, i did’t think it would be a start of my endless journey to become a novelist. That time i just wanted to write a novel – one novel of my own in my entire life, so i could say “I have a book that i write myself.”

But in the process, i found that writing novel is more than just proving i could make a book. Writing novel is not about myself. And writing novel is not a job nor duty so i can say “I finished. I have a book by myself already.” More

Orasi Budaya: “Generasi yang Berpihak”

Video Orasi Budaya Okky Madasari bisa disimak di link ini Orasi Budaya Okky Madasari

Oleh: Okky Madasari

Setiap generasi pasti akan mati dan berganti.

Generasi kita adalah generasi penuh kehendak. Napas kita adalah energi, ambisi, dan dorongan untuk mencapai sesuatu.

Kita tidak lagi harus berhadapan dengan tentara dan senjata. Kita tidak lagi perlu meringkuk ketakutan, bersembunyi dari tangan-tangan rezim yang menggunakan kekerasan demi mengamankan kekuasaan. Kita bukan korban stigma PKI, yang dibunuh atau dibuang dalam pengasingan. Kita bukan Pramoedya yang harus menulis dalam penjara, atau Widji Thukul yang hilang karena bersuara, juga bukan Munir yang dibunuh karena keberaniannya. Kita tak lagi mengalami, masa di mana sekelompok orang harus berdiskusi sembunyi-sembunyi, jadi buruan ke sana-ke mari. Kita bukan generasi masa lalu, yang tunduk dalam penyeragaman, yang takut berambut gondrong dan bertatto hanya karena tak mau disangka preman. Ini adalah masa di mana kita tak perlu lagi menyimpan protes dalam hati, atau berkarya dengan hati-hati. More

Next Newer Entries