Dua Lelaki

Media Indonesia, 12 Mei 2013

Oleh: Okky Madasari

Dua pasang mata itu berjumpa.

Agak lama mereka terpaku. Hingga kemudian kedua tangan berjabat dengan ragu. Mereka kini melangkah bersama, beriringan menyusuri jalan raya, lalu berbelok ke tanah lapang yang berbatas dengan laut. Mereka duduk di beton pembatas. Pandangan mata jauh ke arah laut lepas. More

Dari atas bukit..

Kami ke Lombok lagi. berangkat dengan segudang rencana untuk sekaligus menyeberang ke Sumbawa, Moyo, dan Komodo. Tapi apa daya, kami terperangkap oleh keindahan. More

Menziarahi Buru

Jam sembilan malam pertengahan Oktober 2010, kapal Elizabeth II yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Pelabuhan Kecil Ambon. Dalam gelap lautan, di antara penumpang yang terlelap, imajinasi pun merayap. Seperti apakah kapal yang empat puluh tahun lalu melintasi perairan ini? Seperti apa wajah orang-orang yang saat itu diangkut paksa dari penjuru negeri? Apa yang ada dalam benak mereka tentang tempat yang mereka tuju? Tanah baru yang menyisipkan harapan atau justru tempat berakhirnya kehidupan? More

Masih Ada Kereta ke Pariaman, Bundo…

Setiap akhir pekan, kereta itu selalu penuh.  Pada libur Lebaran tahun lalu, penumpang membludak dan tak terangkut. Mereka semua ingin ikut mencicipi sensasi perjalanan di dalam besi panjang dengan mata yang selalu dimanjakan oleh keindahan. Menyusuri sawah yang hijau, naik turun perbukitan, dan melintasi sungai yang airnya mengalir deras. Semuanya bisa didapat dengan Rp15 ribu saja. Tapi itu dulu. Gempa bumi 7,9 skala Richter menghentikan operasi kereta wisata dari Padang ke Padang Pariaman. More

Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Mumpung Kebebasan itu Masih Ada

Apa gambaran Anda tentang tempat bulan madu? Paket lengkap wisata Bali  atau perjalanan ke berbagai negara, mendatangi tempat yang ditawarkan di brosur wisata?

Impian saya tentang bulan madu adalah pulau yang sepi dengan pantai yang indah. Tak ada belanja, tak ada musik dan keramaian. Tempat dimana saya dan suami hanya akan bermalas-malasan dan bermesraan dengan bebas. Di alam terbuka, kapan saja, karena pulau itu hanya milik saya dan dia.

Impian itu yang membawa kami berdua ke Gili Meno –salah satu pulau di Lombok – minggu terakhir Desember 2008. Kami memilih Meno setelah mempertimbangkan beberapa pulau impian lainnya. Seperti Togian di Teluk Tomini,  Wakatobi di perairan  Sulawesi Tenggara, hingga beberapa pulau di Kepulauan Riau. More

Sisa Gelombang Besar Itu Nyaris Tiada…

Sisa Gelombang Besar Itu Nyaris Tiada

Oleh : Okky Puspa Madasari

Awalnya, kedatangan kami ke Phuket memang hanya untuk Maya Bay. Impian tentang surga dunia yang dinikmati Leonardo DiCaprio dalam film The Beach. Satu tempat rahasia di Laut Andaman yang tersembunyi di balik karang raksasa. Tempat di mana waktu dan keindahan menjadi milik kami seutuhnya.

Empat hari berada di Phuket menyadarkan kami bahwa pulau ini tak hanya menawarkan Maya Bay, berenang di lautan, atau tiduran di kursi malas di pinggir pantai sambil menunggu matahari terbenam. Menikmati Phuket berarti menyaksikan geliat kehidupan setelah lima ribu nyawa terenggut akibat tsunami pada 26 Desember 2004 . More

Dinasti

Borders Bookstore, kawasan Orchard, Singapura, Jumat kedua November.

Saya menghabiskan siang yang diguyur hujan dengan membaca Mrs Kennedy : The Missing History of the Kennedy Years. Buku karya Barbara Leaming ini menceritakan kehidupan Jacqueline Kennedy semasa mendampingi John F Kennedy. Mulai dari perkenalan hingga saat Jacky harus meninggalkan Gedung Putih setelah suaminya tewas terbunuh.Entah kepiawaian Leaming dalam merangkai setiap kata atau memang ketertarikan saya pada kisah Nyonya Kennedy yang membuat buku itu bisa tuntas hanya dalam hitungan jam. Leaming adalah penulis biografi tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Marilyn Monroe dan Katharine Hepburn. Sementara Jacky Kennedy adalah bagian tak terpisahkan dari dinasti Kennedy yang belakangan ini sering menjadi bahan pembicaraan di tempat tinggal kami, terutama setelah Abdul berkesempatan mengunjungi John F Kennedy Presidential Library and Museum di Boston.

Adalah Joseph P Kennedy yang menjadi orang pertama dalam dinasti ini. Laki-laki berdarah Irlandia ini pada mulanya adalah seorang pebisnis yang kemudian sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika. Dengan modal itulah ia masuk ke dunia politik dan menjadi Duta Besar Amerika di Inggris, sebuah jabatan penting dan bergengsi di Amerika.

Lalu dimulailah dinasti politik itu. Anak-anaknya mendapat pendidikan di universitas-universitas bergengsi di Amerika, menjadi anggota kongres dan senat di usia muda, jaksa agung, pahlawan perang, duta besar, bahkan salah satunya berhasil menjadi presiden. Meski kemudian dua orang dari generasi kedua Kennedy terbunuh dengan latar belakang sentimen etnis dan agama, tak menyurutkan langkah generasi ketiga Kennedy untuk terjun ke politik.

Di negara lain, misalnya India, terdapat nama Gandhi sebagai keluarga yang turun-temurun berkiprah di politik. Di Indonesia, meski tak ‘seramai’ dinasti Kennedy atau Gandhi, keluarga Soekarno juga telah membentuk dinasti politik. Setelah generasi kedua, diantaranya Megawati, Guntur, dan Guruh, sekarang generasi ketiga, Puan Maharani, menjadi anggota DPR. Masih terdapat keluarga-keluarga lain yang juga eksis di pentas politik Indonesia meski belum menduduki jabatan nomor satu di negeri ini.

Biasanya anak seorang presiden atau ketua DPR atau pejabat apapun tidak akan kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berada di lingkaran jabatan bapaknya.

Jika seseorang memiliki bapak yang banyak uang atau seorang duta besar seperti Joseph Kennedy, tentu tak terlalu sulit baginya untuk bisa mendapat pendidikan yang bagus lalu terjun ke politik. Begitu juga bagi seorang Megawati atau Puan, tentu bukan hal yang terlalu aneh jika mereka bisa menjadi pengurus partai, menjadi anggota DPR, bahkan presiden. Atau bagi seorang Agus Yudhoyono yang sekarang sedang belajar di Harvard, tak terlalu menakjubkan jika dua periode kepresidenan mendatang dia menjadi orang nomor satu di negeri ini. Semuanya terbuka bagi mereka : uang, kemampuan, kesempatan, dan nama besar.

Yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang menjadi perintis dinasti. Orang-orang yang bukan anak siapa-siapa, yang dengan keterbatasan kesempatan dan keadaan membuat segalanya jadi mungkin. Sayangnya, tak semua orang bisa melakukannya.

Dalam beberapa pertemuan dengan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia, saya kerap membayangkan tentang kemungkinan masa depan bagi mereka. Katanya mereka bisa jadi presiden, bisa jadi jenderal, bisa jadi anggota DPR, bisa jadi ilmuwan, atau bahkan bisa pergi ke bulan. Katanya siapapun bisa meraih cita-citanya, asal mau berusaha, asal mau belajar. Memang begitulah teorinya.

Departemen Pendidikan sangat gemar menggunakan jargon-jargon ini. Membuat iklan televisi yang ditayangkan berpuluh kali sehari, membuat poster besar yang ditempelkan di penjuru negeri. Isinya tentang anak-anak sekolah di berbagai daerah, berseragam lengkap dengan topinya, sedang membaca buku atau mendengarkan guru. Semua orang ingin diberitahu pemerintah sudah membuat sekolah di mana-mana. Semua anak bisa sekolah, berseragam, dan membaca buku.

Di bagian lain, Departemen Pendidikan suka mengulang-ulang kisah bagaimana seorang anak yang bapaknya sopir bisa jadi pilot. Seorang anak tukang bangunan bisa jadi astronot atau yang bapaknya loper koran bisa jadi wartawan. Pesannya jelas, semua anak bisa menjadi apapun yang lebih baik dari orang tuanya, asal mau belajar, asal rajin berdoa. Dan saya tak selalu percaya.
Lupakan soal nasib, lupakan soal takdir, lupakan soal satria piningit. Kenyataanya, untuk menjadi presiden atau anggota DPR orang paling tidak harus lulus SD, lalu ke SMP, lalu SMA (di Indonesia lulusan SMA bisa jadi presiden). Untuk jadi dokter orang harus kuliah kedokteran yang biayanya tak murah. Kalau mau jadi jaksa, pengacara, wartawan, pilot, orang juga harus sekolah sampai universitas.

Bagaimana bisa pemerintah begitu berbangga ketika bisa membangun sekolah dasar di satu daerah? Lalu apa setelah itu? Kenyataanya, setelah lulus sekolah dasar banyak dari mereka memilih ikut berjuang mencari makan. Yang bisa lulus SMP atau SMA pun hanya melanjutkan apa yang biasa dilihatnya : pekerjaan orang tua, pekerjaan paman, pekerjaan tetangga. Terlalu mewah bagi mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Membayar biaya kuliah yang tak lagi murah, menanggung biaya hidup di kota lain, dan di saat bersamaan keluarga di desa serba kekurangan.

Novel Laskar Pelangi seringkali menjadi sebuah ‘kitab suci’ bagi anak-anak miskin atau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil. Mereka seperti mendapat gambaran bahwa seseorang seperti mereka juga bisa kuliah sampai ke Perancis. Tapi jangan lupa, Laskar Pelangi juga menyampaikan fakta, bagaimana Lintang – seorang anak yang pintar – harus melepaskan semua cita-citanya, berhenti sekolah untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Saya percaya pendidikan yang baik (bukan sekedar sekolah dasar ala kadarnya) adalah cara sesorang untuk memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan pendidikan seseorang bisa keluar dari kemiskinan, merambat ke atas, lalu memainkan peran yang berbeda dengan orang tuanya atau tetangganya. Menjadi presiden, politikus, jenderal, dokter, pengacara, atau apapun yang menjadi cita-cita.

Dengan pendidikan yang bermutu, siapapun bisa mendapatkan apa yang dimiliki generasi Kennedy atau generasi Soekarno. Masalahnya, bagaimana ketika pendidikan yang bermutu hanya terbuka bagi orang-orang yang punya uang saja?

*Foto Keluarga Kennedy diambil dari www.bittendandbound.com

on the Road : Home

Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

Sawah-sawah yang selalu hijau, di tanah datar atau lereng-lereng yang curam. Jalan utama yang hanya cukup untuk dua mobil, dengan toko-toko kecil di kiri kananya. Di ujung sana ada sebuah gunung, tinggi tapi tak angkuh. Dengan puncak yang landai dan cenderung rata.

Sungai-sungai berbatu yang deras saat musim penghujan, air terjun yang membuat tubuh beku, dan sebuah telaga di tengah pohon-pohon pinus.

Udara yang senantiasa bersih, meski tak selalu dingin dan tahun-tahun belakangan menjadi kering waktu kemarau. Matahari yang muncul dari balik rumah tetangga dan menghilang di sebuah pematang. Waktu yang selalu melambat, membiarkan semua orang berbaringan menikmati siang di teras belakang rumah.

Truk-truk pengangkut tebu yang berlalu lalang saat musim tebang. Juga bau yang khas saat melewati pabrik pembuat gula.

Desa-desa yang rapi. Rumah joglo tua dengan kandang-kandang di sampingnya. Mangga-mangga yang bergelantungan di setiap halaman. Menua, menguning, hingga codot-codot memakannya.

Anak-anak sekolah yang bersepeda atau berebut angkota. Pegawai-pegawai yang pulang ke rumah saat hari masih terang. Ibu-ibu yang duduk sambil mengobrol di warung kelontong dekat rumah.

Sego pecel yang tak pernah membosankan meski dimakan setiap pagi selama bertahun-tahun, gule kambing yang nikmat, juga ayam panggang sisa selametan yang selalu terbayang saat sedang menikmati ayam goreng dari negeri seberang.

Bagaimana bisa aku tak menyadarinya?

Prev Older Entries