Cerita dari Muara

Pendiri ASEAN Literary Festival, Okky Madasari & Abdul Khalik, pada malam pembukaan ASEAN Literary Festival 2015

Lima tahun lalu kami memulainya dari Muara.

Kami menyatukan energi yang kami miliki, menyelaraskan langkah untuk bersama-sama berbuat sesuatu. Untuk tidak sekedar menjalani hidup dan sibuk dengan diri kami sendiri.

Pada awalnya adalah keinginan untuk memanfaatkan bagian rumah kami yang tidak terpakai. Kami membeli rumah dengan lahan yang cukup luas di Kampung Muara, Tanjung Barat, Jakarta Selatan itu pada bulan Mei 2010. Rumah itu kami beli dengan sistem kredit perumahan selama dua puluh tahun. Itu bukan sebuah waktu yang singkat. Buat kami yang tak pernah bisa terikat ini, mengambil kredit rumah 20 tahun adalah sebuah keputusan yang besar dan sangat dilematis. Bagaimana bisa kita akan menggadaikan diri kita sepanjang dua puluh tahun, untuk membayar angsuran? Tapi adakah pilihan yang lain? Sebagai pasangan muda, yang masa kerjanya baru seumur jagung, sudah pasti kami tak punya tabungan. Alternatif yang paling masuk akal adalah mengandalkan bantuan orang tua atau warisan. Syukurnya, kami pun sama sekali tak mendapatkannya :D

Kami tetap membeli rumah itu. Dalam keyakinan kami saat itu, tinggal di rumah sendiri akan menjadi awal dari kehidupan kami yang lebih terarah, lebih memiliki tujuan yang jelas. Bagi saya khususnya, rumah itu akan menjadi tempat paling nyaman saya untuk menulis, tempat saya melahirkan karya-karya saya selanjutnya. Dan jika ditengok kembali sekarang, rasanya keyakinan itu sama sekali tidak salah.

Minggu pertama menempati rumah itu, kami berkeliling kampung, ingin kenal lebih akrab dengan lingkungan tempat tinggal kami yang baru ini. Kami melihat begitu banyak anak kecil terutama balita di kampung ini. Lalu ide itu muncul begitu saja. Kami ingin memanfaatkan sebagian rumah kami untuk menjadi sekolah bagi anak-anak itu. Kami bergerak dengan cepat, impulsif, diragukan dan ditertawakan banyak orang, hingga kemudian dua bulan kemudian, tahun ajaran pertama sekolah Muara dimulai.

Seiring waktu, Muara tidak hanya menjadi kampung tempat tinggal kami. Muara, sebagaimana namanya, menjadi tempat segala arus bertemu, tempat kami berproses dan memasak setiap ide dan imajinasi. Mimpi kami untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi semua orang berpadu dengan keyakinan dan kecintaan kami pada dunia literasi, sastra, dan seni.

Empat tahun setelah sekolah Muara berdiri, kami memulai babak baru dengan melahirkan sebuah muara yang menjadi ruang bertemunya karya dan pemikiran, semangat dan pengetahuan, apresiasi dan kritik, sastra dan permasalahan manusia. Muara itu kami namai ASEAN Literary Festival.

Tahun 2015 ini, memasuki tahun kedua penyelenggaraan ASEAN Literary Festival sekaligus tahun kelima dari Muara. Usia yang masih sangat dini. Perlu ikhtiar yang serius, pemeliharaan energi terus menerus, kerja keras dan ketulusan untuk terus merawatnya. Hingga kelak cita-cita dan semangatnya menjadi tradisi…

Kampung Muara, 9 April 2015

Prev Next