Interupsi di Tengah Kebisingan

*) Pengantar dalam booklet Khatulistiwa Literary Award 2013

Setelah novel “Maryam” meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012, berulang kali saya mendapat pertanyaan serupa: Apa arti kemenangan ini bagi saya?

Tentu saja penghargaan ini punya arti besar bagi saya. Dengan meraih KLA 2012, karya saya semakin didengar dan diperhatikan. Novel-novel saya dibaca oleh semakin banyak orang. Itu artinya, pengalaman yang ditawarkan oleh novel-novel saya bisa dialami oleh lebih banyak orang hingga akhirnya lahirlah kesadaran-kesadaran baru dalam diri banyak orang.

Dari sisi saya sebagai pembaca, KLA merupakan salah satu referensi saya dalam memilih bacaan. Buku-buku yang masuk daftar nominasinya melengkapi daftar buku yang saya baca. Tentu nominasi KLA bukanlah sebuah kebenaran. Tidak pula diartikan bahwa hanya buku yang masuk dalam daftar tersebut yang penting untuk dibaca.  Sebagai referensi, daftar nominasi KLA adalah satu sudut pandang yang hanya akan berarti jika bertemu dengan sudut pandang-sudut pandang lainnya.

Tahun ini, KLA memasuki tahun penyelenggaraan yang ke-13. Ia menjadi saksi atas geliat sastra dan dunia perbukuan di Indonesia dalam 13 tahun terakhir. KLA turut mencatat bagaimana semangat kebebasan pasca reformasi dan penemuan teknologi mendorong pertumbuhan dunia tulis-menulis di Indonesia.

Penemuan teknologi memberi peluang bagi semua orang untuk menulis dan dibaca oleh banyak orang. Melalui blog, Facebook,  hingga kicauan 140 karakter di Twitter, setiap orang memiliki kesempatan luas untuk menulis dan menjadi penulis. Bersamaan dengan itu, penemuan alat cetak yang lebih modern memungkinkan semakin banyak orang untuk menerbitkan buku dengan biaya murah. Inilah masa di mana semua orang bisa menjadi penulis dan bisa menerbitkan buku.

Tentu, segala kemudahan dan minat yang begitu tinggi pada sastra dan dunia tulis menulis ini merupakan kabar yang menggembirakan. Tapi di satu sisi, luapan karya ini menyisipkan pekerjaan besar. Toko buku jadi medan pertempuran. Karya-karya baru datang tiap harinya, menggeser karya-karya sebelumnya. Rak-rak yang tertangkap pandangan mata dipenuhi buku-buku berlabel “laris” dengan genre yang serupa: buku-buku islami, kisah-kisah motivasi untuk mencapai kesuksesan pribadi, karya-karya yang membuai dan membuat pembaca semakin jauh dari realita. Sementara buku-buku yang mengajak pembaca membuka mata atas realita semakin tersisih di rak paling belakang hingga akhirnya disingkirkan ke gudang.

Jauh di luar toko buku, media massa dan media sosial juga menjadi arena pertarungan. Setiap orang berlomba untuk saling mempengaruhi dan menyebarkan gagasan. Sialnya, tidak setiap orang punya kesadaran untuk menentukan sikap dan pilihan berdasarkan pikirannya sendiri. Akibatnya, pilihan atas bacaan kerap hanya berdasarkan “ikut-ikutan”. Maka yang ramai dibicarakan dijadikan patokan. Orang-orang yang punya banyak pengikut menjadi panutan. Apa yang ramai di media sosial itulah yang  kemudian berjajar dalam barisan rak laris toko buku.

Sekali lagi, tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja ada hal yang patut kita renungkan ketika kita sekali lagi melirik buku-buku yang terpajang dalam rak utama toko buku-toko buku kita belakangan ini.

Di sini KLA menjadi tumpuan harapan. KLA memberi tawaran bacaan yang tak  ditentukan oleh berapa banyak orang yang membeli dan membicarakan. KLA menjadi alternatif di tengah selera yang diciptakan oleh kerumunan. KLA dengan karya-karya pilihannya seolah menjadi interupsi yang menyeruak di tengah kebisingan.

Terima kasih untuk KLA dan Richard Oh sebagai pendiri dan perawat penghargaan tahunan ini. Semoga KLA terus bertahan menghadapi segala tantangan dan kesulitan.

Jakarta, November 2013

-Okky Madasari-

Prev Next