Okky Madasari, Mensyukuri Anugerah Hidup

Republika, Jumat 16 Desember 2011
Uswah
Oleh Indah Wulandari

Selalu ada nilai-nilai keislaman dalam setiap karyanya.

Menjalani hidup dari sisi pinggir membuat jiwa kritis novelis Okky Madasari tak melempem. Di tengah ketenangan dan kemapanan hidupnya, ia kian produktif berkarya dengan membidik masalah-masalah sosial.

Entrok, novel perdananya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada April 2010. Novel ini bercerita tentang keberagaman keyakinan dan kesewenang-wenangan militer pada masa Orde Baru. Novel keduanya, 86, terbit pada Maret 2011. Kali ini, ia mengangkat tema tentang korupsi.

“Novel ini lahir dari keprihatinan atas praktik-praktik korupsi di negeri ini, terutama yang kulihat langsung selama menjadi wartawan di bidang hukum selama empat tahun,” ungkap Okky yang pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah media cetak terbitan Ibu Kota.

Memang, dunia kepenulisan selalu membuntuti angan Okky. Setamat kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dia memilih berkarier sebagai wartawan. Inilah profesi yang dicita-citakannya sejak duduk bangku sekolah. Namun, akhirnya ia memilih berhenti dari profesi ini untuk memulai karier baru sebagai novelis.

Nyatanya, pengalaman sebagai wartawan menguntungkannya. Hal itu setidaknya terlihat pada karya-karya novelnya. Gaya tulisan dan bahasanya ringkas tapi elok dinikmati. Ganjarannya, novel 86 masuk dalam nominasi Khatulistiwa Award 2011. Prestasi ini mengantarkannya ke berbagai diskusi sastra bergengsi, seperti International Literary Biennale 2011 di Salihara.

Kecintaan pada dunia sastra dan tulis-menulis mengantarkannya pula pada proses kreatif penciptaan lagu. Lirik-lirik indah dan bermakna dirangkai dengan alunan pianonya. Tak hanya dinikmati sendiri, Okky ingin pula mengajak khalayak untuk menyimak lagu-lagunya. Maka, lahirnya mini album Terbangkan Mimpi pada Agustus lalu. Minialbum ini memuat tiga lagu, yakni “Terbangkan Mimpi”, “Sesaat Bersamanya”, dan “Hiasan Waktu”.

Namun, dunia tulis-menulis tetap tak tergantikan. Saat ini, Okky baru saja menyelesaikan novel ketiganya yang berlatarkan tragedi kemanusiaan di Pulau Lombok, Maryam. Untuk novel ini, ia melakukan observasi di beberapa lokasi terjadinya insiden pengusiran terhadap kelompok keyakinan minoritas.

Novel yang bakal dirilis pada Januari 2012 itu menjadi bentuk protes Okky pada kekurangpedulian pemerintah terhadap perlindungan kaum minoritas dan pemenuhan hak asasi manusia. Secara bersamaan, ia pun berencana meluncurkan full album pop balada “Terbangkan Mimpi”. “Beberapa liriknya berasal dari satu inspirasi cerita (dari novel Maryam) yang mengangkat masalah sosial kemasyarakatan,” jelasnya.

Kepedulian Okky tak hanya diwujudkan dalam bentuk tulisan. Setelah tiga tahun menikah dan tinggal di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, dia menemui fakta bahwa beberapa tetangganya kesulitan menyekolahkan anaknya.

Setelah meminta izin sang suami, dia memanfaatkan sebidang lahan sebagai tempat pendidikan awal bagi para tetangganya yang kurang beruntung dari sisi ekonomi. Untuk ini, ia membentuk sebuah lembaga bernama Yayasan Muara Bangsa (YMB). Yayasan yang telah berdiri sekitar dua tahun ini bergerak di bidang pendidikan usia dini, anak-anak pinggiran, kurang mampu, dan korban bencana.

Bekerja di rumah
Kini, Muslimah yang pernah menjadi dosen di Universitas Paramadina, Jakarta, ini sangat bersyukur atas pilihan hidupnya. Setelah melakoni berbagai profesi, Allah SWT menuntunnya ke sebuah jalan penuh berkah, yakni menjadi ibu rumah tangga yang produktif.

Ia mengakui, awalnya tak sedikit orang-orang terdekatnya yang heran dengan pilihan hidupnya. Cerdas, berwawasan, tapi kok hanya bekerja di rumah? Namun, Okky sama sekali tak terusik. “Justru aku bisa fokus memanfaatkan waktuku untuk menghasilkan sesuatu yang lebih produktif,” katanya memberi alasan.

Setelah berhasil mewujudkan impiannya menghasilkan karya seni, Okky berharap Allah kembali mengabulkan impiannya untuk menempuh jenjang pendidikan master. Begitu pula impian terindahnya untuk menimang anak. Dia ingin menikmati indahnya menjadi perempuan sejati. “Anak adalah karunia Allah yang terindah, tapi kehidupan yang saya jalani juga anugerah yang tidak terhingga dari-Nya,” ujar wanita yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu, Jawa Timur ini.

Sebagai seorang Muslimah, Okky mengakui, selalu ada nilai-nilai keislaman dalam setiap karyanya. “Mungkin inilah saatnya kita harus menyadarkan masyarakat bahwa religius tidak berarti hanya melaksanakan lima rukun Islam tapi tetap berperilaku tercela, misal naik haji tapi tetap korupsi,” katanya. Religius, menurutnya, adalah bagaimana tujuan tertinggi agama, yakni kebaikan, terwujud dalam perilaku kita terhadap sesama manusia, dalam bingkai kemanusiaan.

“Agama buat saya bukan sekadar tentang surga dan neraka. Agama bagi saya adalah tuntunan atas perilaku saya hidup di dunia. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik dengan berdasarkan tuntunan agama.”

Okky pun menjadikan agama sebagai petunjuk untuk memperlakukan manusia dan makhluk hidup lainnya. Agama jadi penuntun berperilaku sehari-hari. Agama juga jadi hukum tertinggi dalam dirinya sebelum dia bersentuhan dengan hukum-hukum ciptaan manusia. “Dengan demikian, saya tak akan pernah korupsi karena agama saya jelas melarang kita mengambil yang bukan hak.”

Biodata

Nama: Okky Puspa Madasari
Nama Pena: Okky Madasari
Lahir: Magetan, 30 Oktober 1984
Pendidikan terakhir: Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM
Novel: – Entrok
-  86
- Maryam

Prev Next

Leave a Reply