Love Reading, Love Writing

“Reading is the simplest political activity we can do.” – Okky Madasari

As a kid I like reading detective stories by Alfred Hitchcock, the Three Investigators. The books’ suspenseful content makes me want to become a detective myself. I started reading serious literature as an adult. The most memorable one is Umar Kayam’s Para Priyayi (Javanese Gentry). After reading that book, a thought occured to me: I must write a novel. The novel shows that a simple family story could capture the society’s condition. I also realize that a story told in a simple way, like a fairytale, really have the force to shake the soul.

For non-fiction, I read Michel Foucault, Edward Said, Antonio Gramsci and Karl Marx. They teach me to continously question societal norms and dominant ideas instead of submitting ourselves to what the majority says. Reading is the simplest political activity we can do.

http://jakplus.com/?p=7044

Menggugah Kesadaran lewat Majalah Wanita

Yang selalu saya ingat dari majalah Kartini tentu saja rubrik Oh Mama Oh Papa yang legendaris itu. Sejak kecil saya selalu mencuri-curi kesempatan utk membaca rubrik itu. Jangan-jangan rubrik itu pula yang turut membentuk saya menjadi penulis prosa ;) Senang sekali bisa bercerita pada majalah wanita dgn oplah terbesar yg sudah berumur lebih dr 40 th ini. Tentu saja bukan utk rubrik Oh Mama Oh Papa.

Islam & Contemporary Women’s Literature

Symposium of Islam & Contemporary Women’s Literature in Hittisau, Austria, held by the Austrian government, 18-22 August 2015. 5 woman authors from 5 countries are invited to share their ideas. Every writer have a 3 hour session where everybody can speak, ask question & debate. I was presenting my idea of “The Battle of Narrations”.

Story about the symposium becomes headline in an Austrian media: http://www.vorarlbergernachrichten.at/abend/2015/08/20/die-richtigen-fragen-gefunden.vn

Saya dan Jawa Pos

Saya tumbuh bersama Jawa Pos. Bisa dibilang ini adalah koran wajib untuk masyarakat di kota kelahiran saya, Magetan, dan juga masyarakat Jawa Timur dan Indonesia bagian timur pada umumnya. Ini adalah kali kedua saya berkesempatan muncul di koran tersebut, setelah kali pertama 3 tahun lalu dalam feature di halaman pertama. Terima kasih, Jawa Pos!

Rumah Muara

Rumah adalah sarang imajinasi dan kreativitas. Maka bercerita tentang rumah, sesungguhnya adalah bercerita tentang imajinasi dan kreativitas.

Berikut ini sedikit cerita tentang “Rumah Muara” yang ditayangkan di Metro TV, 2 Agustus 2015.

Rumah Muara – Tropical Home Library

dan cerita tentang Rumah Muara di Jawa Pos edisi 15 September 2015.

Karena setiap rumah adalah puisi!

Evoking and Changing Indonesia through Literature

Female; young; fighting for humanity through literature: that is Okky Madasari, one of Indonesia’s important novelist on the rise. At 28, this woman who was born in Magetan East Java in 1984, had already won the most prestigious literary award in the country: Khatulistiwa Literary Award, for her third novel: “Maryam”. This made her as the youngest writer ever winning this important award. Previously, for three consecutive years (that is, since she was only 25 years old), her novels continued to be nominated at the same event.

In all of her four novels, this woman having a bachelor degree in political science and a master in sociology consistently voiced freedom and human rights, as well as fighting various kinds of oppression. Reading her novels means seeing the face of Indonesia. However, though Okky’s stories are about Indonesia and the Indonesian people, the problems and messages in her novels are universal and fundamental.

In the last March 2015, we had the honour to talk with this rare woman, who also is the initiator and director of ASEAN Literary Festival. And, we’d like to share this honour with you too, dear readers. Enjoy reading! More

Membaca Wiji dan Melahirkan Wiji Kembali

Lima puluh dua tahun silam, laki-laki ceking itu lahir di kota ini. Ia tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya kota ini. Ia melihat bagaimana bangunan-bangunan mulai menggusur pohon-pohon besar, bagaimana diskotik dan toko roti bermunculan. Sementara tempatnya tinggal terasa semakin kumuh dan becak yang dikayuh bapaknya terasa semakin reyot, tak mampu bersaing dengan motor-motor Honda yang semakin banyak jumlahnya.

Laki-laki itu tumbuh dengan melihat Pak RT dan Pak RW yang petentang-petenteng, memaksanya turun dari panggung tujuh belasan karena menganggap sajak-sajaknya sungguh kurang ajar. Hingga kemudian ia harus terpaksa meninggalkan kota ini, pergi dari rumahnya sendiri, karena terus dikejar-kejar tentara dan polisi. More

Cerita dari Muara

Pendiri ASEAN Literary Festival, Okky Madasari & Abdul Khalik, pada malam pembukaan ASEAN Literary Festival 2015

Lima tahun lalu kami memulainya dari Muara.

Kami menyatukan energi yang kami miliki, menyelaraskan langkah untuk bersama-sama berbuat sesuatu. Untuk tidak sekedar menjalani hidup dan sibuk dengan diri kami sendiri.

Pada awalnya adalah keinginan untuk memanfaatkan bagian rumah kami yang tidak terpakai. Kami membeli rumah dengan lahan yang cukup luas di Kampung Muara, Tanjung Barat, Jakarta Selatan itu pada bulan Mei 2010. More

Prev Older Entries Next Newer Entries