Pada hari Pilkada, sesaat setelah hasil hitung cepat diumumkan, saya menulis usulan serius di Twitter untuk Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Saya usul; AHY mestinya mengikuti jejak Ridwan Kamil dan Emil Dardak. Memulai dari bawah, berproses. Pemimpin masa depan yang sesungguhnya. AHY bisa mulai dengan jadi bupati Pacitan.

 

Twit itu langsung beredar luas. Banyak yang menyetujui, banyak yang menambah komentar-komentar lucu dan cemooh, seakan usulan saya itu memang berniat untuk mengolok-olok dan menertawakan AHY. Padahal sama sekali tidak. Saya betul-betul serius.

 

Sebagai bagian dari generasi muda, saya cukup optimis terhadap masa depan negeri ini saat melihat tokoh-tokoh muda berkualitas terpilih sebagai pemimpin daerah. Ridwan Kamil dan Emil Dardak adalah dua nama yang bisa menjadi contoh. Ridwan Kamil terpilih menjadi gubernur Jawa Barat setelah menjabat sebagai walikota Bandung, sementara Emil Dardak terpilih sebagai wakil gubernur Jawa Timur setelah sebelumnya menjadi bupati Trenggalek.

 

Kedua tokoh ini sama-sama tumbuh dengan paparan ilmu pengetahuan dan informasi. Keduanya mendapat pendidikan terbaik dari universitas-universitas terkemuka di luar negeri. Masing-masing memiliki latar belakang keilmuan yang tak hanya berguna untuk mencapai kesukseskan karier pribadi mereka, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat luas. Lalu keduanya berminat pada politik. Tentu tak ada yang salah. Ini juga bagian dari bentuk kesadaran bahwa politik selalu merupakan hulu dari semua bidang kehidupan.

 

Sistem demokrasi membuka kesempatan pada siapa pun untuk ambil bagian di panggung politik. Pemilihan kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota, membuka semakin banyak peluang sekaligus mengingatkan bahwa panggung politik bukan hanya ada di tingkat nasional dan Indonesia bukan hanya Jakarta.

 

Ridwan dan Emil menunjukkan bagaimana caranya untuk memulai perjalanan politik. Mereka ambil kesempatan untuk membuktikan diri di daerah, mereka jadikan politik sebagai ajang perlombaan untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang di daerahnya. Ketika upaya mereka terbukti dan orang percaya pada mereka, jabatan politik yang lebih tinggi niscaya menjadi tantangan baru untuk mereka.

 

Politisi muda seperti Ridwan dan Emil mampu memupus apatisme banyak orang, terutama anak-anak muda, terhadap politik. Kita tak lagi hanya melihat wajah politisi generasi lama yang tak menawarkan gagasan, yang tak menunjukkan kerja keras, apalagi semangat pengabdian.

 

Sayangnya, di saat yang sama, nun jauh di Jakarta, hari-hari ini kita melihat bagaimana seorang pemuda yang berkualitas, mumpuni, dan berpotensi untuk memimpin negeri ini, justru sibuk menjadi boneka politik. Ia dimainkan ke sana ke mari oleh dalang di belakangnya. Ia mendekat ke sana ke mari, berharap untuk diambil sebagai calon presiden atau calon wakil presiden. Padahal kita semua tak tahu, apa yang sudah dilakukannya untuk orang banyak, untuk rakyat Indonesia. Sekadar gagasan pun tak terdengar.

 

Saya tak akan berusaha menutupi identitas pemuda itu. AHY namanya. Seseorang yang dulu saya yakini akan jadi salah satu pemimpin negeri ini kini malah jadi bagian dari badut politik yang berakrobat dalam pertunjukan sirkus kekuasaan. Ia merusak iklim politik anak muda yang telah susah payah dibangun untuk memperbaiki sistem politik di negeri ini. Ia menjadi wajah anak muda yang mengembalikan politik sekadar menjadi ajang negosiasi kepentingan elit, alih-alih menjadi ajang adu gagasan dan program.

 

Di tengah optimisme saya menatap masa depan negeri ini, saya menulis ini dengan segenap kesedihan melihat apa yang dipertontonkan oleh seorang pemuda yang mestinya bisa menjadi inspirasi untuk pemuda-pemuda lain di negeri ini.

 

Meski demikian, saya percaya belum terlambat bagi AHY untuk membangun karier politik yang cerdas dan bermartabat. Ia hanya butuh untuk kembali pada potensi dirinya, berpikir dan bertindak dengan akal dan hati nuraninya. AHY harus menunjukkan kualitas pribadinya sebagai seorang manusia yang otonom, seorang manusia yang mampu berpikir dan bertindak merdeka.

 

AHY memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal selain sekadar menunggu pinangan untuk menjadi wakil presiden. Menjadi bupati Pacitan tentu hanya salah satu usulan saja. Tapi jika itu bisa jadi kenyataan, tentu bukan sebuah hal yang memalukan. Justru itu bisa menjadi kesempatan emas untuk AHY. AHY bisa gunakan potensinya untuk membangun sebuah daerah yang rentan bencana dan kemiskinan menuju kemakmuran.

 

Jika hal seperti itu bisa terjadi, AHY akan menjadi sumber inspirasi banyak pemuda negeri ini. AHY bisa merebut kepercayaan rakyat dan menjadi contoh bagaimana seorang pemuda memasuki politik dengan bermartabat. Hanya dengan demikian, label “Pemimpin Masa Depan” akan disematkan oleh rakyat kepadanya.

***

Diterbitkan Jawa Pos AHY dan Martabat Politik Pemuda

Tags

1965 Aceh Agus Yudhoyono Ahok Anarchism Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Corruption Democracy Detik Dhjksh Disabilitas Education Education Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Novel Baswedan Padang Pariaman Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Psychoanalitical Puisi Pulau Buru Ramadan Ramos Horta Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Seri Mata Singapore Social Media Solo, Solitude Soul Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan