Novel-novel Mbak Okky sebelumnya membahas tentang korupsi, Ahmadiyah, dan buruh. Apa yang membuat Mbak Okky memutuskan untuk menulis sesuatu yang lebih "pop" di buku terbaru ini?

Saya rasa tidak tepat menyebut novel terbaru saya ini lebih "pop". Yang lebih tepat adalah saya menuliskan tentang problem terkini dari kehidupan masyarakat kita sekarang ini terutama bagaimana generasi muda hidup dalam era teknologi. Teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekarang. Ini hal yang sangat penting untuk ditulis dalam sebuah novel. 

 

Hal apa yang melatarbelakangi munculnya novel Kerumunan Terakhir?

Yang melatarbelakangi adalah kegelisahan saya melihat melihat situasi masyarakat di tengah perkembangan teknologi informasi. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya, misal: kenapa generasi skrg jadi kurang kritis? Bagaimana mencegah budaya instan menjangkiti masyarakat kita? Bagaimana mengajak generasi hari ini untuk tetap mendengar akal sehat dan hati nurani di tengah kepungan suara media sosial. Hal-hal seperti itu yang mendorong saya menulis Kerumunan Terakhir.

 

Apakah ada perbedaan proses kreatif saat menulis novel ini dan novel-novel sebelumnya?

Kerumunan Terakhir merupakan novel saya yang paling lama ditulis. Tiga tahun. Mungkin karena saya menuliskan hal baru yang berbeda dari novel2 saya sebelumnya.

 

Di antara banyak media sosial yang digemari dan *booming*di Indonesia, kenapa memilih Twitter dan Facebook?

Twitter dan Facebook paling dominan, paling banyak digunakan orang. Juga langsung memiliki kaitan dengan isu2 dlm masyarakat. Keduanya juga bisa membentuk opini publik dan kebijakan politik.

 

Teknologi dan media sosial memiliki banyak dimensi yang menarik untuk diselami. Apa yang membuat Mbak Okky untuk memilih tentang perbedaan identitas di dunia nyata dan maya sebagai fokus utama buku ini?

Fokus utamanya bukan tentang perbedaan identitas. Tapi tentang bagaimana manusia zaman ini hidup di dunia sehari-hari sekaligus di dunia internet.

 

Seperti apa pandangan tentang dunia yang ingin Mbak berikan dalam novel Kerumunan Terakhir?

Saya ingin mengajak generasi hari ini yang hidup dengan teknologi, yang berrumah di internet, untuk selalu kritis, tidak sekadar ikut-ikutan, menggunakan akal sehat. Itu kondisi masyarakat yang ingin saya tawarkan melalui kisah novel tersebut.

 

Bagaimana Mbak Okky sendiri menanggapi dan menggunakan kemajuan media sosial dalam kehidupan sehari-hari?

Teknologi jelas mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Ia memudahkan banyak hal. Ia memotong jarak dan waktu. Tapi ia juga sekaligus menghadirkan pertanyaan, kegelisahan, dan problem baru. Ini adalah tantangan generasi kita yang coba saya hadirkan dalam Kerumunan Terakhir.

 

Wawancara dengan Diah Nur'aini, 2016

Tags

1965 Aceh Agus Yudhoyono Ahok Anarchism Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Corruption Democracy Detik Dhjksh Disabilitas Education Education Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Novel Baswedan Padang Pariaman Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Psychoanalitical Puisi Pulau Buru Ramadan Ramos Horta Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Seri Mata Singapore Social Media Solo, Solitude Soul Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan