Kapan pertama kalinya anda bertemu/berinteraksi dengan individu lesbian, biseksual trans dan queer? Apa reaksi anda saat itu? Adakah perbedaan reaksi saat bertemu dengan lesbian, biseksual, trans dan queer? Bagaimana perjumpaan dan interaksi tersebut merubah cara pikir anda?

Saya bertemu, berinteraksi dengan LGBT baru setelah saya pindah ke Jakarta, kira-kira hamper 15 tahun lalu. Dari interaksi tersebut saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana mereka sebagai individu harus menghadapi berbagai macam kesulitan dalam lapis-lapis kehidupan mereka. Ini belum lagi kalau kita bicara soal ketidakadilan yang harus mereka hadapi akibat dari sistem norma, agama, aturan hukum. Dari situ saya sadar, mereka butuh keberpihakan kita. Membela hak mereka agar diperlakukan setara adalah bagian dari perjuangan keadilan dan kemanusiaan.

 

Kapan anda pertama kali memahami bahwa hak-hak LBT adalah bagian dari perjuangan feminis Indonesia? Bisakah anda menceritakan kenapa isu ini menjadi penting bagi perjuangan para feminis?

Pada saat saya menyadari bahwa membela hak mereka untuk diperlakukan setara, pada saat itu pula saya meyakini isu LGBT adalah bagian dari perjuangan feminis. Inti dari perjuangan feminisme adalah memperjuangkan kesetaraan bagi setiap individu tanpa melihat jenis kelamin dan orientasi seksual.

 

Apa makna hak dan keadilan bagi LBTQ di Indonesia menurut anda? Adakah makna yang spesifik bagi masing-masing kelompok (seperti hak untuk lesbian, hak biseksual, hak trans, hak queer)? 

Hak dan keadilan bagi LBTQ adalah bagian dari hak dasar manusia. Setiap individu berhak diperlakukan setara, harus dipenuhi hak-haknya tanpa melihat jenis kelamin dan orientasi seksual. Lebih dari itu, memilih jenis kelamin dan orientasi seksual adalah bagian dari hak asasi manusia.

 

Ruang perbincangan apa yang anda telah bangun selama ini untuk secara dalam mendiskusikan persoalan yang dihadapi oleh individu, kelompok maupun gerakan LBTQ? Apa saja pembelajaran baiknya?

Saya seorang pengarang. Melalui cerita-cerita yang saya tulis, saya membangun diskursus, saya mengemukakan persoalan dalam masyarakat, saya mengajak pembaca untuk melihat segala hal dari sudut pandang yang kritis, saya berupaya menyebarkan kesadaran baru bagi pembaca.

Persoalan LBTQ saya angkat dalam novel saya Pasung Jiwa (2013). Hal yang paling membahagiakan bagi saya sebagai penulis adalah ketika saya bertemu dengan pembaca dan mereka mengatakan setelah membaca novel saya pandangan mereka dalam melihat sesuatu jadi berubah. Salah satunya dalam melihat persoalan LBTQ.

 

Dengan hadirnya gerakan LBTQ; bagamana hal ini berdampak terhadap cara pandang ataupun strategi kerja anda?

Saya terus belajar dari setiap gerakan dalam masyarakat untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Kita juga bisa saling bersinergi untuk mencapai tujuan yang kita perjuangkan. Saya akan terus berjuang melalui karya sastra dan tulisan pada umumnya. Kawan-kawan gerakan akan berjuang lewat beragam jalur sesuai dengan minat, keahlian, dan kebutuhan di lapangan.

 

Apa yang menjadi kecemasan atau ketakutan dalam membangun dan menjaga ruang-ruang perbincangan tersebut? Bagaimana anda mengatasinya?

Kalau untuk saya pribadi dan apa yang saya lakukan, saya tak lagi punya ketakutan dan kecemasan itu. Tapi melihat perkembangan dalam masyarakat di mana represi dan persekusi terhadap yang dianggap berbeda semakin marak, yang menjadi kecemasan saya adalah itu menjadi terror yang menumbuhkan rasa takut pada public sehingga akhirnya mereka memilih untuk menerima apa yang dianggap benar oleh orang kebanyakan. Maka yang harus kita lakukan adalah terus menyalakan keberanian.

 

Apa yang akan anda sampaikan jika ada individu atau kelompok yang bertanya kenapa anda turut memperjuangkan hak dan keadilan bagi LBTQ di Indonesia?

Sama seperti jawaban saya untuk pertanyaan pertama dalam wawancara ini.

 

Bagaimana anda melihat posisi gerakan LBTQ dalam gerakan sosial, termasuk dalam lingkup kerja dan keahlian anda?

Saya rasa ini sudah terjawab.

 

Apa saja pertanyaan yang harus direspon oleh gerakan LBTQ, baik kelompok LBTQ nya sendiri maupun ally, dalam membangun arah dan keberlanjutan bagi hak-hak LBTQ di Indonesia?

 Buat apa merespons pertanyaan? Kita kan sedang memperjuangkan hak dasar manusia. Itu sudah jelas.

 

Wawancara dengan Qtabuku, 2018

Tags

1965 Aceh Agus Yudhoyono Ahok Anarchism Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Corruption Democracy Detik Dhjksh Disabilitas Education Education Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Novel Baswedan Padang Pariaman Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Psychoanalitical Puisi Pulau Buru Ramadan Ramos Horta Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Seri Mata Singapore Social Media Solo, Solitude Soul Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan