Membaca Wiji dan Melahirkan Wiji Kembali

Lima puluh dua tahun silam, laki-laki ceking itu lahir di kota ini. Ia tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya kota ini. Ia melihat bagaimana bangunan-bangunan mulai menggusur pohon-pohon besar, bagaimana diskotik dan toko roti bermunculan. Sementara tempatnya tinggal terasa semakin kumuh dan becak yang dikayuh bapaknya terasa semakin reyot, tak mampu bersaing dengan motor-motor Honda yang semakin banyak jumlahnya.

Laki-laki itu tumbuh dengan melihat Pak RT dan Pak RW yang petentang-petenteng, memaksanya turun dari panggung tujuh belasan karena menganggap sajak-sajaknya sungguh kurang ajar. Hingga kemudian ia harus terpaksa meninggalkan kota ini, pergi dari rumahnya sendiri, karena terus dikejar-kejar tentara dan polisi.

Laki-laki itu dipaksa pergi, meninggalkan kota yang menjadi tempat pertamanya belajar membaca kehidupan. Ia tinggalkan keluarganya, istrinya, anak-anaknya… seraya berbisik: Nganti Wani… Nganti Wani… Fajar Merah… Fajar Merah…. Dengan keberanian… hingga nanti fajar baru datang…

Laki-laki itu, Wiji Thukul, menolak tunduk dalam ketakutan. Ia memilih untuk tetap memelihara keberaniannya. Ia tantang dunia kekuasaan, ia lawan semua yang menginginkannya bungkam. Bagi Wiji, apa yang dituliskan dalam sajak-sajaknya, adalah sebuah laku yang harus dijalankan dalam hidupnya. Maka hanya satu kata: Lawan!

Wiji, seorang penyair yang selalu menandaskan karya-karyanya pada suara hati nurani, sangat sadar bahwa tak ada apapun di dunia ini yang bisa membeli kebebasannya dalam bersuara, dalam berkarya. Bersamaan dengan itu, Wiji adalah seorang sastrawan yang dari mula telah memiliki kesadaran bahwa seindah apapun kata-kata dirangkai, tak aka nada maknanya jika tak untuk menyuarakan hak dan harkat kemanusiaan.

Sejarah perjuangan manusia adalah sejarah merebut kebebasan, sementara sejarah kekuasaan adalah rangkaian pengaturan dan kontrol atas kehidupan banyak orang. Di tengah tarik-menarik itu, kebudayaan -melalui wujudnya: pemikiran, bahasa, karya seni, menjadi medan pertarungan.

Sebagai sebuah pertarungan, Wiji Thukul pun dipaksa untuk hilang. Ia dihilangkan dalam narasi sejarah kesusastraan kita. Kekuasaan Orde Baru telah merampas kebebasan dan karyanya. Lebih dari itu, kekuasaan telah merampas kebebasan kita untuk mengetahui, membaca, dan mempelajari karya-karya mereka yang luar biasa. Jika karya sastra adalah salah satu pembentuk dari jiwa manusia, maka kekuasaan telah merampas separuh dari jiwa kita. Kita – yang mengenyam pendidikan pada masa Orde Baru atau masa sekarang dengan narasi masa lalu – adalah kita yang sengaja dibentuk menjadi tak utuh.

Saya – dan sebagian besar yang sekarang ada di sini – adalah bagian dari generasi yang sengaja dibuat tak utuh itu.

Sastra sejak awal menjadi alat kekuasaan untuk mengontrol dan mengendalikan kita. Kekuasaan memilah mana yang boleh dan harus dibaca, mana yang harus dilarang dan dimusnahkan. Apa yang kita baca akan membentuk diri kita. Dan kekuasaan menyodorkan bacaan-bacaan yang meninabobokan kita dalam ilusi dan dalam impian: kenikmatan hidup, gemerlap hasil pembangunan, imaji atas kehidupan yang aman sesuai tatanan norma masyarakat, nilai agama, dan hukum negara.

Melalui bahasa, kekuasaan telah membangun batas tinggi di sekeliling kita. Batas yang memisahkan kita antara apa yang harus kita terima dan apa yang seharusnya kita lakukan dan perjuangkan. Batas antara kebohongan dengan kebenaran. Batas yang mengontrol kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bahasa pendidikan di sekolah, bahasa hukum, bahasa pendakwah, bahasa keluarga yang mengikuti anjuran penguasa, membentuk kita untuk berpikir bahwa apa yang ada dalam lingkaran batas itulah yang benar.

Hingga kemudian tiba-tiba gelombang perubahan datang pada tahun 1998. Kita adalah generasi yang tergagap dalam perubahan zaman. Semua orang kini bisa bersuara dan berteriak di mana-mana. Semua orang kini bebas melakukan apa saja. Semua orang bisa menulis dan membaca apa saja.

Meski demikian, ada lubang besar yang tetap menganga. Lubang yang kami loncati bersama-sama, dari masa yang penuh kebisuan hingga kini kita berada di masa yang penuh kebisingan. Ingatan-ingatan dan imaji yang telah ditanam sejak kita kecil tak bisa hilang begitu saja. Sementara telinga dan mata kdipaksa untuk melihat dan mendengar setiap perubahan dan informasi baru. Lubang itu ada dalam jiwa kami. Membelah jiwa kami menjadi dua bagian: yang satu adalah bagian gelap yang penuh hantu dari masa lalu dan yang satunya adalah bagian yang menyilaukan, terang benderang penuh cahaya, tapi kadang justru menyakitkan mata karena silaunya. Segala hal yang sejak kecil dipaksa ditanam di diri kami kini harus bertempur dengan kebenaran-kebenaran baru. Kebenaran-kebenaran yang juga masih abu-abu, berlomba-lomba menguasai pikiran-pikiran kami. Berita surat kabar dan televisi, ocehan-ocehan di sosial media menjadi penguasa-penguasa baru yang kini menggiring pikiran kami. Inilah masa di mana rezim yang berkuasa adalah media massa dan sosial media. Semua orang bisa bersuara. Setiap orang bisa memiliki kebenaran. Kami, kawanan kerbau yang sejak lahir biasa digiring dan dibutakan, kini tersesat dan kebingungan.

Dalam  kebingungan itu, peristiwa-peristiwa baru terus terjadi. Kekerasan dan ketidakadilan datang silih berganti dalam aneka rupa wujudnya. Lubang besar yang menganga itu kini semakin melebar. Kebutaan kami terhadap kebenaran masa lalu berpadu dengan kebingungan kami terhadap apa yang terjadi hari ini.

Dalam keruwetan inilah, seni dan sastra seharusnya mengambil peran. Propaganda masa lalu yang sudah tertanam dalam jiwa tak sadar kami harus diruntuhkan tanpa sisa. Tapi ketidaksadaran – sesuatu yang menancap perlahan dalam diri kami  tanpa kami sadari – justru merupakan hal yang paling sulit untuk dilawan. Terlebih ketika hal tersebut ditanamkan melalui karya seni dan karya sastra. Film “Pengkhianatan G 30 S PKI” adalah contoh nyata bagaimana karya seni bisa menjadi sesuatu yang begitu berbahaya ketika digunakan oleh kekuasaan. Ia menyusup dalam ketidaksadaran. Mengatur pikiran, merebut jiwa, menundukkan kita semua. Karya seni dan sastra yang digunakan oleh kekuasaan tidak kurang berbahayanya dibanding kekerasan menggunakan senjata. Karya seni dan sastra yang digunakan oleh kekuasaan adalah bentuk kekerasan itu sendiri. Kekerasan pada manusia. Kekerasan pada kemanusiaan.

Karya seni hanya bisa dilawan dengan karya seni, karya sastra hanya bisa dilawan dengan karya sastra. Segala doktrin yang telah tertanam dalam diri kami sejak kecil hanya bisa dihapus dengan cara yang serupa: menyentuh langsung jiwa, menyusup dalam pikiran, hingga akhirnya menjelma jadi kesadaran baru. Hanya karya seni dan  karya sastra yang bisa melakukan pekerjaan itu. Bukan berita surat kabar dan omongan di televisi, bukan pula ocehan di sosial media.

Dengan kesadaran itu, Wiji Thukul harus terus berulang kali dilahirkan. Tahun lalu, ia hadir dalam ASEAN Literary Festival. Festival itu lahir dari semangat yang terus digelorakannya, dijalankan dengan energy yang tak pernah padam dari karya-karyanya. Ketika kemudian penghargaan sastra ASEAN itu diberikan padanya, itu merupakan sebuah langkah kecil, agar ia terus hidup dan dikenal. Agar generasi-generasi yang sengaja dibuat buta, bisa berkesempatan lagi mengenalnya, mengambil semangat dan energy dari karya-karyanya.

Malam ini, Wiji kembali pulang. Ia hadir bersama kita di sini. Ia barangkali tersenyum bangga sekaligus sinis mengetahui ia akan jadi film. Wiji Thukul akan muncul di bioskop-bioskop yang ada di mall-mall mewah, ditonton orang-orang di berbagai daerah. Sebuah gemerlap panggung yang sesungguhnya tak pernah diimpikannya. Karena panggung yang sesungguhnya bagi Wiji ada di gang-gang sempit, di tengah aksi demonstrasi, di depan anak-anak yang ini belajar berpuisi.

Tapi Wiji juga sadar, itu semua tak cukup untuk kerja besar kita. Seperti apa yang berulang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, “Meluas… Meninggi…”. Kita gunakan beragam cara untuk menjangkau seluas-luasnya jiwa-jiwa manusia. Kita sesuaikan diri dengan laju zaman, perkembangan kebudayaan dan teknologi, untuk semakin meninggikan semangat dan cita-cita Wiji yang dituangkan dalam sajak-sajaknya.

Seni dan sastra akan menjaga agar kita tidak terlena. Di tengah luapan informasi, seni dan sastra mengajak untuk kembali mendengar suara hati. Seni dan sastra tidak menyeret kita dalam pusaran massa, tapi meneguhkan kedirian kita, otentisitas kita.

Seni dan sastra adalah kegelisahan. Seni dan sastra adalah gugatan. Seni dan sastra adalah keberanian dan kejujuran.

Seni dan sastra lahir dari kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran-kesadaran baru. Ketika kesadaran itu sudah tumbuh, saat itulah kita bisa berpihak dan mengambil sikap.

Berpihak pada pembebasan. Berpihak pada keadilan. Berpihak pada kemanusiaan.

Dan sebagai generasi yang lahir dalam kebutaan, kita tak boleh tinggal diam.

Solo, 2 Mei 2015

Okky Madasari, Balai Soedjatmoko Solo, 2 Mei 2015

Prev Next