Okky Madasari Meraih Khatulistiwa Literary Award 2012 berkat Maryam

Jawa Pos, Rabu, 12 Desember 2012

Okky Madasari, novelis penerima Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012 saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (2/12). Foto: Agung Putu Iskandar/Jawa Pos

Penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2012 jatuh ke tangan Okky Madasari. Novel berjudul Maryam yang dia tulis dinobatkan sebagai buku sastra terbaik tahun ini. Perempuan asal Magetan, Jawa Timur, itu memenangi gelar bergengsi tersebut pada usia yang masih belia. More

Novel sebagai Alat Perjuangan

Media Indonesia

Media Indonesia, 12 Maret 2012

DUNIA tulis-menulis sudah akrab ditekuninya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Okky Puspa Madasari orangnya. Tulisan lepas seputar tema sosial kemasyarakatan sering ia tuangkan di majalah dinding maupun majalah sekolahnya waktu itu.

“Saya sudah lama ingin jadi wartawan. Makanya saya mengasah dengan menulis tentang keadilan, kesemrawutan bangsa, sampai masalah-masalah yang merugikan orang lain,” kata Okky saat ditemui di rumahnya, di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Sabtu (10/3).

Kesenangannya itu sepertinya tidak pernah pudar. Perjalanannya di bidang literasi itu kini mengantarkan Okky menjadi seorang novelis yang mulai diperhitungkan. “Waktu itu pikiranku sederhana, setidaknya sepanjang hidupku, bikin satu novel saja,” ujarnya seraya tertawa. More

Okky Madasari, Mensyukuri Anugerah Hidup

Republika, Jumat 16 Desember 2011
Uswah
Oleh Indah Wulandari

Selalu ada nilai-nilai keislaman dalam setiap karyanya.

Menjalani hidup dari sisi pinggir membuat jiwa kritis novelis Okky Madasari tak melempem. Di tengah ketenangan dan kemapanan hidupnya, ia kian produktif berkarya dengan membidik masalah-masalah sosial. More

5 Besar KLA 2011

Dikutip dari web Khatulistiwa Literary Award :

Kepada para pembaca yang setia, tahap penjurian telah melaju melewati pemilihan 5 besar calon penerima anugerah. Terima kasih atas dukungan dan perhatian yang telah diberikan selama proses berjalan. Berikut ini kami sampaikan nama pengarang dan judul buku yang terpilih dalam 5 besar, yang disusun secara acak.

Fiksi
1. Lampuki
Arafat Nur
Serambi, Mei 2011

2. Hotel Prodeo
Remy Sylado
KPG, Juli 2010

3. Tantri, Perempuan yang Bercerita
Cok Sawitri
Penerbit Buku Kompas, Mei 2011

4. Tak Ada Santo dari Sirkus
Seno Joko Suyono
Lamalera, September 2010

5. 86
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011

Puisi
1. Perempuan yang Dihapus Namanya
Avianti Armand
a publication, November 2010

2. Segara Anak
Sindu Putra
Pustaka Ekspresi, September 2010

3. Luka Mata
Hasan Aspahani
Penerbit Koekoesan, Juli 2010

4. Pembuangan Phoenix
A Muttaqin
Amper Media, Maret 2011

5. Buli-buli Lima Kaki
Nirwan Dewanto
Gramedia Pustaka Utama, November 2010

Jakarta, 21 Oktober 2011
Panitia KLA

KLA 2011

Panitia Khatulistiwa Literary Award (KLA), pada 7 Oktober 2011 mengumumkan daftar 10 besar judul karya dan nama-nama penulis yang telah tersaring dari proses penjurian KLA 2011. Urutan ditampilkan secara acak.

Kategori Fiksi:

1. Tantri, Perempuan yang Bercerita (novel) ~ Cok Sawitri, Penerbit Buku Kompas, Mei 2011;

2. Hotel Prodeo (novel) ~ Remy Sylado, Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2010;

3. Matinya Seorang Atheis (kumcer) ~ Zaim Rofiqi, Penerbit Koekoesan, Juni 2011;

4. 86 (novel) ~ Okky Madasari, Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011;

5. Lampuki (novel) ~ Arafat Nur, Serambi, Mei 2011;

6. Sampan Zulaiha (kumcer) ~ Hasan Al Banna ~ Penerbit Koekoesan, Maret 2011;

7. Tak Ada Santo dari Sirkus (novel) ~ Seno Joko Suyono, Lamalera, September 2010;

8. Senjakala (novel) ~ Ni Komang Ariani, Penerbit Koekoesan, Oktober 2010;

9. Kereta Tidur (kumcer) ~ Avianti Armand, Gramedia Pustaka Utama, Juni 2011;

10. Anak Arloji (kumcer) ~ Kurnia Effendi , Serambi, Maret 2011

Repetisi – Paradoksal

Oleh : Tommy F Awuy

Kehidupan adalah sebuah mesin repetisi. Semua makhluk hidup terkenai repetisi dan manusia mengalaminya secara khas dan kompleks. Sekalipun pada dasarnya tak sanggup ke luar dari repetisi namun manusia menghadapinya dengan segala perlawanan dalam sepanjang hidupnya. Hal itu dilakukannya, sadar atau tidak, dengan berbagai macam potensi diri yang menunjukan perbedaannya dengan makhluk hidup lainnya. Kesadaran menghadapi dan mengatasi repetisi kehidupan membuat manusia berjarak dengan dunia kehidupannya sendiri. Jarak inilah yang kita sebut pengetahuan.

Novel Okky Madasari, 86, sudah sejak awal cerita mengemukakan problem manusia yang paling mendasar ini. Manusia memang makhluk repetitif namun masing-masing kita menjalankannya dengan cara berbeda. Tokoh utama novel ini, sarjana yang kebetulan menjadi seorang pegawai negeri rendahan, juru ketik dan foto kopi di sebuah institusi pengadilan negeri, punya cerita hidup repetisinya sendiri. More

Rahasia Kisah di Balik 86

Okezone, Senin 27 Juni 2011

Judulnya unik, singkat, berupa gabungan dua angka “86” dengan pelafalan khas pula; Delapan Enam, Pan Anam ataupun Lapan Anam. Lantas apa arti di balik angka itu dalam novel ini? Pertanyaan itulah awal kali masuk dalam benak saya tatkala membaca novel Okky yang kedua ini.

Kalau dalam novel pertamanya “Entrok” dengan judul menggelitik pula, diimajinasikan kisah dalam tempo tahun 65-80 an, dan diuraikan PKI yang tersudut, dan kepunggawaan penguasa dan tentara yang semena-mena terhadap kaum kecil, dan erat dengan imajinasi melampau. Dalam “86”, Okky mewacanakan imaji yang lebih dekat dan ada dalam ruang kehidupan kita, berkisah perihal laku koruptif yang disesali. Melihat judul kedua novelnya, tak pelak, Okky memang pintar memilih judul yang menggelitik pembaca, dengan membiusnya dengan rahasia yang ditawarkan dengan simbolisasi judul. More

Bahagia Bersyarat

Oleh : Okky Madasari

(cerpen untuk majalah Eve edisi Mei 2011)

Katanya dia mau kawin lagi.

Dia katakan itu tadi malam, saat kami duduk berdua menghadap televisi. Saya pura-pura tak terkejut. Pura-pura tak marah. Pun pura-pura tak mau tahu. Saya hanya diam. Menatap lurus ke layar televisi. Sementara ia terus bicara, pelan-pelan, meyakinkan saya dengan banyak alasan.

Katanya ia mau punya anak lagi. Satu anak masih belum cukup. Apalagi kalau anak itu punya kekurangan. Tak bisa diharapkan. Ia bercerita tentang indahnya masa depan. Tentang hal-hal besar yang bisa diwujudkan kalau ia punya anak lagi. Anak yang normal. Yang tidak punya gangguan mental.

Ia juga bicara tentang segala ketersia-siaan dan waktu yang terbuang jika hanya menyerah pada keadaan. Semua orang tak bisa menolak takdir, tapi tugas setiap orang untuk mengubahnya menjadi yang lebih baik. ”Kita rawat anak kita sebaik-baik nya, tapi bukankah tak ada salahnya kalau aku punya keturunan lain yang lebih baik?” Begitu katanya. More

Prev Older Entries