Menemukan Keadilan dalam Korupsi

Zulham Mubarak, Jawa Pos/Indo Pos, Minggu 17 April 2011

NOVEL berjudul 86 karya Okky Madasari menampilkan miniatur otentik dari kehidupan di balik layar pelaku korupsi dap penegakan keadilan di Indonesia. Dikemas dengan pendekatan humanis, 86 mengkritisi kanit marut penegakan hukum yang kerap dibengkokan oleh keterlibatan praktik bawah tangan. Dalam panggung kritik yang ditampilkan dalam 86, Okky melahirkan karakter Arimbi, seorang gadis polos yang berprofesi sebagai juru ketik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Arimbi adalah gadis asal Ponorogo, Jawa Timur, yang berkarir di ibu kota. More

Novel ’86′ Ungkap Praktik Korupsi di Pengadilan

Rabu, 30/03/2011 13:57 WIB

Is Mujiarso – detikhot

Kapan terakhir Anda membaca novel yang mengungkapkan kondisi masyarakat tempat Anda hidup saat ini? Di tengah serbuan novel-novel berlabel ‘pembangun jiwa’ atau pun ‘kisah sukses yang inspiratif’, Okky Madasari mengambil jalan lain lewat novel berjudul ’86′.

’86′? Judul ini mungkin mengingatkan Anda pada karya George Orwell, ’1984′, yang sama-sama menunjuk angka. Namun, bedanya, jika ’1984′-nya Orwell merujuk pada angka tahun, ’86′-nya Okky merujuk pada sebuah kode yang populer di kalangan penegak hukum. More

Sastra dan Korupsi

Media Indonesia, Sabtu 19 Maret 2011

SASTRA memang menawarkan petualangan imajinatif. Dalam pertautan dengan pengetahuan ilmiah, petualangan imajinatif merupakan pembuka jalan bagi penyelidikan ilmiah yang berbuah pengetahuan ilmiah.

Di sisi lain, sastra juga membuka peluang kepekaan pembaca atas fenomena yang sudah terjadi, tengah terjadi, dan barangkali akan terjadi. “Sastra merupakan petualangan imajiner yang mendukung penelitian ilmiah,” demikian Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Apsanti Djokosujatno menyimpulkan.

Kesimpulan Apsanti seakan menjadi latar belakang pengiring keberadaan novel 86 karya Okky Madasari yang diluncurkan di Universitas Paramadina, Jakarta, pekan ini. Novel 86 bercerita tentangkorupsi di Indonesia. Okky menyatakan korupsi sebagai fenomena yang pada dasarnya sudah diketahui seluruh orang Indonesia. More

86

Novel “86″ masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award 2011.

Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orang tua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh seorang pegawai pengadilan.

Dari seorang pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

*) Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Maret 2011