oleh: Okky Madasari

HAL pertama yang harus dijawab Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, kenapa banyak anak muda terdidik, para lulusan perguruan tinggi, yang berakhir menjadi ”driver” Gojek?

Betul bahwa Gojek merupakan sebuah inovasi, sebuah jawaban atas kebutuhan masyarakat saat ini.

Gojek adalah wujud keberhasilan seorang anak bangsa dalam melahirkan karya yang berdampak.

Tapi, di sisi lain, Gojek menjadi cermin dari sebuah kegagalan sistem pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing. Sekaligus mampu bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Nadiem dengan latar belakangnya sebagai pengusaha harus lebih dulu memahami bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk melayani kepentingan pengusaha. Atau, dalam bahasa yang tampak lebih keren, untuk menjawab tantangan industri.

Tujuan pembangunan pendidikan dan kebudayaan adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki setiap manusia untuk bisa memberikan kontribusi sesuai dengan potensi dan perannya.

Maka, Nadiem sendiri yang harus mematahkan harapan Presiden Jokowi yang disampaikan saat pengumuman kabinet di tangga istana. Nadiem harus berani membantah kalimat Jokowi yang mengatakan bahwa tugas utama Nadiem sebagai Mendikbud adalah menyiapkan sumber daya manusia siap kerja, yang ada kesesuaian antara pendidikan dan industri. Nadiem harus menunjukkan bahwa apa yang disampaikan presiden itu sesungguhnya harapan usang yang akan segera digilas perkembangan zaman.

Selain soal latar belakangnya sebagai pengusaha, yang cenderung hanya melihat manusia sebagai tenaga kerja, keraguan lain yang menempel dalam penunjukan Nadiem terutama didasarkan pada penilaian bahwa Nadiem bukan orang yang memiliki gagasan yang sifatnya filosofis.

Nadiem dipandang sebagai seorang anak muda dengan kemampuan teknis. Yang artinya dekat dengan kedangkalan, solusi yang sifatnya cepat dan instan, tak berakar, tak memiliki imajinasi yang utuh dan mendalam tentang nilai-nilai keindonesiaan.

Untuk hal itu, saya berpendapat berbeda. Ada kegagalan kronis dalam sistem pendidikan dan kebudayaan kita yang membutuhkan kehadiran orang dari luar lingkungan pendidikan itu sendiri untuk bisa melihatnya. Memberikan posisi tersebut kepada orang yang punya latar belakang dan karakteristik mirip hanya akan mengulang kegagalan yang sama.

Dengan menghadirkan sosok Nadiem yang secara latar belakang, afiliasi, dan profesi berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya, lebih ada harapan akan lahirnya pendekatan-pendekatan baru dan berbeda dalam strategi pendidikan dan kebudayaan.

Peran strategis Nadiem bukan sekadar untuk membuat sekolah menerapkan pendidikan teknologi dan menghasilkan lulusan yang ahli teknologi. Tapi, untuk mengelola sistem pendidikan dan kebudayan dengan dasar filosofis serta karakteristik teknologi.

Dasar filosofis dan karakteristik teknologi itu meliputi kemampuan berpikir kritis, kemampuan berinovasi yang mensyaratkan keberanian untuk tidak mengikuti pola dan kebiasaan. Juga, kemampuan untuk merespons situasi sesuai potensi dan ilmu yang dimiliki serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

Nadiem harus berani mengubah kurikulum usang yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam konteks yang lebih kasatmata, kita hidup di masa kala kemampuan coding, penguasaan teknologi, dan kepemilikan modal dalam industri teknologi adalah wujud baru dari kekuasaan. Power dan privilege dimiliki mereka yang punya akses terhadap teknologi –bukan sekadar sebagai pengguna, tapi sebagai pencipta dan pemilik modal.

Kita membutuhkan akselerasi akses pendidikan yang memungkinkan penguasaan teknologi terdistribusi secara adil dan setara. Dan, kurikulum sekolah merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai keadilan dan kesetaraan penguasaan teknologi.

Meski demikian, kita tahu bahwa pelajaran yang bertitik berat pada teknologi semata tak akan cukup untuk membentuk kemampuan berpikir kritis. Untuk itu, dibutuhkan sebuah medium yang bisa mengajak setiap peserta didik untuk mampu melihat dengan kacamata yang berbeda sekaligus mampu memberikan penghayatan sepenuhnya terhadap apa yang sedang terjadi dalam masyarakatnya.

Kewajiban membaca karya sastra, apresiasi terhadap produk seni dan budaya, merupakan syarat utama dalam mengasah rasa dan kepekaan yang mengantarkan pada kemampuan berpikir kritis dan imajinatif. Yang lagi-lagi akan menjadi dasar dari inovasi dan adaptasi.

Integrasi filosofi teknologi dan penghayatan terhadap sastra dan seni dalam pendidikan dan kebudayaan Indonesia bisa menjadi salah satu tawaran strategi untuk Nadiem.

Selamat bertugas, Nadiem! (*)

Dimuat di Jawa Pos Berharap kepada Nadiem

Tags

1965 A Teeuw AA Navis Academic Journal Aceh Achdiat Kartamihardja Agnez Mo Agus Yudhoyono Ahmadiyah Ahok Akmal Nasery Basral Aktivisme Anarchism Angga Sasongko Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bookfluencer Bound Burkini Capitalism Censorship Cerita Perjalanan Cerpen Children's Day Children's Literature Cinta Clifford Geertz Colonialism Coronavirus Corruption Decolonising Knowledge Deleuze Democracy Detik Dhjksh Dinasti Disabilitas Education Education Edward Said Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Fanon Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Friedrich Engels Gapi Gayatri Spivak Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Gus Dur Habermas Hamka Hamzah Fansuri Hari Buruh Hari Kartini Hijab Hikayat Kadiroen History Human Human Rights Humanity Humor HUTRI76 Identitas Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jalaluddin Rakhmat Jawa Pos Joko Pinurbo Jose Ramos Horta Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kartini Kebebasan Kebebasan Kebebasan Berekspresi Kekuasaan Kekuasaan Kelas Menulis Kelas Pemikiran Kelas Penulisan Kennedy Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Kompas Korupsi KPK Kutipan Okky Madasari Leviathan Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Manifesto Mannheim Maryam Maryam Mata Mata Dan Nyala Api Purba Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Max Havelaar May Day Media Sosial Menulis Opini Multatuli Mural Nadiem Makarim Natal Nawal El Saadawi New Naratif Nh Dini Nkcthi Novel Baswedan OM Institute OMG! My Story Omong-Omong Media Orientalism Ortega Gasset Padang Pariaman Pandemi Papua Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Pembunuhan Sosial Phuket Polisi Virtual Politics Politik Pornography Law Pramoedya Privilege Psychoanalitical Puisi Puisi Pulau Buru Racism Raffi Ahmad Ramadan Ramon Grosfoguel Religion Religiusitas Resensi Revolusi Akhlak Revolusi Mental RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Sapardi Djoko Damono Saras Dewi Sarjana Sartre Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Science Of Fictions Selametan Semaoen Seni Menulis Opini Seni Menulis Skripsi Seri Mata Sexuality Silsilah Duka Singapore Social Dilemma Social Media Socrates Solo, Solitude Sosiologi Agama Soul Suara USU Subaltern Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Syed Farid Alatas Syed Hussein Alatas Syed Naquib Alattas Syekh Siti Jenar Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Glass Castle The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Thomas Hobbes Timor Leste Tips Skripsi Tommy F Awuy Translation Travel Travel Writing Tsunami Tuhan Aku Lapar Usmar Ismail UU ITE Vaksin Covid19 Voice Wawasan Kebangsatan Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Wonder Writing Workshop Xenophobia Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan