Oleh: Okky Madasari

Kabar bohong tercipta dan tersebar bukan karena ketidaksengajaan. Hoaks sengaja diproduksi oleh pabrik, diduplikasi, disebarkan oleh agen-agen pengecer, hingga akhirnya diterima sebagai kebenaran, menjadi bagian dari rezim misinformasi.

ADA satu film Indonesia yang andai tak ada pandemi seharusnya sudah ditonton di bioskop saat ini. Judulnya Science of Fictions. Film karya Yosep Anggi Noen itu bercerita tentang seorang laki-laki bernama Siman yang tak sengaja menyaksikan proses pembuatan hoaks terbesar dalam sejarah negara antah-berantah: Pengiriman astronot pertama ke bulan. Presiden negeri antah-berantah menyutradarai langsung pembuatan hoaks itu. Hoaks disebarkan ke seluruh negeri, diputar ulang bertahun-tahun, hingga akhirnya menjadi sebuah kebenaran yang dipercaya semua orang, termasuk oleh Siman yang menyaksikan langsung pembuatan hoaks itu.

Di negeri lain bernama Indonesia, sejarah juga mencatat produksi hoaks besar-besaran melalui desas-desus, berita di koran dan televisi milik negara, buku, hingga film berjudul G 30 S/PKI yang semuanya dibiayai dan dikendalikan oleh negara. Sebagaimana yang dialami Siman, kecanggihan produksi hoaks itu bahkan membuat orang yang membuatnya juga percaya bahwa itu adalah kebenaran. Apalagi orang-orang biasa yang hanya disodori dan tak punya pilihan selain untuk percaya.

Ah, tapi itu kan Indonesia di masa lalu. Kisah Siman juga hanya fiksi. Tak mungkin terjadi di negara demokrasi Indonesia masa kini. Apalagi, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate sudah menegaskan bahwa kalau pemerintah mengatakan sesuatu hoaks, maka itu adalah hoaks. Dengan logika yang sama, jika pemerintah mengatakan sesuatu adalah benar, maka sudah pasti itu benar. Tapi, sebentar… Mari kita baca lagi pelan-pelan yang dikatakan Pak Menteri. Alih-alih menunjukkan komitmen pemerintah pada pemberantasan hoaks, pernyataan Pak Menteri itu memberi kita penjelasan tentang bagaimana hoaks diproduksi.

Izinkan saya memberi contoh nyata dari pengalaman saya baru-baru ini di tengah perlawanan publik terhadap Undang-Undang Cipta Kerja, semata untuk menunjukkan bagaimana hoaks diproduksi di masa sekarang. Pabrikasi kebohongan itu dimulai dengan satu tulisan yang sepenuhnya tak berdasar fakta di sebuah media siluman. Saya sebut siluman karena tak jelas apa status hukum media ini. Ia bukan media jurnalistik. Ia tak menerbitkan informasi dengan kelayakan prosedur dan etika jurnalistik. Karena bukan media pers, ia pun tak memiliki wartawan dengan identitas yang jelas. Setiap tulisan yang terbit di media itu memiliki kualitas rendah, baik dari segi substansi maupun dari teknik menulis. Nama penulis adalah nama-nama palsu yang tampak dicomot begitu saja.

Dari satu kabar bohong itu, kemudian diproduksi banyak video YouTube dengan visual foto dan video saya yang diambil begitu saja dari berbagai sumber, sementara seorang narator di balik layar membacakan narasi yang sama persis dengan tulisan yang muncul di media siluman.

Tulisan di media siluman dan video-video YouTube itu lalu diedarkan luas ke masyarakat melalui WhatsApp. Sebagaimana pabrik sabun memiliki jalur distribusi hingga ke pedagang kelontong di sudut sebuah kampung di pedalaman Jawa, di pinggir hutan di Kalimantan, hingga di pulau-pulau kecil di tenggara Sulawesi, pabrik hoaks juga memiliki agen-agen pengecer hoaks ke berbagai sudut Nusantara. Sejauh jangkauan sinyal internet tersedia, sejauh itulah gurita distribusi hoaks bekerja. Informasi yang diolah dalam bentuk video jelas memudahkan siapa pun untuk mencerna, atau lebih tepatnya ini bagian dari strategi untuk menjangkau orang-orang yang tak terpapar informasi yang benar. Materi kebohongan akan selalu mengolah isu-isu yang mudah membangkitkan sentimen dan emosi dengan kata-kata yang sengaja dibuat bombastis, mulai provokator, dalang dan sponsor demonstrasi, antek asing, komunis, hingga memainkan isu identitas.

Ketika hoaks-hoaks itu sudah beredar luas di masyarakat, sudah tak ada lagi bedanya antara kebohongan dan kebenaran. Orang hanya akan percaya apa yang mau dipercaya dan kebohongan-kebohongan serupa akan terus diproduksi untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka.

Film dokumenter The Social Dilemma memberikan penjelasan gamblang tentang bagaimana algoritma, sistem komputer yang bekerja untuk mengenali pola perilaku pengguna internet, pada akhirnya justru mendikte dan membentuk perilaku, termasuk informasi macam apa yang akan dikonsumsi seseorang. Jika seseorang suka membaca berita sepak bola, setiap hari dia akan menemukan linimasa media sosialnya penuh dengan berbagai informasi tentang sepak bola. Jika seseorang menyukai berita bohong dari satu pabrik tertentu, sudah pasti ia akan menjadi konsumen dari kebohongan-kebohongan berikutnya yang diproduksi oleh satu pabrik itu. Dalam praktik paling sederhana di lingkungan terkecil, seseorang yang percaya pada satu kebohongan akan meneruskan kebohongan itu pada tetangga yang ia rasa memiliki selera kebohongan yang sama, begitu seterusnya. Hingga kita dapati kebohongan itu betul-betul menjadi kebenaran yang tak lagi bisa dibantah.

Dengan memahami alur produksi dan distribusi hoaks, kita tahu bahwa hoaks sudah menjadi industri. Sebuah kerja sistemik yang membutuhkan modal dan bertujuan untuk mendapat keuntungan.

Lalu, di manakah negara? Ya, pokoknya kalau negara bilang hoaks, ya berarti itu hoaks. Kalau negara bilang itu bukan, ya berarti itu bukan hoaks. Kok masih bertanya! (*)

Terbit di Jawa Pos Pabrik Hoaks dan Para Pengecernya

Tags

1965 A Teeuw Aceh Agnez Mo Agus Yudhoyono Ahmadiyah Ahok Aktivisme Anarchism Angga Sasongko Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Colonialism Coronavirus Corruption Deleuze Democracy Detik Dhjksh Dinasti Disabilitas Education Education Edward Said Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Fanon Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gayatri Spivak Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Identitas Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Jose Ramos Horta Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kennedy Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Kompas Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Mannheim Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Nkcthi Novel Baswedan Orientalism Ortega Gasset Padang Pariaman Pandemi Papua Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Privilege Psychoanalitical Puisi Puisi Pulau Buru Racism Ramadan Religion Religiusitas Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sartre Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Science Of Fictions Selametan Seri Mata Silsilah Duka Singapore Social Dilemma Social Media Solo, Solitude Sosiologi Agama Soul Suara USU Subaltern Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Syed Farid Alatas Syed Hussein Alatas Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Glass Castle The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Tommy F Awuy Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Wonder Xenophobia Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan