Oleh: Okky Madasari

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demi  mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral.

Dalam suasana seperti ini, sutradara Usmar Ismail dan penulis Asrul Sani menghadirkan film Lewat Djam Malam. Sebuah film yang melawan paham-paham yang dominan pada masa itu. Sebuah film yang tak lagi menempatkan perang atas nama nasionalisme sebagai tujuan luhur. Sebaliknya, Lewat Djam Malam justru mempertanyakan bahkan menertawakan kenaifan manusia yang berperang atas nama bangsa dan negara.

Tidak akan terlalu istimewa jika film dengan ide seperti itu hadir pada masa-masa sekarang ini. Tapi Lewat Djam Malam lahir jauh sebelum ide-ide anti perang menyebar luas. Film ini lahir ketika kolonialisme masih terjadi di banyak negara Asia dan Afrika, ketika Konferensi Asia Afrika masih dalam tahap persiapan kemudian dilaksanakan di Bandung tahun 1955 untuk menyuarakan penghapusan kolonialisme. Bahkan, dua puluh tahun kemudian, Amerika Serikat masih terlibat dalam perang Vietnam. Pada periode saat dan pasca perang Vietnam inilah kemudian di Amerika secara luas timbul perlawanan pada perang. Semangat anti perang hadir dalam buku, musik, dan tentu saja film.

Lewat Djam Malam adalah sebuah originalitas. Ia hadir melawan pendapat umum yang dibenarkan pada masa itu. Ia mengemukakan hal yang baru dibicarakan banyak orang berpuluh-puluh tahun kemudian.Tak hanya berangkat dengan ide besar, Asrul Sani dan Usmar Ismail sanggup menerjemahkan ide itu melalui cerita, adegan, dan gambar yang kuat.

Film ini dibuka dengan kepulangan Iskandar dari medan perang. Melalui tokoh Iskandar ini, gugatan atas perang lantang disuarakan. Iskandar yang gamang, Iskandar yang kebingungan, Iskandar yang tak siap hidup dalam masyarakat setelah sekian lama hidup di gunung, di antara peluru dan kekerasan. Iskandar pulang ke Bandung saat jam malam diberlakukan di kota itu. Di sini jam malam tidak hanya digambarkan sebagai aturan untuk menjaga keamanan warga. Sebaliknya, jam malam yang diatur dan dijaga oleh militer adalah cara untuk membuat warganya selalu merasa was-was, terancam, tidak aman, dan tunduk pada petugas yang memegang senapan. Manusia hanya menjadi obyek atas aturan-aturan yang dibuat penguasa dan mereka yang memiliki senjata. Sekali melanggar, nyawa taruhannya.

Setelah malam kepulangannya, Iskandar mencoba mengikuti saran mertuanya untuk mulai bekerja. Tak semudah itu. Perang telah mengubah jiwa dan pikirannya. Iskandar tak lagi bisa hidup mengikuti nilai dan tatanan. Sifatnya yang pemarah, sikapnya yang selalu curiga dan defensif, rasa tidak nyaman, adalah sedikit contoh dari efek buruk perang bagi manusia. Tak peduli apakah ia menang atau kalah dalam medan pertempuran.

Sinisme pada perang yang mengatasnamakan pembelaan tanah air dihadirkan dengan lugas dalam sosok Gunawan, mantan pimpinan Iskandar selama perang yang telah berhasil jadi pengusaha kaya raya. Modal usaha Gunawan didapat dari merampas harta orang-orang yang dibunuh saat perang, termasuk perempuan dan anak-anak. Alasannya, mereka telah menjadi pengkhianat. Berpihak pada musuh, bukan pada republik. Harta rampasan kata Gunawan akan digunakan untuk biaya perang. Iskandar sebagai bawahan melaksanakan perintah itu tanpa pertanyaan. Ia membunuh atas nama kesetiaan pada pimpinan, demi membela bangsa dan negaranya. Fragmen ini seakan hendak menghadirkan gugatan: mana yang lebih penting, manusia atau negara? Selain itu, sosok Gunawan juga ingin menggambarkan betapa mudahnya negara dan nasionalisme dijadikan kedok untuk kepentingan pribadi elite-elite penguasa.

Ada dua sosok perempuan dalam film ini. Yang pertama adalah Norma, tunangan Iskandar. Ia seorang perempuan dari keluarga kelas menengah. Bapaknya orang terpandang, yang dengan kedudukannya bisa dengan mudah memasukkan Iskandar bekerja di kantor gubernur. Kehidupan Norma dan keluarganya menjadi simbol bagaimana kehidupan orang-orang kelas menengah masa itu: rumah bagus, baju dan sepatu trendi, pesta, musik, penuh tawa dan bahagia. Mereka tak peduli pada perang. Mereka juga tak pernah berpikir tentang bangsa atau negara. Kepulangan Iskandar dari medan perang pun hanya dijadikan bahan tertawaan. Tak ada kekaguman, apalagi rasa berutang pada orang yang telah mempertaruhkan hidupnya demi kemerdekaan. Hanya Norma yang tetap setia mencintai dan menghargai Iskandar. Tapi itupun tidak berangkat dari kekagumannya pada sosok pejuang. Norma juga tak terlalu peduli pada perjuangan Iskandar. Ia mencintai Iskandar hanya sebagai sosok laki-laki. Ia hanya melihat Iskandar sebagai manusia, yang tak seharusnya hidup di gunung dan ikut perang. Maka Norma pula yang membuat pesta meriah untuk kepulangan Iskandar. Agar kekasihnya bisa segera hidup normal, sebagaimana kehidupan yang Norma kenal.

Berlawanan dengan Norma, hadir sosok Laila. Ia seorang pelacur yang dijumpai Iskandar setelah mengikuti Puja, bekas anak buahnya yang sekarang jadi germo. Laila digambarkan masih memakai kebaya, sangat berbeda dengan Norma dan teman-temannya. Jika Norma mewakili kehidupan kelompok kelas menengah masa itu, Laila adalah simbol dari kehidupan kelas bawah. Orang-orang yang hanya bisa berkhayal dan merawat impian. Setiap hari Laila menggunting majalah – sebuah majalah Amerika, LIFE – mengambil gambar yang disukainya, lalu menempelkan di seluruh dinding rumah. Itulah hidup bagi Laila. Peduli apa ia pada perang, peduli apa ia pada negara dan kedaulatan. Cukuplah bagi dia untuk tetap bisa makan sambil terus bisa merawat mimpinya. Maka menjadi sangat mengharukan ketika ada adegan Puja membuang majalah-majalah Laila. Apalagi arti hidup bagi Laila jika bermimpi pun ia sudah tak bisa?

Dari Iskandar, Gunawan, Norma dan Laila, perang, negara dan nasionalisme menjadi begitu tak berguna. Semuanya hanya menjadikan manusia sebagai korban. Perang, negara, dan nasionalisme justru melupakan dan meminggirkan manusia. Sebuah pemikiran yang hingga saat ini pun masih belum bisa diterima setiap orang. Lebih lima puluh tahun setelah Lewat Djam Malam, masih banyak manusia yang berpikir negara adalah segalanya, melampaui kepentingan manusia. Maka kekerasan dan perang pun masih terjadi di mana-mana. Atas nama kedaulatan negara, atas nama agama, bahkan atas nama kepentingan ekonomi belaka.

Lewat Djam Malam sejak jauh-jauh hari telah mengajak kita untuk merenungkan makna perang dan manusia, nasionalisme dan kemanusiaan.

Tags

1965 A Teeuw AA Navis Academic Journal Aceh Achdiat Kartamihardja Agnez Mo Agus Yudhoyono Ahmadiyah Ahok Akmal Nasery Basral Aktivisme Anarchism Angga Sasongko Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bookfluencer Bound Burkini Capitalism Censorship Cerita Perjalanan Cerpen Children's Day Children's Literature Cinta Clifford Geertz Colonialism Coronavirus Corruption Decolonising Knowledge Deleuze Democracy Detik Dhjksh Dinasti Disabilitas Education Education Edward Said Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Fanon Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Friedrich Engels Gapi Gayatri Spivak Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Gus Dur Habermas Hamka Hamzah Fansuri Hari Buruh Hari Kartini Hijab Hikayat Kadiroen History Human Human Rights Humanity Humor HUTRI76 Identitas Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jalaluddin Rakhmat Jawa Pos Joko Pinurbo Jose Ramos Horta Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kartini Kebebasan Kebebasan Kebebasan Berekspresi Kekuasaan Kekuasaan Kelas Menulis Kelas Pemikiran Kelas Penulisan Kennedy Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Kompas Korupsi KPK Kutipan Okky Madasari Leviathan Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Manifesto Mannheim Maryam Maryam Mata Mata Dan Nyala Api Purba Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Max Havelaar May Day Media Sosial Menulis Opini Multatuli Mural Nadiem Makarim Natal Nawal El Saadawi New Naratif Nh Dini Nkcthi Novel Baswedan OM Institute OMG! My Story Omong-Omong Media Orientalism Ortega Gasset Padang Pariaman Pandemi Papua Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Pembunuhan Sosial Phuket Polisi Virtual Politics Politik Pornography Law Pramoedya Privilege Psychoanalitical Puisi Puisi Pulau Buru Racism Raffi Ahmad Ramadan Ramon Grosfoguel Religion Religiusitas Resensi Revolusi Akhlak Revolusi Mental RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Sapardi Djoko Damono Saras Dewi Sarjana Sartre Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Science Of Fictions Selametan Semaoen Seni Menulis Opini Seni Menulis Skripsi Seri Mata Sexuality Silsilah Duka Singapore Social Dilemma Social Media Socrates Solo, Solitude Sosiologi Agama Soul Suara USU Subaltern Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Syed Farid Alatas Syed Hussein Alatas Syed Naquib Alattas Syekh Siti Jenar Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Glass Castle The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Thomas Hobbes Timor Leste Tips Skripsi Tommy F Awuy Translation Travel Travel Writing Tsunami Tuhan Aku Lapar Usmar Ismail UU ITE Vaksin Covid19 Voice Wawasan Kebangsatan Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Wonder Writing Workshop Xenophobia Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan