oleh: Okky Madasari

Di mana tempat perempuan di masa krisis? Mereka ada di ruang-ruang vital yang memastikan kehidupan tetap berjalan. Tengoklah rumah sakit, pasar, warung dan restoran yang tetap melayani pesanan, ibu-ibu yang menjahit masker, pekerja pabrik tekstil yang kini membuat baju pelindung untuk tenaga kesehatan.

Data yang dirilis New York Times bulan Maret lalu menunjukkan lebih dari lima puluh persen pekerja di sektor-sektor penting yang tetap harus beroperasi selama pandemi adalah perempuan. Sembilan dari setiap sepuluh perawat di rumah sakit adalah perempuan. Mayoritas petugas yang bertanggung-jawab pada alat bantuan pernapasan dan pekerja di bidang farmasi adalah perempuan. Lebih dari dua pertiga karyawan supermarket dan pekerja restoran cepat saji adalah perempuan.

Apakah itu artinya perempuan hanya mengambil peran dalam situasi darurat, saat tak lagi ada pilihan? Tentu saja tidak. Perempuan sudah mendominasi pekerjaan di sektor esensial sejak ratusan tahun lalu – dalam situasi normal maupun dalam situasi krisis.

Perempuan-perempuan Jawa sudah berdagang gaplek dan palawija di pasar dengan kemben dan jarik jauh sebelum kebudayaan Eropa datang. Dukun-dukun perempuan telah mengobati penyakit dan membantu persalinan jauh sebelum sistem kedokteran modern berdiri di Nusantara – yang mengharuskan setiap calon dokter harus membayar biaya pendidikan mahal dan mengambil sekolah spesialis bertahun-tahun hingga mencapai tingkat kemampuan yang dipercaya. Mesin-mesin jahit tua merk “Singer” terus bekerja di rumah-rumah, walaupun makin lama makin sedikit orang yang mau menjahitkan baju – karena baju jadi yang diimpor dari negara jauh harganya jauh lebih murah dan modelnya lebih trendi.

Di balik tembok setiap rumah, ibu yang terus memastikan dapurnya ngebul baik dalam kondisi normal maupun krisis. Ibu yang terus mengingatkan anak-anaknya untuk cuci tangan, untuk melepas sepatu saat masuk ke dalam rumah, untuk segera mandi dan mengganti baju kotor. Oke, barangkali sebagian pembaca akan menolak ilustrasi ini dengan mengatakan bahwa di rumah-rumah mereka, bapak yang dominan dalam peran-peran tersebut. Tapi ini bukan soal satu atau dua rumah.

Ini adalah gambaran atas situasi umum dalam masyarakat yang menempatkan perempuan dalam ranah domestik, menangani pekerjaan rumah tangga. Sialnya, banyak yang tak menyadari bahwa sesungguhnya yang domestik itu adalah yang vital, bahwa pada hal-hal yang kesannya remeh-temeh itulah nadi kehidupan digantungkan.

Dikotomi antara peran laki-laki dan perempuan, pembagian lapangan kerja berdasarkan jenis kelamin sudah jelas merupakan bentuk ketidaksetaraan yang telah melembaga sepanjang sejarah. Pun ketika kita melihat bahwa pekerjaan sektor vital di masa pandemi mayoritas dipegang perempuan, sesungguhnya itu bukanlah prestasi yang harus disambut tepuk tangan, melainkan bagian dari realita yang justru menghadirkan beberapa pertanyaan.

Pandemi ini membuat kita mampu melihat jelas garis antara yang esensial dan non-esensial. Tapi tampaknya apa yang sedang terjadi masih belum cukup untuk membuat kita sadar bahwa perempuan lebih teruji dalam menghadapi krisis dan dalam menyelamatkan kehidupan. Seorang perempuan bertahun-tahun bekerja sebagai perawat tahu bahwa tugas utamanya adalah menyelamatkan nyawa orang yang ada di hadapannya. Ia tak akan berhitung untung-rugi, ia tak peduli deretan angka statistik. Baginya, satu nyawa berharga dan ia akan melakukan segalanya untuk mempertahankannya.

Seorang pedagang di pasar paham, bahwa yang harus diamankan dalam krisis adalah kebutuhan pangan. Ia tak peduli dengan pasar saham, ia tak peduli dengan unicorn dan milenial. Yang ia mau hanyalah beras, telur, gula, dan bawang bisa tetap ada dengan harga yang tak lebih mahal dari biasanya. Dan setiap ibu tahu, kunci dari pencegahan penularan virus ada pada rumah masing-masing, bukan pada siaran pers, bukan pula tergantung pada penjagaan polisi.

Kegagalan kita dalam memahami peran yang esensial inilah yang mengakibatkan kegagalan dalam penanganan wabah. Dalam hal ini kita perlu menengok tujuh negara yang disebut berhasil menangani pandemi yang semuanya dipimpin perempuan; Jerman, Selandia Baru, Taiwan, Islandia, Finlandia, Norwegia, dan Denmark. Pemimpin negara-negara tersebut – termasuk Hong Kong – mengambil langkah tegas untuk mencegah penularan virus tanpa menunggu kematian banyak orang. Watak kepemimpinan mereka dipandu oleh naluri untuk melindungi nyawa manusia. Mereka memahami betul mana yang esensial di tengah wabah. Hal yang semestinya dimiliki oleh setiap orang, setiap pemimpin, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk berempati pada kehidupan – sebuah hakikat dari pekerjaan di sektor-sektor vital yang kerap kita abaikan. Kalau memang para pemimpin laki-laki belum memilikinya, mungkin inilah saatnya untuk belajar pada perempuan.

Selamat Hari Kartini!

                                                                            ***

Terbit di Jawa Pos Yang Esensial itu Perempuan

Tags

1965 A Teeuw Aceh Agnez Mo Agus Yudhoyono Ahmadiyah Ahok Aktivisme Anarchism Angga Sasongko Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Colonialism Coronavirus Corruption Deleuze Democracy Detik Dhjksh Disabilitas Education Education Edward Said Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Fanon Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gayatri Spivak Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Identitas Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Mannheim Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Nkcthi Novel Baswedan Orientalism Ortega Gasset Padang Pariaman Pandemi Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Psychoanalitical Puisi Pulau Buru Racism Ramadan Ramos Horta Religion Religiusitas Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sartre Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Selametan Seri Mata Silsilah Duka Singapore Social Media Solo, Solitude Sosiologi Agama Soul Suara USU Subaltern Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Syed Farid Alatas Syed Hussein Alatas Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Glass Castle The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Tommy F Awuy Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Wonder Xenophobia Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan