Oleh: Okky Madasari

Saya adalah penikmat film-film karya Angga Dwimas Sasongko. Angga memiliki kemampuan dalam menerjemahkan cerita dan gagasan ke dalam bahasa visual yang solid, memadukan antara kualitas estetika dan kesadaran seorang penutur cerita. Film-film Angga adalah satu semesta utuh yang tak memerlukan sebuah pengantar atau informasi tambahan di luar film itu sendiri.

Dalam film terbarunya, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), penonton bisa menikmati tanpa harus memiliki pengetahuan tentang buku yang diadaptasi. Melalui film ini, Angga menunjukkan kepiawaiannya dalam menghidupkan cerita yang sederhana, yang tak memiliki konflik yang kuat, yang karakter-karakternya sesungguhnya sama sekali tak ada yang istimewa. Angga berhasil. Bahkan, berkat penyutradaraannya, ia nyaris menutup sebuah lubang besar dalam cerita yang disajikan.

Lubang besar itu adalah bangunan konflik utama yang hendak menghadirkan duka dan trauma satu keluarga. Diceritakan bahwa ada satu rahasia yang berakibat pada masing-masing anggota keluarga, yang bahkan membuat seorang ibu tak memiliki peran besar dan nyaris tak bersuara selama 21 tahun. Tentunya rahasia itu haruslah sesuatu yang sangat merusak, yang mengakibatkan keguncangan yang dahsyat, sebuah kehilangan yang besar atas sesuatu yang belum pernah dimiliki dan telah lama dinantikan, sesuatu yang menjadi sebuah harapan, sebuah luka yang tak tersembuhkan, sebuah aib yang memalukan, atau kesalahan yang harus ditanggung sepanjang hidup. Nyatanya tidak demikian.

Saya tak kuasa untuk tak membandingkan dengan novel Silsilah Duka (2019) karya penulis muda, Dwi Ratih Ramadhany. Novel ini bercerita tentang duka dan trauma yang disimpan oleh masing-masing anggota keluarga; seorang menantu yang dianggap biang kesalahan karena melahirkan bayi yang tak sempurna, mertua yang di balik semua sifat buruknya ternyata memelihara luka sepanjang hidup, seorang anak laki-laki sekaligus suami yang tak berdaya melindungi istri dari ibunya sendiri karena ia pun tumbuh dengan luka, dan cucu-cucu yang menyimpan dendam pada neneknya. Ada penyebab kuat yang menyebabkan kerusakan masing-masing individu yang berimbas pada relasi keluarga. Silsilah Duka tanpa ragu menghadirkan sosok individu yang punya sisi hitam, yang berada di luar batas kenormalan. Inilah yang sesungguhnya menjadi pangkal yang menimbulkan lubang besar dalam NKCTHI; keengganan atau barangkali ketidakberanian untuk menghadirkan karakter yang memiliki kesalahan yang nyata, yang tidak bermain aman untuk menjaga keutuhan imaji sebuah keluarga yang terdiri dari manusia-manusia berhati malaikat.

Sepanjang menonton NKCTHI saya juga terus teringat pada film The Glass Castle (2017). Selain karena sama-sama mengangkat cerita satu keluarga, juga karena alur film yang dibuat maju-mundur, dengan potongan-potongan adegan yang secara visual dan rasa memiliki kedekatan. Kekuatan The Glass Castle adalah pada kejujuran untuk menghadirkan seorang ayah yang gagal bertanggung jawab secara finansial, yang kerap membiarkan keluarganya kelaparan, yang pemabuk berat, namun tetap ingin keluarganya utuh dan bersatu atas nama cinta. Sang ibu pun tak hanya tampil sebagai pelengkap yang pasif. Meski ia digambarkan sebagai perempuan yang tak berdaya untuk mengambil keputusan, sang ibu tampil sebagai manusia utuh yang punya mimpi pribadi untuk bisa menjadi seorang pelukis.

Dalam NKCTHI, karakter yang memiliki hasrat kuat hadir dalam sosok Aurora, anak tengah berprestasi yang selalu merasa diabaikan. Sebuah situasi unik yang membuat siapa pun akan berempati dan merasa "relate". Aurora menunjukkan bagaimana tak selamanya anak yang berprestasi, yang paling punya kelebihan, menjadi bintang dalam sebuah keluarga. Situasi ini mengingatkan saya pada Wonder (2017). Dalam Wonder ada sosok kakak yang sangat mencintai adiknya yang sejak lahir cacat. Siapa sangka, diam-diam sang kakak menyimpan kekecewaan karena selalu diabaikan dan menjadi yang nomor dua. Di sini, disabilitas si adik adalah pokok masalah yang kokoh, yang memiliki daya tonjok kuat untuk memorak-porandakan jiwa individu dan kesatuan sebuah keluarga. 

NKCTHI adalah cerita tentang ketidaksempurnaan sebuah keluarga yang dijaga sedemikian rupa agar tetap berada dalam batas-batas kesempurnaan yang menjadi impian banyak orang dalam masyarakat kita. 

 

 

Tags

1965 A Teeuw Aceh Agnez Mo Agus Yudhoyono Ahmadiyah Ahok Anarchism Angga Sasongko Apsanti Djokosujatno Arswendo Atmowiloto ASEAN Asrul Sani Atambua Australia Indonesia Azab Bakhtin Belu Bencana Benedict Anderson Bertahan Bound Burkini Capitalism Censorship Cerpen Children's Day Children's Literature Clifford Geertz Colonialism Coronavirus Corruption Democracy Detik Dhjksh Disabilitas Education Education Egg Boy Emile Durkheim Engaged Literature Entrok Faisal Tehrani Fanon Feminism Feminism Film Film Foucault Freedom Freedom Of Expression Gapi Gebunden Gempa Bumi Genealogi Gili Meno Gojek Griffith Review Habermas Hari Kartini Hijab History Human Human Rights Humanity Humor Identitas Imlek Islam Islam Istirahatlah Kata-Kata Jagal Jawa Pos Joko Pinurbo Joshua Oppenheimer Jurnal Perempuan Kapitalisme Kebebasan Kebebasan Kekuasaan Kekuasaan Kelas Penulisan Kerumunan Terakhir Khashoggi Kids Kipandjikusmin Korupsi KPK Lewat Djam Malam LGBT Literature Literature Lombok Makar Malay Maryam Maryam Mata Mata Dan Rahasia Pulau Gapi Mata Di Tanah Melus Media Sosial Nadiem Makarim Natal New Naratif Nh Dini Nkcthi Novel Baswedan Padang Pariaman Pasung Jiwa Pelatihan Menulis Phuket Politics Politik Pramoedya Psychoanalitical Puisi Pulau Buru Racism Ramadan Ramos Horta Religion Religiusitas Resensi RKUHP Roland Barthes Sabir Laluhu Saras Dewi Sarjana Sartre Sastra Sastra Sastra Anak Sastra Perlawanan Selametan Seri Mata Silsilah Duka Singapore Social Media Solo, Solitude Sosiologi Agama Soul Suara USU Sumatra Sumpah Pemuda Syariah Law Syed Farid Alatas Syed Hussein Alatas Tahun Baru Teknologi Teror Thailand The Act Of Killing The Glass Castle The Jakarta Post The Last Crowd The Years Of The Voiceless Timor Leste Tommy F Awuy Translation Travel Tsunami Usmar Ismail Voice Wiji Thukul WijiThukul Women Of Letters Wonder Xenophobia Yang Bertahan Dan Binasa Perlahan